
Visual Elvano
Visual Chika
Visual Asisten Haris
Visual Basuki Sivano ( Kie )
Visual Maya
Visual Tuan Aristya
Visual Nyonya Sarah
****
Haris masih terus tertawa membuat Chika akhirnya marah hingga matanya berkaca kaca. Apa salahnya menggunakan nama Basuki. Lagipula nama itu pemberian dari Bu Asih. Chika tidak terima, hatinya merasa sakit. Ditambah El bukannya membela ,malah sibuk memandangi jalanan dari balik jendela.
"HARIS!! BISA DIAM KAMU!! Nama Basuki itu bagus artinya. Kamu lupa mantan gubernur kota ini bernama siapa? Basuki bukan, jadi berhenti tertawa atau saya tidak akan kasih cuti nikah buat kamu," El bersuara, membela Chika dan menegur Haris. Ya meskipun dia sedikit tidak suka dengan nama pemberian Chika, tapi untuk saat ini mengalah saja dulu.
"Yah, jangan dong Pak. Saya nanti gak bisa celup celup sama Maya dong," protes Haris.
__ADS_1
"Makanya diam. Saya yang papanya Kie saja setuju dengan nama itu kenapa kamu yang tidak menyumbang apa apa di tubuh Kie malah keberatan."
"Gitu aja marah pak. Bukannya saya keberatan, hanya saja .."
"Stop jangan bicara lagi. Lebih baik kamu fokus menyetir dan lebih cepat lajukan mobilnya. Biar cepat sampai," perintah El.
"Baik Pak."
Chika menoleh ke samping. Apa telinganya tidak salah, El tidak ikut menertawakan nama Kie dan justru menyetujuinya? Dalam pikiran Chika masih saja terlintas hal buruk tentang El. Pasti ini hanya akal akalan suaminya agar mendapatkan maaf dari dirinya.
Tatapan tajam Chika justru dibalas dengan senyuman tampan dari El. "Kamu kenapa melihatku dengan tatapan sinis begitu? Atau jangan jangan kamu sidah tidak sabar ya ingin memadu kasih denganku Chika
Iya kan hayo ngaku," goda El.
"Cih, kamu kepedean banget mas. Jangankan memadu kasih, mencium bibirmu saja aku sudah gak sudi," ucapan Chika seakan jarum yang menancap didalam hati El.
"Apa segitu bencinya kamu denganku Chika. Tapi aku tidak peduli, mulai saat ini kamu tidak akan bisa kabur lagi dariku. Apalagi membawa Kie untuk jauh dariku, jangan mimpi kamu Chika. Karna aku akan membawa kalian jauh di tempat yang bisa dijangkau siapapun," batin El dengan menyunggingkan sedikit senyuman di bibirnya.
Tak terasa mobil yang di kemudikan Haris sampai di rumah yang besar dan megah. Rumah itu tertutup rapat.
"Ini rumah kita. Ayo turun, sebentar lagi Daniel juga datang untuk memeriksa kalian. Kalau tadi aku bawa kalian ke rumah sakit, tidak menutup kemungkinan kamu akan kabur lagi bukan?" jawab El.
"Tapi aku gak mau mas."
El tak peduli dengan semua celotehan Chika. "Kie, ayo kita turun. Mama mau berjemur didalam mobil," cetus El yang langsung mengambil Kie dari tangan Chika lalu turun dari mobilnya.
"Mas, Kie mau kamu bawa kemana? Mas El," seru Chika.
Ceklek ...
Haris membuka lebar pintu mobil belakang. "Selamat datang di rumah anda non Chika. Mari silahkan turun."
Chika mendengus kesal. "Makasih," ucapnya singkat.
"Sama sama non."
__ADS_1
Chika mengamati rumah yang beronamen seperti rumahnya dulu. Jika rumahnya bertema klasik minimalis, El membuat kesan Klasik modern namun megah. Cat rumahnya pun sama seperti di rumahnya dulu. Chika seperti hanyut ke dalam masa lalu bersama kedua orang tuannya.
"Rumah ini, mengingatkanku pada papa dan mama. Meskipun sedikit agak modern,tapi terkesan sama. Terima kasih ya mas, kamu sudah membangun rumah yang bagus dan indah," gumam Chika.
Setelah puas mengamati rumahnya, Chika berlari menyusul El dan Kie yang sudah terlebih dulu berjalan masuk ke dalam rumah.
"Mas, tunggu. Kie mau kamu bawa kemana?" seru Chika. "Mas El...," Chika berteriak lebih keras. Emosi, karna dari tadi El tak menjawab semua pertanyaannya.
El menghentikan langkahnya. Menunggu Chika yang masih jauh di belakangnya.
Dengan nafas yang ngos-ngosan, Chika mencubit perut El untuk meluapkan kekesalannya.
"Auu, sakit sayang. Kie mama nakal. Perut papa dicubit sama mama," El mengadu pada anaknya. Mencoba meminta bala bantuan padanya.
Netra Chika tertuju tajam ke arah El sambil memperlihatkan beberapa der
Sayangnya Kie malah mengacuhkan dirinya. Kie sibuk memandangi rumah yang mewah dan besar itu tanpa memperdulikan papanya yang mengajaknya bicara.
"Syukurin, dicuekin sama Kie," cetus Chika.
"Chika kamu ya," wajah El mendekat hendak mencium kembali bibir yang sudah lama tak di kecupnya.
"Papa, ini rumah siapa?" tanya Kie menghentikan aksi heroik papanya.
"Oh, ini rumah kamu my boy. Suka gak?"
"Suka papa, rumahnya besar banget. Tapi ini beneran rumah Kie?"
"Heem. Sekarang kita masuk ya. Habis ini pak dokter datang buat meriksa kamu dan mama."
"Iya pah."
El menggendong Kie dengam sebelah tangannya, sedangkan satu tangannya lagi menggandeng tangan Chika. "Ayo masuk, welcome back to our home dear," ucap El.
"Iya mas," untuk pertama kalinya Chika tersenyum bahagia di depan El. Setelah empat tahun mereka terpisah.
__ADS_1
"Mas El, meskipun kamu sudah terlalu sering menyakitiku tapi jujur kamu sudah tinggal di dalam hatiku yang paling dalam. Mungkin dengan aku belajar memaafkanmu, kita bisa memulai dari awal. Dan Kie, dia juga akan mendapat perhatian dari kamu yang selama ini tidak pernah dia dapatkan sebelumnya," batin Chika sambil melihat El yang berjalan menuntunnya untuk masuk ke istana baru keluarga mereka.