Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Bukan Salah Ibu


__ADS_3

"Mah, Chika mau nemuin Mas El diluar dulu. Ada yang mau Chika sampaikan sama dia," ucap Chika.


"Iya sayang. Mumpung Kie juga masih asyik main sama opanya. Tapi inget pesan mama ya Chika, jangan sampai kalian bertengkar. Selesaikan dengan kepala dingin. Kamu sudah kenal betul sifat uami kamu. Mama harap kmu lebih sabar sama dia ya," pesan Nyonya Sarah.


"iya mah."


Sesaat kemudian Chika keluar dari kamar. Dan baru kali ini ia melihat suami yang tak kenal kata sedih, menangis sembari menangkap kedua wajahnya.


"Mas," Chika duduk menyebelahi El yang masih menundukkan kepalanya.


Chika merangkul pundak suaminya. Ikut menangis didalam sandaran bahunya.


"Kalau kamu mau menangis, menangislah mas. Bagi semua masalah yang kamu alami denganku. Aku ini istrimu. Masalahmu itu juga masalahku. Kesedihanmu itu juga kesedihanku," ucap Chika.


Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut istrinya, pertahanan El akhirnya lulus lantah. Ia jatuh kedalam pelukan istrinya. Memeluk tubuh Chika sangat erat bahkan teramat erat.


"Sayang, apa salahku lahir di dunia ini? Kenapa ibu kandungku tega membuangku ke panti asuhan? Untung saja mama dan papa mengangkatku menjadi anak mereka. Kalau tidak mungkin sekarang aku masih tumbuh besar di panti asuhan," cetus El.


Diam dan hanya diam. Chika sengaja membiarkan El terus meracau. Mendengar segala unek unek dan curahan hatinya.


Setelah cukup tenang, barulah Chika melepaskan pelukannya.


"Mas, apa kamu sudah selesai bicara? Boleh gantian aku yang bicara?" tanya Chika.


El menatap mata Chika tajam. Sudah dipastikan Chika akan membela ibu yang sudah membuang dirinya.


"Kamu mau bicara apa?" tanya El sinis.


"Mas, aku tahu kamu sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan. Tapi ada satu hal yang ingin aku minta dari kamu. Tolong jangan benci ibu ya mas. Kalau waktu itu aku tidak bertemu Bu Asih, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan aku dan Kie. Mungkin saja, kita tidak akan bisa berkumpul lagi seperti sekarang."


"CUKUP CHIKA!! BERHENTI MEMBELA DIA!!" bentak El.


"Tapi mas.."


Belum selesai bicara El sudah berdiri. Daripada nanti setiap perkataannya menyakiti hati Chika lebih baik dia pergi.

__ADS_1


"Mas, kamu mau kemana?" Chika menarik tangan El. Tidak ingin suaminya merasakan keterpurukannya sendirian.


"Chika lepas, aku ingin sendiri dulu. Aku pergi, nanti kamu pulanglah bersama Haris. Biar dia yang mengantar kamu dan Kie pulang," titah El sambil berlalu meninggalkan Chika yang masih berdiri mematung.


"Baiklah mas jika itu mau kamu. Pergi dan selesaikan masalah kamu sendiri. Selama ini aku memang hanya istri yang tidak pernah kamu anggap bukan? Jadi untuk apa aku dan Kie disini. Kalau kamu pergi, aku dan Kie juga akan pergi. Dan aku pastikan hari ini kamu akan melihat kami untuk terakhir kalinya."


Chika segera melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan Nyonya Sarah untuk membawa Kie pergi.


El meraih tangan Chika, membalikkan tubuhnya dan membawanya masuk kedalam dekapannya.


"Jangan pergi lagi sayang. Aku hanya tidak suka kamu membela wanita itu," ujar El.


Buliran bening satu per satu jatuh dari mata El dan Chika. Rasa marah dan kecewa yang dirasakan Chika perlahan hilang. Siapapun yang berada didalam posisi El, pasti akan merasa kecewa.


Chika mengajak suaminya pergi ke kantin rumah sakit. Sambil minum teh, Chika menceritakan kejadian yang dialami Bu Asih.


El semakin hancur. Perasaan marah, sakit hati dan benci berubah menjadi penyesalan.


FLASHBACK ON....


"Tapi bu, Asih lagi hamil anak mas Sony," jawab Asih.


"Terserah keputusan ada di tangan kamu. Iya atau tidak?" imbuh bapak.


Asih semakin bingung. Di satu sisi jika suaminya tidak segera di operasi dipastikan laki laki yang akan menjadi calon ayah anaknya akan mati.


"Bapak, ibu, Asih mohon."


"Ayo bu kita pulang. Sepertinya kita sudah tahu jawaban dari anak gak tahu diri ini."


Kedua orang tua Asih sudah sampai di ambang pintu. Asih berlari, menghadang langkah kedua orang tuanya.


Di bawah kaki bapak ibunya, dengan terpaksa Asih menuruti keinginan bapak dan ibunya.


"Baik bu, pak, sih akan menuruti keinginan kalian."

__ADS_1


"Nah bagus. Ini baru anak bapak dan ibu," ucap bapak.


"Tapi operasi Mas Soi harus dilakukan malam ini."


"Gak masalah Asih. Kita pergi ke bagian administrasi sekarang setelah ini jangan pernah berhubungan dengan laki laki itu," jawab ibu.


Asih mengangguk dan ia berjalan mengekor di belakang kedua orang tuanya.


"Oh iya satu lagi Sih, kamu harus gugurkan kandungan kamu."


Kedua bola mata Asih membulat. Ini diluar kesepakatan. Asih menolak keras keinginan kedua orang tuanya. Dan akhirnya semua syarat ibu dan bapaknya, Asih menitipkan anaknya ke panti asuhan lalu ikut pindah ke Jogja.


"Vano, suatu saat ibu pasti akan menjemput kamu kembali. Ibu sayang kamu Vano. Maafkan ibu yang sudah menjadi ibu yang jahat untuk kamu. Ibu mohon jangan benci ibu, karna ini bukan kemauan kamu," batin Asih.


Asih menaruh putranya di dalam box bayi di depan pintu panti asuhan.


"Ayo cepat masuk mobil Sih," ibu menarik Asih dan segera membawanya masuk ke dalam mobil.


Akhirnya ibu dan anak itu terpisah dan hati Asih semakin hancur saat mendengar kabar kematian suaminya setelah gagal didalam operasi.


FLASHBACK OFF...


Setelah mendengar cerita yang sebenarnya dari Chika, El menangkup wajahnya sambil menangis.


"Jadi ibu terpaksa membuang aku sayang?" tanya El.


Chika menganggukan kepalanya.


"Iya mas,ibu terpaksa membuang kamu. Bahkan ia juga kehilangan suaminya yaitu bapak mas El. Ibu itu wanita yang luar biasa dan hatinya begitu baik. Setelah suaminya yang di Jogja meninggal, ibu berniat kembali mencari mas. Tapi ia malah dapat kenyataan pahit dari pasti asuhan. Ibu sedih banget mas. Dan dia selalu menyesal dalam sisa hidupnya. Andai aku tahu anak ibu itu kamu, aku pasti membawa ibu untuk bertemu kamu. Sayang, ibu sudah meninggal. Jadi aku mohon, jangan benci ibu ya mas," ucap Chika.


El langsung terdiam. Perasaannya terasa campur aduk. Ia seperti anak yang sudah durhaka dengan ibu yang sudah berjuang membuatnya melihat dunia ini.


"Sayang, setelah proyekku selesai. Kita pergi ke Jogja ya. Aku ingin ke makam ibu kandungku, Ibu Asih. Aku ingin memanggilnya ibu meskipun hanya diatas nisannya," ujar El dan disambut pelukan dari sang istri.


"Pasti mas. Aku juga ingin ke makam ibu mertuaku. Aku bahagia mas, akhirnya kamu mau mengerti. Aku bangga punya suami seperti kamu mas."

__ADS_1


"Justru aku yang bangga punya istri seperti kamu. Yang selalu mengingatkanku aku disaat aku melakukan kesalahan. Aku beruntung memiliki kamu sayang," jawab El diakhiri dengan sebuah kecupan yang mendarat di kening Chika.


__ADS_2