Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Ilfeel


__ADS_3

Chika mulai terbangun, saat ada sedikit sinar masuk dari balik gorden kamarnya hingga membuat matanya silau karna cahaya matahari.


"Arghh, mataku masih berat banget. Badanku juga masih pegel. Males banget berangkat ke sekolah. Tapi aku udah keseringan bolos, yang ada aku bisa gak lulus ujian nanti," dengan hati terpaksa ia bangun dari kasur empuknya, mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.


Setengah jam sudah ia berada didalam bath up,dengan busa busa kecil didalamnya. Selesai membersihkan tubuhnya, ia mengambil handuk yang tadi ia bawa lalu gunakan untuk mengeringkan tubuhnya.


Chika kemudian mengambil seragamnya yang ia simpan di dalam tas. Meski terlihat sedikit kusut, Chika berusaha menghaluskan dengan telapak tangannya. Hingga seragam itu kini sudah berpindah ke tubuhnya.


Ceklekk..


Suara pintu terbuka, ia keluar diiringi oleh langkah kakinya.


Chika lalu berjalan mendekati cermin. Duduk di depan cermin itu sambil merias sedikit wajahnya meskipun hanya polesan bedak saja.


"Hoaamam.., masih ngantuk," batin Chika sejenak dengan sedikit mengucek kedua matanya sambil berjalan keluar kamar.


Langkahnya terhenti sejenak, sesosok laki laki tampan yang sedang tertidur pulas. Berbaring diatas sofa dengan menggunakan jas hitam miliknya untuk menutupi tubuh kekarnya.


"Tuan El rupanya masih tidur. Bangunin gak ya? Gak usah aja lah. Kasihan tidurnya pules gitu. Mending gue tulis surat aja terus gue taruh di meja. Tapi gue berangkatnya gimana? Kan gak punya ongkos?" Chika berperang sendiri dengan hatinya.


Tiba tiba ekor matanya melirik ke kantong jas El. Melihat ada selembar uang berwarna merah.


"Ambil nggak ya? Tapi gue takut dosa kalau ambil uang tanpa ijin dari yang punya. Udahlah jalan aja, kan udah biasa juga jalan kaki ke sekolah," Chika bergeming sejenak. Setelah itu ia melanjutkan kembali langkah kakinya.


Selangkah demi selangkah, Chika mulai menuju pintu keluar. Baru saja tangannya memegang gagang pintu, eh ada suara yang memanggilnya.


"Mau kemana kamu?" Chika menoleh ke belakang, melihat El sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Eh tuan, eh salah maksud saya mas. Mas sudah bangun?" tanya Chika basa basi.


El menatap matanya tajam, terlihat jelas kegusaran dihatinya yang berusaha ia tutup. Karna kehilangan Chika kemarin, membuat sikapnya menjadi posesif pada Chika.


"Sudah. Kamu mau kemana?" tanya El sekali lagi.


"Sekolah mas, kan udah jam 6. Masuknya kan jam 7. Jadi ya harus berangkat sekaranglah," Chika menjawab santai pertanyaan El. Karna memang itu kenyataannya.


Seakan belum percaya, El menaikkan sebelah alisnya. Merasa ragu dengan jawaban Chika. Ya mungkin bukan ragu. Tapi ada sedikit rasa takut jika wanita yang sedang di depannya itu akan kabur lagi.


"Mas, kok diem? Saya berangkat ya mas, sebelum nanti telat. Soalnya guru di jam pertama agak galak mas, bisa dihukum saya nanti," ujar Chika sembari membalikkan badannya.


Namun baru setengah badan, El sudah menarik tangannya. "Cih, galak mana sama aku? Kalau sama gurunya dia takut, kenapa sama aku enggak?" El menggerutu kesal. Dalam otaknya tiba tiba tercetus ide untuk belajar galak pada gurunya Chika agar bisa membuat Chika patuh padanya.


"Saya antar kamu ke sekolah," jawab El singkat, tanpa melepaskan tangannya dari tangan Chika.


"Naik apa mas? Bukannya mobilnya di bawa Om Haris?"


Mulut El kembali dibuat tak berkutik oleh Chika. Pertanyaan Chika seketika membuatnya terdiam dan merutuki ingatannya yang lupa memberitahu Haris untuk menjemputnya lebih awal."Arghh sial, kenapa bisa lupa sih telpon Haris. El, El, kenapa sekarang kamu jadi gampang pikun kayak gini. Ini nih efeknya kalau kelamaan sama Haris," batin El sambil mengusap wajahnya gusar.


Chika sudah mengetahui apa yang membuat El gusar dan gelisah. Pasti ini karna ia lupa jika dirinya tak membawa mobil.


"Sudah mas, saya jalan kaki aja. Lagian udah biasa saya jalan kaki ke sekolah," pernyataan Chika membuat El sedih. Dirinya berjanji tak akan membuat Chika mengalami itu lagi.


"Gak, kita berangkat naik taksi. Percuma kalau saya panggil Haris sekarang. Paling dia masih ngorok. Tapi saya mandi dulu ya."

__ADS_1


"Kelamaan mas, saya keburu telat. Gini aja deh saya kasih ongkos buat naik angkot aja gimana?" Chika memberi solusi lain jika solusi pertamanya di tolak.


Tapi sepertinya Chika salah bicara. El malah menarik paksa tangannya dan membawanya untuk duduk kembali di sofa.


"Mas, lepas dong. Gak kasar sehari bisa gak sih?" Chika akhirnya berani meluapkan unek unek yang sudah lama ia simpan.


"Kasar? Saya gak pernah kasar apalagi sama wanita. Kalau saya kasar itu saya mukul kamu. Baru bisa kamu bilang saya kasar," jawab El.


"Dih, sama aja. Narik narik gini juga kasar kali. Tapi aku lagi gak mood berantem sama dia. Mending diemin ajalah. Ntar juga bingung sendiri," Chika bicara dalam hati dengan penuh keyakinan jika apa yang ia pikirkan itu benar.


Belum ada lima detik ia ia berpikir begitu, El sudah memakai jasnya dan berdiri di hadapannya.


"Kita berangkat sekarang naik taksi. Dan ini handphone untuk kamu, sudah saya pasang pelacak juga disini. Jadi kalau kamu kabur saya tahu kamu dimana!" ujar El tanpa menatap Chika.


"Pelacak? Kayak anjing aja. Kok mas sekarang jadi posesif gini sih. Udah mulai cinta ya sama saya. Udah mulai takut ya kehilangan saya," Chika mencoel pinggang El dan berusaha menggodanya.


"CHIKA!! Kamu pikir saya sambel bisa kamu colek colek. Cepat cari taksi online, tapi inget saya mau taksi yang mobilnya sport. Karna saya gak biasa pakai mobil yang murahan, yang jalannya kayak siput," El membuat Chika melongo karna ucapannya.


Dalam hatinya Chika bingung harus berbuat apa. Mau bilang iya tapi gak mungkin. Mana ada taksi online pakai mobil sport.


"Dasar sombong, sekali kali perlu nih aku bawa tuan El naik becak. Pengen tahu reaksi dia,naik BMW," Chika terkekeh dalam hati namun ia tahan.


"Chika...," ucap El.


"Iya iya mas. Ini lagi cari," Chika malas menjawabnya. Pura pura saja ia menggeser geser telunjuknya di atas layar ponsel seakan ia melaksanakan perintah El.


Ting.. Tong..


Ting..ting..ting..Tong..tong..tong..


Suara bel semakin terus berbunyi. Mungkin orang yang menekannya tidak ada bel dirumahnya, sehingga ia begitu senang memainkannya.


"Siapa sih yang mainan bel pagi pagi gini," gerutu El sembari berjalan menuju pintu.


"Mas ikut, jangan jangan itu setan mas. Kemarin malam kan kamu ganggu tidur mereka, bisa jadi kan mereka itu lagi balas dendam," El benar benar di buat heran oleh sikap Chika. Lagipula mana ada hantu datang pagi. Yang ada hantu itu datang kalau malam.


Malas mendengar celotehan Chika, El melanjutkan lagi langkahnya tanpa memperdulikannya.


Ceklek..


"Pagi Pak El," Haris menyapa dengan sedikit senyuman penuh harap. Berharap El dam Chika benar benar membuat cetakan tadi malam.


"Oh kamu Ris. Ngapain kamu tekan bel berkali-kali. Bikin telinga saya budeg," gertak El.


"Hehe, maaf pak sengaja. Habis saya pikir bapak sama non Chika masih kikuk kikuk."


"Apa itu kikuk kikuk. Bahasa apa lagi yang kamu gunakan Haris?"


"Bahasa kiasan. Seperti bapak kan kalau bicara suka pakai bahasa kiasan. Bingung kan? Nah itu pak perasaan saya kalau pak El bicara pakai bahasa kiasan," ujar Haris hingga tak bisa membuat El membalas ucapannya.


Ketika El sudah mengambil ancang ancang untuk menyemprot Haris, Chika datang dari arah belakang. Dan ia seperti menjadi ibu peri bagi Haris.


"Om Haris?" lirih Chika pelan.

__ADS_1


"Eh non Chika. Udah siap ya non. Gimana kalau kita pergi ke sekolah sekarang. Keburu non Chika telat loh pak," Haris tak mau melewatkan kesempatan untuk menghindari serangan balik dari El.


"Iya om ayo," jawab Chika.


"Mas ayo, apa kamu mau disini saja? Biar saya diantar om Haris ke sekolah."


Mata El melebar. Ia tak rela membiarkan Haris berdua saja dengan Chika di dalam mobil. Padahal bukannya dari dulu Haris selalu mengantar Chika kemana mana.


Sepertinya El memang sudah jadi bucin dengan Chika. Tapi ia tetap berusaha menyembunyikan perasaannya dari Chika dan Haris.


"Hmmm, saya juga ikut. Habis itu kita langsung ke kantor. Saya mandi dikantor saja. Lagipula saya juga punya cadangan baju ganti disana," ucap El kembali dengan mode dinginnya.


"Baik tuan," jawab Haris dengan suara tegas dan lugas.


Mereka bertiga lalu pergi meninggalkan apartemen. Sesampainya di parkiran, mereka langsung masuk ke dalam mobil.


"Chika, ingat nanti pulang sekolah saya jemput kamu dan saya antar kamu ke rumah saya. Mama pasti sudah menunggu kamu dirumah," ucap El sesaat setelah ia duduk.


"Baik mas."


Haris cekikikan dari kursi kemudinya. Baru dua jam mereka tinggal diapartemen berdua, panggilan Chika untuk bosnya sudah berbeda.


Sayangnya tawa Haris tak bertahan lama. Dari kaca depan, ia melihat El sedang menatapnya dengan tatapan menyeramkan.


"Jalankan mobilnya Ris, jangan hanya membayangkan video yang kamu tonton saja," ujar El yang sekejap membuat wajah Haris memerah karna malu.


"Aiishh Pak El. Kayaknya dia sengaja bilang gitu biar non Chika kepo terus habis ini pasti tanya video apa sih om? Aku harus jawab apa ya?" Batin Haris. Tanpa ia tahu kalau sesungguhnya Chika sudah tahu rahasianya itu.


Chika membuang pandangannya dari kedua lelaki dewasa di dalam mobil itu. Bulu kuduknya berdiri, saat sekilas arah matanya tertuju pada Haris yang kebetulan juga sedang menatap dirinya.


"Ihh serem. Ngapain si om lihat lihat aku. Jangan jangan otak nya jadi mesum gara gara lihat aku. Nih akibatnya belum pernah pacaran, jadi suka halu sendiri. Emang harusnya si om ini udah nikah, biar gak jadi kelainan **** gini deh," gumam Chika. Padahal gak sadar apa, dia juga lagi ngehalu.


Suasana menjadi hening, saat mereka sedang sibuk dengan kehaluan mereka masing masing. Dan disela keheningan di dalam mobil, El tiba tiba mendapat telpon dari papanya.


"Hmmm baik, El akan pulang sekarang juga," jawab El singkat dari balik telpon. Wajahnya seketika memerah setelah menerima telpon tadi.


"Haris, sehabis kita pulang kita langsung ke pulang kerumah. Barusan papa saya telpon, ada yang ingin dia bicarakan sama saya. Sepertinya saya tahu apa yang mau dia bicarakan, dan sepertinya papa sudah tahu semuanya Ris," El mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa papanya tahu tentang bagaimana kehidupan Chika sebenarnya.


"Baik pak El," jawab Haris dengan wajah yang tak kalah serius dari El.


Suasana kembali hening, hingga akhirnya mobil mereka sampai di depan sekolah. Sesat setelah Chika turun, Haris melajukan mobilnya dengan kencang. Layaknya pembalap handal, mobil itu perlahan menjauh dari arah pandangan Chika.


"Tuan El kenapa ya? Habis terima telpon dari papanya jadi diem. Sebenarnya kepo sih, tapi buat apalah mikirin dia. Mending mikir gimana caranya aku bisa kerjain soal ujian dan lulus. Ngapain juga aku mikirin tuan El, orang dia aja gak pernah mikirin aku," batin Chika.


Baru saja ia mau masuk ke dalam halaman sekolah, dari arah belakang ada yang membekap mulutnya, menarik tubuhnya dan memasukkannya paksa ke dalam mobil.


"Cepat bawa dia masuk, sebelum ada yang lihat," perintah seseorang dari dalam mobil.


Bersambung...


Hmmm kira kira siapa ya yang culik Chika? Apa niat dan tujuannya?


Next episode ya kakak reader 😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2