
Dalam perjalanan pulang, Chika menikmati cerahnya langit dengan hati yang bahagia. Rasanya ia sudah tak sabar memberitahu kabar ini pada suaminya.
"Sabar sayang, sebentar lagi sampai," Chika berbicara dalam hati dengan anak yang ada di dalam perutnya.
Dari kursi kemudi, Pak Amin menatap Chika sambil sesekali menggeleng heran, namun juga bahagia. Pasalnya, sudah lama ia tak melihat keceriaan Chika di dalam rumah.
45 menit kemudian, akhirnya Chika sampai di rumah. Jalanan yang padat, membuat dirinya sedikit terlambat sampai di rumah.
Chika masuk kedalam rumah sambil terus tersenyum, membuat beberapa asisten rumah tangga disana juga ikut bingung tapi senang.
"Mbak Chika, kok kayak bahagia banget. Ada apa nih mbak? Habis menang lotre ya mbak?" sapa Bi Ida.
"Arghh, bibi bisa aja. Nanti aja ya Chika cerita. Mama sama papa dimana bi? Terus Mas El apa masih di rapat sama Om Haris di ruang kerjanya?" tanya Chika.
"Iya, Mas El masih diruang kerjanya sama mas Haris mbak. Kalau bapak sama ibu lagi keluar. Bilangnya sih mau kondangan mbak."
"Oh gitu ya bi. Yaudah bi, aku mau nyusul Mas El ke ruang kerjanya dulu bi. Habis itu ada yang mau aku ceritain sama bibi," ujar Chika.
"Iya mbak. Bibi pamit ke dapur dulu ya mbak. Mau menyiapkan makanan untuk makan siang."
"Iya bi."
Di ruang kerja El..
"Ris, ada tugas baru lagi untuk kamu," ucap El sedikit ragu.
"Apa Pak?"
"Tolong siapkan surat gugatan cerai untuk Chika. Tapi nanti setelah dia hamil ya. Karna jika Chika belum memberikan saya anak, papa tidak akan mewariskan kekayaannya pada saya. Kamu tahu hal itu bukan," perintah El.
__ADS_1
Haris seakan tak percaya. Kok bisa bisanya bosnya mau menceraikan Chika. Padahal yang ia tahu, El begitu mencintai Chika.
"Apa Pak? Saya tidak salah dengar? Tunggu sebentar pak," Haris mengecek telinganya siapa tahu ada kapas yang menyumbat disana.
"Kamu sedang apa Ris?" tanya El heran.
"Enggak pak, hanya ngecek telinga. Siapa tahu ada kapas disini. Tapi sepertinya gak ada. Jadi yang saya dengar tadi.."
"Iya, itu sudah jadi keputusan saya."
"Tapi apa pak alasannya? Bukankah Pak El begitu mencintai non Chika begitu juga sebaliknya. Dan usia pernikahan bapak masih satu bulan loh pak. Ada apa Pak sebenarnya?"
El berdiri dari kursi singgasananya. Ia membuka sedikit gorden jendelanya sambil melihat langit yang cerah dari sana.
"Chika sudah tak perawan," ujar El.
Jedarr..
"Itu gak mungkin pak. Karna saya sudah menyelidiki sendiri kalau non Chika tidak mempunyai hubungan dengan siapapun. Hanya Pak El laki laki yang ada di hati non Chika. Bagaimana mungkin itu terjadi pak?" desak Haris yang semakin penasaran mendengarkan cerita El.
"Tapi itu kenyataannya Ris. Saya tidak pernah cerita ke siapapun. Baru kamu yang tahu dan saya harap kamu jaga rahasia ini," pinta El.
"Iya pak. Jadi ini alasan bapak setiap hari pulang larut, bersikap dingin dan cuek dengan non Chika? Tapi sebenarnya saya masih gak percaya loh pak. Jadi pada saat malam pertama bapak melakukannya dengan non Chika dan **** * non Chika udah longgar ya pak? Maaf ya pak kalau pertanyaan saya menyinggung hati Pak El."
Sebelum menjawab pertanyaan Haris, El duduk kembali ke kursinya. Menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Mengacak rambutnya kasar. Sungguh masalah ini begitu berat untuk ia terima.
"Huft.. Sebenarnya gak longgar sih Ris. Tapi Chika tak mengeluarkan darah disaat malam pertama. Ya saya sedikit ragu sih Ris. Karna setelah malam yang panjang, saya melakukannya lagi dan itu masih sangat susah untuk di terobos. Tapi hasilnya sama, Chika tidak mengeluarkan darah," keluh El.
Mendengar cerita El, bibir Haris hanya melengkung. Ingin menertawakan bosnya yang lugu dan sedikit ilmu tentang keperawanan seorang wanita, tapi takut kena hukuman lagi.
__ADS_1
"Cih Pak El. Kalau urusan bisnis dan kerjaan nomor satu, tapi kalau soal hubungan intim masih kalah jago sama aku. Pak El, Pak El, kalau sampai non Chika denger alasan bapak ini, bisa perang dunia ketiga. Yang ada bukan bapak yang menceraikan non Chika, tapi non Chika yang ingin bercerai dari bapak," batin Haris.
Dari balik pintu, Chika mendengarkan semua pembicaraan antara El dan Haris. Kenyataan pahit kini ia harus telan sendiri.
Hati yang selama ini berusaha ia kuatkan, kini sudah hancur berkeping keping. Maaf itu sudah tak ada, senyum itu sudah hilang dan angan angan tentang kabar gembira itu sudah sirna. Chika meremas amplop hasil USG nya, memangnya ke tempat sampah.
Ternyata El masih saja serakah soal harta warisan. Dan kebaikannya sebelum pernikahan itu hanya untuk membuat dirinya mendapatkan keturunan.
"Jadi selama ini kamu hanya mau anak mas dan itu semua hanya demi uang? Jahat kamu mas. Aku gak akan biarkan kamu ambil anak ini dari aku. Sebaiknya aku segera pergi, sebelum mas El tahu soal kehamilanku," Chika berlari pergi meninggalkan rumah sambil mengendap endap, melihat situasi yang pas untuk kabur.
****
Di ruang kerja El..
Setelah mendengarkan semua keluh kesal El dan apa masalah yang sedang di hadapi bosnya. Haris memberanikan diri untuk berpendapat.
"Pak, boleh saya kasih saran," ucap Haris.
"Apa?"
"Bukannya saya membela non Chika. Tapi setahu saya perawan itu gak semuanya mengeluarkan darah di malam pertama. Apalagi tadi bapak bilang, saat bapak melakuka hubungan badan dengan non Chika pertama kali, itu masih sangat susah bukan? Tandanya non Chika itu masih perawan pak. Mungkin saja selaput dara dari non Chika itu elastis, atau mungkin dia pernah melakukan kegiatan yang berat hingga membuat selaput daranya robek," jelas Haris.
El hanya mengangguk anggukan kepalanya. Mendengarkan penjelasan dari Haris.
"Kenapa bisa begitu ya Ris?"
"Ya saya gak tahu pak. Lagian Pak El kenapa gak tanya sama dokter Daniel. Siapa tahu dia bisa menjelaskan lebih detail sama bapak."
"Wah benar juga. Kenapa saya gak kepikiran kesana ya Ris. Sekarang kamu antar saya ke apartemen Daniel ya."
__ADS_1
"Baik pak," jawab Haris.
Haris berjalan mengekor di belakang El. Ia masih tak percaya, bosnya itu lagu, polos atau bodoh. Pakai acara menyakiti hati Chika hanya karna darah. " Kalau aja Pak El Dari dulu cerita sama aku, kan gak jadi selama ini non Chika tersakiti. Sebenarnya aku sering melihat mata non Chika sembab. Tapi ia selalu menutupi kesedihannya dari tuan dan nyonya. Non Chika juga selalu berusaha menutupi keburukan Pak El dari mereka. Non Chika tak hanya cantik dari luar tapi hatinya juga cantik. Beruntung banget Pak El bisa memenangkan hati non Chika," umpatnya dalam hati.