
Stress memikirkan persoalannya, El mengebul terus dan entah berapa bungkus rokok yang sudah ia habiskan. Matanya masih memandangi Chika yang masih tertidur lelap di hadapannya, dengan tubuh yang polos dan hanya berbalut selimut.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. El sengaja membuka kain gorden, membuat Chika terbangun karna sinar matahari yang masuk lewat jendela.
"Mas, kamu udah bangun?" sapa Chika sembari mengucek matanya.
"Ya kamu bisa lihat kan aku sudah bangun."
"Dih, ya aku tahu mas. Tapi gak perlu juga ngomong ketus gitu."
Belum juga melampiaskan kekesalannya karna ucapan El. Mata Chika tertuju dengan asbak di meja yang sudah penuh dengan putung rokok. Belum lagi beberapa bungkus rokok yang tergeletak di lantai.
"Astaga, pagi pagi gini kamu merokok mas? Kok banyak banget putung rokoknya. Kamu habis merokok berapa banyak?" Chika mendesis kesal, namun El sama sekali tak bergeming dan terus saja mengepul membuat seisi kamar di penuhi oleh asap.
Chika segera beranjak dari ranjang. Tangannya sudah gatal ingin membuang sisa sisa rokok yang masih ada di atas meja beserta bungkusnya.
"Auu..," Chika merintih kesakitan di bagian sensitifnya saat mencoba bangkit dari ranjang.
Refleks El berlari, bergegas menangkap tubuh Chika yang hampir jatuh.
"Kamu gak papa? Apanya yang sakit?" El cemas. Jauh dari lubuk hati, El khawatir.
"Gak papa mas. Hanya nyeri sedikit. Uhuk Uhuk.. Mulutmu bau rokok mas. Cepat gosok gigi," titah Chika.
"Nanti aja. Sebenarnya kamu nih mau kemana? Kalau sakit tidur aja. Jangan merepotkan orang," ketus El.
"Ya aku mau datengin kamu mas. Mau aku jewer kupingnya. Aku tuh paling gak suka punya suami perokok. Jadi aku minta jangan merokok lagi ya," ujar Chika sambil memperlihatkan puppy eyesnya, membuat El malah gemas dengan tingkahnya.
Bibir El mulai mendekat, hendak mengecup bibir Chika. Saat bibir mereka sudah hampir bertemu, El kembali memundurkan tubuhnya. Menahan untuk menyentuh perempuan yang ia anggap sudah membohongi dirinya.
"Kenapa mas kok gak jadi? Sini biar aku cium aja."
Cup..
Tanpa aba aba, Chika mencium bibir El. Meski ingin menolak, tapi hatinya tak bisa berbohong. Ia justru melahap habis bibir Chika. Sepertinya ia lupa dengan amarah, benci, dendam dan janjinya.
Suasana kembali memanas. Ac di dalam kamar sepertinya tak terasa dingin. El mencoba melakukannya lagi, siapa tahu darah Chika akan keluar. Sungguh El kurang ilmu soal adegan ranjang.
Pagi itu, mereka kembali menanam padi di sawah. Lupakan saja dulu soal kebencian itu. Lagipula El sudah ketagihan untuk terus dan terus melakukannya.
Selesai berolahraga, Chika tertidur diatas dada bidang El.
"Mas jangan merokok lagi ya. Jaga kesehatan kamu. Inget umur mas. Sakit itu gak enak loh. Daripada uang dihabiskan buat merokok, mending di sumbangin aja. Malah dapat pahala," ucap Chika.
__ADS_1
"Hm."
Chika menghela nafas panjang. Ucapannya yang panjang lebar hanya di jawab dengan suara deheman saja.
"Tau ah gelap, mau mandi aja. Mas El bikin bete. Sikap dinginnya gak berubah," Chika menggerutu sambil mengambil handuk dan berjalan pelan menuju kamar mandi.
Perasaan El semakin tak karuan. Rasanya seperti permen nano nano. Karna saat kedua kali melakukannya, El masih kesusahan untuk masuk tapi hanya darah yang selalu menjadi pertanyaannya saat ini. Kenapa Chika tak berdarah? Apa ada perawan yang tak berdarah?
"Mungkin dia minum jamu yang bikin rapet. Jadi saat melakukan hubungan intim, masih terasa agak susah untuk di terjang. Pintar juga usaha dia untuk mengibuli aku," batin El.
Sesaat kemudian Chika mulai keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Mas, habis ini kita mau kemana?" tanya Chika saat melihat El masih sibuk bermain ponsel.
"Pulang. Aku harus berangkat kerja. Aku lupa ada meeting sama klien," jawab El sinis.
"Tapi mas, kita kan habis menikah. Kamu gak cuti dulu gitu. Paling enggak sehari kek," protes Chika.
El menaruh ponselnya diatas meja. Menghampiri Chika dan menatapnya tajam.
"Aku ini pebisnis Chika. Dari awal kamu harus sudah tahu konsekuensinya."
"Iya iya mas. Maaf. Yaudah kita pulang aja. Mas bisa kerja. Biar aku di rumah sama mama," Chika merayu. Mencium pipi El saat melihat suaminya itu sedang emosi.
"Iya mas," jawab Chika.
El sengaja tak membantu istrinya merapikan semua barang barang mereka. Rencana awal sudah di mulai. El berniat membuat Chika menyesal karna sudah mencoba bermain main dengannya.
Matanya tak beralih. Melihat Chika yang masih sibuk mengemasi barang barang mereka.
"Mas bantuin," rengek Chika dengan suara manjanya.
"Gak mau rapiin sendiri. Aku mau cari angin segar diluar," jawab El sinis.
"Arghh mas El. Yaudah sana pergi aja."
El beranjak dari sofa, meninggalkan Chika sendirian di kamar. Sambil menggerutu, Chika melihat punggung El yang mulai pergi meninggalkan kamar mereka. Hatinya bertanya tanya, mengapa sikap El berubah. Kembali dingin dan acuh padanya. Padahal hal yang paling berharga yang ia miliki pun telah ia berikan pada El.
"Mas El kenapa ya? Apa karna permainanku gak memuaskan ya. Coba deh nanti aku lihat cd pemberian om Haris. Siapa tahu nambah ilmu biar suami jadi puas," Chika cekikan sendiri seperti orang gila.
Satu jam kemudian..
El sudah kembali ke kamar. Melihat Chika sudah bersiap dengan 2 koper di sampingnya.
__ADS_1
"Ayo mas, jadi pulang gak?"
"Hmmm ayo. Sini yang satu biar aku bawa."
"Makasih suamiku. Makin cinta deh aku," Chika memasang wajah sok imutnya. Berharap sikap dingin El akan kembali mencair.
Meski ingin tertawa, El berusaha menahannya. Hanya dengan mengingat hal yang membuat dirinya sakit hati, itu akan membuat El sedikit melupakan tentang perasaannya pada Chika.
"Jalan yang cepat, aku mau ke kantor," seru El.
"Gak bisa mas. Pelan aja jalannya, masih sakit," keluh Chika.
Merasa kasihan, El kembali berjalan kebelakang dan langsung menggendong tubuh Chika.
"Loh loh loh mas, kamu ngapain?" tanya Chika.
"Ya gendong kamu. Aku paling gak suka sama cewek rewel. Udah bisa diem gak."
"Iihh co cweet. Terharu aku mas," Chika mengedip edipkan matanya. Memasang wajah yang membuat El malah semakin gemas dengan tingkahnya.
"Kalau masih ngomong, aku turunin lagi."
"Jangan dong. Kalau jalan gak bisa peluk peluk kayak gini. Makasih ya mas, udah jadi suami yang siaga sama istri."
"Hmmm."
"Ih gak jangan ham hem ham hem aja mas. Udah jadi suami masih aja judes. Pengen mas El yang kayak kemarin."
"Kemarin gimana? Perasaanku sama aja. Jangan baperan jadi orang."
"Gak baper kok, kenyataan. Tapi aku suka kok sama sifat mas El yang kayak kulkas ini. Jadi aku gak perlu ketar ketir, takut mas El kena rayuan dari cewek lain," jawab Chika.
Dalam hati El mendengus kesal. Kenapa ingin membuat Chika sakit hati sangat susah. Terbuat dari apa hatinya ini. Biasanya seorang istri akan merasakan sakit yang dalam jika suaminya bersikap cuek dan bicara yang kasar.
"Chika, kenapa susah sekali aku membenci kamu. Andai saja kamu masih perawan. Aku pasti menjadi seorang suami yang paling bahagia sekarang," gumam El sembari mengamati wajah Chika.
"Jangan diliatin terus. Aku cantik ya mas?" ujar Chika, membuyarkan semua lamunan El.
"Geer. Udah mau sampai lobby. Turun gih. Malu diliatin orang. Lagian badan kamu berat juga."
"Iya iya mas. Kan aku juga gak minta di gendong. Oh iya koper kita gimana mas?"
"Lagi diambil belboy. Kamu masuk ke mobil dulu, nanti aku susul."
__ADS_1
"Siap suamiku," Chika mencium pipi El sekilas lalu pergi menuju mobil mereka.