Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Penasaran


__ADS_3

Sepulang sekolah, Maya mengantar Chika untuk berangkat kerja di rumah El. Namun karna kejadian tadi pagi, sikap Chika sedikit berubah. Ia lebih banyak diam, hingga membuat Maya agak khawatir dengan Chika.


"Chik, kita udah sampai," ucap Maya namun Chika masih saja duduk diatas motornya.


"Chik,kita udah sampai," panggil Maya kembali.


"Oh udah sampai ya May. Thanks ya udah dianterin," jawab Chika sambil memberikan helm yang ia pakai pada Maya.


"Chik, loe beneran baik baik aja? Gue lihat dari tadi loe ngelamun terus. Elo lagi mikirin soal tante Renata ya?"


"Enggak kok. Buat apa gue mikirin dia. Orang dia aja gak mikirin gue," jawab Chika yang masih berusaha menahan tangisnya di depan Maya.


Maya tahu jika saat ini Chika sedang berbohong. Maya lalu turun dari motornya dan memeluk Chika.


"Loe kenapa masih malu sama gue sih Chik. Gue tahu hati loe saat ini lagi sakit kan? Kalau loe mau nangis, nangis aja Chika. Gak usah pura-pura tegar. Gak usah pura-pura ceria dan seakan gak ada apa apa. Jangan simpan semua kesedihan loe sendirian, loe lupa ada gue yang selalu ada disamping loe," ujar Maya sembari mengelus punggung Chika.


Mendengar seluruh ucapan Maya, Chika sudah tidak dapat lagi membendung air matanya. Ia memeluk erat tubuh Maya dan mengeluarkan semua kesedihannya.


"Kenapa hidup gue jadi begini sih May, kenapa? Apa salah gue dan kedua orang tua gue. Kenapa Allah mengambil mereka secepat ini. Dan kenapa gue harus punya tante yang kejam. Kenapa juga gue harus menikah kontrak dengan om om yang baru aja gue kenal hanya untuk biayain sekolah gue. Kenapa May?Dosa apa yang udah gue buat sampai hidup gue jadi seperti sekarang," ucap Chika sambil menangis terisak.


"Loe gak dosa apa apa Chika. Kalau orang tua loe dipanggil cepat itu tandanya mereka orang baik. Dan kalau loe mendapat ujian seberat ini, itu berarti Allah sayang sama loe dan Allah percaya loe bisa melalui ujian ini. Hanya orang terpilih aja Chika, yang mendapat ujian dan cobaan seperti ini. Tapi percayalah, semua akan berakhir indah," jawab Maya sembari melepas pelukan Chika.


"Tapi gue gak kuat May menghadapi ujian ini."


"Kata siapa? Gue yakin loe kuat kok. Loe gak usah khawatir, gue akan selalu ada disamping loe jika loe butuh sesuatu, ya asalkan bukan uang. Loe kan tau gue kere," kata Maya yang berhasil membuat Chika tersenyum.


"Apaan sih loe May. Udah ya gue mau kerja. Gue gak enak sama Bi Ida."


"Loe yakin mau kerja? Mending loe ijinlah sehari sama tuan loe itu. Toh dia kan juga bakal jadi suami loe."


"Gak, suami apaan. Inget cuma suami diatas kertas bukan suami beneran. Udah sana buruan pergi, gue nitip barang barang gue ya. Gue titip semuanya di rumah loe dulu ya May. Nanti kalau gue udah punya uang buat sewa kos, gue bakal ambil semua."


"Udah loe gak usah mikirin itu. Gue pamit ya Chik, semangat ya kerjanya."

__ADS_1


"Iya May, thanks ya. Elo emang sahabat terbaik gue," ujar Chika sambil memeluk Maya.


"Sama sama. Udah ah, gue balik aja. Kalau lama lama disini mewek lagi kita nanti."


"Hahahaha, iya May. Loe hati hati ya," pesan Chika.


"Iya Chik, loe juga," jawab Maya.


Motor Maya sudah melaju dan meninggalkan dirinya. Chika bergegas masuk kedalam rumah El, dan dengan segera menemui Bi Ida.


Tanpa disadari Chika, ternyata semua kejadian antara dirinya dan Maya terekam di cctv depan rumah El. Dan kebetulan El yang sudah berada di rumah melihat semua tingkah kedua gadis itu tadi lewat monitor di ruang kerjanya.


"Ada apa sama gadis itu. Kenapa disini terlihat kalau dia begitu sedih hingga menangis sampai segitunya. Pasti ada sesuatu yang batu saja terjadi pada dirinya," batin El yang langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Haris.


Tak butuh waktu lama untuk El menghubungi Haris. Dengan cepat Haris mengangkat panggilan dari bos nya itu.


"Halo pak El, ada apa bapak menghubungi saya."


"Saya ingin kasih tugas baru untuk kamu."


"Cepat kamu cari tahu ada kejadian apa hari ini dengan Chika. Tadi saya lihat di cctv, Chika menangis dan bercerita dengan sahabatnya itu. Kamu masih menyimpan nomor sahabatnya Chika kan?"


"Oh maksud pak El Maya?"


"Ya saya gak tau namanya. Mau Maya, mau Meong terserahlah. Yang penting cepat cari tahu ada apa dengan Chika hari ini."


"Baiklah pak, saya akan segera menemui temannya non Chika. Bapak ini diam diam peduli juga ya sama non Chika. Hati hati loh pak, nanti baper."


"Apa kamu bilang? Peduli? Saya tidak peduli sama dia. Saya hanya penasaran aja, sebenarnya dia itu kenapa?"


" Penasaran itu ada karna pak El sebenarnya peduli sama non Chika."


"Haris, kamu berani menggoda saya." teriak El dengan suara meninggi.

__ADS_1


"Oh tentu tidak pak. Ada lagi pak tugas untuk saya?" ucap Haris yang berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Gak ada. Cepat selesaikan tugas dari saya. Dan jika kamu sudah dapat info soal Chika dari temannya itu cepat kamu kerumah saya. Kebetulan ada sesuatu yang ingin saya berikan untuk kamu."


"Wah apa pak? Bonus ya pak."


"Jangan kebanyakan bicara. Cepat kerjakan dulu dan cari informasi yang akurat."


"Baik pak El." jawab Haris.


Selesai mematikan panggilannya dengan Haris. El pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun pikirannya kembali teringat dengan rekaman cctv. Akhirnya ia menutup laptopnya dan bergegas untuk menemui Chika.


Chika yang baru saja datang hendak bergegas menuju dapur. Namun langkahnya terhenti saat melihat tuannya itu sudah berdiri di depannya.


"Tu.. Tuan, kok tuan gak dikantor," ucap Chika yang sedikit syok karna melihat tuan El nya dirumah.


"Ya suka suka saya dong. Rumah juga rumah saya, jadi terserah saya mau pulang kerumah ini kapanpun."


"Ya iya, kalau itu saya juga tahu," ucap Chika.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya tuan, saya mau ke belakang. Mau bantu Bi Ida bersih-bersih."


Baru saja Chika melangkah tangannya sudah ditarik oleh El.


"Siapa yang menyuruh kamu kerja. Sekarang kamu ikut dengan saya," ucap El dengan mode dinginnya


"Ke.. Ke... Kemana tuan?"


"Jangan banyak tanya, kamu ikut saja. Kamu lupa di poin ketiga tertulis kamu tidak boleh membantah semua perintah saya. Sudah ayo ikut saya," ucap El sambil menarik tangan Chika.


"Iya tuan, tapi jangan main tarik tarik dong. Tuan gak malu apa dilihat semua karyawan dirumah ini."


"Buat apa saya malu, sebentar lagi kamu kan juga jadi istri saya. Dan sepulang dari kita pergi saya akan membuat pengumuman buat mereka."

__ADS_1


Mata Chika terbelalak mendengar ucapan tuannya. Rasanya ingin sekali ia mencakar, menjambak dan memukul orang di hadapannya itu namun apa daya ia sudah terlanjur menyetujui perjanjian yang menjerat dirinya.


"Ya Tuhan sampai kapan aku harus menjadi budak si om. Semoga aja nanti mama dan papanya si om ini suka sama aku. Dan si om cepat mendapatkan apa yang dia mau. Lalu aku segera terbebas dari perjanjian ini," batin Chika sembari berjalan mengekor di belakang El.


__ADS_2