Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Martabak Manis


__ADS_3

Waktu kini mulai menunjukkan pukul sepuluh malam, namun tak ada tanda tanda kepulangan El. Bahkan beberapa pembantu dirumah El sudah banyak yang beristirahat.


Chika masih menunggu El di dalam rumah. Sambil menggoyangkan kakinya, Chika selalu menengok ke arah jam di dinding.


"Tuh manusia batu kemana sih, kok belum pulang. Gak tau apa kalau aku udah pegel nungguin dia," Chika bergumam de ga hatinya sendiri.


Kebetulan Bi Ida yang hendak mengambil minum di dapur masih melihat Chika menunggu tuan mudanya.


"Chika kamu masih disini nak? memangnya Mas El belum pulang?" tanya Bi Ida.


"Belum bi, padahal ini sudah jam 10 loh. Memang biasanya si om pulang jam berapa sih bi?" tanya Chika.


"Gak tentu sih Chika, kadang sore kadang malam, bahkan pernah gak pulang juga."


"Wah jangan jangan si om cuma php in Chika aja ya bi. Padahal Chika beneran butuh bantuan si om bi. Tapi kalau nunggu si om pulang sama aja bohong. Dih, pasti si om sombong itu cuma ngerjain Chika aja," gerutu Chika sembari menghentakkan kakinya.


"Tunggu dulu aja Chika. Mas El kan menyuruh kamu menunggu dia kan?"


"Iya bi tapi...," ucap Chika terputus karna mendengar suara mobil El.


"Huft akhirnya pulang juga si om," batin Chika.


Bi Ida tersenyum ke arah Chika, sambil mengelus rambut Chika.


"Itu Chika, Mas El nya udah dateng. Makanya kamu jangan suudzon dulu ya nak. Kalau gitu bibi pamit masuk ke kamar ya," pamit Bi Ida.


"Iya bi, semoga mimpi indah ya bi."


"Iya nak," jawab Bi Ida.

__ADS_1


Tak lama setelah Bi Ida pergi, El dan asistennya Haris masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh Chika.


"Malam om, eh salah malam tuan," sapa Chika saat melihat El masuk kedalam rumah.


"Hmmm, ternyata kamu masih nungguin saya ya? Saya kira kamu sudah pulang," jawab El dengan tatapan datar.


"Belum tuan, saya masih menunggu tuan. Tuan kok pulangnya malam banget sih?" tanya Chika.


"Iya, tadi saya mampir beli ini martabak manis buat kamu. Saya tahu sudah lama kan kamu gak makan enak, saya rela antri berjam-jam cuma mau beli ini buat kamu," ucap El sambil memberikan sekotak martabak manis pada Chika.


"Makasih tuan," jawab Chika dengan senyum cantiknya namun tak dibalas oleh El.


"Dasar om om kurang piknik. Niatnya emang baik kasih aku makanan, tapi ujung ujungnya mencela aku juga. Lagian siapa juga yang nyuruh dia ngantri beli ini, kan aku gak minta juga. Alasan gak bermutu. Cuma gara gara nungguin dia beli martabak, aku jadi pulang kemalaman kan," batin Chika sambil memutar bola matanya jengah.


Haris yang baru sekali bertemu Chika dibuat kagum oleh kecantikan Chika. Ia pun berusaha menggoda tuannya.


"Jadi ini pak gadis yang bapak ceritakan itu? Cantik ya pak? Pantes aja Pak El rela antri beli martabak buat gadis ini," bisik Haris Sambil memperlihatkan senyum jahilnya.


"Yah jangan dong pak. Tapi serius loh pak gadis ini beneran cantik. Gak keliatan seperti gadis SMA."


"Cantik darimananya, bagi saya dia tetap saja gadis yang merepotkan. Saya lihat dari tadi kamu memuji dia, apa kamu menyukainya?" tanya El.


"Jujur sih iya, tapi ya berat juga sih pak."


"Berat gimana maksudmu?" tanya El yang langsung menoleh kearah Haris.


"Ya saya kan udah orang susah pak, adik saya aja lima masih kecil kecil lagi. Kalau saya sama dia, beban saya bertambah pak. Saya pasti akan menghidupi dia juga," ucap Haris.


"Dasar kamu, makanya bilang sama ibumu jangan punya anak banyak banyak."

__ADS_1


"Gak tau itu pak, ibu saya suka banget berkembang biak," ucap Haris sembari menggaruk kepalanya.


"Hahahaha, jangan jangan kamu juga seperti itu nanti," ucap El.


"Argghh, bapak bisa saja," jawab Haris.


Chika sedari tadi masih berdiri dan dianggap seperti patung oleh kedua lelaki ini. Apalagi ia juga penasaran dengan pembicaraan mereka.


"Eheeem.. Ehhheeemm..," suara deheman dari mulut Chika.


"Pak ini sudah malam loh, jadi gak?" gerutu Chika.


"Oh iya saya lupa jika ada kamu, baiklah sekarang kamu ikut saya ke ruang kerja saya. Dan kamu Haris, tolong ambilkan map saya yang ada di mobil."


"Baik pak," jawab Haris sembari pergi kembali ke mobil El.


Kini didalam ruang kerja El hanya tinggal ada dia dan Chika.


"Ada yang mau saya bicarakan sama kamu? Ayo kamu duduk dulu," ucap El.


"Baik tuan, memang tuan mau bicara apa sama saya?" tanya Chika.


"Tunggu Haris dulu, sambil menunggu kamu coba itu martabak manisnya. Enak atau enggak."


"Iya tuan, tuan mau gak?"


"Gak usah, saya gak lapar. Kamu saja yang makan," ucap El.


Chika pun menyantap martabak manis pemberian El dengan lahapnya.

__ADS_1


"Kasihan juga kamu, sudah saya duga kamu sudah lama tidak makan makanan yang enak. Ini semua pasti gara gara om dan tante kamu. Tapi saya janji saya akan membantu kamu mendapatkan hak kamu kembali jika nanti kamu sudah setuju dengan persyaratan yang akan saya berikan," batin El sambil mengamati Chika yang sedang sibuk memakan martabak pemberiannya.


__ADS_2