Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Janji Suci


__ADS_3

Masjid Agung..


Beberapa tamu undangan sudah tiba. Dekorasi serba putih membuat nuansa sakral begitu terasa.


Atas permintaan Chika, Pandu juga menjadi saksi dan duduk di sebelah kiri El sedangkan tuan Aristya ada di sebelah kanannya.


"Bisa kita mulai sekarang?" tanya penghulu.


El mengangguk, mencoba menutupi rasa tegang yang di dera. "Siap pak," jawab El dengan lantang.


Beberapa detik kemudian, El menjabat tangan penghulu yang berada di depannya. Menarik nafas panjang, sebelum ia mengucapkan janji suci.


"Saudara Elvano Aristya bin Aristya Putra. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Chika Priscilla binti Agus Dirgantara dengan mas kawin seperangkat alat sholat serta uang sebesar seratus tujuh puluh satu juta ribu seratus tujuh puluh satu rupiah dibayar, tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya, Chika Priscilla binti Agus Dirgantara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Gimana para saksi?"


"SAH," suara menggema terdengar di seluruh ruangan.


Di sebuah ruangan, Chika menangis haru dalam pelukan nyonya Sarah dan tantenya. Perasaan deg degan yang semula ia rasakan berubah menjadi rasa lega. Sekarang dirinya sudah berstatus menjadi nyonya Elvano tanpa harus ada status sebagai istri kontrak.


"Chika, sekarang kamu sudah menjadi istri El. Itu tandanya kamu juga sudah menjadi anak mama. Dan mulai detik ini kamu adalah bagian dari keluarga Aristya," ucap nyonya Sarah.


"Iya mah. Aku akan berusaha menjadi istri dan menantu yang baik untuk mama, papa dan mas El," Chika memeluk mama mertuanya, menangis bahagia.


Disebelahnya, Renata menatap tak suka. Bagaimana pun Chika bisa seberuntung sekarang karna sikapnya dulu. Niat hati ingin membalas dendam pada kakaknya, tapi malah memberi kebahagian pada keponakannya itu.


"Sialan. Padahal aku pengen kamu merasakan jadi tante dulu. Hidup miskin dan serba kekurangan. Lah kok malah dapet durian runtuh. Kenapa semua gak sesuai rencana sih. Diatas sana kami pasti seneng kan kak melihat anak kamu dapat orang kaya," Renata melirik sinis ke arah Chika dan Nyonya Sarah.


Selesai membaca doa, Chika mulai di bawa untuk menemui suami halalnya yang sudah menunggu dirinya diluar.


Ia berjalan dengan diapit oleh mama mertua serta tantenya. Kebaya berwarna putih dengan sanggul di kepalanya membuat dirinya terlihat anggun.


Kini mereka berdua sudah duduk bersebelahan. Sebuah senyuman dari Chika, membuat wajah El yang masih tegang mulai berubah menjadi senyum yang sumringah. Mama pun mengangguk, seolah memberikan ucapan selamat lewat tatapan matanya.


Tak sabar memperlihatkan istri cantik sahnya keseluruh dunia, El langsung mengecup kening Chika didepan semua orang. Apalagi sama mamanya, dia gak akan dapat curi kesempatan untuk mencium Chika, kan sudah halal. Pikirnya.

__ADS_1


Selepas acara akad selesai, El dan Chika menemui para wartawan. Memperlihatkan jari manis mereka ke arah sorot kamera sambil menunjukkan cincin pernikahan mereka.


"Kamu bahagia sayang?" bisik El


"Sangat bahagia," jawab Chika sembari terus memasang senyum di depan kamera.


Sudah cukup untuk sesi wawancara, El dan Chika serta seluruh keluarga besar pergi makan bersama sebelum mempersiapkan diri untuk pesta mewah di sebuah hotel berbintang lima nanti malam.


Tak terasa malam sudah tiba. Pasangan pengantin telah selesai dirias. Chika berjalan seiring dengan El menuju ke kursi pelaminan mereka. Nampak jelas aura kebahagiaan di wajah mereka. Bak ratu dan raja malam ini, baik Chika dan El terlihat begitu serasi.


Saat mereka berjalan, sesekali mereka menoleh ke arah tamu undangan yang takjub dengan kecantikan istri pewaris tunggal keluarga Aristya. Namun tak sedikit pula yang menggunjing Chika karna usianya yang terlampau muda di bawah El.


Acara demi acara sudah di lewati, tanpa terasa kini sudah tiba di penghujung acara. Para tamu undangan, kerabat serta sahabat sahabat El dan Chika mulai mengantri untuk memberikan selamat pada pasangan pengantin baru ini.


"Selamat ya El, akhirnya nikah juga. Aku kira kamu masih belum move on dari yang berdiri di belakangku," ujar Daniel yang langsung mendapat sorotan tajam dari El.


"Bisa diem gak, atau mau aku usir sekarang," ancam El.


"Bercanda kali El. Gak marah kan Chika?" sungguh Daniel membuat El geram. Mau marah tapi malu juga, masih banyak tamu disana. Sedangkan Chika hanya membalas dengan senyum getir.


"Hei jangan marah ya. Daniel memang suka begitu," bisik El yang sedang berusaha merayu Chika. Takut dong nanti malam gak dapat jatah.


"Enggak siapa juga yang marah. Toh aku kan sekarang istri kamu. Tandanya aku yang sudah menang atas kamu."


"Ihh..jadi gemes. I like the way you think."


"Udah jangan gombal dulu. Malu di denger tamu tamu."


"Biarin aja, biar mereka iri," El sengaja mengusap pipi Chika. Apalagi di depannya kini sedang ada Tania dan Bayu.


Tania mengulurkan tangannya, memberi ucapan selamat pada mantan kekasihnya yang selama hampir lima tahun mengisi hatinya.


"Selamat ya El," ujar Tania yang tak lama di ucapan oleh Bayu.


"Thanks Tan, Bay."


Kini para tamu undangan satu per satu sudah mulai meninggalkan ruangan. Hanya tersisa keluarga terdekat saja.

__ADS_1


"El, ajaklah Chika ke kamar. Beristirahatlah, kalian berdua pasti lelah," titah mama.


"Iya El. Ajak istrimu ke dalam kamar. Dan jangan lupa segera kasih papa cucu ya," imbuh tuan Aristya hingga membuat wajah Chika memerah seperti tomat.


"Pasti dong pah."


Tuan Aristya dan Nyonya Sarah mulai meninggalkan El dan Chika dan tak lama Haris menghampiri mereka.


"Pak El dan Non Chika selamat menempuh hidup baru ya," Haris menjabat tangan El namun tak berani menjabat tangan Chika. Takut membuat El terbakar cemburu lagi.


"Makasih om."


"Hmmm, makasih Ris. Oh iya Ris, untuk malam ini jangan ganggu saya dulu tentang urusan pekerjaan. Mengerti!"


"Ngerti dong Pak. Walaupun saya belum menikah, tapi saya juga ngerti kondisi kok pak. Oh iya ini ada kado dari saya ya pak El, non Chika. Jangan dilihat dari harganya, yang penting kan niatnya."


El memicingkan matanya, kotak berukuran Haris berikan ke hadapan El. "Apa isinya? Pasti dia sedang merencanakan sesuatu," batin El.


"Ini apa om?" Chika penasaran. Karna seumur umur yang ia tahu dari El, Haris ini orang yang sangat pelit.


"Dibuka nanti aja ya non. Kan gak sopan kalau di buka disini."


"Udah sayang kamu bawa aja ya. Saya curiga isinya pasti murah, makanya dia gak mau kita buka disini. Lagipula kamu tahu sendiri, mana mungkin dia mau keluarin uang buat beli yang mahal," celetuk El sambil melirik ke arah Haris.


"Dih si bos, kalau bicara kayak bis gak di rem. Gak pernah mikir sebelum bicara. Nyakitin perasaan orang apa enggak," Haris hanya berani mengumpat dalam hati.


"Mas, jangan gitu. Sini om Chika terima aja. Makasih ya om buat kadonya," ucap Chika.


"Iya sama sama non. Kalau gitu saya pamit pulang dulu ya pak El, non Chika. Selamat menanam padi di sawah."


Belum sempat El memberikan semburan berbisanya, Haris pergi secepat kilat. Kalau terlalu lama, ia tahu apa yang akan El ucapkan.


"Dasar Haris!" celoteh El.


"Mas, siapa yang mau ke sawah?"


"Kita sayang," jawab El yang langsung menggendong tubuh Chika. Membawanya menuju ke presidential suite milik mereka.

__ADS_1


__ADS_2