Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Istri Idaman


__ADS_3

"Tuan saya sudah siap," ucap Chika hingga membuat El semula hanya memperhatikan ponselnya kini bangkit dan berdiri di depannya.


Chika yang biasanya dianggap masih bocah kini berubah menjadi sangat anggun. Dengan dress mini berwarna merah muda dan rambut sebahu yang ia gerai di tambah poni menyamping dan sedikit aksesoris di rambutnya membuat bocah kecil itu berubah seperti perempuan dewasa yang menawan.


El tertegun, sambil menelan slivanya menatap mata berwarna coklat dan bulat itu.


"Cantik sekali bocah ini, rasanya bibirku ini ingin bilang dia sungguh cantik hari ini. Tapi...," umpatnya dalam hati.


Plaaakk..


Tangan kecil Chika memukul bahu El yang sedari tadi terus mengamati dirinya.


"Chika!! Beraninya kamu memukul saya?" El berkata dengan sederet gigi putihnya yang sudah berdiri sejajar.


Melihat El geram karna ulahnya, Chika kembali membuat ulah yang lain.


"Terpesona aku terpesona, menatap wajahmu yang manis," Chika bernyanyi hingga membuat kerutan di dahi El.


"Chika kamu sedang apa? Cukup Haris saja yang buat malu, kamu jangan ikut ikutan. Ngapain kamu senyum senyum sendiri seperti itu," tegur El.


"Lagi nyanyi lagu tiktok yang baru viral itu loh tuan. Judulnya terpesona, kayak tuan yang lagi terpesona kan lihat penampilan saya," ujar Chika dengan sedikit menyunggingkan bibirnya.


"Cih, siapa yang terpesona sama kamu."


"Lha terus kenapa tuan ngeliatin saya sampai gak kedip? Udahlah tuan tinggal bilang aja, Chika kamu cantik sekali hari ini. Gak usah di tahan tahan tuan, saya bisa kok baca hati dan pikiran tuan," Chika hanya asal bicara saja, namun malah membuat El terdiam kembali.


"Apa benar bocah ini punya indra keenam, hingga dia bisa tahu apa yang ada dalam pikiranku saat ini?" batin El.


"Jangan asal bicara, kamu pengen tahu alasan


saya melihat kamu sampai seperti tadi?" ucap El sambil memikirkan alasan apa yang ia gunakan.


"Iya, bener kan yang saya bilang tuan."


"Terlalu pede, saya hanya melihat nilai fashion kamu itu sangat rendah. Mana ada pakai dress mini tapi menggunakan tas punggung dan sepatu kets. Sudah ayo pergi, mama dan papa saya bisa mengamuk karena menunggu terlalu lama," jawab El lalu berjalan melewati Chika.


Chika memutar bola matanya jengah mendengar alasan El.


"Sebenarnya yang fashionnya rendah itu dia bukan aku. Gak pernah liat majalah remaja sih, yang dibaca cuma majalah dewasa terus," Chika bergumam dengan menghentakkan sebelah kakinya.


Entah kenapa ucapan El membuat dadanya terasa sakit. Ingin sekali ia dipuji oleh orang yang sudah menjeratnya. Tapi kenapa? Apa alasannya? Pertanyaan itu memenuhi seluruh otaknya saat ini.


El menoleh ke belakang melihat Chika masih berdiri di tempat yang sama. Akhirnya El kembali mundur dan menarik kasar tangan Chika.


"Ngapain diam disini, ayo ke mobil. Kita harus ke bandara sekarang," ucap El sambil menarik tangan Chika.


"Iya iya tuan," Chika mendesis kesal.


Dari kejauhan Haris melihat El dan Chika keluar dari restoran. Haris pun langsung mematikan satu batang rokok yang baru saja ia nyalakan.


"Sebenarnya sayang rokok ini kalau di buang, tapi gimana lagi. Arghh.. Pak El dan non Chika datang di waktu yang kurang tepat," gerutu Haris sembari menginjak batang rokok yang masih panjang.


Namun mata Haris tiba tiba terarah dengan tangan yang bersatu ditengah tengah mereka. Dan karna sibuknya memikirkan pertanyaan di kepalanya, Haris tak sadar jika El dan Chika sudah berdiri di hadapannya.


"Ris, kenapa kamu melihat kami seperti melihat setan?"


"Oh gak papa pak," jawab Haris dengan arah mata yang masih melihat ke tangan mereka berdua.


Tahu apa yang membuat Haris menatap dirinya, El dengan segera melepaskan tangannya dari tangan Chika.


Haris hanya terkekeh dengan laki laki dan perempuan yang sedang salah tingkah berdiri di depannya.


"Mari pak silahkan masuk," Haris langsung membukakan pintu mobil untuk El dan Chika.


Namun El tidak langsung masuk ke dalam mobil dan masih berdiri dihadapan Haris sambil mengeluarkan dompet di sakunya.


"Ini uang ongkos buat kamu pakai taksi. Mobil kamu saya bawa dulu. Mama dan papa saya sudah sampai di bandara," ucap El.


"Oh nyonya dan tuan sudah sampai di bandara ya pak?"

__ADS_1


"Iya baru saja mama saya telpon dan memberi kabar kalau mereka sudah tiba di bandara."


"Baik pak, ini kuncinya ya pak," jawab Haris sambil memberikan kunci mobil ke tangan El.


"Hmmm, lebih baik kamu kembali ke kantor. Dan jangan lupa kerjakan tugas dari saya kemarin."


"Baik pak," jawab Haris yang tiba tiba pandangannya berubah ke samping El.


"Non Chika cantik banget," ucap Haris sambil memandangi wajah Chika.


"Terima kasih om," Chika menjawab sambil memberikan senyuman yang lebar dari bibirnya.


Melihat wanitanya sedang diperhatikan asistennya, tiba tiba ada rasa panas di dalam hati El.


"Ehem.. Ehem..,Haris," lirih El.


Mengetahui maksud suara deheman dari El, Haris membungkukkan setengah badannya dengan kepala yang menunduk.


"Maaf pak, saya hanya memuji tapi tidak menyukai kok. Jangan cemburu ya pak," ucap Haris.


"Hmmm, siapa juga yang cemburu. Sekarang kamu minggir, dan cepat cari taksi. Biar kamu bisa segera sampai di perusahaan. Dan kabari saya bila ada masalah."


"Baik pak," jawab Haris.


"Chika cepat masuk," El bersuara dengan nada sedikit tinggi, karna tatapan Haris pada Chika membuat mood buruknya kembali muncul.


"Baik tuan," jawab Chika yang kemudian berjalan masuk kedalam mobil.


Selama di dalam mobil, El hanya fokus menyetir tanpa mengindahkan seorang wanita disampingnya.


Sesekali Chika menoleh, melihat orang berwajah tampan namun umurnya jauh diatas dirinya.


"Apa nanti orangtua si om suka ya sama aku. Semoga saja iya, dan aku segera menikah dengannya. Hah barusan aku berharap apa? Tapi kenapa aku ingin sekali menikah dengannya? Apa iya aku sudah mulai suka sama si om? No no no, ini gak boleh terjadi," batin Chika dengan mata tertutup, menggeleng geleng dan mengetuk ngetuk kepalanya sendiri.


Walau diam, jujur El juga memperhatikan Chika apalagi sikap Chika baru saja mengganggu konsentrasinya menyetir.


"Eh tuan, akhirnya berucap juga. Saya pikir saya lagi di kuburan habis sepi banget."


"Mana ada kuburan di dalam mobil. Kenapa pertanyaan saya tidak kamu jawab. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Dan kenapa tadi di restoran kamu hanya mengaduk aduk makanannya."


Chika memutar otak, berusaha mencari alasan agar El tidak tahu perasaan yang belum pasti itu.


"Chika, saya sedang bertanya kenapa tidak dijawab?"


"Oh iya tuan, saya lagi mikir apa orang tua tuan akan suka sama saya atau tidak," jawab Chika, entah alasan itu masuk akal atau tidak. Namun hanya itu yang terlintas dalam benaknya.


"Sudah jangan pikirkan itu, terus tadi kenapa kamu tiba tiba diam waktu makan di restoran?" El kembali bertanya dan meluapkan rasa penasarannya.


"Oh kalau yang itu, tuan mau jawaban jujur apa bohong?" Chika kembali berulah yang memancing kesabaran El.


"Gak perlu saya jawab, kamu sudah tahu jawabannya," desak El sambil memicingkan sebelah matanya.


Chika berusaha menahan tawanya dalam hati, karna memang dia sangat suka melihat ekspresi El jika sedang marah dan kesal seperti ini.


"Ya jujur saya iri dan cemburu aja sama om Haris tuan. Dia selalu dapat uang dari tuan padahal om aja IQ nya di bawah rata rata. Orangnya juga lemot. Tapi kenapa tuan dengan mudah memberikan uang pada si om. Sedangkan saya hanya pinjam lima juta untuk bayar sekolah aja harus pakai perjanjian diatas materai," Chika mengeluarkan semua uneg unegnya.


El tersenyum getir dengan matanya yang masih lurus kedepan.


"Kamu pikir IQ kamu lebih tinggi dari Haris. Gadis bodoh, kamu memang pantas saya panggil itu. Karna menurut saya kamu itu lebih bodoh dari Haris."


Chika duduk menyamping, menatap wajah El tanpa rasa takut dengan kemarahan yang memenuhi isi hatinya sekarang.


"Bodoh.. Bodoh.. Bodoh.. Terus aja tuan bilang saya bodoh. Kenapa tuan selalu bilang saya bodoh, padahal kenyataannya saya juara umum di sekolah. Besok saya akan kasih lihat nilai rapot saya sama tuan. Biar tuan hilangkan kata bodoh itu dari mulut tuan untuk saya," jelas Chika dengan tatapan sayu sambil menahan buliran air yang sudah memenuhi matanya.


Bukan kasihan, El justru tertawa mendengarkan ucapan gadis berumur 18 tahun itu.


"Hahahaha, gadis cengeng. Kamu marah ketika saya bilang kamu bodoh. Tapi saya hanya berkata fakta. Jika kamu pintar, kamu tidak akan mungkin iri dengan Haris. Kamu tanya kenapa saya mudah memberi uang pada Haris sedangkan dengan kamu tidak. Perlu kamu ingat, Haris sudah bekerja dengan saya hampir dua tahun, sedangkan kamu? Kita baru bertemu sekali dan kamu mau langsung pinjam uang pada saya. Siapapun orangnya pasti tidak akan mau memberikan uang itu. Jadi kamu sekarang sadar jika kamu memang bodoh bukan?" ucap El hingga membuat Chika memalingkan wajahnya.


Sejak pembicaraan terakhir, tak ada lagi pembicaraan berikutnya antara Chika dan El. Hingga akhirnya mereka tiba di parkiran bandara.

__ADS_1


"Ayo turun, rapikan rambut dan pakaian kamu. Satu lagi, jangan panggil saya tuan apalagi om saat di depan orang tua saya, Mengerti!!" kata El sembari melepas selt beltnya.


"Hmmm, terus saya harus panggil tuan apa?"


"Sayang," ucap El yang membuat kedua bola mata Chika membulat.


"Gak mau, mulut saya susah bilang sayang sama lelaki dewasa yang sudah berumur seperti tuan," jawab Chika yang mengobarkan kembali api di dalam hati El.


El menatap wajah Chika dan menarik tangannya hingga menghadap dirinya.


"CHIKA!!! bisa tidak kamu tidak membantah perintah saya. Kamu lupa dengan perjanjian yang sudah kita buat?" teriak El.


"Saya bukan lupa tuan El yang terhormat. Tapi gadis bodoh ini juga tidak mau dibodohi oleh orang seperti anda."


"Chika!!" seru El dengan suara yang lebih tinggi namun tak membuat pendirian Chika goyah.


"Sial kenapa dia malah yang berbalik mengendalikan aku seperti ini. Tenang El tenang," batin El sambil menarik nafas lalu membuangnya begitu saja.


"Ayo jadi turun tidak tuan? Atau saya akan pulang ke rumah Maya saja. Daripada hanya buang buang waktu seperti ini. Lebih baik saya belajar untuk bekal saya ujian minggu depan," jawab Chika yang berbalik berkata dingin pada El.


Bingung, marah dan kesal itu yang El rasakan saat ini. Tapi saat El hendak ingin meneruskan perdebatan mereka, ponselnya kembali berbunyi.


"Mama lagi. Pasti sekarang dia sudah marah marah karna terlalu lama menungguku. Lebih baik nanti aku rubah isi perjanjian itu, agar dia tidak berani membangkang perintahku lagi," batin El sambil merapikan jas yang ia kenakan.


"Turun sekarang, dan terserah nanti kamu mau panggil saya apa yang jelas jangan tuan atau om. Paham!!"


"Hmmm," jawab Chika menirukan jawaban El ketika sedang malas berbicara.


Kini mereka sudah masuk ke bandara, dan ada dua orang tua yang melambaikan tangan ke arah El dan Chika.


Ya mereka tuan Aristya dan nyonya Sarah. Mama dan papanya El. El berjalan kearah mereka sambil menarik tangan Chika. Bukan tarikan kasar seperti biasanya, tapi tarikan tangan yang halus.


El meraih pinggang Chika dan mendekatkan ke tubuhnya ketika jarak antara dirinya dan kedua orang tuanya sudah dekat.


"Aiishh.. Tuan El memang pintar bersandiwara. Bisa bisanya dia bersikap semanis ini denganku ketika di depan orang tuanya," batin Chika sambil membuang setengah pandangannya.


Senyum di wajah orang tuanya seketika hilang saat arah mata mereka tertuju pada gadis yang di bawa El.


"Hai mah, pah. Gimana dengan perusahaan disana sudah selesaikah?" tanya El.


"Sudah," jawab mama dengan nada yang dingin seperti anaknya.


Melihat sikap dingin nyonya Sarah membuat jantung Chika berdetak kencang. Apalagi lelaki tua di sebelah perempuan tua itu juga menatap dirinya seperti tatapan tak suka.


"Siapa dia El?" ucap mama sambil melihat kearah Chika.


"Oh kenalkan mah, pah dia kekasihku namanya Chika," jawab El dengan sedikit senyum di bibirnya.


Chika juga ikut berusaha memaksakan senyumannya, sambil membungkukan setengah badannya.


"Sore om, tante," sapa Chika tanpa dibalas oleh nyonya Sarah dan tuan Aristya.


"Arghh sepertinya mereka tidak menyukaiku. Dan benar kata tuan El, orang tuanya lebih seram dari dia. Ayolah Chika, tunjukkan pesonamu," batin Chika yang berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Nyonya Sarah berjalan mendekati Chika dan kini ia berdiri disampingnya. Matanya naik turun mengamati Chika dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


El yang semula tenang kini berubah menjadi panik dan khawatir. Akankah rencana yang ia susun akan gagal? Keyakinannya yang semula 100 persen kini berubah menjadi nol persen. Apalagi nampak jelas sikap mama dan papanya yang tidak welcome pada Chika.


Namun pikirannya salah, nyonya Sarah langsung melebarkan bibirnya.


"Lolly Lolly cantik, siapa nama kamu sayang?" tanya nyonya Sarah sembari memeluk Chika dan membuat El dan Chika seketika tidak bisa berkata.


"Tante saya bukan Lolly nama saya Chika tante," jawab Chika spontan dengan nada yang terputus putus.


Nyonya Sarah melepas pelukannya, tertawa sambil memegang pipi halus Chika. Tak hanya nyonya Sarah, tuan Aristya pun sama ikut tertawa seraya mengamati Chika.


"Lucu sekali kekasih kamu El, ini baru calon istri idaman. Tidak seperti Tania. Sekarang mama akui selera kamu sudah lebih baik dari sebelumnya," ujar nyonya Sarah hingga membuat beberapa kerutan di dahi El.


"Apa yang barusan mama bilang? Dia lebih baik dari Tania? Jelas jelas dia jauh dibawah Tania. Sebenarnya selera siapa yang buruk mama papa atau aku? Gadis bodoh, udik dan bar bar seperti dia dibilang lucu? Mama papa, El udah gak tahu lagi mau bilang apa. El benar benar bingung sama kalian," batin El sembari memasukkan tangan kedalam saku celananya.

__ADS_1


__ADS_2