
Sebelum pulang, El membelikan beberapa buah buahan untuk Chika. Semarah marahnya dia, sebenci bencinya hatinya, tapi El tetap tidak bisa melihat orang yang ia cintai itu sakit.
Hingga langit hampir gelap, El belum juga sampai di rumah. Papa dan mamanya sedari tadi sudah menunggu dirinya di ruang tamu. Dan tak berapa lama, terdengar suara mesin mobil berhenti.
Tak mau memperlihatkan perasaan khawatirnya pada Chika, El turun dengan langkah yang tenang. Padahal didalam hatinya, begitu mencemaskan keadaan Chika.
"Baru pulang El?" Tuan Aristya membuat El terkejut. Baru saja membuka pintu rumah, kedua orang tuanya sudah berdiri menghadangnya.
"Iya pah," jawab El dengan santainya.
"Ya ampun El. Apa urusan pekerjaan lebih penting dari kondisi istrimu. Lihat dia masih terbaring lemah di kamar."
"Iya maaf mah, pah. Tapi papa tahu kan Mr. Smith itu klien yang sangat berperan penting dalam perusahaan. Mana mungkin El bisa menolak keinginannya hanya demi urusan pribadi," El mencoba meyakinkan kedua orang tuanya, membuat Tuan Aristya hanya bisa diam. Karna ucapan El memang ada benarnya.
"Ya sudah sekarang cepat kamu temui istrimu dan bujuk dia untuk kerumah sakit," titah papa.
"Hmmm, El ke kamar dulu," pamit El yang diangguki oleh kedua orangtuanya.
Satu per satu anak tangga di lewati El. Hingga akhirnya ia sampai di depan kamarnya. Namun sebelum masuk, El menarik panjang nafasnya, mencoba menutupi rasa khawatirnya tentang keadaan Chika.
Ceklek..
Suara pintu terbuka. Kebetulan Chika tidak sedang tidur dan ia menoleh melihat suaminya sudah datang.
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Chika dengan nada yang lemah dan wajah yang terlihat pucat.
"Sudah, gimana keadaan kamu? Tadi papa menelponku, memberi kabar kalau kamu sakit," El berjalan mendekati tubuh Chika yang sedang berbaring. Menempelkan tangannya ke kening Chika.
"Udah enakan kok mas."
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Kamu tahu, gara gara kamu aku tadi ijin pulang lebih awal dengan Mr. Smith. Asal kamu tahu, dia klien penting di perusahaan. Lain kali kalau sakit jangan bikin susah orang. Pakai acara gak mau di panggilkan dokter Daniel. Dan gak mau di bawa rumah sakit. Apa kamu sengaja mau menyusahkan aku."
Jujur, Chika kembali ingin menangis. Ia merasa benar benar sudah kehilangan sesosok laki laki yang membuat hatinya damai dan tenang. Chika masih mendongakan kepalanya keatas, menahan supaya air matanya tidak jatuh di depan El.
"Maaf mas. Bukannya aku ingin menyusahkan kamu, tapi aku merasa tubuhku baik baik saja. Mungkin hanya perlu istirahat," ucap Chika.
"Kalau gitu lanjutkan saja tidurmu. Dan besok pergilah ke rumah sakit jika kondisi tubuhmu semakin memburuk."
"Iya mas. Tapi sama kamu kan?"
El hanya melirik sekilas wajahnya, dan menyambar handuknya lalu pergi ke kamar mandi tanpa berucap.
Namun saat sampai di depan pintu kamar mandinya, El menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ranjang mereka.
"Pergilah sama Pak Amin. Besok aku ada rapat penting dengan Haris dirumah. Ada pekerjaan penting yang harus aku bicarakan dengan dia tentang proyek terbaru. Jadi jangan mencoba membujukku untuk ikut menemani kamu. Aku harap kamu mengerti."
"Dirumah. Sekarang aku mau mandi. Jangan lupa makan buah yang sudah aku belikan untuk kamu."
"Iya mas," jawab Chika dengan nada yang berat.
Sesaat setelah El masuk, Chika kembali menangis. Menerima semua perlakuan El pada dirinya. Rumah yang dulu ia anggap surga kini seperti neraka. Tapi Chika kembali berusaha menepis pikiran negatif yang ada di otaknya.
"Mungkin benar kata mama, pekerjaan Mas El lagi ada masalah. Dia kan memang begitu, menomor satukan urusan pekerjaan. Lagipula kamu ini aneh Chika. Kenapa sedikit sedikit jadi nangis sih. Apa yang kamu tangisin sebenarnya. Bukankah kehidupanku sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya. Seharusnya aku lebih bersyukur bukan mengeluh seperti ini," Chika mencoba menghibur dirinya sendiri.
Sesudah mandi, El merasa tak tega melihat tubuh lemah Chika. Hingga ia menyingkirkan sedikit egonya, melupakan sejenak kemarahannya selama ini.
Dengan setia El menyuapi makanan ke mulut Chika dan membantunya untuk meminum obat. Sungguh malam ini, malam yang membuat Chika akhirnya bisa kembali melebarkan senyumnya.
Chika menatap wajah El, memberikan seulas senyuman yang membuat El menjadi salah tingkah.
__ADS_1
"Tolong Chika jangan melihat aku dengan tatapan seperti ini. Pertahananku bisa goyah. Jujur ingin sekali aku memelukmu saat ini, tapi kebohongan yang kamu ciptakan seperti menjadi tembok antara kita," gumam El sambil menunduk, menghindar dari tatapan Chika..
"Jangan liatin aku kayak gitu. Cepat makan yang banyak dan segera istirahat. Habis ini aku mau ke ruang kerja. Ada beberapa file yang harus aku cek sebentar."
"Iya mas," jawab Chika dengan manjanya.
"Dan jangan lupa besok pergi ke rumah sakit."
"Iya iya mas. Seneng deh lihat kamu perhatian gini lagi sama aku. Kalau kamu perhatian gini, satu tahun pun aku rela sakit mas," ucap Chika yang langsung menghentikan aktivitas El menyuapi dirinya.
"Nih lanjut makan sendiri, aku mau ke ruang kerja dulu," El meletakkan piring ke tangan Chika lalu beranjak bangkit dari kursinya.
Gleekk...
Chika menelan makannya, menyesali ucapannya barusan. Gara gara dia menggoda El, suaminya malah berhenti menyuapinya.
"Loh loh loh mas,kok pergi sih. Suapin lagi," bujuk Chika.
"Gak usah manja. Makan sendiri. Kalau tangan kamu patah, dan gak bisa pegang sendok sendiri baru aku suapin," seru El.
Bibir Chika mengerucut. Kesal dengan ucapan suaminya tadi. Terpaksa ia mengambil piring dan makan sendiri lagi.
Tak terasa pagi sudah tiba. Bukannya membaik, tubuh Chika kini malah semakin terasa lemas. Kepalanya juga terasa semakin berat. Dan sesuai perintah El, Chika pun pergi ke rumah sakit dengan Pak Amin.
Sesampainya di rumah sakit, Chika berjalan sendiri menemui dokter. Dan di luar dugaannya, Ia malah mendapat kabar baik. Ya Chika dinyatakan positif hamil. Mulut Chika serasa tak bisa berkata. Beberapa kali ia mencoba menelpon El, ingin memberi kabar bahagia ini namun panggilannya tak pernah diangkat.
Berangkat dengan langkah berat dan tubuh yang lemas, kini Chika pulang dengan senyuman yang lebar.
"Terima kasih Tuhan, Engkau berikan aku anugrah secepat ini. Semoga setelah mendengar kabar baik ini, Mas El kembali seperti dulu. Hangat dan penuh perhatian. Sebentar lagi mama akan bilang ke papa sayang. Jika sudah ada kamu di dalam perut ini," batin Chika sambil berjalan menuju ke parkiran mobil. Ia tak pernah berhenti mengelus elus perutnya, seakan mengajak bicara anak dari buah cintanya dengan El.
__ADS_1