
Di rumahnya Chika mulai sadar, dan matanya melihat ke segala sisi ruangan.
"Loh ini kan kamarku? Kenapa aku bisa disini?" batin Chika sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.
Ia berusaha mengingat kembali kejadian sebelum dirinya pingsan, dan ketika memorinya sudah kembali dengan segera ia keluar dari kamarnya.
Rupanya di depan kamar sudah ada seorang penjaga suruhan Pandu dan Renata. Chika menghentikan langkahnya, menengok ke jendela yang di luar juga di jaga dua orang bertubuh besar dan tinggi.
"Maksud om sama tante apa sih. Kenapa banyak penjaga di rumah ini. Gimana bisa aku kabur dari sini," gumam Chika sembari memutar otak untuk melarikan diri.
"Oh iya, handphone. Kan tuan El kasih aku handphone, sebaiknya aku telpon tuan El. Minta bala bantuan dari dia," Chika mencari tasnya si seluruh ruangan.
Saat Chika sibuk mencari tasnya, Pandu dan Renata masuk kedalam kamarnya untuk melihat kondisinya.
Ceklek...
Suara pintu terbuka.
"Ternyata kamu sudah bangun ya Chika," Ujar Renata sinis.
"Sepertinya kamu lagi mencari sesuatu ya?" sambung Pandu.
Chika berjalan cepat menghampiri om dan tantenya.
"Mana tas ku? Kembalikan!!" teriak Chika.
"Oh tas? Sama handphonenya juga ya? Handphonenya buat om aja terus kamu minta di belikan sama pacar kamu yang kaya itu dua lagi. Satu buat om satu buat tante," jawab Pandu.
"Gak akan!! Aku sama tuan El itu gak pacaran. Jadi lepasin aku om, tante. Bukankah kalian dari dulu ingin mengusirku? Sekarang aku sudah pergi kenapa kalian bawa aku kembali lagi?" protes Chika.
Plllakk...
Renata melayangkan tamparan keras yang mendarat di pipi kiri Chika.
__ADS_1
"Yang sopan kalau bicara sama om kamu. Apa ini ajaran orang tua kamu!!" gertak Renata.
Chika hanya memegang pipinya, namun tak menggoyahkan niatnya untuk menjadi pemberontak bagi om dan tantenya.
"Cih, ajaran mama dan papa?" Chika melirik sinis dengan lengkungan di bibirnya.
"Mama sama papa gak pernah mengajari Chika menjadi anak yang berani dengan orang yang lebih tua. Justru mereka mengajari Chika untuk jadi anak yang selalu hormat dan menghargai orang tua. Tapi sayangnya, tante sama om itu bukan orang yang pantas di hargai dan di hormati," ucap Chika yang semakin membuat Renata meradang dan sudah menaikkan satu tangannya.
"Kamu...," Renata gelap mata, namun tangannya di tahan oleh Pandu.
"Sudah sayang sudah. Kita sedang butuh dia," bisik Pandu.
Renata menurunkan kembali tangannya, menatap sinis ponakannya sendiri. Sekarang tante dan keponakan yang dulu pernah saling sayang kini berubah menjadi saling benci satu sama lain.
"Chika,bantu om dan tante. Tolong bicara sama pacar kamu untuk mau membantu usaha om yang baru," Pandu berbicara manis dengan harapan ponakan iparnya itu akan membantu dirinya.
"Gak akan. Om sama tante jahat, udah jual perusahaan papa. Sekarang Chika tahu kenapa waktu itu papa gak mau membantu om, karna om itu gak pernah becus mengurus usaha."
Satu tamparan lagi di dapat Chika dari tangan Pandu. Ia sudah geram pada Chika. Anak itu benar benar sudah membuat kesabarannya habis.
"Dasar anak gak tahu diri," teriak Pandu.
Bugghh...
Chika menendang senjata pamungkas Pandu dengan kakinya, membalas perlakuan Pandu padanya tadi.
"Auu..," Pandu merintih kesakitan.
"Sayang kamu gak papa?" tanya Renata.
Melihat ada sedikit celah, Chika menerobos jalan tengah antara Pandu dan Renata. Dengan cepat ia berlari dan melewati seorang penjaga yang berdiri di depan kamarnya.
"Cepat kejar dia," teriak Pandu.
__ADS_1
"Baik bos."
Anak buah Pandu segera berlari mengejar Chika. Tak lupa ia menelpon penjaga di luar untuk mengepung Chika.
Satu wanita musuh tiga orang laki laki. Sekuat apapun tenaganya, tak akan bisa menandingi mereka bertiga.
Chika tertangkap. Ia dibawa masuk kembali kedalam kamarnya oleh ketiga suruhan Pandu dan Renata.
"Ini bos orangnya," ucap seorang penjaga.
"Lepas, lepas. Om tante, aku mohon lepasin aku," Chika masih saja meronta. Meminta om dan tantenya itu untuk membiarkan dirinya pergi.
"Taruh diranjang. Suntikan obat bius. Itu hukuman buat dia karna berani menendang mahkotaku," perintah Pandu.
"Baik bos."
"APA?? Om tante aku mohon jangan," teriak Chika namun perlahan matanya sudah terpejam saat seorang anak buah Pandu sudah menyuntikkan obat bius kedalam tubuhnya.
Renata menatap suaminya, meminta jawaban atas ucapan dan tindakan Pandu pada Chika.
"Sayang, kenapa kamu suntikan obat biusnya pada Chika? Ini gak ada dalam rencana kita," Renata memicingkan sebelah matanya, mengharap jawaban itu segera ia dapatkan.
"Tenang sayang, gak bahaya kok. Hanya membuat dirinya tidur sebentar. Biar gak kabur kabur lagi. Sekarang bantu aku jalan ke kamar,sakit banget ini," ujar Pandu.
"Iya sayang. Tapi kamu yakin dia gak papa?" Renata merasa khawatir dengan kondisi Chika yang sudah tidak sadar.
"Enggak, udah gak usah panik. Nanti kalau biusnya hilang dia akan bangun kok. Jangan banyak tanya lagi ya, bantu aku jalan ke kamar sekarang."
"Iya iya sayang," jawab Renata.
Sebelum keluar dari kamar, Renata menoleh ke belakang. Melihat sang keponakan sudah berbaring lemah dan tak berdaya di atas ranjang.
"Jujur aku gak tega lihat kamu seperti ini Chika. Tapi tante gak mau merasakan hidup susah lagi. Hanya kamu yang bisa membantu kami. Jadi jangan persulit semuanya. Agar tante dan om gak perlu berbuat kasar pada kamu," batin Renata sembari menutup pintu kamar Chika.
__ADS_1