
Mobil El kini sudah berhenti di depan rumah Pandu dan Renata. Nampak jelas wajah Chika berubah pucat. Entah ia merasa gugup atau masih trauma dengan kejadian beberapa waktu yang lalu.
Mengetahui Chika yang gusar, El menggenggam tangannya. Memberikan sedikit kenyamanan dan ketenangan untuknya.
"Jadi turun?" tanya El.
"Jadi mas," lirih Chika seakan ada keraguan dalam hatinya.
"Yaudah ayo turun nunggu apalagi. Kamu gak usah takut, ada aku disamping kamu. Mereka gak akan berani mencelakai kamu lagi. Sampai aku tahu mereka menyentuh sulung rambutmu, aku patahkan tulang mereka," El sedikit geram, mengingat kembali perbuatan Renata dan Pandu pada Chika dulu.
"Iya mas. Makasih ya."
"Iya."
Akhirnya keberanian Chika mulai ada dan mereka masuk ke gerbang yang menjulang tinggi. Rumah masa kecilnya dulu.
"Mas, tunggu," Chika kembali menahan langkah El, membuat kesabaran El mulai habis.
"Kenapa? Kalau memang gak yakin pulang saja," ujar El yang mulai kesal dengan sikap plin plan kekasihnya.
Chika menarik nafas panjangnya dan perlahan ia keluarkan. Sekali dua kali El masih setia menunggu Chika mengatur detak jantungnya.
"Sayang, kita kesini mau ketemu om sama tante kamu apa mau olahraga sih? Kalau gak pulang aja deh. Aku capek," El mendesis kesal. Dan ia pun langsung menarik tangan Chika dan membawanya kembali keluar dari gerbang.
"Issh mas, kok keluar sih," protes Chika.
"Makanya masuk ya masuk, kalau enggak ya udah langsung ke butik buat fitting baju. Kasihan mama kalau sampai duluan dan nunggu kita terlalu lama."
__ADS_1
"Iya iya mas. Gitu aja nge gas."
Setelah cukup lama berdebat, mereka memutuskan untuk tetap masuk.
Tak lama setelah bel berbunyi, Renata keluar dengan perasaan sedikit terkejut.
"Chika?" lirih Renata. Ia mengira jika Chika dan El hendak memperkarakan dirinya dan Pandu ke kepolisian.
"Tante, apa kabar?" Chika menyapa sembari mencium punggung tangan tantenya.
"Baik. Ada perlu apa kalian kesini?" Renata menatap mata El dan Chika silih berganti. Ditambah detak jantung yang sudah tak karuan.
"Ada baiknya kalau sedang kedatangan tamu itu di persilahkan masuk. Bukankah tempo hari suami anda mengajarkan saya tentang sopan santun? Kenapa malah istrinya sendiri tak punya sopan santun saat menerima tamu," El menyeletuk pembicaraan hingga membuat Renata jadi salah tingkah.
"Eh iya, ayo masuk," ajak Renata.
"Makasih tante."
Suasana di ruang tamu begitu tegang, apalagi Renata hanya berada sendiri di rumah. Ia merasa takut jika Chika akan membalas semua perbuatan yang sudah ia lakukan.
"Silahkan duduk," ujar Renata.
"Makasih tante."
"Aneh kamu sayang. Ngapain kamu bilang terima kasih. Rumah ini kan rumah kamu, kok kamu seolah menjadi tamu di rumah kamu sendiri," El menyela obrolan mereka, membuat Renata jadi mati kutu. Tapi Renata memilih diam, takut jika salah bicara El kembali memberinya pelajaran.
Spontan Chika mencubit pinggang El. Menyuruhnya untuk tidak membahas tentang harta warisan peninggalan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Semenjak kejadian terakhir saat dirinya di culik oleh om dan tantenya, Chika memutuskan untuk mengikhlaskan seluruh peninggalan orang tuanya. Termasuk perusahaan yang ia ketahui sudah di jual oleh om dan tantenya. Padahal tanpa sepengetahuannya, El sudah membeli perusahaan tersebut. Hanya saja El masih menunda untuk mengembalikannya ke tangan Chika.
"Mas, sudah jangan bahas soal itu. Ingat tujuan kita kemari," bisik Chika.
"Iya, yaudah cepat kamu kasih undangan itu. Dan setelah itu kita pergi. Aku gak betah terlalu lama bergaul dengan setan seperti tante kamu itu," jawab El dengan santainya.
Renata hanya mendelik. Ia meremas remas pakaiannya, ingin rasanya ia mengucir mulut El tapi apalah daya ia hanya bisa menggerutu kesal dalam hati.
"Tante, aku hanya mau kasih ini. Aku harap tante sama Om datang ya ke acara pernikahanku dan Mas El minggu depan," Chika menyodorkan undangan pernikahannya ke hadapan Renata.
"Kamu mengundang tante?" tanya Renata yang seolah masih tak percaya. Bisa bisanya keponakannya masih bersikap baik padanya setelah apa yang ia dan suaminya lakukan.
"Iya tante. Gimana pun tante sama Om itu saudara mama dan papa. Berarti tandanya masih ada darah yang mengalir ditubuh kita. Dan Chika kesini juga mau minta restu dari tante."
Terharu, Renata pun langsung bangkit dan menghampiri Chika. Ia memeluk tubuh Chika begitu erat. Dendamnya pada kedua orang Tua Chika seketika hilang. Hanya rasa rindu yang ada di dalam hatinya sekarang.
"Tante pasti datang Chika. Tante juga pasti merestui kalian. Maafkan sikap tante dan om selama ini ya," Renata mencium kening Chika untuk pertama kalinya, membuat tangis Chika pun pecah.
"Iya tante, aku udah maafin tante dan Om. Aku sayang sama tante."
"Tante juga sayang sama kamu, Chika," jawab Renata sambil mengeratkan kembali pelukannya. Meski dalam hatinya kini tersenyum bahagia. Karna keponakannya itu akan menjadi bagian dari orang terkaya nomor satu.
"Bagus. Sekarang ada ladang baru yang menghasilkan uang. Sekarang tinggal bersikap manis dikit dan buat Chika percaya. Aku yakin dia pasti mau menuruti apa keinginanku," batin Renata sambil menyunggingkan senyuman palsunya.
Dari samping, El memalingkan wajahnya. Meski Renata sudah terlihat bersikap manis, tapi bagi El ia tetap saja wanita ular bermuka dua.
"Cih, ratu drama. Palingan cuma lagi akting aja. Sampai kapan pun, aku gak akan percaya sama kamu dan suami setelah apa yang kalian lakukan sama Chika kemarin. Dan aku akan selalu memantau kalian. Kalian bisa membohongi Chika, tapi tidak dengan aku," batin El yang menatap tajam mata Renata dan langsung dibalas senyum licik oleh Renata.
__ADS_1