
Waktu semakin larut. Suasana sepi dijalanan membuat ia merasa takut. Bukan takut hantu seperti biasa nya, namun takut dengan manusia yang berniat buruk padanya.
Buntu, otak Chika sudah tak tahu lagi kemana kakinya harus melangkah. Semua orang sudah tak dapat ia percaya. Kapanpun pergi ke rumah Maya juga percuma, Maya pasti akan memberitahu Haris. Apalagi Chika sudah tahu, dulu El mengetahui segala informasi tentang kehidupannya dari sahabatnya sendiri.
"Kenapa uang, hanya uang yang membuat mereka tega melukai hatiku. Tante Renata baik sama aku gara gara uang. Maya tega berkhianat karna diiming imingi uangnya Haris juga selalu saja membahas uang. Dan terakhir Mas El, orang yang aku kira menjadi orang yanh tulus sama aku ternyata sama juga. Dia hanya pura pura mencintaiku demi uang warisan. Padahal mama kira dengan datangnya kamu sayang, sikap papa kamu akan kembali lembut dan baik. Sayangnya kehadiran kamu memang sudah dia nantikan hanya demi mendapat warisan orang tuanya. Tapi mama gak akan mau kehilangan satu satunya hal. Yang paling berharga yang mama miliki, yaitu kamu nak. Kita akan buktikan sama mereka yang berotak uang, jika kita bisa bahagia walau tak menjadi kaya," batin Chika.
Terlihat jauh dari matanya, ada bis luar kota hendak melintas. Chika mengayunkan tangannya, menghentikan laju bis tersebut. Entahlah, dia hanya mengikuti kemana bis ini akan berhenti. Yang terpenting saat ini, dia harus segera keluar dari kota ini.
Di apartemen Daniel...
Ting Tong..
Suara bel berbunyi. Tak perlu ditanya lagi, pasti El yang datang ke apartemennya.
Ceklek..
Pintu terbuka. Belum sempat mempersilahkan sahabatnya nya masuk, El langsung menyelenong masuk.
"Chika.. Chika," seru El.
"Hei El, tenang istrimu sedang di toilet. Jangan berteriak seperti ini. Kayak aku sedang membawa kabur istri orang, dan suaminya kesini untuk melabrakku," niat Daniel ingin menggoda, namun dia malah mendapat tatapan tajam dari El.
"Kamu hutang penjelasan sama aku. Besok kamu harus jelaskan gimana ceritanya Chika bisa kamu bawa kesini. Mengerti," gertak El sembari menarik kerah baju Daniel.
"Ups.. Tenang mas bro. Jangan cemburu buta begini. Mana mungkin aku merebut istri sahabatku sendiri apalagi dia lagi bunting. Ya walaupun aku pernah menyukainya, tapi aku bukan tipe pebinor juga. Sudah duduklah,kamu mau minum apa? Ya sambil menunggu Chika keluar."
"Tidak, aku tidak haus," ujar El. Dia belum bisa tenang, sebelum dirinya melihat Chika di hadapannya.
"Ya sudah."
15 menit berlalu, Chika belum juga keluar dari toilet. Keduanya pun curiga, apalagi Daniel. Ngapain Chika di dalam toilet hampir satu jam.
Baik Daniel dan El sama sama saling menatap mata. Sepertinya apa yang mereka pikirkan sama. El berlari, mencoba membuka pintu toilet dan tetet.
Benar dugaannya, Chika sudah kabur. Emosi El pin meluap. Wajahnya menjadi merah padam. Semua ini salah Daniel, kenapa dia tidak bisa menjaga Chika dengan baik.
Tak hanya El yang kesal, Daniel pun merasa bingung. Kapan Chika pergi, bukankah sedari tadi dia ada masih ada di sini. "Apa jangan jangan Chika mengetahui jika El akan datang. Dan dia menguping pembicaraanku di telpon dengan El ya," Daniel berusaha menerka neraka alasan Chika pergi dari apartemennya.
Tangan El sudah melayang dan hampir mendarat di wajah Daniel. Namun percuma, dengan memukul Daniel apa dia bisa bertemu dengan Chika.
Tak mau membuang waktu, El berlari keluar apartemen Daniel.
"Chika pasti belum jauh. Ya aku yakin Chika pasti belum jauh. Dimana kamu sayang. Hari sudah malam, aku khawatir dan takut kalau terjadi sesuatu buruk pada kamu," El berbicara sendiri sembari menjalankan mesin mobilnya pelan. Celingak celinguk ke segala arah mencari keberadaan Chika.
__ADS_1
Daniel masih tak percaya dengan apa yang hampir saja ia alami. Seumur umur ia tak pernah melihat El semarah dan sepanik itu. Bahkan saat El tahu Tania menikah dengan Bayu, El hanya minum minum di club malam.
"Cinta kamu pada Chika sepertinya lebih besar dari cinta kamu pada Tania dulu ya El. Sayang kamu menyadarinya saat Chika sudah pergi. Semoga saja Chika segera kamu temukan ya El. Dan kamu tidak akan merasa menyesal seumur hidup," batin Daniel.
Di dalam bis, Chika menatap pemandangan langit yang gelap seperti hatinya saat ini dari balik jendela.
"Neng, neng," panggil kondektur bis.
"Eh iya bang," Chika mengusap air matanya sejenak.
"Neng mau turun dimana?"
"Lah ini bis arah kemana ya bang?" tanya Chika sedikit bingung.
"Lah neng ini aneh. Naik bis tapi gak tau arahnya. Ini bis Jakarta- Jogja neng. Memangnya neng mau kemana? Atau mungkin neng salah bis ya?"
"Oh enggak bang, pokoknya saya turun di pemberhentian terakhir aja ya bang. Berarti Jogja ya? Berapa ongkos yang harus saya bayar bang?"
Melihat Chika seperti orang kaya, kondektur bis sengaja memberi tarif 2 kali lipat. Ya anggap aja aji mumpung. Bisalah buat beli rokok dan beberapa minuman keras. Pikirnya.
"Bang," Chika kembali memanggil kondektur yang malah melamun.
"Oh iya neng, tarifnya 300rb," jawab abang kondektur asal.
"Oke neng. Ini tiketnya. Nanti neng dapat satu kali makan di restoran bis ini berhenti istirahat.
"Iya bang, makasih."
"Sama sama neng."
Chika kembali melihat isi dompetnya. Uang yang ada di dalam hanya tinggal beberapa lembar merah saja. Apa cukup uang segini untuk tinggal dikota yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
"Permisi nak, boleh ibu duduk disini?" tanya seorang wanita paruh baya. Wajahnya seakan mengingatkan dirinya dengan seseorang, tapi siapa?
"Eh iya bu silahkan," jawab Chika dengan ramahnya.
Chika kembali melanjutkan lamunannya. Berpikir gimana ia harus bertahan hidup di kota orang.
Air berlinang kembali di pelupuk matanya. Satu per satu butiran bening kembali jatuh membasahi pipinya."Ya Tuhan aku sudah lelah. Kenapa cobaan ini datang bertubi tubi. Apa salahku Tuhan?" Chika menangis membuat wanita yang duduk di sebelahnya menjadi bangun.
"Mbak.. Mbak..," panggil wanita itu.
"Eh iya bu. Ada apa?"
__ADS_1
"Mbaknya kenapa? Kenapa mbak menangis?"
"Gak papa kok bu. Hanya kelilipan," Elak Chika.
Ibu itu hanya tersenyum. Mana ada kelilipan sampai menangis sekejer itu.
"Kok ini ketawa?" Chika menatap heran wanita yang disampingnya. Apa dia orang gila ya? Kalau iya berarti aku duduk di sebelah orang gila dong.
Pikiran gak waras Chika kembali muncul. " Ah masak iya ibu ini gila. Lagipula mana ada orang gila berpakaian rapi ya. Chika Chika, jangan jangan kamu yang sekarang sudah gila," ucap Chika dalam hati sambil menepuk nepuk kepalanya sendiri.
"Nak, kenapa kepalanya dipukul? Kepalanya pusing ya? Atau kamu mabuk ya nak? Ini ibu punya minyak angin siapa tahu badannya jadi enak."
"Oh enggak bu. Saya gak minum minuman keras. Jadi saya gak mabuk bu. Saya sadar kok. Saya ini wanita baik baik kok bu," jelas Chika dan dibalas dengan senyum yang lebih lebar dari si ibu.
Sungguh polos dan lucu gadis yang duduk di sampingnya ini. Memang wajahnya terlihat masih muda. Namun entah kenapa, ibu ini merasa Chika adalah perempuan baik. Padahal baru beberapa menit ia melihatnya, belum juga ia berkenalan, tapi hati ibu ini merasa cocok dengan Chika.
"Andai saja ibu bisa menemukan kamu Vano dan menjemput kamu kembali. Ibu yakin, kamu pasti juga menyukai gadis di samping ibu sekarang," batin ibu Asih.
Bu Asih sebenarnya pergi jauh jauh dari Jogja ke Jakarta berniat untuk menjemput putranya yang sempat ia buang di depan panti asuhan. Secarik kertas dan bertuliskan nama yang ia beri disamping tubuh putranya, membuat dirinya yakin suatu saat ia bisa melihat putranya kembali dan bertemu dengannya.
Namun kenyataan pahit yang ia dengar dari pihak panti asuhan. Kepala panti berkata, jika putranya sudah meninggal. Membuat hati Bu Asih hancur dan pulang kembali ke kampung halaman dengan tangan hampa.
"Bu," Chika menepuk paha Bu Asih yang terus saja menatap dirinya tanpa berkedip. Ia takut jangan jangan wanita di sampingnya ini germo. Habis dari tadi ibu ini melihat dirinya dari atas sampai bawah.
"Eh iya neng. Nama kamu siapa?"
"Ci.. Ci.. Chika bu," jawab Chika sedikit ragu.
"Oh namanya cantik kayak orangnya. Kenalin saya Bu Asih. Nak Chika mau ke Jogja juga?"
Chika mengangguk pelan. Membuat perasaan Bu Asih penasaran dan ingin tahu lebih banyak soal Chika. Karna yang ia lihat dari tadi Chika selalu saja menangis.
Waktu semakin malam, dan perjalanan terus berlanjut. Keramaian jalanan ibukota sudah tak terlihat. Dan ternyata bis yang di tumpangi oleh Chika dan Bu Asih sudah meninggalkan kota itu.
Bukannya tidur, mereka saling bertukar cerita. Ternyata nasib mereka sama. Sama sama hidup sendiri di dunia ini. Dan seperti mendapat durian runtuh, Bu Asih mengajak Chika untuk tinggal bersamanya. Ya walaupun bukan rumah yang besar seperti milik orang tuanya dan suaminya yang baru saja dirinya ceritakan. Namun Chika sudah bersyukur, bisa bertemu dengan orang yang baik seperti Bu Asih.
Bu Asih seakan seperti malaikat yang dikirim Tuhan untuknya. Tanpa ada pikiran buruk, Chika langsung mengiyakan tawaran Bu Asih. Dan mulai detik ini, Chika sudah menganggap Bu Asih seperti ibu barunya sekaligus malaikat penyelamatnya.
"Terima kasih bu. Awalnya aku takut, gimana nasibku nanti. Apalagi sekarang aku hamil dan suamiku hanya memperalat aku sebagai alat penggali uangnya. Tapi setelah bertemu ibu, aku sedikit merasa lega. Aku merasa ibu wanita yang baik. Sekali lagi terima kasih ya bu," ucap Chika dengan tangisan harunya.
"Sama sama nak. Ibu juga sama seperti kamu. Awalnya ibu sedih karna harus menerima kenyataan jika anak ibu sudah meninggal. Tapi mulai sekarang, ibu tidak sendirian lagi. Ibu punya kamu yang mulai hari ini sudah ibu anggap anak kandung ibu sendiri," jawab Bu Asih yang membawa Chika kedalam pelukannya.
Di tempat lain, El masih terus mencari istrinya. Namun jejak Chika belum dapat ia temukan. Gusar, El berteriak kencang. Melepaskan segala rasa bersalahnya pada istrinya.
__ADS_1
"CHIKA KAMU DIMANA!! JANGAN TINGGALKAN AKU CHIKA! AYO PULANG!!" El berteriak keras, tanpa peduli dirinya sudah menjadi pusat perhatian orang orang di sekitarnya.