Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Pernikahan Seumur Hidup


__ADS_3

Setibanya di pemakaman, El lupa akan jalan menuju makam kedua orang tua Chika. Matanya melihat ke sekeliling pemakaman yang sangat luas dan sunyi.


"Ris, saya lupa jalan ke makam orang tuanya Chika. Lebih baik kita berpelencar. Kamu kesana dan saya kesitu. Nanti telpon saya jika kamu sudah menemukan Chika," ucap El yang kini mulai melangkah jauh meninggalkan Haris.


Haris terdiam, rasanya ia ingin mengeluarkan air kencing di celananya saat ini. Bayangan akan wajah kuntilanak, kain putih yang terikat seperti pocong dan aneka ragam setan lain sudah memenuhi otaknya saat ini. Dan saat ia tersadar dari lamunannya, El sudah tidak ada.


"Tamatlah riwayatmu Haris. Semoga aja ketemu sama mbak sundel atau mbak kunti yang cantik. Jangan macam wewe gombel, bisa bisa aku di culik kayak anak kecil di desa dulu. Hiii,, serem ah," gumam Haris dengan matanya yang menatap batu nisan yang berada di sekelilingnya.


Sambil berlari, Haris mencari ke kanan dan ke kiri. Hampir setengah jam ia terpisah dengan El. Dan tiba tiba bulu kuduknya mulai berdiri. Entah sadar atau tidak, El sudah berdiri tepat di belakangnya.


Plaakk..


El menemukan pundak kirinya, hingga membuat Haris spontan duduk sambil menunduk ketakutan.


"Ampun mbak sama mas setan. Saya kesini bukan mau ganggu kamu, saya hanya bantu cari pacar bos saya. Kalau kamu terganggu, jangan marah sama saya. Marah aja itu sama Pak El," Haris berteriak, tanpa ia tahu El sudah mendengar semua ucapannya.


"HARIS!! CEPAT BERDIRI!!" teriak El.


Haris mulai berdiri, dilihatnya wajah El yang mulai memerah. Entah karna belum menemukan Chika atau karna mendengar ucapannya barusan.


"Maaf pak, tadi saya kira setan."


"Saya gak peduli kamu mau kira saya setan, atau manusia. Yang jelas, saya mau tanya apa kamu sudah menemukan makam Pak Dirga dan istrinya?"


"Belum pak, bapak sendiri?"


"Belum juga, kalau gitu ada satu jalan ke arah sana. Hanya saja saya gak berani, karna harus melewati jembatan. Kita pergi bersama sama kearah sana ya," ajak El. Sembari melihat sekelilingnya, El sendiri juga merasakan ketakutan yang sama seperti Haris.


Mereka berdua mulai berjalan seiringan, dengan menggunakan lampu senter di ponsel mereka masing masing.

__ADS_1


Tiba tiba arah pandangannya tertuju di pojok sebelah kanan. Mata El terbuka lebar, melihat sesosok manusia yang tidur diantara di samping makam.


"Haris lihat itu manusia atau setan?" teriak El sambil berjalan mendekati sesosok wanita yang ia lihat tadi.


"Iya pak, bukannya itu non Chika kan pak? Itu warna pakaiannya sama dan tas itu bukannya juga milik non Chika?"


Tanpa pikir panjang, El segera berlari kearah dimana Chika berada. Di sentuhnya tangan Chika yang sangat terasa dingin.


El segera melepas jasnya, lalu memakaikannya ke tubuh Chika. Berkali-kali El berusaha membangunkan Chika, namun Chika seakan sudah masuk ke alam mimpi dimana ia mungkin saat ini bertemu kedua orang tuanya.


"Haris, tolong pegang ponsel saya. Saya mau gendong Chika ke mobil. Dan kita bawa dia ke apartemennya sekarang."


"Baik pak."


Di dalam pelukannya sekarang, El dapat melihat kesedihan begitu terlihat jelas di wajah Chika. Matanya yang sembab, dengan sisa sisa air mata yang sudah kering, membuat El semakin merasa bersalah.


"Chika, akhirnya saya menemukan kamu. Maafkan saya Chika. Saya janji tidak akan membuat kamu seperti ini. Saya janji saya akan selalu menjadi malaikat kamu. Dan saya janji, saya akan membatalkan perjanjian kita dan pernikahan kita akan terjadi selamanya," batin El sembari menatap wajah Chika yang mulai memucat.


"Cepat jalankan mobilnya sekarang," perintah El.


"Baik pak," jawab Haris yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan area pemakaman.


Di dalam mobil, El terus saja mengusap area muka Chika yang lusuh. Mungkin air matanya tadi sudah bercampur dengan tanah makam. Sesekali El membersihkan wajah Chika dengan sapu tangan miliknya.


"Dasar gadis bodoh. Bisa bisanya dia tidur di makam. Apa dia gak takut kalau ada orang jahat atau binatang buas yang mengincar dia." umpatnya dalam hati.


Dari kursi kemudinya, Haris dapat merasakan rasa cinta El pada Chika mulai tumbuh. Biasanya El selalu bersikap dingin dan cuek di depannya, namun dari kejadian ini Haris mulai tahu dan yakin kalau El sudah bisa membuka hati untuk wanita lain.


"Saya bahagia pak melihat anda sekarang. Bukan seperti Pak El yang dulu, yang selalu mengutamakan emosi daripada naluri," gumam Haris dengan melebarkan sedikit senyum di bibirnya.

__ADS_1


Saat tiba di apartemen, dengan segera El membawa Chika masuk. Di baringkannya tubuh Chika di atas ranjang. Namun baru saja ia meletakkan tubuh Chika, mata Chika perlahan terbuka.


"Tuan El?? Kenapa aku bisa disini sekarang? Ngapain tuan bawa saya kesini. Biarin saya tidur di makam mama dan papa saya. Belum cukup apa tuan menghina dan merendahkan saya. Bukankah tadi saya sudah bilang berhenti mengganggu hidup saya," teriak Chika dalam tangisnya.


Melihat sikap dan emosi Chika serta perkataannya yang meletup letup, sangat terlihat kekecewaan Chika pada El begitu dalam. Dengan cepat El membawa Chika masuk kedalam pelukannya.


Chika berusaha meronta, mendorong tubuh El untuk pergi menjauh dari tubuhnya. Namun usahanya sia sia, El justru semakin mengeratkan pelukannya.


"Maafkan saya Chika. Maafkan ucapan dan sikap saya tadi sama kamu," ucap El yang berhasil membuat Chika kini mulai menerima pelukannya.


Diam dan membisu. Chika tak percaya kata maaf keluar dari mulut seorang Elvano Aristya yang terkenal sebagai lelaki angkuh dan berhati batu. Dalam pelukan El, Chika merasa ada kehangatan baru di hidupnya.


Mungkinkah ini mimpi? Chika masih bertanya tanya dalam hati. Dan untuk membuktikannya, ia sampai mencubit tangannya sendiri.


"Auu....," Chika membuat El spontan melepaskan pelukannya.


"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit di dalam tubuhmu? Mau saya panggilkan dokter Daniel sekarang?" El melihat, menatap dan memegang kedua pundak Chika dengan perasaan cemas.


"Engg...engg..enggak kok tuan. Tadi hanya ada semut yang gigit tangan saya."


"Oh, saya kira. Kalau gitu cepat kamu ganti pakaian kamu ya. Lihat kotor semua kena tanah. Dan lain kali jangan main kabur kabur lagi,bahaya. Kalau tidak, saya akan tulis perjanjian ke sebelas. Kalau kamu kabur sekali lagi, saya akan menjerat kamu dengan pernikahan seumur hidup. Mengerti!!!"


Chika hanya diam dengan sorot mata yang tajam mengarah ke arah El.


"Pernikahan seumur hidup? Mau banget om. Mending besok aku kabur lagi aja deh. Biar bisa nikah seumur hidup sama si om," Chika bersorak sorai didalam hatinya. Namun ia seolah memberi tatapan tidak suka di hadapan El untuk menutupi perasaannya saat ini.


"Kenapa diam? Mau kabur lagi?"


Chika hanya menggeleng, tapi hatinya sebenarnya mengangguk. Ia hanya memberi seulas senyum pada El dan dibalas juga oleh senyuman dari El.

__ADS_1


Dari jarak yang tak begitu jauh, Haris seperti mendapat tontonan sinetron. Dan ia pun duduk sembari menyangga dagunya dengan kedua tangannya. "Aiishh co cweet banget sih Pak El. Tinggal aku nih yang belum punya pacar. Besok buka lowongan ah di biro jodoh. Siapa tahu ketemu cewek yang modelnya kayak non Chika gini. Unyu unyu tapi gemesin." batinnya sambil sedikit berkhayal.


__ADS_2