
Di kediaman Aristya..
Mobil mewah berwarna hitam sudah masuk ke dalam bangunan rumah yang menjulang tinggi ke atas dengan beberapa security didalamnya.
"Selamat sore tuan dan nyonya. Selamat datang kembali di rumah ini," Pak Edo lalu membukakan pintu mobil untuk tuan dan nyonya besar dirumah itu.
"Terima kasih Edo. Semua aman?" tanya tuan Aristya.
"Aman tuan," jawab Pak Edo ketua security dirumah tersebut.
Tuan Aristya dan istrinya berjalan masuk kedalam rumah. Diikuti oleh Chika dan El di belakang mereka.
Suasana pun berubah menjadi hening, tak seperti biasanya jika sang pemilik rumah sedang pergi. Semua pembantu berbaris rapi seperti menyambut raja dan ratu mereka yang datang sambil menunduk hormat.
"Selamat sore tuan, nyonya," Bi Ida berjalan mendekat lalu mengambil koper yang di tenteng oleh El.
"Sore Ida," jawab nyonya Sarah.
Hati Chika bermekaran, seperti sedang berada dikebun penuh bunga. Tak pernah terbesit dalam pikirannya, akan merasakan penyambutan bak di negeri dongeng.
"Wah, berasa jadi tuan putri yang sedang berjalan di red karpet. Berada di belakang raja dan ratu, dan mendapat penghormatan seperti ini," batin Chika sambil berusaha menahan tawa.
Ujung mata El seketika terarah pada gadis yang berdiri di sebelahnya.
"Pasti otak gadis bodoh ini mulai konslet lagi. Aku minta Chika, hentikan tingkah konyol kamu di depan mama dan papa," gumam El dalam hati.
Mereka lalu menuju ruang keluarga untuk beristirahat sejenak. Baru saja meletakkan pantatnya diatas sofa,Tuan Aristya kembali bangkit berdiri.
"Mah, Chika, El, papa ke kamar dulu," pamit papa.
"Iya pah," jawab El.
"Iya om," sahut Chika.
"Mau aku temenin ke kamar pah?" nyonya Sarah ikut berdiri sejajar dengan suaminya.
"Gak usah mah, lebih baik kamu mengobrol disini bersama Chika dan El saja. Lagi pula cuma sebentar aja kok mah," ujar tuan Aristya.
__ADS_1
"Hmmm ya sudah kalau begitu pah," jawab mama lalu kembali duduk di atas sofa.
Didalam kamarnya, tuan Aristya segera mengambil benda berbentuk pipih di dalam saku jas yang ia kenakan. Di carinya kontak seseorang yang selama dua puluh tahun ikut bekerja dan setia menjadi kaki tangannya.
"Halo selamat sore tuan Aristya," sapa Reza. Kaki tangan tuan Aristya yang terkenal dingin dan pintar.
"Sore Reza, kamu sedang berada dimana?"
"Saya sedang di kantor pusat tuan, apa tuan sudah sampai di rumah?"
"Sudah baru saja saya sampai. Saya ingin memberikan tugas untuk kamu."
"Tugas apa tuan?" tanya Reza.
"Selidiki tentang Chika,anak Pak Dirga. Pemilik perusahaan Navindo. El sedang menjalin hubungan dengan gadis itu. Tapi saya curiga, ada sesuatu yang sedang El rencanakan."
"Baik tuan, segera saya laksanakan."
"Saya tunggu kabar dari kamu secepatnya,"
Reza berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat dan tanpa ia sadari, Haris sedari tadi mendengar percakapannya dari balik pintu.
Karna rasa penasarannya yang cukup kuat, diam diam Haris mengikuti mobil Reza dari belakang. Layaknya seorang detektif handal, Haris menggunakan kacamata hitam, dengan masker menutup mulutnya.
"Arghh sepertinya dia tak akan mengenaliku kalau aku berdandan seperti ini. Ternyata detektif conan lewat, masih ganteng detektif Haris," batin Haris sambil melihat dirinya di balik cermin.
Sibuk bercermin, Haris sampai lupa dengan tujuannya. Untung saja mobil Reza masih bisa ia lihat dari jauh. Mobil itu kini sudah berhenti di sebuah bangunan tinggi yang sebelumnya ia kunjungi. Seketika kedua matanya langsung terbuka lebar, apalagi melihat Reza kini mulai melangkah masuk ke perusahaan Pak Dirga.
Kecurigaan Haris tentang seseorang yang menelpon Reza mulai terjawab. Dari dalam mobilnya, ia berbicara dengan dirinya sendiri."Tuan Aristya, pasti beliau yang sedang memberi tugas pada asisten tengil itu," umpatnya dalam hati.
Haris segera mengambil ponsel di sakunya. Menelpon bosnya, hanya itu yang terpikir di benaknya saat ini.
Tak butuh waktu lama, El langsung menerima panggilan darinya.
Setelah selesai mendapat kabar dari Haris, El berjalan kembali ke sofa dimana mama dan Chika masih bersendau gurau bersama disana.
"Chika aku antar kamu pulang sekarang ya. Langit sudah mulai gelap, besok kamu juga harus sekolah," titah El dengan sedikit kode dimatanya.
__ADS_1
Chika menggeliat geli, mengira El sedang menggoda dirinya.
"Hii tuan El ngapain, kedip kedip gak jelas. Emangnya aku cewek apaan, di godain om om kayak dia," umpat Chika dalam harinya.
El mulai kesal, kode matanya sepertinya tak berpengaruh. Bagaimana caranya agar Chika mengerti maksudnya sekarang dan segera pergi meninggalkan rumahnya.
"Chika sayang, ayo pulang. Dicari tante sama om nanti," ujar El kembali sambil menggertakan giginya dengan mata sedikit terbelalak.
Mengerti maksud El, dengan segera Chika bangkit dari tempat duduknya. "Eh iya mas," Chika mulai berdiri bersebelahan dengan El.
Tapi sayangnya tak mudah buat El membawa Chika pergi. Meski baru mengenal, hati mamanya sudah terlanjur klop dengan Chika.
"El, kenapa terburu buru. Tunggulah sampai waktu jam makan malam," nyonya Sarah berusaha menahan kepulangan Chika.
El lalu memberi pengertian pada mamanya. Setelah cukup lama bernegosiasi, akhirnya mama mengizinkan Chika untuk pulang.
"Baiklah El, tapi besok kamu harus bawa Chika kemari lagi. Mama ingin mengajaknya jalan jalan," pinta mama penuh harap.
"Iya besok El bawa Chika kemari. Tapi Biarkan Chika pulang dulu ya mah."
"Iya tante, besok Chika janji akan kesini lagi," sahut Chika sembari berjalan mendekat ke arah nyonya Sarah dengan sedikit memberi pelukan perpisahan.
"Lolly kecil, kamu hati hati ya. Janji ya besok kesini."
"Iya tante," jawab Chika dengan mengulas sedikit senyum di bibirnya.
"Lagi lagi di panggil Lolly. Udah dibilang namaku bukan Lolly kenapa masih dipanggil gitu sih," Chika menggerutu kesal didalam hati.
Sebelum papanya tahu, El segera membawa Chika pergi dari rumah. Informasi dari Haris membuat El harus lebih berhati hati dengan papanya saat ini.
"Chika cepat masuk, kita segera ke apartemen kamu. Haris sudah disana menunggu kita," perintah El.
"Baik tuan, tapi ngapain kesana?" tanya Chika yang masih berdiam diri di depan mobil.
"Chika cepat masuk, nanti saya jelaskan di dalam mobil. Ini darurat Chika, gunakan kepintaran kamu saat ini."
"Iya iya tuan," jawab Chika sambil berjalan masuk kedalam mobil.
__ADS_1