
Kini El sudah bersiap untuk berangkat ke kantornya, dan seperti kebiasaannya ia akan menunggu asistennya Haris untuk datang menjemput dirinya.
Ia pergi ke meja makan untuk sarapan, namun El menoleh ke seluruh ruangan dan ia tak melihat Chika berada disana.
"Kemana gadis itu, kenapa dia tidak ada disini?" gumam El sambil memakan roti yang baru saja ia ambil.
Kebetulan Bi Ida datang untuk menaruh makanan ke meja makan, dan El pun menanyakan keberadaan Chika yang sedari tadi tidak menampakkan batang hidungnya.
"Bi, dimana gadis itu?" tanya El dengan tatapan datar.
"Oh Chika mas, dia lagi cuci piring di dapur."
"Panggil dia kesini, bilang saya ingin bicara padanya," ucap El
"Baik mas."
Bi Ida pun bergegas kembali ke dapur untuk memanggil Chika, dan tak berapa lama Chika datang.
"Tuan memanggil saya?" tanya Chika.
"Hmmm, ayo duduk. Temani saya makan," ucap El yang membuat mata Chika tertegun menatap El.
"Kamu dengar perintah saya tidak, cepat duduk!" teriak El hingga membuat Chika tersadar dari lamunannya.
"Ba.. Baik tuan," jawab Chika pelan.
Chika mulai duduk disamping El, namun ia hanya diam sambil menatap tuannya yang masih makan.
"Kenapa kamu ngeliatin saya, cepat makan. Saya tahu kamu belum sarapan kan?" ucap El tanpa menatap Chika.
"Iya tuan,"
Chika semakin di buat bingung oleh sikap El hari ini. Namun tiba tiba ia teringat akan rencananya untuk meminta gaji di awal, karna ia sangat membutuhkan uang untuk membayar sekolahnya. ,
"Tuan," lirih Chika.
"Hmmm, ada apa? Apa kamu mau menyampaikan sesuatu?" tanya El.
Setelah menarik nafasnya yang panjang, Chika mulai berbicara tentang keinginannya itu.
"Tuan, bolehkah saya meminta gaji saya diawal?saya sedang benar benar membutuhkannya untuk membayar spp saya tuan. Bulan depan saya ada ujian, dan kalau saya belum melunasi administrasinya, saya tidak bisa ikut ujian," ucap Chika dan El pun langsung menaruh menghentikan sarapannya.
__ADS_1
El menatap Chika tajam, sedangkan Chika hanya menunduk dan tak berani membalas tatapan El.
"Apa tuan El mau membantuku ya?" batin Chika sambil memejamkan matanya.
"Hei, kenapa kamu menunduk begitu. Memang wajah saya begitu menyeramkan apa?" ucap El.
"Enggak kok tuan, wajah tuan malah sangat tampan," jawab Chika spontan dan dengan cepat ia menutup mulutnya.
"Hahahaha, barusan kamu bilang aku apa? Tampan? Apa kamu baru sadar, jika aku itu sangat tampan. Tapi sayangnya kamu bukan seleraku, jadi simpan saja khayalanmu itu," ujar El sambil tertawa.
"Idih, siapa juga yang mau sama om om kayak kamu. Tadi tuh aku hanya basa basi aja. Eh gak taunya malah dianggap serius," gumam Chika dalam hatinya.
"Sudah jangan terus memandangi wajah saya yang tampan, nanti akan saya pikirkan tentang permintaan kamu tadi. Tapi tunggu saya sampai pulang dari kantor."
"Baik tuan,"
Mendengar ada suara mobil, El pun beranjak dari kursinya diikuti dengan Chika.
"Oh itu sepertinya Haris sudah datang. Saya mau berangkat dulu, kamu lanjutkan pekerjaan kamu."
"Baik tuan," jawab Chika sambil menunduk hormat ketika El melewati dirinya.
"Jangan lupa pesan saya, tunggu sampai saya pulang dari kantor jika kamu benar-benar membutuhkan uang itu,"
"I..ii...iya tuan, terima kasih," ucap Chika namun tak dijawab oleh El.
"Dasar sombong, sok ganteng lagi. Untung dia kaya, kalau gak udah gue gicek gicek mukanya yang songong itu pakai cabai dan bawang biar jadi tuh sambel songong," gerutu Chika sambil menggertakkan giginya.
Kedekatan Chika dan El pun membuat para pelayan muda di rumah El merasa iri dengan Chika. Walau dia baru bekerja satu hari dirumah itu, namun ia sudah diajak oleh tuannya untuk makan di meja makan.
"Lihat deh tuh Chika, sok kecakepan banget ya. Kita yang udah kerja bertahan tahun disini aja gak pernah diajak tuh sama tuan El makan sama dia," ucap Ajeng salah satu ART tergenit dirumah itu.
"Iya jeng, gue juga enek lihat dia. Enak banget ya jadi dia. Baru masuk beberapa jam aja udah kayak nyonya di rumah ini," timpal Mela yang juga salah satu ART muda disana.
Dan saat Ajeng dan Mela masih menggosipkan Chika, tiba tiba Bi Ida datang dari arah belakang mereka hingga membuat mereka melompat kaget.
"Hayoo, kalian sedang apa? Mau saya laporin sama Mas El tentang ucapan kalian?" ancam Bi Ida.
"Eh Bi Ida, jangan dong bi. Kita cuma bercanda kok bi. Yaudah Ajeng mau ngepel dulu ya bi," pamit Ajeng yang langsung lari dari hadapan Bi Ida.
"Mela juga belum selesai nyiram tanaman di kebun bi, Mela pamit ke depan dulu ya," sahut Mela yang juga langsung pergi dari hadapan Bi Ida.
__ADS_1
Bi Ida yang dari tadi menahan tawa di depan Ajeng dan Mela langsung mengeluarkan tawanya setelah kepergian mereka. Dan mata Bi Ida tiba tiba terarah pada Chika.
"Chika, bibi rasa suatu saat Mas El akan jatuh cinta sama kamu. Kamu itu selalu bisa membuat orang tersenyum dengan tingkah kamu. Walau baru mengenal kamu, bibi udah sayang banget sama kamu nak," batin Bi Ida sambil memamdangi Chika dari jauh.
Di dalam mobil, El pun mulai menanyakan pada Haris tentang tugas yang ia perintahkan untuk Haris. Dan dalam waktu kurang dari satu hari, Haris sudah mendapatkan informasi yang akurat tentang Chika. Haris pun mulai bercerita tentang kehidupan Chika.
Dan ketika di tengah jalan, El pun tiba-tiba meminta Haris untuk memutar balik mobilnya.
"Haris, kita ke sekolah gadis itu sekarang," perintah El.
"Baik pak, memang Pak El ada perlu apa kesana?"
"Saya mau membayar sekolah Chika sampai lulus. Dan apa kamu sudah siapkan kertas perjanjian bermaterai yang saya minta kemarin?"
"Sudah Pak, apa Pak El yakin dengan rencana bapak ini? Bagaimana jika nanti tuan dan nyonya mengetahui semuanya? Dan bagaimana jika nanti bapak malah jatuh cinta sungguhan dengan gadis itu?" ucap Haris yang membuat El tertawa dengan perkataannya.
"Hahahaha,, kamu bilang apa? Jatuh cinta? Walau tinggal dia satu satunya gadis di dunia ini, aku juga tidak akan memilihnya. Ketakutan kamu itu tidak beralasan. Dan kalau soal mama dan papa, entah mengapa perasaanku berkata jika mereka nanti akan sangat menyukai Chika."
"Ya semoga saja semua sesuai rencana Pak El," ucap Haris.
"Hmmm, kamu tenang saja. Aku bisa mengatasinya sendiri. Oh iya soal tante dan om gadis itu, kenapa perusahaan Pak Dirga bisa diambil alih oleh tante dan om gadis itu? Kenapa tidak diwariskan pada putri kandung mereka sendiri?" tanya El.
"Saya sudah tahu pak kenapa perusahaan Pak Dirga bukan jatuh ke tangan putrinya. Karna gadis itu sudah menandatangani peralihan warisan pada tante dan om nya. Makanya seluruh kekayaan Pak Dirga jatuh ketangan adik iparnya pak, dan saya dapat info dari teman Chika, katanya hubungan Chika dan tantenya itu kurang baik," jelas Haris.
"Dasar gadis bodoh, bisa bisanya dia mengalihkan warisannya pada tante dan om nya. Kalau saja dia sedikit pintar, dia tidak akan menderita seperti ini." gumam El.
Lalu El mulai membuka kacamatanya, sambil menatap Haris dari kaca spionnya.
"Kamu kalau cerita yang jelas. Jadi om dan tante gadis itu memperlakukannya dengan buruk?"
"Sepertinya begitu Pak El, karna tadi saya tanya pada teman gadis itu yang bernama Maya. Mereka berdua bersahabat, dan tadi temannya bilang pada saya jika Chika kabur dari rumah karna hampir di perkosa omnya sendiri."
"Oh. Kerja kamu bagus Haris, tapi bagaimana caranya kamu bisa dapat info sedetail itu padahal kamu baru mengenal sahabatnya Chika."
"Oh itu soal mudah dong pak, tapi rahasialah pak. Nanti kalau saya kasih tau bapak cara cara saya, bapak gak akan butuh saya lagi dong. Dan nanti saya jadi pengangguran dong pak," ucap Haris sambil tertawa kecil.
"Dasar kamu asisten gak tau diri. Tapi Terserahlah, yang penting semua tugas dari saya kamu bisa handle."
"Tapi jangan lupa ya pak naik gaji, naik gaji."
"Hmmm," jawab El dengan tatapan matanya yang menyeramkan.
__ADS_1