Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Kesetiaan Haris


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah hampir pagi, namun El belum juga menemukan Chika. Wajahnya semakin memerah dan penyesalannya pun semakin dalam.


"Harusnya tadi aku tidak mematikan ponselku dan menjawab panggilan telpon dari Daniel. Pasti sekarang Chika sudah bersama aku," El terus menyalahkan dirinya sendiri.


Karna masih belum menyerah mencari Chika, tanpa disadarinya sekarang sudah pukul 7 dan Haris sudah tiba di rumahnya.


Khawatir dengan kondisi bosnya, ditambah ucapan tuan Aristya dan nyonya Sarah jika Chika sudah ketemu, Haris langsung menghubungi nomor El sekalian mengingatkan dirinya akan janji meeting bersama Mr. Smith.


"Halo Pak El," ucap Haris.


"Ada apa Ris?"


"Bapak dimana? Saya sekarang sudah sampai dirumah bapak, dan sekarang sudah jam 7. Pak El tidak lupa kan dengan janji bapak dengan Mr. Smith."


El melihat jam di tangannya, dan benar apa yang dibilang Haris. Sekarang sudah pukul 7 pagi. Ia tak menyangka waktu berjalan begitu cepat, sedangkan dirinya belum bisa menemukan istrinya.


"Ya Haris, tunggu saya dirumah. Saya pulang sekarang," jawab El pelan.


"Baik pak. Oh iya ini nyonya dan tuan bertanya keadaan non Chika. Apa non Chika sudah bersama bapak sekarang?"


"Ris, jangan tanyakan itu dulu ya. Saya lagi menyetir, jangan diajak mengobrol."


"Oh iya pak, saya minta maaf. Bapak nyetirnya hati hati ya."


"Hmmm, terima kasih."


"Sama sama pak," jawab Haris dan panggilan telpon dengan El pun terputus.


15 menit kemudian, terdengar suara mobil masuk ke dalam pekarangan rumah. Tidak usah ditanya, sudah pasti itu yang datang.


El masuk dengan langkah yang lunglai. Bajunya pun berantakan, bawah matanya ada lingkaran hitam, mungkin karna semalaman ia tidak tidur dan menghabiskan waktunya untuk mencari Chika.


"Pagi El, Chika mana?" tanya Nyonya Sarah.


"Chika gak ada di apartemen Daniel mah. Sepertinya dia tahu kalau El akan datang menjemputnya," jawab El sembari menjatuhkan tubuhnya ke sofa.


Tuan Aristya dan Nyonya Sarah saling bertatapan. Apa yang membuat menantu mereka kabur dan enggan bertemu El. Apa masalahnya begitu besar?

__ADS_1


Daripada bertanya tanya, tuan Aristya yang sudah penasaran duduk menyebelahi putranya.


"Apa masalah kamu dan Chika sebenarnya. Papa yakin kalau hanya masalah kamu mengira Chika tidak perawan, dia tidak akan semarah ini dengan kamu. Sekarang tolong jelaskan pada kami berdua tentang masalah kalian," ujar tuan Aristya.


El mengusap kasar wajahnya. Kemudian menangkup wajahnya sembari menangis.


Haris ikut terenyuh melihat kondisi bosnya sekarang. Tak pernah sebelumnya ia melihat El seterpuruk ini. Namun ia memilih diam. Ia hanya akan bicara jika El memerintah saja.


"Ini salah El pah. Chika pergi membawa anak kami. Ini salah El mah, pah," ujar El dalam tangisannya.


"Tunggu El. Apa kamu bilang? Anak? Jadi Chika hamil?" tanya Nyonya Sarah yang langsung diangguki oleh El.


"Iya mah, Chika hamil. Dan dia pergi gara gara El."


"Maksud kamu?" Tuan Aristya menyahut. Baru kali ini El mau menyalahkan dirinya sendiri. Padahal sedari dulu, El orang yang keras kepala. Sesalah apapun dia, dia tidak akan pernah bilang dirinya bersalah.


El mulai menceritakan semuanya. Dari awal perlakuan buruknya dengan Chika, hingga akhirnya Chika mendengar pembicaraannya dengan Haris.


Geram, tuan Aristya mengepalkan kedua tangannya.


Dan bugh..


Plak...


Nyonya Sarah merasa sakit hati. Dia bukan Chika, tapi hatinya sudah sakit mendengarkan cerita El tentang perlakuannya pada Chika.


Selama ini yang Nyonya Sarah dan Tuan Aristya tahu, Chika selalu menutupi keburukan El. Berarti semua ucapan Chika itu hanya karangan cuma untuk menutupi kebusukan putra mereka.


"Pergi kamu El, dan jangan pernah kembali sebelum kamu membawa Chika!! Karna papa tidak akan menyerahkan warisan papa untuk kamu selama Chika belum ketemu," ucap Tuan Aristya dengan tegasnya.


"El, hati kamu terbuat dari apa sih nak? Apa pernah kami mendidik kamu menjadi laki laki bejat seperti ini?" imbuh nyonya Sarah.


Mendengar ucapan kedua orang tua angkatnya, El berdiri. Rasa hormat itu ia buang untuk saat ini. Kehilangan Chika saja sudah membuat hatinya sakit, ditambah ucapan mama dan papanya.


"Baiklah El akan pergi. Dan sampai kapanpun tidak akan kembali ke rumah ini. Karna ini juga bukan rumah El. Dan soal warisan, papa tenang saja. El sudah tidak berharap dengan warisan papa. Karna bagi El warisan papa tidak ada artinya dibanding dengan Chika. Mulai hari ini berhenti menganggap El anak kalian, karna sesungguhnya El kan memang bukan anak kalian," ucap El yang langsung pergi meninggalkan rumah.


Hati nyonya Sarah sangat sakit. Meskipun El hanya anak angkat mereka, tapi dia sudah sangat menyayangi El.

__ADS_1


"My boy jangan pergi," ujar nyonya Sarah sambil menarik tangan El.


"Biarkan saja dia pergi mah. Sifat dan sikapnya sangat buruk. Mungkin itu keturunan dari ibu dan bapaknya. Kita tidak punya anak yang berhati dingin seperti dia," jawab tuan Aristya.


Merasa sakit hati dengan ucapan papanya, El menghempaskan tangan mamanya. Perkataan papanya seakan mengingatkan dirinya dengan orang tua yang tega membuang dan menaruhnya di panti asuhan.


El melangkah pergi dengan pasti. Namun Haris masih terdiam dan bingung dengan pembicaraan orang di sekitarnya.


"Ini maksudnya apa ya? Pak El bukan anak tuan Aristya.Terus dia anaknya siapa?" batin Haris.


Saat Haris sadar dari lamunannya, ia tahu melihat El disana. Haris pun bergegas menyusul El, namun tiba tiba langkahnya terhenti.


"Haris, kamu mau kemana?" teriak Tuan Aristya.


"Mau menyusul Pak El tuan."


"Berhenti disana atau saya kamu pecat."


"Pecat saja tuan. Kan memang selama ini saya bekerja dengan Pak El bukan dengan tuan. Bukankah tuan sudah punya Reza sebagai orang kepercayaan tuan. Jadi buat apa tuan mencegah saya buat ikut Pak El. Tuan itu tidak punya hak atas saya. Mengerti tuan!" jawab Haris yang untuk pertama kalinya berani menjawab ucapan tuan Aristya.


"DASAR PEMBANGKANG!! kamu dan El itu sama saja. Kamu lihat Haris, El tidak akan bisa memberi gaji kamu sebesar gaji yang akan saya tawarkan."


"Maaf tuan, saya tidak peduli," jawab Haris dengan santainya.


Baru beberapa jangkah, tuan Aristya kembali berteriak yang membuat mata Haris sempat berbinar


"Saya akan gaji kamu 1M," teriak tuan Aristya namun tak membuat langkah Haris berhenti.


"2M," Haris masih terus saja berjalan dan tak menghiraukan ucapan tuannya.


"3M Haris, saya akan kasih gaji kamu 3M tiap bulan diluar bonus. Tapi tinggalkan El sekarang," teriak Tuan Aristya kembali dan sekarang berhasil membuat langkah Haris terhenti dan membalikkan badannya.


Tuanal Aristya mulai menyunggingkan senyuman yang lebar. Ia tahu kelemahan Haris.


Haris tersenyum ke arah tuan Aristya.


"Maaf ya tuan, memang tuan kira saya cowok apaan. Harga diri dan pengabdian saya hanya di nilai 3M? Maaf tuan, saya tidak tergiur. Dan saya akan tetap mengabdi Pak El dalam keadaan suka ataupun duka. Sekali lagi maafkan saya tuan Aristya yang terhormat," jawab Haris yang langsung berlari menyusul El.

__ADS_1


"Pah, kenapa kamu ingin membuat El menderita. Gimana pun dia anak kita," ucap nyonya Sarah.


"Karna aku merasa kasih sayang kita sama El itu sia sia. Dia tidak pernah tulus menerima kita sebagai orang tuanya. Yang dia inginkan hanya uang kita, dan itu sangat membuat papa marah dan kecewa dengan dia," jawab Tuan Aristya dan istrinya hanya bisa diam tanpa berani berkata lagi.


__ADS_2