
"Om Pandu, Tante Renata...," Chika kaget ternyata orang yang menculik dirinya adalah om dan tantenya sendiri.
"Hei Chika, kenapa kamu terkejut lihat kita? Harusnya kamu senang dong. Karna om sama tante udah mau ajak kamu pulang," ujar Renata sinis.
Chika memalingkan wajahnya. Apa sebenarnya mau om sama tantenya. Bukannya dulu mereka ingin membuangnya, tapi kenapa sekarang malah menyuruhnya pulang dengan cara menculiknya. Aneh.
"Buat apa tante mengajakku pulang. Harusnya tante bilang sama aku, temui aku dan bicara baik baik kalau memang niat tante sama om itu baik. Gak perlu pakai cara seperti ini. Aku curiga, om sama tante ada maksud tertentu. Iya kan? Jujur aja deh," Dia bicara namun matanya sama sekali tidak menatap tantenya.
Kesal dan marah, Renata gelap mata. Percuma berpura-pura manis, itu tak merubah penilai keponakannya pada dirinya. Renata menjambak rambut keponakannya itu, menariknya lalu mendongakkan wajahnya.
"Chika, belum ada satu bulan kamu pergi dari rumah. Ternyata kamu sudah gak punya rasa hormat sama tante kamu. Apa karna sebentar lagi kamu akan menikah dengan anak tunggal pak Aristya? Cih, pintar juga kamu cari suami kaya. Apa kamu sudah tidur dengannya?" Renata bicara seolah Chika rela menjual diri demi harta.
"Sayang sudah. Kamu jangan kasar kasar dong sama Chika. Kamu lupa dia itu aset uang untuk kita," sela Pandu.
"Maksud om apa bilang aku aset kalian? Bukannya kalian sudah mengambil rumah dan perusahaan papa. Kenapa kalian masih menginginkan aku? Buat apa?"
"Karna kamu akan jadi istri anak orang terkaya di negeri ini. Perusahaan papa kamu itu hanya seujung kuku dari perusahaan pak Aristya. Lagipula om kasih tau ya, perusahaan papa kamu sudah kolep dan om sudah menjualnya. Dan karna om ingin merintis lagi, makanya om butuh suntikan dana. Makanya bantu om untuk mendapatkan bantuan dari pacar kamu itu," jelas Pandu.
"APA? perusahaan papa sudah di jual? Kenapa Om, kenapa Om jual. Papa membangun perusahaan itu susah payah. Chika saksinya,gimana susahnya papa merintisnya. Dan sekarang om jual begitu saja? Om sama tante jahat!!! Dan jangan harap aku mau membantu om dan tante," Chika menangis sambil berteriak. Harapannya pupus sudah untuk mempertahankan jerih payah sang papa.
Emosi Chika meluap. Tak peduli keselamatannya sendiri, ia harus mencari cara untuk keluar dari mobil ini.
"Auu...," Chika menggigit tangan Renata sekuat tenaga. Dan dengan segera ia keluar dari mobil itu.
"Cepat kejar dia," titah Pandu pada anak buahnya.
__ADS_1
"Baik bos."
Baru saja berlari, ada tangan kekar memukul punguk kepalanya.
Bughh..
Chika pingsan dan tubuhnya langsung di bawa kembali ke dalam mobil.
"Maaf bos, saya terpaksa melakukan ini."
"Chika kenapa? Kamu apakan dia? Kenapa dia sampai pingsan? Ini gimana mas?" Renata panik. Meskipun ia membenci Chika namun dilubuk hatinya ia juga tak tega melihat keadaan Chika sekarang.
"Sudah kamu tenang saja. Dia hanya pingsan sebentar, nanti juga bangun. Salah sendiri dia gak menurut sama kemauan kita. Sampai menggigit tangan kamu sampai seperti itu dan berusaha kabur. Sudah jangan takut, keponakan kamu akan baik baik saja," Pandu berusaha menenangkan Renata yang gusar.
"Kamu yakin sayang?"
Mereka semua kemudian menuju rumah dan sesampainya disana mereka menaruh Chika dan membaringkannya di kasur.
Di kediaman Aristya...
El mulai turun dari mobil, diikuti Haris yang mengekor di belakangnya.
"Ris, ada apa ya? Kenapa jantung saya jadi dag dig dug dear gini ya," ucap El.
"Kayak iklan softener dong pak, dag dig dug dear. Hihihi," niat hati bercanda namun waktu tidak tepat. El menghentikan langkahnya tiba tiba.
__ADS_1
Bughh...
Tubuh Haris menabrak tubuh El yang berhenti tiba tiba.
"Ris saya tidak sedang bercanda. Entah kenapa pikiran saya bercabang. Otak kanan mikir kenapa papa menyuruh saya pulang, dan otak kiri saya memikirkan Chika. Jangan jangan dia kabur lagi. Ada apa ya sama saya Ris?"
"Saya juga gak tahu pak. Kan saya bukan paranormal. Daripada Pak El penasaran, kita masuk aja gimana pak? Kalau soal non Chika bapak tenang aja, dia kan lagi sekolah. Mana mungkin dia kabur. Lagipula saya bisa telpon mbak Maya nanti untuk mengetahui kabar non Chika," jawab Haris.
"Hmmm, benar juga. Yaudah ayo temani saya masuk."
"Baik Pak El."
Ketika hendak membuka pintu, tanpa sengaja El dan Haris berpapasan dengan Reza, asisten papanya.
"Pagi tuan El," sapa Reza dengan badan sedikit membungkuk.
"Pagi za, papa dimana? Kenapa dia memanggilku pulang kerumah?" El mencoba mencari kisi kisi pada Reza.
"Tuan dan nyonya ada di ruang kerja anda tuan."
"Ruang kerja saya? Ngapain?"
"Saya kurang tahu tuan, kalau begitu saya permisi ya," Reza pamit dan segera kabur sebelum El mengintograsinya lebih jauh.
El semakin bingung ada masalah apa sebenarnya. Saat ia sudah berjalan masuk, Haris masih berdiam diri sambil menoleh ke belakang melihat punggung Reza dari kejauhan.
__ADS_1
"Hmmm, enak banget sih kerjaan asisten songong. Gak kerja berat tapi gajinya lebih gede dari aku. Lah aku 24 jam harus selalu stand by tapi gaji stag di situ situ aja. Malah sering di potong sama Pak El. Nasib nasib, apalah dayaku yang cuma lulusan S3, SD SMP SMA. Beda sama tuh cunguk yang lulusan S2 dari universitas luar negeri pula," Haris menggerutu, mencurahkan isi hatinya walau hanya dengan dirinya sendiri.