
Sesudah mengambil map milik El, Haris pun bergegas menuju ruang kerja El.
Tok... Tok... Tok..
Suara ketukan pintu.
"Permisi pak," ucap Haris.
"Masuk," jawab El singkat.
Haris masuk dan langsung memberikan map yang berisi perjanjian pada El. Sesekali Haris menatap geli melihat Chika yang masih melahap martabak manis pemberian El.
"Enak ya non?" ujar Haris sambil menelan slivanya.
"Oh, om mau? Ini kalau mau, ambil aja," jawab Chika sambil menyodorkan kotak martabak ke hadapan Haris.
Tapi saat Haris hendak mengambil sepotong martabak manis milik Chika, tangannya langsung di hempaskan oleh El.
"Heh, pede sekali kamu mau ambil martabak milik Chika," gertak El.
"Loh Pak El, kan non Chika sendiri yang menawari saya. Bukan saya yang minta," jawab Haris dengan matanya yang masih terarah pada martabak Chika.
"Iya tuan, gak papa lah om ini minta. Kasihan dia, pasti lapar karna seharian mengurus tuan," sahut Chika.
"Siapa yang menyuruh kamu ikut bicara. Itu martabak saya belikan buat kamu, bukan malah kamu kasih ke orang. Mengerti!!" bentak El.
"Hmmm, iya iya tuan. Gak capek apa tuan itu marah marah terus. Nanti cepet ubanan loh. Inget tuan itu masih jomblo, bisa bisa nanti jadi perjaka tua," jawab Chika spontan sembari makan.
Bruaakkk....
El membanting tangannya ke meja hingga membuat Chika dan Haris sekejap diam.
"Sudah cukup bercandanya, sekarang saatnya kita bicara serius," ujar El sambil berdiri dari kursinya.
"Taruh itu martabaknya di meja, dan baca baik baik ini," ucap El sembari melemparkan map perjanjian itu kehadapan Chika.
"Ini apa tuan?" tanya Chika.
"Makanya dibuka terus dibaca kalau kamu cuma lihat mana tahu itu isinya apa?"
__ADS_1
Chika mulai mengambil map yang berada di hadapannya. Dan kedua bola matanya seketika membulat melihat kwitansi pelunasan spp hingga ujian dari sekolahnya.
"Tuan, jadi tuan sudah melunasi sekolah saya?" tanya Chika dengan mata yang berbinar.
"Hmmm, tapi semua gak gratis. Sekarang kamu baca lembaran didalamnya," ucap El dengan tatapan datar.
"Ini apa tuan?"
"Makanya baca," teriak El.
Chika mulai membaca isi dalam kertas itu. Namun belum selesai membaca, Chika langsung berdiri dari kursinya dan meletakkan map dari El keatas meja kembali.
"Saya gak mau. Apa apaan ini. Masak iya saya menikah dengan om om kayak kamu," teriak Chika dengan tatapan berapi api.
Tapi El justru tersenyum licik kearah Chika.
"Kamu sudah baca semuanya?" tanya El sambil duduk bersila sembari memegangi dahinya.
"Belum, tapi apa ini perjanjian pernikahan diatas kertas. Gak jelas. Baru baca aja aku sudah tahu maksud om apa. Jadi benar ya selama ini om itu punya niat buruk sama aku. Ternyata selama ini om diam diam mencintai aku ya," ucap Chika dan El seketika tertawa terbahak-bahak.
"Apa kamu bilang? Cinta? Cih, aku juga gak doyan sama kamu. Makanya baca dulu di poin kelima juga. Selama saya menikahi kamu, saya tidak akan menyentuh seujung rambut kamu, tapi jika kamu menolak ya saya gak papa. Tapi kembalikan uang yang sudah saya keluarkan untuk membayar sekolah kamu paling lambat besok jam 5 pagi," ucap El dengan tegas.
Haris yang sedari tadi berdiri di belakang El, dapat melihat tekanan yang besar pada Chika.
"Emang udah sakit jiwa ini Pak El. Kasihan Non Chika, harus menikah dengan orang yang berhati dingin seperti dia. Kan belum tentu ya semua orang kayak aku, untung aja aku tahan banting sama Pak El." batin Haris.
Satu per satu tulisan dikertas itu mulai dibaca Chika. Dan saat membaca poin terakhir, keputusan Chika mulai berubah. Disana tertulis jika El akan membiayai sekolah Chika hingga kuliahnya juga sampai lulus.
Selesai membaca Chika kembali menyodorkan map itu pada El.
"Gimana? Apa kamu mau?" tanya El tanpa menatap mata Chika.
"Baik tuan, saya setuju. Tapi ingat ini perjanjian hanya sampai tuan mendapatkan harta warisan dari kedua orang tua tuan saja. Setelah itu, tuan harus menceraikan saya. Dan satu lagi, tuan tidak boleh menyentuh saya."
"Oke, no problem. Itu mudah bagi saya. Yang penting kamu harus bisa mengambil hati mama dan papa saya."
"Itu kecil tuan, kan saya orangnya menarik. Jadi gak susahlah buat Chika bikin hati mama sama papa tuan menyukai saya."
"Percaya diri sekali kamu. Kamu saja belum pernah bertemu kedua orang tua saya. Bisa bisanya kamu seyakin itu. Buktinya sampai saat ini saya tidak menyukai kamu," tegas El.
__ADS_1
"Ah masak sih tuan. Tuan gak suka sama saya? Padahal di sekolah saya banyak yang suka lho tuan," jawab Chika dengan puppy eyesnya.
"Hahahaha, kamu berharap saya akan menyukai kamu. Jangan mimpi, kamu itu bukan selera saya. Jadi jangan harap jika saya akan benar-benar menyukai kamu," jawab El sembari memalingkan wajahnya.
"Alhamdulillah tuan, kalau tuan gak suka sama saya. Kalau tuan suka beneran sama saya malah bahaya. Yang ada saya akan menikah seumur hidup dengan tuan. Kan gak lucu kalau saya membawa om om seperti tuan ke acara anak muda. Apa kata teman teman saya nanti."
"Sudah sana kamu pulang saja, biar diantar Haris. Bisa bisa darah tinggi saya kalau kamu kelamaan disini dan mendengar celotehan kamu terus. Cepat tanda tangani isi surat ini."
"Ya darah tinggilah. Kan emang udah tua," lirih Chika pelan namun terdengar ke telinga El.
"Apa kamu bilang?"
"Enggak tuan, saya gak bilang apa apa kok. Salah dengar kali. Ini saya udah tanda tangani. Kalau begitu saya pamit ya tuan, dan besok sesudah pulang sekolah, baru saya kesini buat bekerja."
"Hmmm, sana cepat keluar." perintah El.
"Iya tuan, iya," jawab Chika.
"Haris kamu antar bocah ini pulang, setelah itu kamu juga pulang. Jangan lupa besok datang lebih pagi karna kita ada meeting dengan Pak Surya tepat jam 7 pagi."
"Baik pak, kalau begitu saya permisi."
"Hmmm," jawab El.
Selama berjalan keluar, pandangan mata Haris hanya lurus kedepan. Chika yang merasa canggung terus berusaha mengajak bicara Haris.
"Om, kok betah sih kerja sama tuh om yang didalam," tanya Chika.
"Terus kenapa kamu juga mau menjadi istri kontrak Pak El?" tanya Haris balik.
"Ya karna saya kan butuh om, lha kalau om sendiri."
"Itu kamu sudah tahu jawabannya," jawab Haris.
"Sudah ayo masuk, ini sudah malam. Dikira saya nanti culik anak dibawah umur lagi," ucap Haris sambil membukakan pintu untuk Chika.
"Argghh si om lucu juga ya, makasih ya om."
"Hmmm," jawab Haris lalu menutup pintu mobil.
__ADS_1
"Gak bosnya gak asistennya sama sama kaku. Pantes aja mereka masih jomblo sampai sekarang, lagian mana ada cewek yang mau sama mereka. Udah aneh, sok kegantengan lagi. Cih, dikasih gratis pun gak akan ada yang mau. Sabar Chika, ini cuma sementara. Inget pesan papa, kalau mau sukses itu butuh doa dan usaha. Salah satu usahanya ya menikah sama tuan El. Kalau aku udah lulus nanti, aku akan cari kerja dengan gaji yang tinggi," batin Chika yang berusaha menghibur dirinya sendiri.