Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Masa Kelam


__ADS_3

Ditengah canda tawanya bersama Kie, ponsel El berbunyi. Chika melirik dengan ekor matanya, siapa tahu yang menelpon El kekasih atau mungkin istri barunya. Ya, masak 4 tahun berpisah dengan dirinya, El tidak memiliki wanita lain. Sebenarnya ada rasa cemburu dihatinya, namun Chika mencoba bersikap tenang dan tak mau membuat El besar kepala.


"Itu yang bunyi apa papa setan? Terus ini apa, kok kayak mainan yang dirumah, yang mama belikan buat Kie ya," ucap Kie dengan sorot matanya yang terus mengamati benda di tangan El.


"Ini namanya handphone. Tapi ini bukan handphone mainan tapi beneran," jelas El.


"Ooow.."


"Bentar papa angkat telpon dulu ya Kie," ujar El sembari mencubit pelan pipi Kie yang gembul.


"Sayang, kamu jangan cemburu gitu. Ini yang telpon mama, palingan dia mau nanyain soal kamu," ucap El kembali.


"Dih, siapa juga yang cemburu. Geer banget kamu mas," Chika mendesis kesal. Padahal dalam hati, kepo juga.


"Gak usah malu gitu. Kalau cemburu bilang aja. Kamu pikir aku gak tahu pas kamu lirik lirik tadi. Gak papa kali cemburu sayang, kamu kan masih istri sahku."


"Istri diatas kertas maksud kamu," jawab Chika sinis.


"CHIKA!!" seru El.


"Marahnya ditunda dulu. Itu mama telpon, cepat angkat," perintah Chika.


"Hmmm."


"Papa setan, cepet angkat. Bunyi terus, bikin kepala Kie pusing tau," kali ini Kie gantian yang memerintah dirinya. Rasanya kalau bukan istri dan anaknya yang bicara demikian, sudah di lem mulut mereka sekarang.


Netra El tertuju pada dua bola mata di depannya. " Kie dan Chika, mereka beraninya memerintah aku seperti ini. Dan kenapa aku gak bisa marah di panggil setan sama anakku sendiri. Ini semua gara gara Chika. Bisa bisanya dia bilang aku sudah mati. Awas ya kamu Chika. Tunggu pembalasanku," batin El geram.


"Cepet angkat. Siapa tahu penting," titah Chika kembali.


"Iya emak emak bawel," jawab El singkat.


Sesaat kemudian, El menerima panggilan dari nyonya Sarah.


"El, gimana?apa kamu sudah berhasil menemukan Chika dan cucu mama? Cucu mama dan papa, laki laki apa perempuan El?" tanya nyonya Sarah.


"Sudah mah. Anak El laki laki."


"Cepat bawa mereka kemari El. Mama dan papa ingin melihat mereka."


"Iya iya mah. Besok pagi kami semua kesana ya."


"Boleh mama bicara dengan Chika?" rengek mama.


"Kalau mama bicara sama Chika dan dia bilang lagi di rumah sakit, bahaya. Kan aku gak jadi bawa Chika dan Kie ke rumah sakit. Mendingan mama gak usah bicara dengan mama dulu deh," gumam El dalam hati.


"El, mama ingin bicara dengan Chika."

__ADS_1


"Besok aja ya mah. El janji akan bawa merek untuk menemui mama dan papa," ucap El.


"Beneran? Kamu gak lagi bohong kan El?"


"Enggak mah. El janji. Udah dulu ya mah."


"Ya sudah El. Jaga Chika dan cucu mama ya El. Jangan sampai mereka pergi lagi. Dan sampaikan salam mama dan papa untuk mereka."


"Iya mah. Nanti El sampaikan." jawab El dan panggilan pun terputus.


Bola mata Kie terus melirik handphone El. Mau pinjam tapi takut.


"Kamu kenapa Kie?" tanya El saat melihat putranya terus melirik ke arah ponsel.


"Kamu mau pinjam handphone papa?" ucap El kembali. Karna sedari tadi Kie tak mau menjawab pertanyaannya.


Kie mengangguk. "Iya papa setan."


"Kie, gak boleh ya sayang. Mama kan udah pernah bilang.." ucap Chika namun langsung di putus oleh El.


"Sudahlah Chika. Handphone aku juga handphone Kie. Apa yang menjadi milikku berarti milik kamu dan juga Kie. Biarkan saja kalau Kie mau pinjam ponselku," sahut El yang langsung membuka youtube dan memberikannya ke tangan Kie.


Kie memperlihatkan gigi putih dibalik senyumannya. "Beneran? Kie boleh pinjam ini?" tanya Kie.


"Boleh. Tapi ada syaratnya," ucap El. Kie hanya memicingkan sebelah matanya dengan bibir mengerucut.


"Apa?" tanya Kie kesal. Begitu juga Chika. Ia melirik suaminya penuh tanya. Apa yang sedang direncanakan El untuk Kie? Pikiran Chika mencoba menerka nerka rencana licik suaminya.


"Hmmm," Kie mencoba berpikir sejenak. "Oke, Kie mau," jawab Kie yang menyetujui syarat dari papanya.


"Sekarang panggil papa dan bilang kalau Kie sayang papa," titah El.


"Kie sayang papa. Udah kan, sekarang mana handphone Kie."


"Ini sayang. Papa juga sayang Kie," jawab El sembari mencium pipi Kie yang seperti donat.


Senyuman melengkung lebar di bibir El. Dan Chika hanya geleng geleng, tak menyangka jika El bisa membujuk putra mereka.


Saat Kie tengah sibuk melihat youtube di ponsel El, mata El baru sadar jika penampilan Chika sangat mengenaskan. Bahkan pakaian yang digunakan Kie dan Chika, terlihat lusuh.


"Chika, boleh aku bertanya sesuatu?" ucap El.


"Apa?"


"Selama ini kamu kemana saja?"


Chika hanya diam. Mulutnya masih tertutup. Apalagi kenangan dengan Bu Asih masih teringat jelas di memorinya.

__ADS_1


"Chika, kenapa kamu diam?" tanya El.


"Lain kali aku pasti cerita, tapi gak sekarang. Sini biar Kie duduk sama aku aja," Chika mengambil Kie dari pangkuan El lalu mencium pucuk rambut Kie.


Chika memeluk Kie begitu erat. Empat tahun masa kelam ia lewati tanpa pendamping . Melahirkan bayi tanpa suami, hinaan dan cemooh dari para warga desa dulu masih sangat jelas tersimpan di memorinya. Untung saja ada Bu Asih, ibu angkat yang sayang pada dirinya dan Kie.


"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu mau bercerita semuanya," ujar El.


"Hmmm, terus kamu sendiri bagaimana? Apa kamu sudah menikah lagi? Dan punya istri pengganti yang mau melahirkan anak untuk kamu jadikan alat mendapat hak waris dari papa?"


"Hahaha, menikah? Tanya Haris, apa aku menikah lagi?" ucap El sembari menatap Haris dari kaca spion. Mengisyaratkan padanya untuk bicara pada Chika.


"Tidak non, Pak El setia dengan anda. Percaya deh non, hanya non Chika yang ada di hati Pak El," jawab Haris.


Chika memalingkan wajahnya. Sama aja bohong kalau tanya Haris. Pasti mereka sudah sekongkol. Pikirnya.


"Chika, coba lihat aku. Apa ada kebohongan di mataku?" ucap El. Tangannya menarik dagu Chika dan menatap kedua bola mata Chika begitu dekat.


Chika menggeleng. Mata El terlihat jujur, tak ada kebohongan disana. Keduanya larut dalam suasana haru.


Di depan, Haris berdehem. Membuat kedua insan ini lupa jika ada satu manusia lagi yang sedang menyaksikan keromantisan mereka.


"Kamu kenapa Ris?" El bertanya karna melihat Haris senyum senyum dari kaca mobil depan.


"Gak papa kok bos," jawab Haris.


"Oh iya non, boleh saya tanya sesuatu?" Haris kembali bersuara.


"Tanya apa non?"


"Nama panjang bos kecil siapa ya non. Masak cuma Kie? Gak ada embel embel nama Elvano di belakangnya," kata Haris.


"Oh itu. Nama panjangnya Basuki. Makanya dipanggilnya Kie. Kalau manggil Basuki kan kepanjangan."


"Hahahaha....," Haris tertawa lepas. Dapat ide dari mana Chika memberikan nama anak yang begitu tampan dengan nama Basuki.


"Chika, coba ulang sekali lagi nama anak kita siapa?" tanya El geram.


"Basuki. Nama panjangnya Basuki Sivano. Bagus kan mas?"


"Hahaha," Haris tertawa dengan keras. "Non Chika, bilang nama panjang Kie itu Basuki? Mamanya Chika, papanya Elvano, lah anaknya Basuki. Non, non, gak ada nama lain apa, hahha," ucap Haris kembali.


"OM HARIS!!" Chika berteriak keras. Rasanya ingin sekali dirinya mengkrues mulut Haris dengan tangannya.


"Maaf non maaf. Habis tahun 2021 masih aja pakai nama Basuki. Nama panggilannya bagus Kie, nama belakangnya bagus Sivano. Nah tapi nama depannya Basuki. Kenapa gak Srimulat Sivano aja non. Lebih bagus itu," Haris terus saja tertawa, membuat Chika mendengus sambil memgerucutkan bibirnya.


El hanya bisa diam, melihat Haris dan Chika berdebat sendiri. Mau protes dengan nama putra mereka, El takut menyakiti hati Chika lagi. Baru saja akur, masak iya mau berantem lagi. Pikirnya.

__ADS_1


El membuang nafas, memandangi wajah putranya yang berada di pangkuan Chika.


"Chika oh Chika. Anak tampan seperti dia kamu kasih nama Basuki. Apa tidak ada nama lain yang lebih bagus. Aku pikir kamu panggil Kie nama panjangnya Kiano atau Kivano, malah Basuki. Sudahlah Chika, aku sudah gak bisa ngomong apa apa lagi. Kepalaku malah tambah pusing mikir ini," El mengumpat dalam hati sambil memijat mijat keningnya.


__ADS_2