
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," ucap Tuan Aristya.
Ceklek..
El membuka pintu kamar mamanya. Mengajak Chika dan El untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah lama merindukan kedatangan mereka.
"Pagi mah, pah. Lihat siapa yang El bawa," ucap El.
"Chika...," lirih Nyonya Sarah. Kedua mata orang tua paruh baya itu langsung tertuju dengan bocah kecil yang sedang di gendong El.
"Apa dia putra kalian nak?" sahut Tuan Aristya.
"Iya pah," jawab El.
El dan Chika lalu berjalan mendekati ranjang Nyonya Sarah. Mata Chika mengode El untuk mengambil handphone yang berada di tangan Kie.
"Iya iya," bisik El. "Kie, handphonenya papa pegang dulu ya."
" Iya pah."
Ekor mata Nyonya Sarah berlinang air. Ia membuka tangannya lebar lebar, menyambut menantu kesayangannya yang sudah lama ia cari.
"Lolly, sini sayang," ucap Nyonya Sarah.
"Iya mah," jawab Chika sembari berjalan menghampiri mama mertuanya.
Chika langsung menerima rentangan tangan mama mertuanya. Suasana haru sangat terasa. Bukan hanya Nyonya Sarah, mata Tuan Aristya berkaca kaca, melihat bocah kecil yang tampan berada di hadapannya.
"El, putramu sangat tampan," ucap Tuan Aristya.
"Iya dong pah. Ayo Kie kasih salam sama opa" titah El.
"Iya pah. Hai opa, namaku Kie. Salam kenal ya opa," kata Kie sembari memperlihatkan senyum tampannya, membuat mereka semua yang disana menjadi gemas dengan tingkah bocah kecil yang lucu tersebut.
Kebahagian keluarga Aristya telah kembali. Masalah empat tahun ini sudah berakhir. Chika sempat tak menyangka, kepergiannya membuat El juga menderita. Setelah Nyonya Sarah dan Tuan Aristya menceritakan renggangnya hubungan mereka.
"Jadi, mas El itu bukan anak mama dan papa?" tanya Chika. Matanya membulat dan nanar, menatap El yang menyembunyikan identitasnya selama ini.
"Ya sayang. El bukan anak kami. Tapi sampai kapan pun dia tetap anak kami," jawab Nyonya Sarah.
"Mas, kenapa kamu gak cerita sama aku sih. Katanya jangan ada rahasia rahasia lagi antara kita," ucap Chika. Matanya mulai berkaca kaca. Rupanya ia salah menilai suaminya selama ini.
"Ssstt.., semua udah berlalu. Sekarang intinya kita semua sudah berkumpul lagi seperti dulu," jawab El.
"Iya Chika. Anggap semua mimpi buruk ya nak. Semoga setelah cobaan rumah tangga kalian kemarin, hubungan kamu dan El akan semakin harmonis," sahut Nyonya Sarah.
"Amin mah," jawab keduanya kompak.
__ADS_1
Sedari tadi mereka mengobrol, tak ada suara dari Tuan Aristya dan Kie. Rupanya ipa dan cucunya itu tengah sibuk bermain game di ponsel opanya.
"Kie," panggil Chika.
"Iya mah."
"Tadi mama sama papa kan udah bilang. Jangan main handphone."
"Tapi mah.."
"Sudah Chika, biarin Kie main sama papa ya. Ayo Kie, lanjut lagi," ucap Tuan Aristya.
"Iya opa."
Kesal, Chika memalingkan wajahnya. Kembali menatap El, tapi El malah tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Arghh," Chika mendengus kesal.
"Chika, biarin sajalah. Mungkin dengan main handphone Kie mau di pangku sama opanya. Mendingan daripada kamu kesal, sekarang kamu cerita sama mama kemana saja kamu selama ini?"
"Iya mah. El juga penasaran. Chika belum cerita sama aku kemana dia selama ini," sahut El.
"Hah, jadi Chika juga belum cerita sama kamu?" tanya mama dan El hanya menggelengkan kepalanya.
Chika melirik sekilas mata suaminya yang berada disampingnya. "Cih, dasar tukang ngadu," batinnya kesal.
"Ayo nak, cerita sama kami sekarang ya."
"Tuh sayang, aku juga penasaran tahu," imbuh El.
"Baiklah, Chika akan cerita sekarang. Jadi selama ini ( Chika mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Bu Asih, hingga akhirnya ibu angkatnya itu meninggal dan meminta dirinya untuk kembali ke Jakarta). Jadi gitu pah, mah, mas ceritanya," jelas Chika.
Reflek, El memeluk Chika sambil menangis terisak. Jadi karna kebodohannya dulu, istri dan anaknya hidup serba kekurangan. Penyesalan El semakin dalam. Namun Chika terus berusaha menenangkan El dari tangisnya.
"Maafkan aku sayang. Aku memang bukan suami dan papa yang baik," ucap El.
"Eh, gak mas. Aku juga salah kok. Kita hanya kurang terbuka aja satu sama lain. Jadi yang ada malah salah paham. Berhenti ya menyalahkan diri kamu sendiri. Aku gak pernah meminta banyak hal dari kamu. Cuma tolong rubah sikap kamu yang tempramental itu."
"Iya sayang. Pasti aku akan berubah demi kamu dan Kie," jawab El sembari membawa Chika masuk kedalam pelukannya.
Tuan Aristya dan Nyonya Sarah saling melempar tatapan mereka. Mendengar cerita Chika, mereka yakin jika selama ini Chika hidup bersama mertuanya sendiri yang tak lain ibu dari El.
"Chika, boleh mama tanya sesuatu?" ujar Nyonya Sarah. El pun segera melepas pelukan istrinya.
"Tanya apa mah?"
"Apa wanita yang menolong kamu itu mencari putranya yang bernama Sivano?" tanya Nyonya Sarah.
Chika mengangguk. "Iya mah, kok mama tahu. Makanya Kie aku kasih nama Basuki Sivano karna permintaan Bu Asih mah. Putra yang ia titipkan di panti asuhan itu bernama sama seperti nama Kie sekarang," jawabnya.
__ADS_1
Mata Nyonya Sarah langsung menoleh kearah suaminya. Dan Tuan Aristya hanya mengangguk. Mungkin ini keyakinan keduanya sama. Jika El adalah Putra Bu Asih.
Tuan Aristya yang semula hanya menyimak pembicaraan mereka, mulai bangkit berdiri setelah menaruh Kie di sofa.
"El, kamu ingat nama panggilan kamu dulu?" tanya Tuan Aristya.
"Iya pah. Ibu panti memanggilku Vano," jawab El.
"Chika, apa wanita yang bernama Asih itu Cerita sama kamu dimana dia menitipkan putranya di panti asuhan mana?"
Chika menganggukan kepalanya. "Iya pah, kalau gak salah di panti asuhan Cahaya Bunda."
Duaarr...
El kaget bukan main. Itu adalah nama panti asuhan dimana ia tinggal sebelum diadopsi keluarga Aristya.
Mengerti maksud tujuan pembicaraan ini, El langsung menatap mata mama dan papa angkatnya silih berganti.
"Apa jangan jangan, putra wanita yang menolong Chika itu aku pah, mah?" tanya El.
Nyonya Sarah dan Tuan Aristya masih diam.
"Enggak mas. Bukan. Ibu cerita sama aku kalau putranya meninggal sesaat setelah dia menitipkan putranya di panti asuhan. Orang kata ibu, bu panti sendiri yang cerita kok," sahut Chika.
"Tidak Chika. Putra ibu ibu yang menolong kamu itu El," Nyonya Sarah langsung menyela pembicaraan.
"Maksud mama?"
"Ya El. Ibu panti pernah cerita sama kami, sebenarnya disamping box kamu di geletakan, ada nama pemberian dari ibu kandung kamu. Dan nama itu sama seperti nama putramu, Basuki Sivano. Makanya ibu pasti memberikan nama kamu Vano. Tapi saat kami mengadopsi kamu, kami meminta pada kepala panti untuk membuat kamu seakan akan meninggal. Kami tahu jika ibu kamu akan mengambil kamu, karna dalam surat yang ia tinggalkan. Dia akan mengambil kamu kembali. Maafkan kami ya El. Kami terpaksa melakukan ini. Karna kami tidak mau kehilangan kamu El. Apalagi mamamu, begitu sayang sama kamu. Jadi papa yakin, Ibu Asih itu adalah ibu kandungmu El," jelas Tuan Aristya.
"TIDAK!!" jawab El.
Mulut Chika masih menganga. Ia tak percaya, ternyata empat tahun ini ia malah hidup bersama dengan mertua aslinya.
Di tengah tengah suasana yang mencekam. Diluar dugaan El justru tidak marah pada orang tua angkatnya.
"Ini bukan salah papa dan mama. Wanita itu bukan ibu kandungku. Tidak ada seorang ibu yang rela membuang anak kandungnya sendiri. Dan selamanya, orang tua El hanya kalian," ucap El dengan sorot mata tajam datar dan nafas tak beraturan.
"El," lirih Nyonya Sarah.
"Mas, kamu jangan bicara seperti ini. Ibu itu.. "
"Stop Chika, jangan bela dia. Mah, pah, El keluar dulu," pamit El.
"Mas," seru Chika. Sayang El yang masih penuh amarah tak menghiraukan panggilannya.
El sudah keluar dari kamar. Chika hendak mengejarnya, namun Nyonya Sarah dan Tuan Aristya menahannya dan meminta Chika untuk memberikan waktu sendiri untuk El.
Di kursi luar, El meluapkan emosinya. Memukul mukul dinding tembok sebagai cara menumpahkan rasa amarahnya.
__ADS_1
"Kenapa wanita yang sudah membuangku di panti asuhan yang sudah menolong istri dan anakku. Kenapa harus dia Tuhan. Aku sangat membenci dia. Sampai kapan pun aku tidak akan memaafkan dia, meskipun dia sudah meninggal," teriak El sembari terus memukul mukul dinding sambil mengusap kasar wajahnya. "Arghh....," suara teriakan itu kembali keluar dari mulutnya.