
Di warung tempatnya bekerja, Chika nampak gusar. Situasi warung yang ramai, membuatnya tak mendapat ijin dari pemilik warung untuk pulang di waktu jam makan siang.
Chika terus saja melihat jam yang tertempel di dinding. Sudah hampir petang, tapi ia malah disuruh lembur. Seharusnya Chika pulang jam 4 sore namun ia malah disuruh pulang jam 6 sore.
"Setengah jam lagi. Maafin mama Kie. Gimana keadaan kamu sekarang. Pasti kamu kelaparan nungguin mama ya sayang. Apalagi cuma ada telor ceplok sisa sarapan tadi pagi di meja. Ya Tuhan,semoga saja Kie baik baik saja," batin Chika sembari membersihkan meja.
Setengah jam kemudian, waktu jam kerja Chika sudah usai. Tak lupa Chika membawa makanan untuk Kie.
"Kie, mama pulang. Mama juga udah bawa pesanan ikan nila goreng kesukaan Kie sama es coklat juga," batinnya.
Dari belakang ,Haris membuntuti Chika. Untung saja Chika terlalu sibuk memikirkan putranya,jadi ia tak sadar jika ada seseorang yang mengikuti dirinya.
"Pak El kemana sih. Nanti kalau kehilangan jejak non Chika lagi penyakit galaunya kambuh kan. Udahlah ,fokus mengintai non Chika aja. Tapi kemana ya anaknya si bos? Kok baru ngeh dari tadi gak lihat ada anak kecil bersama non Chika," Haris terus mengendap endap mengikuti Chika dari belakang.
Mata Haris berkaca kaca. Dari kejauhan ia melihat Chika sedang membuka kunci pintu rumah. Keadaan rumah yang seperti kandang ayam memaksa Haris jadi cowok cengeng hari ini.
"Apa selama ini non Chika tinggal di gubuk itu? Kasihan sekali kamu non Chika. Ternyata selama ini non Chika hidup serba kekurangan. Sebaiknya aku segera kabari Pak El tentang apa yang baru saja aku lihat ini."
Haris mengambil ponsel di saku celananya. Belum sempat ia menelpon El, El sudah terlebih dulu menelpon dirinya.
"Ris ,kamu dimana? Terus Chikanya mana? Anak saya laki laki apa perempuan Ris? Mereka terlihat sehat bukan?" tanya El dengan nada panik dan petanyaan yang terus keluar dari mulutnya.
"Bapak ini lama sekali. Non Chika sudah pulang dari warung makan tadi."
"Terus kamu kehilangan jejaknya? Atau dia kabur lagi setelah melihat kamu? Gimana sih kamu Ris ,tadi kan saya sudah pesan untuk..."
"Stop Pak El jangan marah marah dulu. Dengerin saya dulu," ucap Haris dengan suara lirih ,hampir tak terdengar ke telinga El.
"Ris,kenapa bicara kamu pelan sekali. Saya tidak dengar," protes El.
"Sssttt..Kalau saya bicara keras nanti non Chika dengar pak. Gini aja deh pak, saya share lokasi saya sekarang ke whatsapp bapak. Terus bapak segera kesini dan bapak silahkan lihat sendiri kondisi non Chika sekarang pak. Saya ada di samping rumah non Chika."
"Yasudah cepat kirim. Saya susul kesana sekarang," perintah El.
"Baik pak."
Selesai mengirimkan lokasinya pada El ,Haris kembali memantau rumah Chika. Tak ingin si tukang kabur mengetahui keberadaannya lalu pergi lagi.
"Semoga setelah non Chika bertemu Pak El semua masalah rumah tangga mereka selesai. Dan mereka bisa hidup tenang dan bahagia bersama selamanya. Amin," Haris mengusap wajahnya dari atas turun kebawah. Berharap semoga doanya dikabulkan sang pencipta.
Saat masuk ke dalam rumah, Chika memanggil manggil Kie namun tak ada jawaban dari Kie. Di kamar gak ada, dikamar mandi juga gak ada. Chika panik, hingga matanya tertuju di bawah sudut meja di dapur.
Kie terduduk lemas, bibirnya juga putih pucat. Khawatir, Chika bergegas menggendong Kie ke pelukannya.
__ADS_1
"Kie lapar mah," ucap Kie lemas.
"Ya Tuhan Kie, tubuh kamu panas sayang. Kita ke kamar ya. Mama suapin kamu dan setelah ini mama ke apotek buat beli obat buat kamu," ucap Chika sambil menghujani wajah Kie dengan banyak ciuman. Rasa bersalah Chika begitu dalam. Pekerjaannya membuat Kie sekarang malah jatuh sakit.
"Kie ikut mah. Kie, takut dirumah sendiri," rengek Kie sambil menangis.
"Iya sayang, Kie ikut mama ke apotek. Tapi Kie makan dulu ya sayang, biar tubuh Kie ada tenaganya."
"Iya mah."
"Sekali lagi maafin mama ya Kie. Besok mama akan keluar dari warung makan dan cari kerjaan baru yang boleh bawa kamu."
"Iya mah," jawab Kie yang masih saja terus menangis.
Chika membaringkan tubuh Kie yang lemah diatas kasur berlantai tanah. Dengan segera Chika membuka nasi bungkus yang ia bawa dari warung dan menyuapi putranya.
"Buka mulutnya ya Kie. Ini ada ikan nila kesukaan Kie," Chika memasukan sesendok nasi dan sepotong ikan ke mulut Kie.
"Iya mah."
Baru beberapa sendok Chika menyuapi makanan ke mulut Kie ,tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok..Tok..Tok..
"Sebentar," seru Chika. "Kie mama buka pintu dulu ya. Kayaknya ada tamu," ucap Chika.
Chika segera membukakan pintu, namun dengan sekuat tenaga ia hendak menutup pintu rumahnya kembali saat melihat dua orang laki laki yang sangat ia kenal.
"Mas El ,Om Haris," lirih Chika.
"Chika, jangan begini. Betahun tahun saya mencari kamu. Kembali pulang ke rumah Chika. Saya sangat merindukan kamu dan anak kita," ucap El.
"Aku gak punya anak mas. Cepat kamu pergi atau aku akan teriak biar warga dengar lalu datang kesini."
"Kamu bohong. Ijinkan aku ketemu anak kita Chika dan kembali menjalani rumah tangga bersama kamu lagi."
"Enggak mas ,cepat pergi!! " teriak Chika yang akhirnya berhasil menutup pintu lalu menguncinya.
Suara keras yang keluar dari mulut El dan Chika ,membuat Kie beranjak dari kasur lalu menyusul Chika ke depan.
"Siapa mah? kok mama teriak teriak?" tanya Kie. Ternyata dari luar El mendengar suara Kie dan Chika dengan segera membungkam mulut Kie.
"Diam ya Kie ,mama mohon Kie diam dulu ya," titah Chika yang langsung diangguki oleh Kie.
__ADS_1
Diluar, aura kebahagian El terpancar. "Ris, ada suara anak kecil didalam. Itu pasti suara anak saya Ris," ucap El.
"Iya pak ,saya juga dengar."
"Yasudah tunggu apalagi? Cepat dobrak pintu rumah ini sebelum Chika kabur lagi," perintah El.
"Tapi pak?"
"Tapi apalagi Ris?" kata El dengan nada meninggi.
"Nanti siapa yang ganti rugi kalau pintunya rusak pak?" ucapan Haris membuat El naik pitam. Disaat darurat seperti ini ,masih saja ia memikirkan soal uang.
"SAYA. NANTI SAYA YANG GANTI RUGI. CEPAT DOBRAK!!" El berseru membuat Haris mengeluarkan jurus katak terbangnya untuk mendobrak pintu rumah itu.
Bruakk...
Pintu sudah terbuka. "Chika, dimana kamu? Jangan mencoba untuk bersembunyi karna saya pasti akan menemukan kalian," teriak El.
Didalam lemari,Chika bersama Kie bersembunyi. "Kie ,diem ya sayang. Kie jangan bicara," ujar Chika.
"Mah ,Kie gak bisa nafas. Kie..," belum selesai bicara mata Kie perlahan tertutup dan seketika membuat Chika panik.
"KIE!!" teriak Chika dan membuat El langsung membuka lemari kayu dan melihat Chika sedang menangis bersama anak kecil didalam pelukannya.
"Ini putra kita Chika? Dia kenapa, sini biar aku bawa dia," El langsung mengambil Kie dari pelukan Chika.
"Jangan bawa Kie mas. Aku mohon," Chika berteriak. Meminta El untuk mengembalikan Kie pada dirinya.
"TIDAK!! kalau kamu mau Kie bersama kamu ikut bersamaku ke rumah sakit sekarang," ucap El yang sudah berjalan meninggalkan rumah dan membawa Kie bersamanya.
"Haris kamu urus Chika kalau dia masih ingin bersama dengan anaknya suruh dia ikut bersamaku. Dan kamu tahu kan yang harus kamu lakukan sekarang," kata El kembali.
"Tahu pak. Nanti saya akan coba meminta non Chika untuk ikut bersama kita," jawab Haris.
Dan setelah itu El pergi membawa Kie bersamanya tanpa memperdulikan Chika yang terus berteriak dan memohon padanya.
"Mas tunggu. Aku mohon mas jangan ambil Kie dari aku," Chika terus berteriak,namun El sama sekali tak menggubrisnya dan semakin jauh membawa Kie bersamanya serta meninggalkan rumah yang seperti kandang ayam itu.
"Non Chika ikutlah bersama kami. Percayalah, Pak El tidak akan memisahkan non Chika dari anak non Chika. Dan sebaiknya non menuruti ucapan Pak El. Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Haris.
"Baiklah. Sekarang aku ikut kalian. Tapi aku pastikan setelah ini aku akan bawa Kie pergi dari laki laki brengsek itu," jawab Chika dengan tegas.
"Silahkan saja non. Yang terpenting non Chika ikut dulu dengan kami."
__ADS_1
"Hmm," jawab Chika. Haris pun memalingkan wajahnya dengan seulas senyum penuh kemenangan.
"Selamat datang kembali non. Maafkan saya harus berbohong ,karna Pak El tidak membawa tuan kecil ke rumah sakit melainkan ke rumah yang sudah disiapkan Pak El untuk non Chika supaya non Chika tidak kabur lagi. Lagipula saya sudah mengirim pesan pada Dokter Daniel untuk segera ke rumah Pak El dan memeriksa tuan kecil di rumah nanti," batin Haris sambil menutup mulutnya. Tak mau membuat Chika curiga dengan semua rencana yang sudah disusun bosnya.