Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Chika Ketinggalan


__ADS_3

Mata Haris terbelalak, melihat El dan Chika sedang memejamkan kedua matanya dengan bibir mereka yang sudah tertempel.


"Astagfirullah...," satu kata yang keluar dari mulut Haris sambil memegang dadanya lalu membalikkan badannya.


"Barusan apa aku gak salah lihat? Aiishh.. , ngapain aku balik badan segala, kan mumpung nonton adegan live ciuman. Biasanya cuma bisa lihat di youtobe,pakai kuota lagi. Lah ini kan gratis. Lanjut lagi ah nontonnya," Haris bergumam sambil memutar kembali badannya dengan niat ingin melanjutkan apa yang baru saja ia lihat.


Gleekk..


"Badala, Pak El," ucap Haris sambil menggaruk kepalanya.


Sayangnya, El sudah berdiri tepat di depannya. Dengan wajahnya yang memerah namun malah terlihat lebih dingin dan menyeramkan dari biasanya.


Sedangkan Haris kini seperti seorang pencuri yang sedang tertangkap. Mau lari tapi kakinya terasa berat. Tapi kalau gak lari, mau cari alasan apa?


"Duh ngamuk lagi nih bos El, sebenarnya sih bukan salahku juga. Salah sendiri si bos ciuman di lift. Kan bisa di mobil atau booking ruangan. Ngakunya orang kaya, tapi ciumannya di lift,gak ada romantis romantisnya," batin Haris dengan mulut komat kamit.


Baru saja Haris akan mengeluarkan kata kata, El sudah berjalan melewati dirinya tanpa berucap. Dengan segera ia berjalan mengekor El dari arah belakang, namun sebelumnya ia menyusul langkah bosnya, Haris menoleh kearah Chika yang masih tertunduk lesu di depan lift.


"Non, non, gimana om om lebih nikmat kan? Dulu aja gak mau gak mau, eh ujung ujungnya," Haris berbisik ke telinga Chika untuk menggodanya hingga berhasil membuat Chika sudah tak mampu membalas perkataan Haris seperti biasanya.


"Aiishh, si om pasti tadi lihat aku sama tuan El lagi...,arghhh Chika kenapa bisa sih kamu diem aja pas si om mesum itu cium kamu," batin Chika yang sedang mengutuk dirinya sendiri.


Karna sibuk menyalahkan diri sendiri, tanpa ia sadari El dan Haris sudah meninggalkan dirinya sendiri di tempat itu. Bulu kuduknya mulai berdiri, pikiran tentang hantu di film yang ia tonton kembali melintas di otaknya. Ingin rasanya ia masuk kembali ke dalam lift, namun hatinya menolak. Akhirnya Chika pun memutuskan untuk tetap berada disana, berharap El dan Haris kembali untuk menjemputnya.


El kini sudah sampai didepan kamar apartemen Chika. Tapi saat ia berniat ingin meminta kunci pada Haris, matanya sekejap membulat melihat Chika tak ada bersama mereka.


"Haris, Chika mana?" tanya El.

__ADS_1


"Kan di belakang sa...," jawab Haris yang terputus karna ia juga tak melihat ada Chika di belakangnya.


"Mana Haris? Kenapa kamu tidak menyuruh dia mengikuti kita."


"Loh berarti non Chika ketinggalan pak. Lagian Pak El asal jalan aja, non Chika jadi ketinggalan kan. Harusnya bapak tadi itu gandeng non Chika. Nanti kalau saya yang gandeng non Chika, Pak El cemburu lagi terus motong gaji saya. Lagipula pak El itu aneh, mau cium tapi gak mau gandengan tangan," gerutu Haris dan ternyata terdengar sampai ke telinga El.


Pelan pelan El melangkah menghampiri Haris dengan sedikit kepalan di kedua tangannya.


"Sepertinya aku salah bicara lagi deh," gumam Haris sambil berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Ternyata dugaan Haris benar, El kini berdiri menatapnya dingin. Dengan menarik nafasnya yang panjang, Haris sudah tau jika ia akan mendapatkan semburan ular berbisa dari mulut bosnya itu.


"HARIS APA KAMU...," El menunjuk muka Haris dengan suara keras yang bagaikan petir di tengah hujan lebat. Karna tak mau mendapat semburan itu, Haris pun dengan segera memotong ucapan El.


"Stop pak El marahnya di tunda dulu. Bapak gak pengen nyamperin non Chika. Hati hati loh pak, nanti non Chika di bawa kabur orang. Pak El nanti patah hati lagi, terus mabuk mabukan lagi. Eh ujung ujungnya nyusahin saya lagi pak," jawab Haris dengan tangannya yang menahan di dada bidang El.


"Mengerti pak. Mau lanjutin yang tadi ya pak?"


El hanya menoleh sekilas kebelakang tanpa memeperdulikan celotehan asistennya yang tak tahu diri itu.


Rasa khawatir mulai menyelimuti hati El. Awalnya ia yang hanya berjalan tenang, tapi kini ia mulai berlari menuju dimana ia meninggalkan Chika.


Dan rasa khawatir itu seketika hilang, saat dari kejauhan ia melihat Chika masih berdiri di tempat yang sama.


El mulai berjalan tenang kembali saat berjalan menghampiri Chika. Ia tidak mau membuat gadis itu nantinya merasa geer jika tahu ia tadi di buat panik oleh tingkahnya.


"Dasar gadis bodoh, sedang apa kamu berdiri sendiri disini? Mau di culik setan lantai 13?Ayo cepat kita masuk ke apartemen barumu. Ada yang harus kita bahas bersama malam ini," ujar El dengan pandangannya yang tak tertuju pada Chika.

__ADS_1


Chika balik menatap El dengan tatapan tidak suka. Bahkan bisa dibilang tatapan Chika ini baru pertama ia tunjukkan di hadapan El.


"Cih, dasar om om gak punya hati. Habis cium aku terus ninggalin aku sendirian disini, bukannya minta maaf malah marah marah gak jelas," Chika menggerutu kesal di dalam hatinya.


"Kenapa kamu lihat saya seperti itu. Beraninya kamu menatap saya dengan tatapan sinis. Ayo cepat, saya masih banyak pekerjaan. Jangan suka mengulur ulur waktu," ujar El sambil berbalik badan dan berjalan satu langkah meninggalkan Chika kembali.


Perkataan El sedari tadi membuat hati Chika sakit. Perlakuannya juga membuat dirinya sudah muak untuk melanjutkan perjanjian ini. Entah apa yang membuat keberaniannya tiba tiba muncul. Hingga akhirnya ia mulai mencurahkan seluruh isi hatinya pada El.


"Terus saja anda bilang saya bodoh. Mungkin kemarin saya mengelak saat anda mengatakan jika saya bodoh. Tapi mulai hari ini saya sadar jika saya memang bodoh. Kalau saya pintar, mana mungkin saya mau dicium oleh om om mesum seperti anda. Mana mungkin saya menerima tawaran perjanjian gak berlogika dari anda. Dan karna sekarang saya sudah sadar jika saya memang bodoh seperti ucapan anda, maka dari itu saya ingin kembali menjadi pintar. Dan mulai detik ini saya batalkan perjanjian dari anda. Untuk penalti yang tertulis di dalam perjanjian itu, saya akan cari uang dan pinjaman entah darimana. Yang jelas saya sudah tidak mau berurusan lagi dengan anda! Jadi jangan ganggu saya lagi," Chika berteriak dengan suara serak karna menahan tangisnya.


Namun saat ia membalikkan badan dan hendak menekan tombol lift, El tiba tiba ikut membalikkan badannya. Ia lalu menarik tangan Chika, mendorong tubuhnya kedalam pelukannya dan membungkam mulut yang sudah berani mengeluarkan kata kata yang membuat emosinya membara.


El mencium bibir Chika dengan paksa. Bahkan El berusaha membuka mulut Chika untuk menerima mulutnya. Meski menolak dan berusaha meronta sambil mendorong tubuh El, tenaga Chika tak sepadan dengan tenaga El.


Buliran air mulai menggenangi matanya. Tubuh dan bibirnya yang semula menolak kini mulai berkhianat. Pelan pelan Chika mulai membuka mulutnya, menerima ciuman dan sentuhan dari El yang awalnya kasar kini berubah menjadi lembut. Entah apa yang mendorong dirinya menerima ciuman itu. Mungkinkah cinta? Entahlah, yang jelas hatinya berdebar kencang saat mereka menuntaskan apa yang belum tuntas tadi.


Beberapa menit sudah bibir mereka bersatu, namun tiba tiba pintu lift kembali terbuka.


Ting...


Seseorang berdiri tepat membelakangi tubuh Chika.


"El, sedang apa kamu?" ucap seseorang yang sudah menangkap basah El dan Chika.


Bersambung...


Kira kira siapa yang yang datang lagi mengganggu babang El dan Chika yang lagi cup a cup??

__ADS_1


__ADS_2