Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas

Terjerat Pernikahan Di Atas Kertas
Taruhan


__ADS_3

El terlambat satu langkah, pintu itu sudah tertutup dan Chika berada didalamnya, meninggalkan El penuh dengan kemarahan.


"Chika, beraninya kamu pergi meninggalkan saya," batin El dengan dua kepalan di tangannya.


El mengambil ponselnya, dan segera menelpon Haris.


"Halo pak El, anda dimana? Saya sudah sampai jamuran nunggu anda dan non Chika disini."


"DIAM KAMU HARIS!! Chika kabur, cepat kamu bantu saya mencarinya."


"Kok bisa pak? Berantem lagi ya pak?"


"Haris jangan banyak tanya, cepat kamu susul saya. Kita harus cari Chika segera."


"Iya pak, saya segera kesana," jawab Haris sambil bergegas keluar menyusul El.


El dan Haris pun memutuskan menyebar. Mereka mencari keberadaan Chika yang sudah hilang tanpa jejak.


"Haris gimana? Apa kamu sudah menemukan Chika di sekitar apartemen?" tanya El di balik telponnya.


"Belum pak. Saya belum menemukan non Chika."


"Ya sudah saya tunggu kamu di mobil. Kita harus menemui gadis bodoh itu sekarang. Ini sudah malam Haris, saya takut dia kenapa napa."


"Baik pak. Saya segera kesana."


Sesaat kemudian, Haris sudah tiba di parkiran dan dengan segera dirinya masuk ke dalam mobil dimana El sudah duduk di kursi belakang.


"Kita cari kemana pak?" tanya Haris.


"Rumah Maya, saya yakin dia pasti kesana. Mau kemana lagi dia kalau tidak kesana," El menjawab penuh percaya diri.


"Benar juga pak, mana mungkin non Chika pulang kerumah. Sama aja masuk ke kandang singa lagi ya pak."


"Hmm, sudah jangan banyak bicara. Cepat kamu jalankan mobilnya," perintah El.


"Baik pak."


Haris melajukan mobilnya, dan ia memperhatikan mimik wajah El yang begitu gusar memikirkan Chika. Beberapa menit kemudian sampailah mereka di depan rumah Maya.


"Haris cepat kamu turun, dan pastikan Chika ada disana atau tidak."


"Baik pak," Haris melepaskan selt beltnya, bersiap masuk ke rumah Maya.

__ADS_1


Bukannya segera turun, Haris masih berdiam di kursi kemudinya. Ketakutannya menghadapi orang tua maya membuatnya ragu untuk masuk kesana.


"Arghh Pak El, seneng banget bikin susah hidup orang. Bisa dipikir aku laki laki apaan, mendatangi rumah seorang wanita malam malam gini. Kalau gini aku bisa dapat bogem dari papanya mbak Maya," Haris menggerutu dalam hati,sambil menggaruk garuk kepalanya.


"Kamu kenapa Ris? Saya lihat kamu seperti gundah gulana?" tanya El.


"Hmmm boleh jujur gak pak?"


"Ya harus jujur, sejak kapan saya suka dengan seorang penipu," El semakin dibuat penasaran dengan sikap Haris.


"Pak saya ini belum pernah punya pacar loh pak. Jadi saya gak pernah ngerasain apel kerumah wanita. Apalagi datang kerumah seorang wanita malam malam gini. Nanti kalau saya dapat semprotan dan bogem dari orang tua mbak Maya gimana pak? Sia sia dong skin care yang baru saja saya beli. Masak ganteng ganteng wajahnya memar. Kapan saya punya cewek pak?" Haris mencurahkan seluruh pikirannya hingga membuat El menatap dirinya tajam dari arah kaca spion.


"Saya akan bayar kamu. Satu semprotan satu juta satu pukulan lima juta. Gimana?"


"Kalau itu saya rela deh pak, sekarang juga saya masuk kesana."


"Yaudah cepat masuk sana."


"Iya iya pak."


Lima menit berlalu, Haris nampak keluar dari pagar rumah Maya dan kembali masuk kedalam mobil dalam keadaan utuh tanpa ada luka memar diwajahnya.


"Gimana Ris? Dimana gadis bodoh itu? Apa dia ada dirumah itu?"


"APA? kamu yakin? Atau jangan jangan dia meminta temannya itu untuk berbohong," El masih tak percaya dengan penjelasan dari Haris.


"Tidak pak, saya yakin 100 persen. Non Chika tidak ada dirumah mbak Maya. Lagipula ya pak, saat kita mencari non Chika bukankah itu dalam waktu singkat setelah kepergian non Chika. Kalau pun non Chika kesini, pasti tetap kita lebih dulu sampai. Mana ada laju angkot lebih cepat dari lamborghini pak?"


"Hmmm, benar juga. Yasudah kita tunggu disini sampai Chika datang."


"Baik pak," jawab Haris sambil melirik ke arah bosnya dari kaca spion depan.


"Arghh orang tua mbak Maya gimana sih. Harusnya tadi mereka ngamuk sama ngasih bogeman tangan mereka ke wajahku. Gak jadi dapat uang dari Pak El deh," umpat Haris dalam hati.


Dua jam kemudian...


"Pak, kita sudah hampir dua jam disini loh pak. Tapi gak ada tanda tanda kehidupan dari non Chika. Saya rasa non Chika gak pulang kesini," ujar Haris.


"Iya juga sih Ris. Tapi kemana Chika pergi. Apa dia baik baik saja? Saya tidak tenang Ris. Pokoknya kita harus menemukan dia malam ini juga dalam keadaan utuh."


"Baik pak, tapi kalau boleh saya tahu bapak ada masalah apa sama non Chika," Haris akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada El.


"Lain waktu saya cerita,tapi tidak sekarang. Sekarang cepat jalankan mobilnya dan kita keliling kota. Cari Chika sampai ketemu. Mengerti?"

__ADS_1


"Mengerti pak," Haris lalu menjalankan kembali mesin mobilnya.


Kepanikan El semakin mencuat. Apalagi ia melihat jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukan pukul 01.00 dinihari.


"Chika kemana kamu? Maafkan sikap saya tadi, ayo Chika kembalilah pada saya. Karna jujur saya tidak ingin kehilangan wanita yang saya cintai untuk kedua kali," El mulai mengakui perasaannya meski hanya dengan dirinya sendiri.


Di Pemakaman Bunga Teratai....


Chika masih saja menangis diatas makam kedua orang tuanya. Kesedihan yang ia alami, membuatnya lupa akan ketakutannya pada setan apalagi manusia sudah tak ada.


Hari semakin larut. Angin pun semakin bertiup kencang. Namun itu sama sekali tak membuat Chika pergi dari tempat itu. Meski badannya merasa dingin, namun hatinya lebih nyaman berada di makam yang suasannya sangat sepi itu.


Jujur tadi sempat terlintas dalam benaknya, ia pergi dan pulang kembali ke rumah Maya. Namun ia tahu jika El pasti akan mencarinya kesana. Hingga akhirnya Chika memutuskan untuk pergi ke makam kedua orangtuanya, menceritakan seluruh keluh kesannya diantara makam orang tuanya.


"Mah, pah, kenapa kalian pergi begitu cepat. Kenapa kalian ninggalin Chika sendirian di dunia ini. Kenapa kalian gak ajak Chika ikut bersama kalian aja. Chika udah gak kuat mah, pah, hidup didunia ini. Harusnya saat itu kalian ajak Chika pergi juga, jadi kita bisa mati bersama. Chika gak tahu lagi harus kemana mah, pah. Chika ingin tidur bersama kalian aja disini. Tolong jaga Chika ya mah, pah," ucap Chika dengan air yang terus mengalir di pipinya.


Matanya perlahan menutup. Tak peduli angin, atau hewan hewan berada disana, malam ini tidurnya terasa begitu nyenyak dan nyaman.


Didalam mobil, El semakin terlihat cemas. Ac mobil yang dingin tak membuat keringat di dahinya berhenti mengalir. Sorot matanya juga tak bisa membohongi apa kata hatinya saat ini.


"Pak, non Chika kemana ya? Sudah hampir 3 jam kita keliling kota tapi gak ketemu pak. Apa mau kita lanjutkan besok saja?" tanya Haris, namun sepertinya ucapan itu membuat emosi El meluap.


"TIDAK PULANG SEBELUM CHIKA KETEMU!!" El berteriak sekencang angin malam itu.


"Baik pak. Oh iya pak saya ingat. Apa mungkin non Chika pergi ke makam kedua orang tuanya? Bukankah setiap non Chika sedih, ia selalu datang kesana?" Haris seperti memberi harapan nafas baru pada El.


"Benar juga kata kamu Haris. Ini yang saya suka dari kamu. Kecerdasan kamu selalu muncul disaat urgent. Meski terkadang kamu tulalit, tapi saya akui jika kamu itu pintar."


"Terima kasih buat pujiannya. Tapi jangan lupa pak, bonus bonus."


"Pasti. Tapi jika Chika ada disana kalau tidak saya akan potong gaji kamu," El sungguh membuat Haris menjadi menyesali ucapannya barusan.


"Yeah sama aja taruhan dong pak? Masak iya kalau non Chika gak ada disana gaji saya do potong?"


"Ya mau gak? Kalau gak juga gak papa. Gak jadi dapat bonus kalau Chika ada disana."


"Iya deh pak. Deal ya pak?"


"Deal!!"


Sekarang tak hanya El yang berharap Chika ada disana, Haris pun sama. Mulutnya selalu bergeming sambil berdoa dalam hati.


"Non Chika di makam aja ya non, biar saya dapat bonus dan gak kepotong gaji. Masak non Chika gak kasihan sih sama saya. Tuhan, please taruh non Chika dimakam ya biar saya menang taruhan sama Pak El."

__ADS_1


__ADS_2