Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 10 - Kebingungan yang menjerat


__ADS_3

Adinda menangis sesenggukan, wajahnya terjatuh di atas meja.


Sementara Nabila Amani terdiam dan masih shok mendengar kabar buruk tentang adiknya. Selain ibu rumah tangga, Nabila juga mengajar sebagai dosen psikologi di salah satu kampus universitas swasta. Hari itu Nabila tidak mengajar karena ingin melihat kondisi sang adik yang sudah lama tidak ia perhatikan.


Sebagai seorang yang paham tentang karakter dan perasaan sang Adik.


Nabila berusaha bangkit dari kursinya melawan rasa ego dan kesal yang tinggi, ia memegang lembut bahu Adinda, menarik bahunya tegak kembali berdiri bersandar di kursi makan, Nabila terjongkok di hadapan Adinda seraya berkata lebih lembut lagi. Perempuan berusia 29 tahun itu berjuang keras untuk bisa tegar demi adiknya.


"Kakak tidak menyalahkan kamu Dinda, hanya saja kakak sedikit kecewa. Kita ini perempuan, tidak ada yang bisa kita lakukan selain hanya bisa menangis setelah semua kesalahan itu terjadi. Ibu kita sudah meninggal, hanya dia satu-satu manusia yang perduli dengan hidup kita. Maka dari itu, sebisa mungkin kita menjadi perempuan yang pintar dan lebih terhormat, jika prinsip itu kau terapkan kakak yakin kau akan mendapatkan lelaki yang terbaik yang benar-benar tulus mencintaimu apa adanya. Adik kakak ini gadis yang sangat cantik juga berhati lembut.


Adinda, Pria yang tulus mencintai kita, tidak akan tega menodai wanitanya sebelum saatnya dan tidak akan membuat kamu menangis seperti ini.


Kakak minta maaf, selama menikah, sudah jarang memperhatikan kamu lagi, karena kakak benar-benar sibuk, kakak juga minta maaf, tidak bisa memenuhi semua kemauan kamu. Adinda kau harus paham, di dunia ini, tidak semua yang kita ingin bisa kita miliki, mencintai seseorang karena atas dasar harta, tidak akan pernah mengantarkan kamu dalam kebahagiaan.


Adinda, jika kau memikat pria karena kecantikan mu, kamu salah, kecantikan itu hanya bersifat sementara, kecantikan yang kau banggakan juga akan luntur oleh waktu. Lihat Frans, tidak memilih kamu meskipun kamu itu cantik, ia malah menikahi wanita lain, padahal ia sudah tau jika kamu sedang mengandung anaknya!" Nasehat lembut Nabila berusaha menenangkan jiwa Adinda.


Tangis Adinda mulai mereda.


"Karena kita tidak sekaya tunangannya, coba jika kita kaya, Frans akan memilihku, Kak! Lihat Papa, dia bisa apa untuk putrinya, Aku tidak mau dihina orang, aku ingin buktikan jika kita bisa hidup senang tanpa Ayah" Adinda masih bersikeras dengan watak arogannya.


"Adinda, hinaan itu tidak akan pernah bisa menjatuhkan mu, justru itu yang membuat kamu semakin kuat, jika Tuhan sudah memberikan takdir untukmu menjadi kaya raya, maka pasti akan ada jalannya, tidak perlu mengemis cinta ataupun tampil sempurna di hadapan Frans."


Rasa egois tinggi Adinda mulai menurun, tampak ia mulai memahami satu per satu perkataan sang kakak.


"Jadi selama ini kau habiskan uangmu, hanya demi untuk perawatan kecantikan? Juga demi mengikuti trend fashion, agar bisa memikat pria kaya seperti Frans?"


Adinda mengangguk.

__ADS_1


Nabila hanya bisa menghela nafas, ia sudah kehilangan selera makannya pagi itu.


"Adinda menyesal kak, kakak mau kan memaafkan Adinda!" raut wajah sedih perempuan itu.


Nabila langsung memeluk Adinda dengan meneteskan airmata.


Nabila teringat dengan pesan mendiang ibunya;


"Nabila...Mama mohon, apapun yang terjadi, jangan pernah kau tinggalkan Adinda, kalian harus saling menyayangi dan memperhatikan, karena adikmu itu sangat manja, ia hampir tidak tau bahwa kehidupan di luar sana cukup buas dan liar, jika kau biarkan dia berjalan sendiri, maka ia akan mudah terjerat oleh apapun"


Nabila tertunduk di atas kepala Adinda.


"Ini salahku...ini salahku...!" hardik batin perempuan itu menyalahkan dirinya sambil menahan tangis.


Nasi sudah menjadi bubur


Dalam pelukan itu Nabila kembali berkata menguatkan mental adinda.


"Adinda sayang, Kakak tau, sebenarnya yang kau cari bukanlah kekayaan semata, tetapi lebih kenyamanan, hangatnya sebuah pelukan, cinta, kasih sayang, perhatian, asyik mengobrol dengan orang yang dipercaya. Lalu kau berjuang penuh untuk memikat Frans, yang kau pikir dia adalah orang yang tepat untukmu."


Adinda mengangguk dalam tangisnya. terselip rasa puas di hatinya, akhirnya kakak paham apa yang dia maksud.


"Mulai hari ini, carilah pria yang bertanggung jawab dan yang benar-benar mencintai kamu tanpa tuntutan apapun, bukan lelaki kaya yang hanya menginginkan kenikmatan tubuhmu semata!" ucap Nabila dalam derai air mata menyentuh lembut kedua pipi Adinda.


"Adinda takut kak, Adinda takut untuk mencintai lagi, khususnya untuk pria-pria kaya," ucap polos perempuan yang sedang hamil muda itu.


"Sekali lagi kakak minta maaf, sayang! Karena telah mengabaikan kamu selama ini, ibarat kata, kakak telah membiarkan mu berjalan di tengah hutan sendirian!"

__ADS_1


Nabila merangkul adiknya menuju sofa, Adinda langsung menidurkan diri di pangkuan sang kakak. Reflek Nabila mengelus manja rambut halus Adinda dalam linangan airmata. Adinda tertidur di pelukan kakaknya. Nabila mengerti bahwa beberapa hari ini Adinda tidak bisa tidur dengan pulas.


Terlukis raut penyesalan besar di wajah Nabila yang tidak ada batasnya dan tanpa ia sadari, air matanya terus menetes begitu saja.


"Aku telah gagal menjadi seorang kakak! Maafin Nabila Mah!" ungkapnya dalam hati kepedihan.


Tidak lama kemudian terdengar ucapan mengigau Adinda yang sedang tertidur di pangkuan Nabila sambil menggenggam erat kedua tangan sang kakak.


"Aku takut...aku takut...Frans jangan tinggalkan aku!"


"Kakak ada disini sayang, jangan panggil orang lain, panggil kakak saja!" Nabila semakin erat memeluk sang adik dengan airmata.


Melihat Adinda tertidur pulas, ia menutupi Adinda dengan selimut lembut, sambil terus berpikir bagaimana kehidupan Adinda setelahnya, tentu ia tidak akan bisa lagi bekerja, reputasi Nabila sebagai Dosen otomatis akan jelek mengingat kehamilan Adinda tanpa seorang suami.


Nabila tidak berani membuka suara atau menuntut apa-apa kepada Frans, karena ia tau siapa keluarga Frans, strata sosial menjadi penghambat dirinya untuk meminta keadilan kepada keluarga kaya dan terhormat itu.


Nabila juga tidak punya bukti apa-apa untuk menutut agar Frans menikahi adiknya, ia takut Frans justru akan menyerang balik kepadanya dengan alasan pencemaran nama baik dan akan mengancam keselamatan mereka. Apalagi Rendra, sang suami bekerja masih dalam satu Grup perusahaan X-Tren.


"Bagaimana jika Adinda aku nikahkan saja dengan pria lain, tapi apa ada yang mau menikahinya dalam kondisi hamil seperti ini?


Ya Allah...aku pusing sekali!" gumam Nabila memegangi dahinya.


***


Di lain tempat, terlihat Frans sedang menemani Nia Devira dan calon mama mertuanya untuk fitting pakaian dalam acara lamaran.


Terlihat Frans tampak gagah memakai pakaian jas pria. Tersenyum manis menatap Nia dan Calista Ve.

__ADS_1


Lelaki itu sama sekali tidak ada beban sedikitpun dihadapan calon istri dan mertuanya, bahwa ia sudah menghamili wanita lain.


__ADS_2