
Polesan demi polesan dalam detik demi detik hingga tim make over akhirnya berhasil mengubah wajah Adinda menjadi cantik sempurna.
Acara akad pernikahan, Ryan Alaska dan Adinda Aira mengenakan pakaian adat Minangkabau dari kota Padang, Sumatera Barat, meski tema pesta menggunakan style kontemporer kekinian bernuansa eropa, Madam Elena tetap mengkombinasikannya dengan budaya Indonesia asal ibunda Ryan tercinta, Khaliza Rahma.
Meski Ryan belakangan di make over, pria itu lebih dulu selesai, ia berdiri tepat di belakang duduk Adinda yang hampir finish. Ryan menatap Adinda cukup fokus pada wajahnya tanpa senyum sedikitpun, wajahnya dingin misterius antara suka atau benci, penuh dnegan tanda tanya.
"Ngapain si Ryan stres ini menatap aku setajam itu, ih jadi takut, dia udah mirip psikopat aja!" gerutu Adinda mengalihkan pandangannya.
"Kagum yah Mas?" ledek sang perias yang tidak menyangka diam-diam memperhatikan tatapan Ryan di kaca.
"Bukan, saya lagi lihat kaca!" ucap sedikit gugup Ryan salah tingkah.
"Tidak salah kok Mas, kagum sama calon istri sendiri!" senyum si perias pria centil itu, Ryan tidak menunjukkan ekspresi apapun selain pergi dengan gaya cueknya.
"Gimana rasanya Mba, punya calon suami sedingin itu, ih jadi gemes deh!"
"Heh, biasa aja, dia memang seperti itu, mirip seperti batang ubi!" jawab ceplos Adinda.
"Sudah berapa lama sih pacarannya?" ucap kepo sang perias.
"Mau tau aja si kak?"
"Hihiš¤!" tawa centil pria setengah wanita itu.
"Tapi kalian beneran cucok deh say, sorotan matanya itu bisa sama, duh enggak tau deh, anaknya nanti cakep kayaknya apa??"
Adinda hanya tersenyum saja, bahwa sebenarnya pernikahan itu hanya sebuah drama bagi mereka
"Mba Adindanya Blasteran yah?" setelah hampir selesai, baru ada komunikasi di antara mereka karena si perias cukup fokus dengan tata rias make up nya yang tidak ingin asal-asalan.
"Bisa di bilang seperti itu!"
"Darimana?"
"Sudah campur-campur, kakek nenek memiliki garis keturunan Suriah dan Jepang lalu Ayah menikah dengan Mama berdarah Jawa asli"
"Pantes cakep, beda sama lokal?
Adinda hanya tersenyum tipis, cukup banyak yang memuji kecantikannya namun mendapat pujian seperti itu, sudah biasa bagi Adinda, dulu ia memang membanggakannya namun karena seringnya patah hati, saat ini Adinda merasa kecantikan bukanlah sesuatu yang bisa diandalkan.
__ADS_1
*
"Mas Ryan, mari lewat sini!" panggil seorang pria salah satu panitia Event Wedding itu yang akan membawanya menuju lokasi yang Akad pernikahan. Ryan langsung melangkah cepat meninggalkan ruang rias pengantin.
Madam Elena khusus menyewa gedung convention hall terbaik yang lengkap fasilitasnya, biasa dipakai untuk acara spesial termasuk pernikahan para putra-putri petinggi negara, pengusaha besar, selebritis dan para sultan -sultan lainnya.
*
Pagi itu Frans dan Nia sudah terlihat hadir lebih awal dengan di dampingi oleh Nia Devira, mereka sebagai teman datang lebih awal.
"Mas, kamu tidak salah memberikan fasilitas gedung dan dekorasi semewah ini?" protes Nia yang belum tau Madam Elena, Bibi sekaligus Ibu angkat Ryan sebagai biang kerok di pesta pernikahan itu.
Frans hanya tersenyum.
"Aku hanya menyumbang 10% saja, itupun hanya sebagai kado!"
"Terus siapa donatur terbesarnya?"
"Lim Woong dan isterinya?"
"Bukankah, Ryan sudah di coret dari daftar keluarga Woong??"
Nia terdiam dan berkata dalam hati jeleknya;
"Beruntung banget si Adinda perempuan murahan itu, ia sangat licik, Aku yakin ia punya daya susuk pemikat agar memaksa Ryan menikahinya dengan motif kehamilan, padahal begitu banyak wanita yang lebih hebat dan pantas untuk mendampingi sosok Tan Woong, mengapa perempuan itu yang harus menikah dengan Ryan!" gumam kesal Nia karena salah satu teman Nia juga menyukai Ryan.
Nia bertingkah centil merapikan dasi Frans yang sudah rapi.
"Mas, jangan sampai dong, pesta pernikahan kita nanti kalah mewah dengan ini!" pinta manja Nia.
"Ok sayang, kamu tenang saja, aku sudah atur semuanya!"
"Aku percaya sama kamu Mas!" Nia pun tersenyum bahagia.
Akad pernikahan akan segera di mulai.
Sementara itu, terlihat Adinda Aira akan menuju sebuah ruang khusus untuk pengantin wanita yang sedang menunggu kesiapan pengantin pria di meja Akad pernikahan. Saat sedang menunggu petugas pengawal pengantin membereskan pekerjaannya, Adinda berdiri sejenak di depan pintu, tidak terduga, ia melihat Frans bersama Nia dalam busana pasangan copel terbaik.
Frans dan Adinda sempat berpandangan, Frans pangling dengan riasan pengantin Adinda yang membuat kekasih gelapnya itu semakin cantik dan mempesona, Frans terus memandangi Adinda sambil melontarkan senyum manisnya, namun Adinda menatapnya dengan kepedihan tanpa senyum sedikitpun, hal itu ternyata menjadi sorotan Nia.
__ADS_1
"Sayang!" rengek Nia menggandeng Frans dengan sigap.
"Mengapa kau terus memandanginya?"
"Itu hanya perasaan kamu saja, aku hanya menyapanya dengan senyuman!" jawab santai Frans.
"Apa aku boleh sapa dia juga?" pinta Nia.
"Boleh dong sayang!" jawab Frans dengan senyum manisnya.
Nia berjalan anggun menghampiri Adinda yang posisinya tidak jauh dari mereka.
"Selamatnya atas pernikahannya, pasti bahagia banget berhasil menggaet target!" senyum sinis merendahkan Dinda.
"Iyah, terima kasih, tentu bahagia dong, karena tidak semua wanita bisa merasakan pernikahan semewah ini!" ucap Adinda tidak mau kalah.
"Ahahahaha, kalau miskin kayak model kamu, tentu mana bisa, ya...kecuali dengan cara begini nih! Menjerat pria-pria kaya dengan modus kehamilan!
Tapi aku yakin kok, Ryan tidak akan betah dengan model perempuan seperti kamu, karena aku sudah mengenal Ryan Sebelumnya, mungkin kau harus bersiap-siap jika dalam waktu yang tidak lama, dia akan meninggalkanmu lalu menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih pantas dari kamu!" ucap Nia yang membuat mood Adinda semakin jelek.
"Jangan-jangan kau juga menyukai Ryan?" tuduh Adinda dengan wajah kesalnya.
"Emm, wanita mana sih yang tidak tertarik dengan Ryan alias Tan Woong, Keponakan hebatnya Lim Woong...Ups, sorry! Kamu pasti tidak kenalkan dengan orang-orang penting seperti itu!" ucapan Nia terus meremehkan Adinda.
Wajah Adinda terlihat semakin kesal menahan amarah, akhirnya ia memilih diam karena merasa tidak berguna jika terus-terusan menanggapi bullyan sombong Nia kepadanya, Nia si wanita yang egois, tidak bisa kalah jika berdebat dengan dirinya.
"Tapi bagaimana pun, aku tetap setia dengan kekasih ku Frans, yang mencintaiku!" ucap Bangga Nia balik menuju Frans lalu menggandeng erat lengan lelaki itu.
"Iyah kan sayang!"
"I.. Iyah!" jawab Frans yang tidak bisa apa-apa.
("Heh, Mencintai tidak akan mungkin selingkuh, dasar perempuan buta, Andai saja kau tau, anak yang aku kandung ini sebenarnya benih dari kekasih mu yang bajingan itu, suatu hari nanti aku kau juga akan tau)
"Mari, kita cari tempat duduk!" ajak Frans.
Keduanya pergi mencari posisi duduk yang sudah disiapkan.
Nia tersenyum puas karena berhasil merusak mood Adinda.
__ADS_1