Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 27 - Meyakinkan Diri


__ADS_3

Sementara malam itu terlihat Adinda membulat di atas kasurnya dalam pandangan menyedihkan, tidak memiliki gairah semangat sedikitpun untuk melakukan apa-apa, ia tampak tidak makan bahkan tidak mandi, kecuali hanya mengganti gaunnya dengan pakaian mini (khusus untuk tidur), hatinya begitu terluka oleh cinta hingga airmatanya terus bercucuran, sangking perihnya, mulai tumbuh rasa jera untuk mencintai lagi.


"Perkataan Ryan dan Nia itu benar, Aku memang sedang bermimpi menjadi seorang Cinderella, dulu saat SMA, aku juga pernah berpacaran dengan Alex, salah satu pria pewaris kaya di keluarganya dan ia juga memiliki banyak usaha sendiri meskipun pria itu masih muda, namun lagi-lagi ia juga mengkhianati ku dan lebih memilih wanita kaya, mengapa aku seakan-akan tidak pernah jera dan sadar diri untuk mengejar lelaki yang bukan ada di level ku? Aku terlalu bangga dan percaya diri dengan sebuah kecantikan, yakin bisa memikat pria mapan yang berkualitas, ini adalah strategi yang sangat konyol, cukuplah Frans yang terakhir kalinya, dalam jangka waktu panjang ini aku tidak ingin mencintai lagi, jika perlu selama-lamanya, ini terlalu sakit, aku hampir tidak bisa bernafas, janji tidak ingin mengejar cinta pria kaya lagi.


Aku lelah...aku jenuh...aku kangen Mama, aku ingin peluk Mama, bersujud di depannya dan berkata kepadanya jika aku ingin menjadi anak baik dan berbakti, menjadi perempuan yang lebih bermartabat, pintar dalam menjaga kesucian diri, seperti Bunda Aisyah Humairah, istri Rasulullah!"


Di bufet kecil itu. Ponsel Adinda terus berdering, ia telah mengabaikan 10 kali panggilan tidak terjawab dari sang kakak, karena Nabila sudah tidak sabar ingin segera mendengar celotehan cerita adiknya setelah bertemu dengan calon mertuanya, hingga Nabila memutuskan untuk meninggalkan pesan.


"Adinda, apa kau sudah tertidur? Besok pagi-pagi kakak akan datang ke rumah mu? Mimpi indah ya sayang?"


Adinda tidak ingin berbicara kepada siapapun malam itu termasuk Nabila. Ia bergerak mengambil ponselnya dan mengabaikan pesan dari kakaknya, kemudian lanjut menuju Instagram, melihat koleksi foto lama mereka saat dimana ibunya masih hidup dan penuh keceriaan memeluk dan bermain bersama dua putri cantiknya.


"Bisakah? Masa lalu itu diulang kembali, ini momen yang paling indah yang pernah kurasakan dalam hidupku, aku ingin terus ada di sana, bahkan tidak ingin hidup di masa depan?" gumam airmata Adinda terus menatap ponselnya hingga ia tertidur.


*


Kediaman Rumah Khaliza Rahmah


Sehabis mandi dan sholat Isya serta makan malam, Ryan memanggil ibunya dari kamar. Mendengar suara anaknya, Khaliza langsung keluar.


"Ini mah pesanannya!" Ryan menyodorkan satu kotak bingkisan kotak putih cantik berisi makanan dari galeri toko kue ternama langganan mereka.


Khaliza begitu senang menerimanya.


"Beli dari toko kue om Dheo kan (seorang chef cake teman baik Yong)?"


Ryan mengangguk.


Khaliza langsung membuka bingkisan itu dan memakan makanan yang di bawa oleh Ryan yaitu Bakpao spesial isi kacang hijau dan abon, bibir lelaki itu tampak merekah, cukup senang memperhatikan ibunya yang begitu lahap menyantap makanan khas Tionghoa itu.


Ryan juga menghidangkan segelas air putih hangat untuk mereka.


"Alhamdulillah, terima kasih yah Nak! Mama suka sekali Bakpao panas-panas begini, enak di perut!" celoteh polos Khaliza.


"Gara-gara Papa yah Mah!" celetuk Ryan tersenyum manis.

__ADS_1


"Hehehehe, hampir setiap minggu Papa mu makan Bakpao panas begini, tidak ada bosannya, sampai Mama jadi ikut candu, dia bela-belain beli dengan om Dheo (keturunan suku Tionghoa muslim berprofesi sebagai chef cake)


"Jika Papa suka, mengapa Mama tidak belajar untuk membuatnya!"


"Sudah pernah, tapi Papamu malah mengejek, katanya tidak enak!"


"Hahahaha!" spontan Ryan tertawa sumringah, keduanya makan dengan nikmat, memperkuat hubungan ikatan cinta dan kasih sayang antara ibu dan anak.


Ryan memandangi rambut ibunya yang mulai memutih sambil berkata dalam hatinya;


"Ternyata Mama sudah tua"


Pemuda itu juga terbayang ketika ia dulu suka menghardik wanita lemah itu.


"Jangan pernah ikut campur untuk mengurus kehidupan ku perempuan tua, pikir kan saja suami kamu yang sudah tidak berguna itu!" salah satu ucapan kasar Ryan kepada ibunya, ketika dulu ia masih tinggal dalam dekapan keluarga Woong, dimana harta dan tahta menjadi kebahagiaannya.


Mata Ryan sempat berkaca-kaca, menyadari pedihnya kisah masa lalu ibunya saat itu, lalu menunduk sambil berkata dalam hatinya;


"Ryan janji Mah! Mulai hari ini, tidak akan pernah menyakiti hati Mama lagi dan berusaha menuruti apa yang Mama perintahkan."


*


"Menurut Mama...Adinda itu orangnya seperti apa, Ryan khawatir keputusan menikahi wanita itu akan membuat Mama kurang nyaman, jika tinggal bersamanya di rumah ini," pendapat Ryan.


"Cantik!"


"Mama, jangan lihat cantiknya saja, di luar sana juga banyak yang cantik, bahkan lebih dari Adinda!" jawab Ryan.


"Iyah benar, tapi cantik itu juga penting dan sudah menjadi modal utama bagi kebutuhan pria!"


"Ryan enggak mau cari yang cantik mah, yang cantik itu terlalu liar, sulit dikendalikan, yang penting baik, nyaman, bisa diatur," celetuk Ryan.


"Hemmmm...bohong kamu, coba Nikah sama Bi Surti (pelayan mereka 37 tahun) orangnya tidak cantik tapi sangat baik, nyaman dan mudah diatur!" senyum Khaliza.


Ryan tersenyum-senyum sampai tertawa kecil, terlihat ia menggigit belahan bibir bawahnya, malu karena celotehnya langsung di skakmat oleh sang bunda.

__ADS_1


"Yah enggak seperti itu juga dong Mah!"


"Pria memang selalu mengaku tidak perlu mencari yang cantik, tapi ujung-ujungnya, pasti melirik yang cantik juga!"


"Ryan tidak menyukai Adinda, Mah! Dari dulu sudah tidak suka dengan sifatnya!"


"Anaknya baik kok, cara bicaranya sopan dan punya attitude, itu yang penting sebagai modal dasar!"


"Beegh...Mama salah, justru orangnya malah bar-bar banget dan centil!" komentar Ryan yang tidak setuju dengan penilaian ibunya.


"Semua itu karena dia kurang bimbingan, dukungan, perhatian, kasih sayang, sehingga pergaulan dan emosinya tidak stabil, anak perempuan yang jauh dari perhatian seorang ayah maka ia akan mencari perhatian di luar. Jika tidak mendapatkan lelaki yang tepat, jelas dia akan rusak. Jadi jangan anggap remeh peran seorang Ayah!"


Ryan terdiam, lalu menyampaikan isi hatinya dengan lembut kepada sang Bunda agar tidak menyakiti hati ibunya.


"Mah, Ryan akan tetap menikahi Adinda, tapi dengan syarat, Mama jangan kecewa, Ryan tidak bisa mencintai wanita itu, ini pernikahan yang bukan semestinya. Frans masih mengharapkan hubungan mereka kembali karena anak yang di kandung Adinda itu butuh sosok Ayah kandungnya, Ryan tidak ingin menjadi penghalang bagi mereka.


Mah! Ryan minta maaf yang sebesar-besarnya, jika pernikahan kami nantinya tidak akan bertahan lama, saat ini Ryan hanya ingin fokus untuk GMC, seperti janji Ryan kepada Papa, tapi Ryan janji Mah, setelah perceraian nanti, Ryan akan mencari wanita yang benar-benar pas dan akan mencintainya, juga memiliki keturunan."


"Baiklah, semua tergantung keputusan kamu, sebagai seorang ibu, Mama hanya bisa mendukung dan ingin yang terbaik!"


"Terima kasih yah Mah, Mama adalah malaikat ku yang sangat mengerti kondisi dan kesulitan Ryan?"


Ryan langsung sungkem di kaki sang bunda mencium hangat tangan kedua ibunya, meminta restu untuk langkah kehidupan selanjutnya. Khaliza membalasnya dengan mengelus rambut putranya.


***


Gempar!!!


Malam itu juga telah beredar luas di media-media sosial, tentang kabar yang menyiarkan hubungan gelap Frans dan Adinda serta kehamilan wanita itu. Kabar miring itu membuat gerah keluarga Deny Sulaiman hingga Aditama Lukman.


Terlihat juga Nia Devira begitu shock dan sangat terkejut.


*


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2