
"Tante setuju saja, tapi Tante kembalikan lagi kepada Ryan yang menjalaninya, apakah dia sanggup atau tidak?"
"Mengapa Mama begitu takluk dengan si centil ini, aduh (Ryan mulai gusar menunduk sambil memegangi dahinya dengan kusut, ia berharap ibunya tidak setuju) atau jangan-jangan dia pakai ilmu penakluk!" gumam konyol Ryan menuduh Adinda.
"Yah Allah!" batin Adinda memanggil haru Tuhannya setelah mendengar jawaban Khaliza๐ฅบ๐ฅบ
Tidak masalah aku punya suami seperti Ryan, yang penting ibu mertuaku seperti ini, jiwanya benar-benar membuat hatiku tentram, persis seperti sosok ibuku yang hilang.
"Tapi a...apakah Tante tidak malu, Adinda sudah hamil seperti ini?" tanya wanita malang itu sampai bibirnya bergetar.
"Tante sudah melalui banyak hal, ada yang lebih memalukan dari masalah mu ini, hidup menjadi istri seorang mantan mafia judi serta masih banyak lagi bentuk kejahatan lainnya yang tidak bisa tante buka, lalu terjerat lagi menjadi ibu dari anak yang juga mantan seorang mafia judi. Sebuah penyesalan orang tua tanpa batas, membiarkan anaknya mengikuti jejak Ayahnya yang salah, Jadi ibu sudah terbiasa hidup dalam hal yang memalukan!" ungkap Khaliza dari hati terdalam, Ryan hanya bisa menunduk malu, tak mampu menepis perkataan kecewa yang dalam bagi seorang ibu.
Adinda terlihat fokus menatap Khaliza, terlukis banyak tekanan batin di goresan wajah calon ibu mertuanya itu, yang tidak bisa ia ungkapkan, namun ia begitu tegar menjalani hidup.
*
"Ting!" bunyi pesan masuk di ponsel Ryan dari Daniel Flow. Pria itu bergegas membacanya;
"Yth kepada Mas Ryan Alaska, kami telah mengirimkan dana awal ke rekening GMC finance, sebesar 1 Triliun rupiah dan Bos Frans Albar menyuruh Mas Ryan agar segera fitting pakaian pengantin di galery XX dan menyerahkan data diri untuk pengurusan berkas pernikahan bersama Adinda Aira.
"Sepertinya aku sudah terjerat, benar-benar tidak bisa menghindar lagi dari Frans, ia sengaja mengirimkan uang itu lebih cepat, agar aku tidak berubah pikiran, benar-benar licik!" Omelan batin Ryan.
*
Setelah dialog penting itu berakhir. Adinda pamit undur diri kepada Khaliza kemudian menjabat tangan ibunda Ryan itu dengan sopan lalu reflek memeluknya sambil berkata lembut;
"Tante adalah sosok ibu yang luar biasa, serta tangguh!" puji Adinda.
Khaliza tersenyum manis menyambut pelukan Adinda dengan hangat.
"Antar Adinda pulang, jangan sampai tidak kamu antar!" pinta tegas Khaliza yang sudah mengerti karakter Ryan, jika ia sudah membenci seseorang maka ia akan suka jahil.
Khaliza memilih istirahat di kamarnya, sejak di vonis penyakit jantung koroner dan lambung yang tidak sehat, ibu satu anak itu berjuang menjaga kesehatannya, ia ingin tetap hidup mendampingi Ryan sampai batas yang ia inginkan. Tiga jam sekali, Khaliza wajib mengistirahatkan tubuhnya, agar ia kembali rileks.
*
"Tidak perlu mengantarku pulang, aku mau pulang naik taxi saja!" protes Dinda dengan raut kesalnya, ia mulai membuka ponselnya hendak memesan taxi online.
Ryan dengan sigap merampas ponsel Adinda, membuat wanita itu semakin jengkel.
"Ryan, kembalikan, itu ponsel ku jangan sentuh?" hentak Adinda dengan mata penuh amarah.
"Sudah cepat naik!"
"Enggak, berkendara bareng kamu membuat aku menderita ๐ !" jawab tegas Adinda.
"Yah sudah, pulang naik kaki sana!" Ryan santai berbalik badan berjalan menuju mobilnya memegang ponsel Adinda.
__ADS_1
Adinda begitu tampak marah dan emosi.
"Ryaaaan!" jerit tertahan Adinda yang super kesal kemudian menerkam Ryan dari belakang mengigit lengan tangan pria itu.
"Aaaah" jerit histeris Ryan.
Adinda berhasil merebut kembali ponselnya dari tangan Ryan.
(keduanya tidak pernah akur sejak bertemu, mirip kisah si kucing jantan dan kucing betina yang saling cakar-cakaran karena masalah jatah kawin ๐๐ berbeda ketika Adinda bersama Frans, wanita itu selalu nyaman, tidak pernah marah, penuh keromantisan, keinginanya selalu dipenuhi, Adinda dan Frans hampir tidak pernah bertengkar)
"Kamu ngidam anak apa sih? Zombie yah?" hentak kesal Ryan, mengusap-usap bekas gigitan gigi kelinci Adinda yang tajam dalam raut wajah kesakitan.
"Iyah kamu Raja Zombie Nya?
Adinda tidak perduli, ia melangkah pergi memasang raut wajah marah namun Ryan menarik kuat tangan Adinda lalu memasukkan paksa wanita itu ke dalam mobilnya dengan aksi cukup cepat dan ahli, langsung mengunci mobil itu.
"Ryaaaaan!" jerit Adinda menggedor-gedor kaca jendela mobil.
"Dasar pria gila, aku tidak percaya dia lahir dari rahim Bunda Khaliza, jangan-jangan dia anak kutipan yang keluar dari lubang batu atau pohon beringin penunggu jin ifrit atau gorila jadi-jadian!" Omelan Adinda tanpa henti begitu kesal dengan Ryan yang tidak pernah bersikap damai kepada dirinya, bahkan sejak mereka masih SMP, Ryan selalu bersikap jahil dan masam kepada Adinda, wanita itu tidak tau apa penyebabnya.
"Huuuft ๐ค๐ค!" hembusan nafas lelah Adinda, sebenarnya tidak ingin bertengkar kepada Ryan, ia begitu malas duduk berdampingan bersama pria itu, ia pun memilih pindah dengan cepat lalu duduk di bangku belakang.
"Kenapa sekalian kau tidak duduk di area bagasi saja!" ucap sebel Ryan.
"Disini lebih nyaman!" jawab jutek Dinda.
"Duduk di depan, aku bukan supir pribadi mu?" hentak Ryan.
"Kalau kau tidak beranjak, aku tidak mau menikah dengan mu!"
"Yah sudah, baguslah!" jawab jutek Adinda.
"Aku telpon Nabila!" ancam Ryan mengeluarkan ponselnya. Padahal ia tidak menyimpan nomor Nabila.
"Iyah...Iyah..." (Cegah Adinda, ia terpaksa bergerak kembali duduk di depan, sambil memalingkan wajahnya)
"Ryan langsung menghidupkan AC mobilnya, menuruti kemauan Adinda dan memang hari itu cuaca cukup cerah dan panas, ditambah lagi kegaduhannya bersama Adinda.
"Dasar si gorila penipu, ternyata AC Mobilnya bagus," gumam sebel Adinda yang dibohongi.
"Ya Allah bagaimana nanti nasibku jika menikah dengan pria gila ini, aku benar-benar stres, semoga kami tidak satu kamar!" doa Adinda.
Ryan mulai melajukan mobilnya.
"Ternyata Ryan anak dari seorang Mafia Judi, aku pernah mendengar perusahaan Woong Asean, sebuah perusahaan besar artinya sosok pria yang dilihat kakak di Singapura itu memang benar-benar Ryan!" gumam Adinda.
"Apa kau sedang memikirkan tentang diriku?" tanya jutek Ryan.
__ADS_1
"Tidak!" jawab cepat Adinda.
"Mengapa tidak dari gang sempit lagi?" tanya Adinda mengalihkan praduga Ryan yang seolah-olah mendengar ucapan batin Adinda.
"Kita akan menuju ke sesuatu tempat?"
"Kemana?"
"Entahlah, tanya saja Frans!" jawab malas Ryan.
"Ryan, jika kau tidak ingin menikah dengan ku, tolong jangan terima tawaran Frans?"
"Aku butuh X-Tren!"
"Mengapa semua pria egois semau dirinya saja!" keluh Adinda.
*
Setelah menempuh perjalanan selama 14 menit, Mobil Ryan berhenti di sebuah parkiran galery gaun pengantin.
Di sana sudah terlihat Daniel Flow yang menunggu kedatangan Adinda dan Ryan.
"Aduh, kenapa Pak Daniel ada disini, entah mengapa aku malu sekali setiap bertemu dengannya?" gumam Adinda, Daniel Flow satu-satunya orang yang tau seperti apa hubungan Frans dan Adinda.
"Mari silahkan Mas Ryan, Bos Frans sudah menunggu!"
"Frans? Untuk apa disini?"
"Memastikan agar Mas Ryan melakukan fitting pakaian pengantin bersama nona Adinda."
"Fitting??" gumam terkejut Adinda.
"Aaargh lebai banget tu anak?" ucap kesal Ryan
"Benar-benar ia menekan ku habis-habisan!" gumam Ryan.
Tiba-tiba Frans dan Nia muncul dari area tunggu. Keduanya berjalan mesra mendekati Ryan dan Adinda.
Adinda cukup terkejut, calon pasutri itu muncul di hadapan mereka.
"Tan Woong!" sapa akrab Nia Devira kepada Ryan, mereka juga saling kenal. Nia sempat tertarik dengan Ryan, namun Ryan sedikitpun tidak tertarik dengan Nia, sama sekali tidak memberi peluang perasaan kepada wanita itu, sampai akhirnya Nia bertemu dan di jodohkan dengan Frans Albar.
Perusahaan Aditama Lukman pernah menjalin kerja sama dengan Lim dan Tan atau Ryan sendiri, bahkan Aditama sempat ingin menjodohkan Nia dengan Ryan, namun karena Lim telah membuang Ryan serta kasus buruk tentang mafia judi ayahnya yang masih melekat dalam reputasi nama Ryan, akhirnya Aditama mengurungkan niatnya.
Frans dan Deny berusaha menyembunyikan identitas Ryan sebagai bodyguard rahasia mereka, namun hal itu sudah bocor di kalangan komunitas pengusaha Bisnis.
Diam-diam Frans masih memperhatikan Adinda dan tersenyum tanpa merasa salah sedikitpun, lelaki itu masih mengagumi kecantikan sang mantan, sementara Adinda berusaha tidak menatap Frans.
__ADS_1
"Namaku Ryan bukan Tan Woong lagi!" jawab santai lelaki itu.
"Tapi aku lebih suka memanggil kamu dengan sebutan Tan Woong!" ucap Nia.