
Khaliza sudah menaruh curiga memperhatikan gerak gerik Ryan terhadap bunga itu sehabis pulang kantor.
Seketika Ryan kaku tidak berkutik dihadapan ibunya, lalu mengeluarkan suara dan gaya gugupnya.
"Emm...em!"
"Katanya benci, kenapa sampai memberikan mawar sebanyak satu kebon begini!" celoteh Khaliza.
"Hem, ini hadiah dari sponsor, jadi aku pikir, yah! Sudahlah lebih baik dikirim kerumah saja kan!" alasan Ryan dengan senyum cengengesannya, pria itu masih tidak mau mengakuinya.
"Hem, begitu yah, jadi ini di kasih orang!" Khaliza beraksi mulai jahil mengambil separuh mawar bunga itu.
"Ma...Ma...mama mau apa?"
"Karena ini di kasih orang, Mama wajib minta!"
"Yah si Mama, ini Ryan beli buat Adinda semua!" Ryan akhirnya keceplosan.
"Ternyata jadi kamu yang beli, kalau suka itu jangan gengsi!" Khaliza mencubit gemes pipi anaknya.
"Aaargh!" teriak kecil pria itu.
"Tetap saja separuh mawar ini Mama ambil, karena kamu yang beli, Mama juga ada hak mendapatkannya, itung-itung ini ucapan terima kasih kamu, karena tadi Adinda hampir saja membuangnya, tapi Mama yang mencegahnya!"
Ryan terdiam kaku.
"Sudah yah!" Khaliza dengan santai melenggang masuk ke dalam kamarnya sambil membawa bunga mawar itu dan mencium aromanya dengan senang.
"Hem...Kapan lagi di kasih bunga sama anak!" senyum Khaliza.
Ryan hanya bisa garuk-garuk kepala melihat tingkah ibunya yang memang sangat suka Bunga-bunga hidup.
"Mama, bisa tahu aja!" ucap Ryan membawa mawar itu masuk ke dalam kamar Adinda.
"Ini!" Ryan menyerahkan mawar itu kepada Adinda.
"Maaf, separuhnya sudah di ambil Mama!"
Adinda terbengong sejenak.
"I...ini kamu yang beli?"
"Em...." Ryan salah tingkah, pandangannya ke atas bawa, samping kanan kiri, sampai akhirnya mengangguk.
"Biar kamu lebih semangat!" senyum dingin Ryan tetap stay cool.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi, aku pikir, entah dari siapa?"
"Kamu masih mengharapkan Frans yah?"
__ADS_1
"Saat aku masih mengandung, aku Memang masih mengharapkannya kembali, bagiku tidak masalah hatiku hancur asal anakku mendapatkan hak asuh Ayahnya, tapi sekarang sudah enggak lagi!"
Ryan terdiam mendengar perkataan dari Adinda.
"Tapi kau masih mencintainya kan?" tanya Ryan mulai greget.
"Tidak lagi, mungkin dulu aku hanya tergoda saja, aku memang menyukai pria kaya dan terbuai oleh pemberiannya!"
"Jika ada pria yang kaya jatuh cinta kepada mu lagi, apakah kau akan menerimanya?"
"Aku sudah katakan, untuk saat ini, aku tidak ingin menjalin hubungan dengan pria manapun!"
"Ouh begitu!"
"Ryan terima kasih yah, kamu selalu saja ada untuk menolong ku, aku tidak bisa membalasnya dengan harta, aku hanya bisa melakukan apa yang bisa aku lakukan untukmu, aku berharap kau selalu bahagia,
menemukan wanita yang tepat dan hubungan kamu dengan Paman Lim bisa kembali harmonis seperti dulu, aku akan selalu mendukung apapun yang terbaik."
Kata-kata Adinda membuat pria itu tidak mampu berkata-kata lagi.
"Sebaiknya mari kita bercerai, agar hubungan ini tidak lagi menjadi penghalang, kamu berhak menikah dengan wanita yang kamu sukai, jangan berzina."
*
Kata-kata Adinda malam itu membuat Ryan tidak bisa tidur, meski sudah berusaha memejamkan matanya, namun pikirannya terus berjalan, ia masih sulit mengungkapkan perasannya karena Adinda yang sudah cukup tersakiti oleh pria. Adinda juga menganggap jika Ryan tidak ada bedanya dengan Frans.
Ryan menelpon seorang staf, agar pertemuan Vita dan Frans lebih intens lagi.
"Jika hak waris Ayah benar-benar telah kembali kepadaku, seperti yang diungkapkan Crush, ini kesempatan ku untuk lepas dari X-Tren"
*
Panggilan datang dari Madam Elena malam itu juga.
"Apa kabarmu Madam?" tanya Ryan senang menyambut panggilan ibu angkatnya itu.
"Baik sayang!"
"Bagaimana kabar kalian!"
"Baik juga!"
Elena dan Ryan membicarakan persoalan bisnis mereka hingga wanita itu mulai berkata tentang masalah pribadi mereka.
"Kapan kau ke Singapura lagi?"
__ADS_1
Ryan masih terlihat diam.
"Lim sepertinya ingin bertemu denganmu, dia juga tidak masalah jika kamu harus membawa ibu dan istrimu!"
"Madam bercanda?"
"Tidak!"
"Jika ada waktumu, datanglah kapan saja, Mulai hari ini pintu kami terbuka untuk kalian!"
*
Betapa bahagianya Ryan malam itu, sampai ia menangis terharu, akhirnya titik terang dunianya yang gelap kini ia menemukan cahaya yang selama ini ia cari, hati batu sang Paman akhirnya lunak kembali.
*
Ryan mulai berjuang untuk bangun sholat subuh dan pergi ke masjid terdekat sampai membuat Khaliza terkagum-kagum.
Di atas sajadah suci Ryan berkata kepada Tuhannya;
"Terima kasih yah Allah, aku yang bergelimang dosa ini, masih saja engkau tolong! Engkau akhirnya mengabulkan doaku, Terima kasih...Terima kasih...Aku cukup lelah dengan dunia ini karena semakin aku mengejarnya, aku hanya mendapatkan ampas."
Di pagi hari yang sejuk itu, Ryan menyempatkan diri curhat kecil dengan dr Alamsyah, sosok Abang yang selama ini banyak membimbing Ryan untuk kembali memeluk agama Islam, dimana Ryan sempat murtad (keluar dari agama Islam) dan lebih memilih atheis bersama pamannya, Ryan juga menyerahkan sejumlah uang untuk pembangunan masjid.
"Ryan, Abang sangat bahagia kau bisa kembali datang ke Masjid ini, Abang tau kau itu sangat sibuk, tapi berjuanglah untuk bangun pagi dan sholat subuh disini, kita berkumpul bersama, karena inilah rumahmu yang sesungguhnya, sebisa mungkin memakmurkannya."
"Terima kasih banyak Bang, sekarang Ryan sudah jauh lebih tenang, Abang benar, semua harus di jalani dengan ikhlas dan sabar meskipun sangat berat!"
Alam tersenyum.
"Ryan, teruslah berbakti kepada ibumu dan mengerjakan amal kebaikan, maka Allah Yang mengurus semua hidupmu, jangan pernah putus asa dari Rahmat-NYA, karena kita ini adalah manusia tempat lalai dan bergelimang dosa, tidak tau amal kebaikan mana yang dapat menghapus dosamu dan mengantarkan dalam kebahagiaan!"
"Benar Bang!"
"Kau jangan pernah khawatir, jika rezeki itu sudah ditakdirkan untukmu maka tidak akan ada yang bisa merebutnya, begitu juga dengan jodoh, bagaimanpun sulitnya perjalanan cintamu, jika seorang wanita yang kamu sukai sudah menjadi takdir jodoh mu, kalian pasti akan bersatu!"
*
Pagi itu Ryan pulang dari Masjid dengan wajah yang cerah dan penuh ketenangan, ia mendapati rumah cukup sepi, terlihat Adinda sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk dirinya, Ryan dan Khaliza. Rutinitas setiap pagi yang wanita itu lakukan dan sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya.
Langkah pria itu berjalan mendapati istrinya dan reflek memeluknya dari belakang.
"Lagi masak apa?" bisik Ryan di telinga Adinda.
wanita itu terkejut hebat, karena hal itu tidak pernah terjadi, ia tidak bisa menepis diri jika jantungnya langsung berdebar-debar tidak karuan.
"Ti...tidak masak apa-apa, ingin membuat sarapan salad sayuran!" ucap Gugup Adinda.
__ADS_1
Ryan lanjut mencium halus tengkuk Adinda yang sedikit terbuka membuat bulu kuduknya merinding.
"Ri...Ryan apa yang sedang kamu lakukan!" ucap gugup Adinda dengan jantung yang masih berdebar-debar.