Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 71 - Keraguan Jiwa


__ADS_3

Surti bergegas keluar dari kamar majikannya.


Selain Surti, Adinda dan Khaliza juga dalam raut wajah yang terkejut hebat, telah terjadi kehebohan kecil pagi itu, teriakan latah Surti sampai membangunkan Ryan, dua bola matanya perlahan terbuka, lalu bangkit mencari tau asal suara, dahi Ryan yang berkerut tajam antara sadar dan tidak, Adinda dengan cepat menutup kembali pintu kamar itu, karena Ryan dalam kondisi tidak mengenakan pakaian apapun kecuali selimut yang menutupinya.


Ryan menjatuhkan diri di kasur, lalu kembali tertidur.


*


"Bibi, ada apa?" tanya heran Adinda.


Khaliza hanya tersenyum-senyum lalu pergi dengan cepat meninggalkan mereka.


"Maaf Nona, Maaf banget, anu...anu...tadi itu...anu loh, bibik kan mau bersih-bersih pintu kamar, tapi kok sepertinya ada ee' cicak gitu yang menempel, eh! Ternyata Bibik salah, hehehehe, bibik kerja lagi yah!" cengengesan Surti membuat langkahnya mundur, kemudian langsung kabur...cussss🏃🏃


Mendengar jawaban Surti, terpaksa Khaliza menahan tawanya.


*


Tidak mau ambil pusing, Adinda bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu, senyum Khaliza kembali menghilang, dan mengamati perubahan sikap menantunya itu yang sudah membuat ia penasaran sejak tadi pagi.


"Tok...tok...! Adinda?" panggil Khaliza.


"Mah, Adinda ingin sendiri dulu yah!" saut lembut Adinda dari dalam kamar.


"Oh, yah sudah, jangan lupa sarapan!"


"Baik Mah!"


*


"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Khaliza kembali mendapati Surti di ruangan kerjanya.


*


Di pelataran dapur, Surti dan Khaliza sempat terkekeh-kekeh geli dengan aksi kepo memalukan mereka yang langsung tertangkap basah oleh Adinda.


"Bun, Surti jadi enggak enak Lo, sama Nona Dinda!"


"Yah sudahlah tidak apa-apa, saya pikir si Adinda pasti maklum melihat tingkah kepo kamu, lagian alasan kamu masuk akal juga kok, memeriksa ee cicak yang bertebaran!"


"Hahahaha!" keduanya kembali tertawa geli.


"Sepertinya yah Bun, menurut Surti nih, mereka itu habis 'gitu-gituan' lah!"


"Gitu-gituan apa maksud kamu?"


"Ya ampun, gitu aja kok enggak paham si Bun, polos amat, maksudnya Surti, mereka itu habis melakukan hubungan suami istri!"


"Ah, Hahahaha itu yah enggak mungkin!" tawa polos Khaliza menepuk pundak gempal Surti.


"Apa lah si Bundo ini👺 aneh sekali, anaknya sudah menikah, dia malah tidak percaya mereka melakukan hubungan badan!" gumam Bingung Surti.


"Memangnya salah yah Bun, kalau mereka melakukannya?" tanya penasaran Surti.


"Tidak salah sih, tapi ada hal yang saya enggak bisa ceritakan sama kamu, mereka sedang ada konflik rumah tangga, begitulah!"


"Ouw, Biasanya ni Bun, pertengkaran pasutri itu justru membuat hubungan intim semakin lancar😁 tapi beneran, Surti yakin banget, karena sempat melihat Mas Ryan itu enggak pakai baju di atas kasurnya dan tertutup selimut!"


"Yang benar kamu🤔"


"Benar Bun, kalau Surti bohong, disambar gledek Surti juga berani kok!"

__ADS_1


Khaliza tampak berpikir keras.


"Terus lagi ni Bun, aroma kamarnya serasa ada bau-bau apa gitu?"


"Bau kentutmu?"


"Hahahaha 🤣 si Bundo bisa aja (Surti terkekeh-kekeh) Bau aroma jantan lah Bun, yang sedang menghisap kumbang!"


"Yah sudahlah, saya istirahat dulu, sedikit pusing memikirkannya!"


"Hemmmm...Bundo-Bundo... apa coba yang dipusingkan, putranya tidak menikah dia selalu galau. Lah, ini sudah menikah, dia pun galau juga, ckckck ampun dah!" celotehan Surti kembali bekerja.


*


Adinda terlihat murung dan termenung di kamarnya,



berhubungan intim dengan Ryan ternyata membuat ia ketakutan, tanpa disadari, kesedihan patah hati yang selama ini ia rasakan ditambah lagi sifat kasar Ryan diawal pertemuan mereka, menimbulkan trauma kecil yang mendalam di kejiwaannya, prihal tentang kembali lagi menjalin hubungan dengan lelaki, sulit untuk mencintai lagi, baginya itu akan menambah masalah besar.


*


Ryan akhirnya terbangun dari tidur lelapnya dan terlihat sudah mandi, lanjut memakai pakaian kantorannya, pria itu reflek tersenyum-senyum sendiri di hadapan cermin, adegan panas mereka masih terekam jelas di kepalanya, serasa ingin mengulang kembali.


*


Setelah semua selesai, Ryan baru mulai sarapan hampir pukul 10. 00 Wib.


Khaliza memperhatikan wajah sumringah Ryan dan pria itu terlihat lebih segar daripada sebelumnya.


"Ini sarapan atau makan siang?" tegur Khaliza.


"Maaf Ma, Ryan ketiduran!"


"Ouh!"


"Adinda mana Mah?"


"Justru ini yang ingin Mama tanyakan sama kamu?"


"Tanya apa?" jawab dingin Ryan dan cukup santai, ia yakin Ibunya tidak akan tau yang sedang mereka lakukan malam itu.


"Apa yang terjadi dengan Adinda? Begitu dia keluar dari kamar kamu, ia langsung mengurung diri di kamarnya, tidak ingin bicara. Apakah tadi malam kalian tidur bersama?"


Ryan masih tampak Diam, santai menyantap sarapannya.


"Hem, dia takut tidur sendiri di kamar itu!" jawab santai Ryan.


"Ouh!"


"Tanya enggak yah? Apa yang dilihat oleh Surti, Apa benar Ryan tidur dalam kondisi tidak memakai baju, ah tapi pertanyaan itu tidak layak, itu privasi Ryan!" gumam Khaliza.


"Dia baik-baik saja kan Mah?"


"Loh, kamu kok balik nayak sama Mama sih!"


"Maksud Ryan pendapat Nama?"


"Tapi tadi Mama lihat wajahnya sedikit pucat?"


"Apa? Pucat?" reaksi terkejut campur khawatir Ryan.

__ADS_1


"He..em!"


"Gawat, apa tadi malam, aku terlalu keterlaluan sekali yah!" dahi Ryan mengerut tajam.


"Ada apa?" tanya Khaliza.


"Ouh, tidak ada apa-apa Mah!"


"Kalau kamu khawatir, pergi tanya langsung, Mama mau ke taman dulu!"


"Hem, Iyah Mah!"


*


"Tok...Tok..."


"Adinda!" panggil Ryan dengan nada lembutnya, terlembut dari hari-hari biasanya.


Adinda sendiri khawatir dengan kesehatannya, sehingga ia kembali berkomunikasi lagi dengan dr Gunawan.


Mendengar suara Ryan, ia cukup terkejut, jantungnya berdetak sangat kencang, wajah Adinda kembali takut hingga terlihat pucat. pucat bukan karena sakit, melainkan takut berhadapan dengan Ryan, bagaiman tidak, kemarin saja, kejantanan pria itu sempat di nikmati oleh Adinda, namun Ryan begitu sangat marah kepada-nya, apa lagi malam itu Adinda sudah memperkosanya.


"Tok..Tok!"


"Adinda cepetan buka pintunya?" nada Ryan mulai memaksa.


*


Adinda terpaksa membuka pintunya, namun ia langsung menghindar, berdiri membelakangi Ryan, pria itu bergerak masuk lalu menutup pintu kamar.


Posisi Adinda membelakangi Ryan, ia benar-benar tidak berani berhadapan dengan pria itu.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Khawatir Ryan berusaha ingin melihat wajah pucat Adinda, tetapi ia selalu menghindar, tidak ingin mempertemukan wajahnya kepada Ryan, merasa malu yang sangat luar biasa.


"Aku minta maaf, aku...aku pikir petugas apoteker itu salah memberikan Vitamin?" ucap Adinda.


Ryan tersenyum tipis.


"Bukannya itu resep dari dokter Gunawan!"


"Iyah, tetapi dia sudah benar, aku yang salah tidak memperhatikan Vitamin dari apotik itu!"


"Vitamin yang kamu konsumsi itu adalah vitamin perangsang dosis tinggi!" ucap Ryan menarik bahu Adinda agar menghadap kepada Ryan.


"Kalau kondisi kamu tidak baik, sekarang juga, aku akan mengantarkan kamu ke rumah sakit! Maaf tadi malam aku juga terlalu keterlaluan!" ucap Ryan.


"Aku baik-baik saja!" jawab cepat Adinda, ia kembali menunduk.


"Kalau begitu, aku ke kantor dulu yah!" ucap Ryan dalam nada yang lembu tidak seperti biasanya.


Ryan memeluk tubuh Adinda, mengecup tipis bibir wanita itu, lalu mengusap-usap puncak kepalanya, terlihat jelas aura kebucinan Ryan yang sudah sangat menyayangi Adinda,



Sementara Adinda masih tidak percaya dengan reaksi Ryan kepadanya. Sayangnya respon wanita itu biasa saja bahkan pandangannya begitu lesu dan kosong.


"Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku, bukan orang lain!" pinta Ryan.


Adinda terdiam.


"Okeh!" Ryan kembali menegaskan.

__ADS_1


Adinda hanya mengangguk ragu.


__ADS_2