
Ryan berlari kencang mencari arah lokasi yang dikirim oleh Adinda. Ia begitu gugup dan panik, bingung harus berlari ke arah mana, sama sekali tidak mengenal Medan lokasi dengan detail, Frans pernah mengajaknya ke lokasi convention hall itu sebelum menikah dengan Nia, namun Ryan hanya sampai di area Ballroom saja.
Dalam suasana pelik itu, Ryan sempat berniat ingin meminta bantuan kepada petugas keamanan namun itu hanya memperlambat waktunya untuk menemukan Adinda lebih cepat.
Akhirnya Ryan berjuang sendiri dengan memakai insting tajam dan mengerahkan semua keahliannya yang dulu pernah ia lakukan saat menjadi ketua kopasus Mafia Lim, yaitu trik detective mencari target yang bersembunyi, dimulai dari membaca jejak seseorang dari lokasi terkahir tempat ia berpijak.
"Adinda pasti terakhir berada di toilet ini, aku yakin ada ruang yang menghubungkan menuju ke tempat lokasinya!" pikir Ryan terus berusaha mencari dengan detail.
*
Vita sempat berlari mengejar Ryan, wanita itu sudah menduga, jika Ryan akan mencari keberadaan Adinda yang tengah dalam bahaya.
"Ih, cepat sekali perginya!"
"Semoga si perempuan itu segera musnah, tidak hanya dengan kandungannya saja, tapi dia juga!"
"Aku yakin, Ryan pasti sudah jatuh cinta dengan si pel*cur itu!"
Omelan-omelan kesal Vita dalam emosi yang memanas.
*
Pesta Frans Albar dan Nia Devira tetap berlangsung dengan meriah dan super megah, pagi sampai sore diisi oleh tamu-tamu penting baik dari luar maupun dalam negeri yaitu Aliansi kedua perusahaan besar milik Aditama dan Denny Sulaiman, lanjut sampai malam diisi oleh staf karyawan, media dan undangan umum lainnya
Kedua bola mata Frans masih menyoroti ke lokasi meja keberadaan Ryan dan Adinda, namun ia tidak menemukan mereka.
"Apakah mereka sudah pulang!" batin Frans yang tidak mengetahui rencana jahat sang istri terhadap Adinda.
*
Kedua penjahat berhasil menemukan persembunyian Adinda, lalu mendekap dan menarik paksa wanita itu, Adinda masih berjuang memberikan perlawanan keras kepada mereka, di masa kuliah dulu, Adinda pernah mengikuti pelatihan trik bela diri khusus untuk melindungi wanita dari serangan kejahatan, Namun Adinda tidak sanggup melawan dua pria yang bertubuh besar, pertahanannya lumpuh total, ketika para penjahat itu menendang keras bagian area perut Adinda, membuat ia terjatuh, menahan kesakitan yang luar biasa.
"Aaargh!" jerit Adinda membuat ia tertunduk lalu terkapar di lantai.
Dua pria itu reflek tertawa terbahak-bahak dengan keberhasilan mereka, melihat tubuh mulus Adinda, keduanya berniat bejat untuk memperkosa Adinda yang tengah merasakan kesakitan hebat di area kandungannya, tanpa mereka sadari seseorang telah datang melayangkan terjangan keras ke arah kepala salah satu di antaranya.
"Bruk!"
"Sled!"
Duel hebat pun terjadi dengan sengit dan cepat. Kemampuan bela diri mereka belum bisa menandingi Ryan Alaska.
__ADS_1
Tidak memerlukan waktu lama, kedua penjahat itu remuk oleh Ryan bagaikan rempeyek yang siap di goreng, meskipun Ryan juga terkena serangan dari mereka.
Ryan memaksa keduanya untuk memberitahu, siapa Tuan yang menyuruh akal kejam mereka, tidak tahan dengan siksaan Ryan, akhirnya keduanya mengakui jika Nia dan Vita lah sebagai otak dari perbuatan mereka.
Dengan wajah bringas, Ryan berniat untuk membunuh keduanya.
"Ryan, jangan!" ucapan Adinda dalam nada tertatih berat. Ia tidak ingin Ryan kembali membunuh orang lain.
Akhirnya Ryan mengikat keduanya dengan pakaian mereka sendiri di dalam kamar mandi, tanpa mengenakan busana.
"Semoga Malaikat maut segera datang menjemput kalian!" ucap Ryan pergi lalu mengunci pintu.
*
"Adinda, ucap Ryan merasa kasihan melihat kondisi wanita itu, ada luka memar di pipi dan pelipisnya.
Ryan semakin panik saat melihat bercak darah menempel pekat di gaun Adinda. Tanpa banyak bicara dan membuang waktu, Pria itu Langsung menggendong istrinya berjalan cepat menuju parkiran, ada petugas keamanan yang langsung membantu mereka.
"Bersabarlah Adinda, kita akan segera sampai!" ucap Ryan.
"Tapi ini sakit sekali!" tangis Adinda, ia terlihat lemas dan akhirnya pingsan membuat Ryan semakin bingung dan panik, setelah sampai di rumah sakit, ia langsung mengangkat wanita itu memasuki ruang lobi.
Adinda langsung dibawa menuju ruang UGD.
"Adinda bertahanlah!" ucap Ryan ikut mendorong bed itu menuju ke ruang UGD, sesampainya di pintu.
"Maaf Mas, anda hanya bisa mengantar sampai disini saja, duduklah di ruang tunggu!" pinta sang suster.
"Tolong selamatkan kandungan istri saya sus, saya mohon!" ucap mewek Ryan.
"Baik Mas, kita akan usahakan!"
*
Ryan tidak memperdulikan ponselnya yang terus berdering dari berbagai nomor berbeda, pria itu hanya terduduk lesu, galau, dan dalam benak penuh penyesalan besar.
"Ini salahku, andai saja aku tidak meninggalkan Adinda terlalu lama, semua ini tidak akan terjadi!" Ryan merasa lemah menundukkan kepalanya.
"Vita Nia! Jadi kalian adalah otaknya, baiklah, aku akan tambah permainan baru lagi?" gumam kebencian Ryan.
__ADS_1
*
Khaliza terus menelpon Ryan dan Adinda, namun keduanya tidak memenuhi panggilan sang bunda, Ryan tidak berani menerima panggilan ibunya.
"Kemana mereka, mengapa dua-duanya tidak dapat dihubungi" gumam Khaliza.
Tidak berapa lama Ryan mengirimkan pesan.
"Mah, Maaf, Ryan belum bisa terima panggilan, Ada keluhan sedikit dengan kandungannya Adinda, kemungkinan, kami pulang lebih malam, nanti Ryan akan ceritakan!"
"Ouh! Semoga kandungan Adinda baik-baik saja?" harapan Khaliza lebih tenang setelah membaca pesan dari Ryan.
Ryan tidak ingin ibunya mendengar berita itu secara dadakan dan terburu-buru karena ia menjaga kondisi jantung Khaliza yang tidak sekuat jantung manusia normal.
*
Cukup lama menunggu, akhirnya Dokter keluar ruang UGD.
"Bagaimana Dok, apakah kondisi kandungan istri saya, apakah baik-baik saja?" tanya Ryan tergesa-gesa mendapatkan sang Dokter.
"Mari ikut saya!" jawab sang Dokter, keduanya menuju ke sebuah ruangan.
*
"Ini Dengan Mas Ryan!"
"Benar Dok, saya suaminya!"
"Sebelumnya kami meminta maaf atas kemampuan kami yang sangat terbatas, yaitu tidak dapat menyelamatkan kandungan kehamilan istri anda, jadi kami terpaksa harus membuang Janin yang sudah tidak bernyawa lagi, cukup disayangkan, karena janin itu sudah terbentuk tubuh bayi lelaki."
"Apah!" ucap Ryan merasa tidak percaya dengan wajah kesedihan.
"Telah terjadi pendarahan hebat, sepertinya akibat benturan keras yang mengarah tepat kepada bagian rahim sehingga membenturkan tubuh sang janin yang juga Sebelumnya dalam kondisi lemah atau sensitif terhadap benturan, jadi sekali lagi kami meminta maaf, benar-benar terpaksa harus melakukan hal darurat ini untuk menyelamatkan kondis istri anda dan keadaan rahimnya sendiri, tidak memiliki masalah apapun, kesempatan kalian untuk memiliki keturunan lagi sangat terbuka."
Mendengar penjelasan Dokter, Ryan begitu lesu dan tidak berhenti menyalahkan dirinya.
*
Singkat cerita, setelah semuanya selesai dengan baik, Ryan mencoba masuk ke ruangan Adinda. Wanita itu terlihat tertidur setelah proses menggugurkan si jabang bayi telah selesai sempurna.
__ADS_1
"Adinda aku.. aku minta maaf, aku benar-benar menyesal telah meninggalkanmu sendiri di lokasi pesta itu, tolong tetap kuatlah, mulai hari ini, aku akan berada di pihakmu!" ucap Sedih Ryan menatap wajah Adinda yang penuh memar. Hati pria itu ikut merasakan sakit yang sedang dialami Adinda. Ia terus menggenggam tangan istrinya, memberikan sugesti kekuatan dari jiwanya.