Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 79 - Aksi kebucinan.


__ADS_3

Pukul 08.00 WIB, Minggu Pagi.


Hujan cukup deras membasahi bumi, seluruh tanaman kembali segar dan bersih, Hujan itu sebagai pertanda kasih sayang serta cintanya sang ilahi kepada ciptaannya, Tuhan yang memberikan berkah dan Rahmat kehidupan bagi seluruh hambanya, agar semua mahkluk di muka bumi ini bisa melanjutkan hidup mereka, suasana udara begitu sejuk, sangat cocok bagi siapa saja yang ingin rehat sejenak di rumah dari berbagai rutinitas penuh.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S Ar-Rahman ayat 13)


Kisah hitam dan putih manusia masih menghiasi permukaan bumi yang sudah sangat tua ini.


*


Perbuatan laknat dan terlarang antara Frans dan Vita di atas ranjang masih juga berlanjut panas pagi itu, keduanya sama-sama ketagihan, tidak perduli dan benar-benar sudah dijerat kuat oleh kemaksiatan, hanya mementingkan nafsu belaka, karena sesungguhnya Tuhan mereka enggan untuk memberi petunjuk ke jalan yang lurus.


*


Terlihat Adinda, Khaliza dan Ryan sedang sarapan pagi bersama, seperti biasa, Adinda masih melayani keperluan makanan suami dan Mama mertua dengan baik.


"Mah, Adinda, aku punya kabar baik dan kabar buruk buat kalian, mau yang mana dulu?" tanya Ryan.


"Kabar buruk?" jawab Serentak antara Khaliza dan Adinda.


"Baiklah, kabar buruknya, GMC secara resmi sudah memutuskan hubungan kerja sama dengan X-TREN dan JFLASH, maka secara otomatis, GMC akan mengalami kemunduran yang sangat fatal, lumpuh atau bisa dikatakan bangkrut kembali, karena pendapatan sudah tidak seimbang lagi, biaya operasional harus diambil untuk membayar denda pinalti yang sangat besar mencapai 2 triliun rupiah, tidak hanya itu, kiprah ku juga tidak akan mempunyai peluang lagi di dunia pasar! Ryan minta maaf yah Mah, lagi-lagi harus gagal untuk membangkitkan GMC dan mewujudkan keinginan Papa!" ucap Ryan menunduk sedih.


Dua wanita itu cukup terharu dengan nasib yang menimpa Ryan Alaska.


"Ryan, Jangan berputus yah Nak!" Khaliza tetap kembali menguatkan putranya. Kegagalan yang meraka dapatkan tidak hanya satu kali.


"Lim memang benar, aku tidak bisa apa-apa tanpa Woong!" ucap Ryan dengan mata berkaca-kaca, ia sedikit kesal dengan dirinya.


"Aku akan membantu ekonomi di rumah ini, aku akan bekerja lagi, kebetulan teman ku menawarkan ku menjadi model kosmetiknya" ucap Polos Adinda membuat Ryan dan Khaliza melongok memandang adinda.


Ryan reflek tersenyum,


"kamu cukup bekerja mengurus aku dan Mama saja"


Adinda cemberut.


"Dan kabar baiknya adalah...ini perlu kita rayakan bersama?" sorak Ryan sampai menepuk meja, membuat Khaliza dan Adinda terkejut kecil.


"Woong sudah memutuskan untuk mengembalikan hak waris Yong Woong kepada Tan Woong! Madam Elena juga mengundang kita untuk datang ke Singapura." senyum lebar Ryan sebagai secercah harapan.


"Apah? Kamu bercanda?" Khaliza merasa tidak percaya sampai akhirnya Ryan menunjukkan email yang datang dari keluarga besar Woong.


"Masya Allah! Benarkah Nak!" Khaliza langsung bangkit histeris menangis haru memeluk Ryan.


Akhirnya, sekian lama penantian hak waris yang mereka harapkan kembali ke tangan keluarga Yong.

__ADS_1


Adinda tersenyum bahagia, ia juga ikut meneteskan airmata haru, saat melihat Khaliza menangis dipelukan anaknya.


"Sungguh ini buah dari kesabaran seorang ibu!" batinnya.


Ryan mengusap-usap punggung ibunya.


Khaliza juga mencium dahi Ryan.


"Selamat yah Nak!" ucap haru Khaliza.


"Bagi Mama, hidup seperti ini sudah sangat bersyukur, Mama mengharapkan hak waris Papamu itu karena memikirkan kamu Ryan. Kamu begitu menginginkannya. Harapan Mama, semoga kamu bisa mempergunakannya dengan baik!"


"Iyah Mah, Ryan sudah janji tidak akan mengendalikan lagi perusahaan Papa yang bergerak di dunia judi!"


"Terima kasih sayang!" Khaliza kembali memeluk haru putranya.


"Tapi semua ini berkat perjuangan Adinda!" ucap Ryan.


"Perjuanganku?" Adinda terkejut.


"Hem! Crush mengatakan jika kamu mengirimkan beberapa surel kepadanya, kemudian setelah membaca surel itu, ia langsung memerintahkan Crush untuk menyerahkan hak waris Papa kepadaku?"


"Ouh Iyah!" Khaliza merasa takjub.


Khaliza langsung memeluk menantunya itu, seraya berkata;


"Terima kasih banyak yah Nak, kamu benar-benar membawa keberkahan di rumah ini?" ucap Khaliza masih dalam mata yang berkaca-kaca.


"Mah, sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan surel yang Adinda kirimkan, namun Allah menjadikan saat ini adalah waktu yang tepat untuk membalas buah kesabaran dari seorang ibu serta istri Sholehah seperti Mama, bukankah Mama selalu mengajarkan kepada Adinda, semua ujian kehidupan hendaknya diperangi dengan sholat dan sabar maka biarkan Allah yang akan menyelesaikannya!"


***


Adinda terkejut hebat saat mendapati kasurnya basah akibat ada tetesan air dari genteng yang menembus plafon kamarnya.


Mereka kembali heboh dengan hal itu dan lanjut membahas kamar mandi.


"Jangan-jangan kamu ngompol Adinda!" tuduh Ryan.


"Ih itu enggak mungkin lah!" Adinda dengan kocaknya mencium aroma bercak air itu, sampai membuat Ryan tersenyum-senyum geli sendiri.


"Kenapa bisa begini yah?" tanya Khaliza masih berpikir.


Ryan pun sibuk memeriksa aliran air yang tersumbat di kamar yang sebelumnya dibuat khusus untuk tamu.


"Hem, sepertinya ini sudah sulit diperbaiki harus dibongkar semua?" ucap Ryan.

__ADS_1


(Ketika Adinda dan Khaliza tidak di rumah, disanalah Ryan bekerja memanggil tukang profesional untuk membuat aliran air dan Wc menjadi tersumbat serta membocorkan genteng tepat mengarah ke kasur Adinda, sehingga ketika hujan, kasur perempuan itu menjadi basah, semua itu Ryan lakukan agar Adinda kembali pindah ke kamarnya seperti dulu dan bisa berbuat 'ehem-ehem' bersamanya, tanpa harus meminta dan memohon kepada wanita itu lagi)


"Tapi kenapa bisa rusak, bukankah kamar ini jarang sekali dipakai?" celoteh polos Khaliza.


"Untuk urusan genteng nanti bisa aku atasi, tapi untuk memperbaiki kamar mandi butuh banyak biaya, sudahlah, kamu balik saja tidur di kamarku?" ucap Ryan dengan santai kepada Adinda.


Dahi Khaliza terlihat berkerut menatap tajam pada wajah Ryan, ia seperti mencium aroma kejanggalan dari rusaknya kamar mandi juga bocornya atap genteng.


"Gawat, aku harus cepat-cepat kabur, Mama paling peka dengan diriku, bisa-bisa dia tau jika semua ini adalah ulahku!" gumam Ryan melangkah cepat keluar dari kamar itu.


"Untuk sementara diperbaiki, kamu balik tidur di kamar Ryan lagi yah?" pinta Khaliza kepada Adinda.


"Baiklah Mah?"


"Tidak apa-apa kan atau kamu mau di kamar Mama saja?" tanya Khaliza.


"Ouh, tidak usah Mah, Adinda akan kembali ke kamar Ryan, saat ini Ryan lagi butuh banyak uang untuk lepas dari X-Tren dan JFlash."


"Terima kasih, kamu bisa mengerti!"


"Iyah Mah!"


*


Tidak ada pilihan lagi, akhirnya Adinda kembali pindah ke kamar Ryan, pria itu sungguh pintar dengan triknya untuk menarik balik Adinda agar tidur di kamarnya.


Tampak Adinda sedang masuk ke kamar Ryan sambil menyeret kopernya, Adinda cukup terkejut saat mendapati Ryan sedang membaca buku bertel*njang dada di atas kasur.


"Apa yang terjadi? Kenapa dingin-dingin begini ia tidak pakai baju?" gumam Adinda🙄



Pria itupun melirik tajam kearah Adinda sambil berkata dalam hatinya;


"Sudah dua kali digempur, semoga saja, Ryan junior bisa tumbuh di rahimnya!"


"Hujan-hujanan begini si "jhon" butuh kehangatan juga!"


*


Adinda terus menyeret kopernya masuk ke dalam ruang ganti mereka.


Adinda kembali shock saat mendapati tidak ada lagi daun pintu yang menutup ruang kamar ganti mereka, sehingga siapa saja yang sedang mengganti baju di ruangan itu bisa terlihat jelas dari kasur dan meja kerja Ryan.


"Loh kemana pintunya?" gumam pusing Adinda kebingungan mencari-cari pintu itu.

__ADS_1


__ADS_2