
Ryan masih bungkam dengan semua panggilan di ponselnya, selama Adinda dalam rawat inap, di malam hari, Ryan terus berpikir keras sampai menghabiskan berbatang-batang rokok di teras kamarnya, merasa kesal, mengapa ia tidak bisa membaca jerat jitu Vita yang sedang menjebaknya di pesta itu.
"Wanita memang senjata yang paling ampuh!" sambil mengepal kuat tangannya penuh dendam.
Ryan sangat terpukul ketika dokter mengatakan janin yang sudah berbentuk manusia itu harus menjadi korban kelalaiannya, ia yang selalu membelikan makanan idaman untuk sang jabang bayi.
Apakah aku mencintai Adinda?
Karena kenyataannya, dari dulu aku selalu benci melihatnya jika ia sedang bahagia bersama pria lain, bahkan kebencian itu semakin parah ketika aku mendapati ia tengah hamil dengan Frans, perasaan apa sebenarnya ini, benarkah semua karena kecemburuan ku. Entahlah, kepalaku sakit sekali.
Gumam Ryan yang mulai menyadari tentang dirinya.
*
Ryan tidak bisa tidur, tidak bisa makan bahkan tidak konsentrasi bekerja, merasa khawatir, panik, selalu ada di rumah sakit, ia juga mengantar jemput Khaliza yang sesekali ingin melihat kondisi Adinda, namun Ryan hanya berada di luar saja tidak sanggup menatap wajah kesedihan Adinda.
Ryan masih mengabaikan semua panggilan di ponselnya, termasuk panggilan Frans dan enggan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan pria itu.
Nabila dan Ayahnya juga bekerja sama untuk memberikan support besar kepada Adinda.
***
Terlihat Lim beberapa hari belakangan hanya diam dan menghentikan semua aktifitasnya, ia menghabiskan waktunya hanya menatap galery foto-foto keluarganya yang terpajang manis di sebuah ruangan khusus. Namun semua terlihat kusam dan kurang terawat karena orang yang rajin mengupdate ruang galery foto itu adalah Yong Woong, bahkan fotografer merupakan kesenangannya.
"Ternyata Yong masih menyimpannya filenya dengan baik!" gumam pria itu dalam perasaan campur aduk, foto yang dikirim oleh Adinda adalah hasil karya Yong.
"Apa Tuan memanggil saya!" ucap Crush yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
"Mengapa kamu tidak mengatakan jika perempuan bernama Adinda itu telah mengirimkan banyak email kepadaku?" tanya Lim.
"Maaf Tuan, saya berpikir, Tuan tidak akan mungkin membacanya!"
"Yah seharusnya memang l begitu!" jawab pasrah Lim.
"Kembalikan semua aset Yong kepada ibu dan anak itu?" ucap Lim dengan sangat enteng.
Dahi Crush reflek berkerut tajam.
"Semudah itu!"
"Iyah, aku tunggu laporanmu dalam satu minggu ini, jangan beritahu kepada Tan dulu, Sampai kau selesai membuatkan laporannya untukku!" ucap Lim dengan gaya dinginnya, melangkah keluar ruangan meninggalkan crush yang terlihat kebingungan.
"Apa yang terjadi dengannya, semudah itu? wow Amazing? Apa ini ada hubungannya dengan surel dari istri Tan!" ucap Crush penasaran berlari mengambil tablet pintarnya, tergesa-gesa melihat isi email itu, namun sayang, Lim sudah menghapusnya.
"Aaargh! Harusnya aku membacanya terlebih dulu,"
"Seperti apa reaksi Tan jika ia mengetahui semua ini!"
"Beruntung Tan, menikahi wanita yang hebat, sebagai penawar keegoisan Lim!" ucap Crush masih tidak percaya dengan runtuhnya pertahanan ego keras dari seorang kaisar tinggi (Lim Woong)
***
__ADS_1
Diam masih menyelimuti Adinda di ruangan itu, ia berusaha bangun dari mimpi buruknya.
Dalam pikiran Adinda
Mama, mungkin Dunia bukanlah tempatku bermain, tempatku hidup dan mati, mungkin pula sampai disini saja perjanjian kebersamaan kita tertulis, aku akan hanya menjadi beban pertikaian dikehidupanmu selanjutnya, meski kita sudah berjanji akan hidup berdua, tapi Tuhan lebih tau dan inilah jalan yang terbaik, dimana Ayahku itu lebih memilih wanitanya daripada hanya sekedar mengakui ku sebagai anaknya.
Mama, terima kasih engkau telah rela memberikan aku kehidupan di rahim mu, meskipun tidak sampai pada waktunya, namun, disana aku sudah bahagia walau aku tau, batinmu terus menangis, aku hibur engkau dengan meminta makanan enak, supaya kita bisa makan bersama-sama.
Terima kasih Mama
Terima kasih Mama
Semoga engkau selalu bahagia dan aku berharap ada kehidupan selanjutnya yang bisa mempertemukan kita kembali."
I Love You Mama
**
"Adinda!" sapa lembut Nabila membuyarkan lamunan Adinda.
"Iyah Kak!"
"Hari ini, kamu sudah bisa pulang, Alhamdulillah, Dokter juga sudah mengatakan jika kondisi kamu sudah kembali normal!"
"Kak, mungkinkah Adinda banyak salah dengan Ayah!" ucap mewek Adinda.
"Jika nanti sudah sembuh, kakak janji, kita akan me time bersama!"
"Ya Allah, aku yakin sekali, semua ini ada hikmahnya, setiap musibah yang Engkau berikan, itu adalah jalan untuk kembali kepada kebenaran!" gumam Adinda mengelus lembut punggung adiknya.
"Adinda, kedepannya semua jalan hidupmu adalah milikmu, mulai saat ini, kakak tidak ingin menjadi otoriter lagi dengan kehidupanmu! Maafkan kakak yah?" ucap Nabila sudah berkali-kali mengatakannya.
"Iyah Kak!"
"Sekarang, kamu mau pulang kemana itu terserah kamu, selama tiga hari ini, Ryan tidak pergi kantornya, dia selalu ada di rumah sakit, tetapi dia tidak masuk untuk melihatmu, kakak rasa, mungkin ia merasa bersalah besar!"
"Kemana saja boleh kak!" jawab pasrah Adinda.
Tidak berapa lama seseorang mengetuk pintu.
"Sebentar!" ucap Nabila bergegas membuka pintu ruangan inap itu.
Terlihat berdiri tegak sosok Ryan yang memberikan hormat kecil kepada Nabila.
"Maaf, Adinda akan pulang kemana?" tanya lesu Ryan.
"Apa kau ingin bicara kepadanya?" tanya balik Nabila.
"Boleh!" angguk Ryan.
__ADS_1
"Masuklah!" Nabila melangkah keluar.
Langkah ragu dan hening Ryan mencoba menunjukkan dirinya yang sudah tiga hari bersembunyi dari Adinda setelah memastikan Adinda selesai dari proses kegugurannya.
Ryan tersenyum manis menatap Adinda.
"Bagaiman kondisimu!" ucap Ryan.
"Alhamdulillah baik, apakah Mama ikut?"
"Tidak, dia sedang menyiapkan tempat tidur untuk mu!" jawab Ryan.
"Adinda aku minta maaf!" pria itu langsung memeluk Adinda dalam tatapan kesedihan.
"Sudahlah, semua sudah terjadi, jika pun ia hidup, ia juga tidak akan memilik Ayah yang jelas!" jawab Adinda membuat Ryan semakin malu.
"Tidak apa-apa Ryan, kamu tidak perlu merasa bersalah, aku tidak marah kepadamu, justru aku berterima kasih karena kau selalu ada menolongku, entah itu dalam keadaan terpaksa ataupun tidak!"
Kata-kata Adinda membuat Ryan semakin terhanyut dengan kelembutan wanita itu.
"Aku akan usut tuntas kasus ini!" ucap Ryan.
"Tidak perlu, biarlah semua Allah yang akan membalasnya!" jawab ketabahan Adinda membuat Pria itu semakin takjub dengan sikap Adinda.
"Jika kau tidak ingin membalasnya, biar aku yang akan bekerja!" gumam Ryan masih tidak terima.
"Hari ini kau akan pulang ke rumah kan?" tanya Ryan.
"Terserah kamu saja!" jawab Adinda.
Ryan sontak tersenyum bahagia. Ia bangkit dengan cepat dan langsung bergegas membawa barang-barang Adinda yang siap sudah di packing.
"Eh, itu barang kak Nabila!"
"Ouh!" Ryan meletakkannya kembali dengan senyum cengengesannya.
*
Sesampai di mobil, Ryan begitu sibuk mengatur posisi duduk Adinda sampai dengan memakaikan safety belt wanita itu dengan sebaik-baiknya dalam posisi setengah tidur.
Adinda sempat terbengong dengan perhatian si Tanduk yang menurutnya cukup lebai.
*
Akhirnya Nabila tidak lagi memaksa Adinda Kemana langkahnya akan bergerak. Nabila dan Bram ikut mengantarkan Adik mereka itu dengan mengikuti mobil Ryan dari belakang.
*
Di balik suasana kesedihan itu, terjalin silaturahmi yang semakin erat, karena Khaliza sudah menganggap Adinda adalah putrinya sendiri, Khaliza sendiri sangat menyukai anak perempuan.
__ADS_1
***
Setelah Nabila dan keluarga pulang, Khaliza menuntut Adinda ke kamar, Namun senyum Ryan berubah saat arah langkah mereka tidak masuk ke kamar Ryan melainkan menuju kamar tamu.