
Ryan tampak terus mencari informasi dr Gunawan Smith yang ternyata kakek dan Neneknya adalah orang jerman asli yang merantau ke Indonesia. Gunawan sendiri lahir di Jakarta. Sangking kepo nya, Ryan juga mencari tau karir dan kekayaan sang dokter, mulai dari rumah dan mobil yang ia pakai.
"Ternyata ia hanya seorang pria tua yang tidak memiliki kekayaan fantastis, belum bisa dibandingkan dengan diriku!" gumam sombong Ryan, merasa Gunawan bukanlah saingan yang berat baginya.
Frans Albar masih menjadi saingan terberat Ryan dalam hitungan kekayaan, namun jika kekayaan Ryan dan Yong dikembalikan oleh sang Paman kepada putra tunggal Khaliza itu, maka secara otomatis Ryan akan menjadi pemuda yang berhasil menduduki kekayaan luar biasa atau salah satu konglomerat termuda.
Selama bekerjasama dengan X-Tren, Ryan tidak menyia-nyiakannya, Ia mulai menjelajahi dunia bisnis tambang.
*
Kian hari sifat dan tingkah laku Adinda semakin berubah, wanita itu lebih banyak memilih diam, membaca buku kisah-kisah perempuan-perempuan hebat, mendengarkan musik, bahagia dengan dirinya. Sedikit demi sedikit, ia mulai belajar tuntunan agama dari Khaliza, serta sesekali Adinda bangun di malam-malam yang sepi untuk menunaikan sholat tahajud, ada rasa malu di dalam dirinya sebagai hamba yang terlalu kotor dan hina, namun disanalah ketenangan sejati itu berhasil Adinda dapatkan, meskipun belum rutin, setidaknya ia sudah selangkah lebih maju untuk mendekati sang ilahi, menjalani hidup lebih pasrah, seperti yang selalu diajarkan Mama Khaliza.
"Mama tau, tidak mudah untuk menjadi tegar, tapi itu adalah jalan yang terbaik yang harus kita tempuh, tempah diri kita menghadapi masalah itu dengan sabar, pasrah serta ikhlas, maka kita akan jauh lebih tenang!"
Hal itu mulai Adinda praktekkan.
*
Adinda tetap menjalankan tugasnya sebagai peran istri sesuai tuntutan Khaliza, walaupun Vita Ayunda atau wanita lain semakin gencar pula menggoda dan mendekati Ryan Alaska, pelakor bertebaran dimana-mana, ibarat paku yang siap menusuk kaki, namun Adinda tetap santai dan tidak mempermasalahkan itu, ia juga tidak pernah bertanya tentang kehidupan pribadi Ryan apalagi berani menyentuh ponsel milik sang suami, baginya, itu bukalah urusan yang harus dia pikirkan.
Wanita itu tetap menyiapkan semua perlengkapan Ryan Alaska selama berada di rumah tanpa pernah menuntut apa-apa, terlihat bukan sebagai istri melainkan lebih kepada pelayan pribadi. Kehidupan keras itu harus Adinda jalani selama ia menikah dengan Ryan Alaska.
Bangun lebih pagi lalu menyiapkan sarapan suami, melawan rasa malas dan mual pagi yang mengganggu, serta berusaha belajar memasak dan membuatkan cemilan ringan untuk mendukung kinerja Ryan selama berada di rumah.
Adinda sudah tidak centil dan menggoda lagi di hadapan Ryan. Ia lebih fokus kepada dirinya, di waktu kosong, Adinda memilih bekerja dari ponselnya, membantu menjalankan dan mengembangkan bisnis Nabila secara online, ia juga sedang belajar membangun toko kosmetik online.
Adinda tidak mengantarkan bekal lagi ke kantor Ryan Alaska, jika lelaki itu meminta, Adinda hanya mengirimkannya lewat jasa go jek. Ia malas bertemu dengan Vita yang setiap hari berada di kantor Ryan, tidak ingin menjadi penghalang hubungan antara keduanya dan Khaliza mengerti kondisi Adinda.
Hampir setiap hari, Nabila mengirimkan gambar dan video lucu kepada Adinda, dengan tujuan untuk menemani kesepian adiknya itu, sebagai dosen psikologi Nabila mengerti, Adinda adalah sosok wanita yang mudah terpuruk, itu salah satu cara untuk menghibur sang adik.
Namun, seringnya Adinda tersenyum di hadapan ponselnya, ternyata mampu meresahkan Lirikan terselubung Ryan, sikap cuek Adinda membuat tanda tanya besar bagi pria itu, bahkan masuk dalam list terpenting dipikirannya, baik sedang berada di rumah maupun di kantor, namun Ryan merasa gengsi untuk mempertanyakannya, keduanya menjadi pasangan dingin yang membeku. Asyik dengan diri sendiri.
__ADS_1
"Ada apa dengan dirinya? Mengapa ia tidak seheboh kemarin?" gumam Ryan mulai rindu dengan sikap centil Adinda, untuk menjawab penasarannya, dalam percakapan rahasia, Ryan bertanya kepada ibunya.
"Adinda sakit yah Mah?"
"Mama tidak tau, Mengapa kamu tidak bertanya langsung kepadanya?"
"Tapi kan Mama setiap hari bersamanya!"
"Mama rasa dia baik-baik saja!"
"Hem...!" Ryan yang tidak puas dengan jawaban ibunya.
*
Kehamilan yang membesar, membuat Adinda terkadang sulit tidur nyenyak di malam hari, sampai tidak sadar, Adinda menyentuh tubuh Ryan, yang ia pikir tidak ada orang di sebelahnya, karena Ryan selalu pulang larut malam dimana Adinda sudah tertidur, bahkan sering tidak pulang.
"Eh, dia sudah pulang?" gumam Adinda terbangun memperhatikan Ryan yang sudah tertidur disebelahnya. Wanita itu tidak ingin membangunkan Ryan, meskipun Ryan mengetahui jika Adinda hampir setiap malam gelisah tidur, namun ia gengsi untuk bangun karena Adinda tidak memintanya.
*
"Hari ini aku tidak ke kantor?" ucap Ryan kepada Adinda.
"Kenapa?"
"Siang ini kita akan fitting pakaian untuk pesta Frans dan Nia!" pinta Ryan.
"Perutku semakin membesar jika memakai gaun, apa kamu tidak malu membawaku!" ucap Adinda.
"Yah mau gimana lagi, aku mau berenang dulu!" ucap santai Ryan.
Ryan yang asyik berenang, sementara Adinda berbincang-bincang dengan jasa tukang kebun langganan Khaliza, yang pagi itu datang untuk jadwal merawat bunga-bunga mahal milik Khaliza, kebetulan Khaliza sedang menghadiri pengajian di lingkungan itu dan sudah mewakilkannya kepada Adinda. tentu Adinda sangat menyukai tugas itu.
__ADS_1
Kebetulan si tukang kebun adalah seorang pemuda yang belum menikah dan ia memiliki sifat humoris yang tinggi membuat Adinda reflek tersenyum hingga tertawa disana, si jasa kebun itu tidak menduga jika Adinda adalah istri dari si pemilik rumah, kehamilan Adinda juga tidak terlihat karena pakaian rumahannya yang besar, pria itu berpikir Adinda adalah putri dari ibunda Khaliza mengingat si tukang kebun masih baru pertama kali bekerja menggantikan temannya yang biasa mengurus bunga Khaliza. Si tukang kebun yang polos itu semakin gencar merayu Adinda dengan nyanyian-nyanyian merdunya.
Melihat hal itu, Ryan pun sengaja berenang secara amburadul bak menggelepar di dalam air, hingga air kolam terpercik-percik kepada Adinda dan si tukang kebun. Namun kekesalan Ryan diabaikan keduanya. Bahkan suara nyanyian si tukang kebun Adinda semakin keras menghibur.
*
"Hoi bro?" panggil Ryan kepada si tukang kebun yang bersiap-siap hendak pulang, setelah semua bunga-bunga indah Khaliza terawat kembali dengan sempurna.
"Saya Mas!"
"Bukan, cicak yang ada di dinding!" ucap kesal Ryan ingin menelan hidup-hidup pria itu.
"Hehehe, jangan suka marah dong Mas! Nti darah tinggi loh!" jawab cengengesan si tukang kebun.
"Kamu tau siapa saya?"
"Kurang tau Mas!"
Ryan menunjukkan album foto pernikahan dirinya dan Adinda yang di pajang Khaliza di area tamu.
"Gawat! Suaminya si Mba tadi toh!"
"Mulai besok kamu tidak perlu lagi merawat kebun di rumah ku!"
"Loh kenapa toh Mas?"
"Aku tidak suka dengan kamu yang bekerja tidak becus?" hentak keras Ryan.
"Tidak becus atau dia sedang cemburu?" gumam si tukang kebun, padahal ia merasa kerjanya cukup sempurna.
"Pergi, sebelum aku menjadikan kamu sama seperti cicak di dinding!" Ryan melemparkan pisau lempar kepada seekor cicak hingga tewas terjatuh (sebuah lemparan tepat yang hanya bisa dilakukan seseorang yang memiliki keahlian khusus)
Sontak tukang kebun itu pergi dengan langkah lebih cepat sampai tersandung-sandung.
Ryan bergegas menelpon kantor jasa kebun dan meminta kepada staf kantornya mulai kedepannya, ia hanya ingin memakai jasa kebun wanita.
__ADS_1
*
Sore Hari Ryan dan Adinda berangkat menuju butik mahal untuk persiapan pesta Frans dan Nia.