
Malam yang penuh dalam tangisan kesendirian Adinda dan penyesalan Ryan Alaska.
Sudah hampir dua Minggu berlalu dari kejadian pilu Adinda, belum ada kabar dari Crush begitu juga dengan Frans yang akhirnya membatalkan pertemuan intimnya bersama Ryan untuk membahas masalah pribadi mereka, pria itu benar-benar tidak bisa berkutik karena Nia dan Aditama mendesak sang suami harus berangkat menuju Swiss. Selain untuk berbulan madu, mereka juga sedang melakukan kerja sama dengan perusahaan Asing disana, seperti tujuan Frans selama ini hingga ia rela menjadi budak cinta Nia Devira.
*
Setelah kejadian Adinda, sudah entah berapa kali Vita Ayunda terus menelpon Ryan, namun pria itu selalu mengabaikannya, bahkan Ryan tidak merespon email dari perusahaan JFlash milik Vita Ayunda, menolak setiap pertemuan bahkan Ryan mengabaikan semua bentuk jadwal kerjasama mereka. Hal itu membuat Vita geram kepada Ryan.
Gedung GMC
"kring!" Bunyi telpon dari staf area Lobi.
"Iyah?" Ryan langsung menerima panggilan itu.
"Maaf Pak! Nona Vita Ayunda sedang berjalan menuju ruangan Bapak, padahal saya sudah mengatakan, jika Bapak sedang tidak menerima tamu hari ini!"
"Ok, Baiklah!"
"Trup!"
*
Tidak berapa lama, Vita segera sampai menuju ruangan Ryan, bersiap-siap menyerang keberadaan pria itu yang sudah hampir dua Minggu bungkam dan menutup diri setelah kejadian Adinda. Sementara terlihat Ryan masih memikirkan jika ia harus lepas dari X-Tren dan bagaimana langkah selanjutnya.
Ryan yang posisinya benar-benar terjerat dalam kisah ini, disisi lain karirnya sudah mekar bersama X-Tren namun disisi lain pula ia mulai jatuh cinta kepada Adinda, artinya Ryan harus berani melepaskan X-Tren dan berdiri sendiri jika harus memilih Adinda.
"Setiap pilihan yang diambil pasti ada resikonya, entahlah, sampai disini aku benar-benar menyerah, seakan-akan cobaan ini tidak pernah usai!" mendongakkan kepalanya dalam sandaran sofa.
"Ryan!" panggil Vita yang memasuki ruangan kerja Ryan.
"Kau sengaja tidak mengangkat telpon ku, dan tidak merespon email dari para staf ku!" kata Vita dengan nada marah.
"Iyah, memangnya kenapa!" jawab santai dan dingin Ryan.
"Begini profesional mu dalam bekerja, kau selalu menghubungkannya dengan masalah pribadi?" protes Vita.
"Heh, suara mu terlalu muak terdengar di telingaku, itu alasannya, kenapa aku tidak menerima panggilanmu, jadi ini tidak ada hubungannya dengan Adinda!" jawab tegas Ryan dalam pandangan mata sadisnya.
Ryan bangkit mengambil berkas kerja sama bersama perusahaan JFlash.
"Mulai detik ini, GMC memutuskan hubungan segala bentuk kerja sama bersama JFlash,
Aku siap membayar konsekuensi pinalti darimu bahkan sudah menyiapkan pengacara khusus untuk ini!" perkataan tidak main-main dari seorang Ryan dan tidak ingin terlalu lama berdialog dengan Vita, ia sudah memikirkan tentangan kesulitan karir yang akan ia hadapi ketika memutuskan kerjasama dengan wanita itu.
__ADS_1
"Hahahaha!" menanggapi hal itu, Vita justru menertawakan Ryan.
"Kenapa pria itu terlalu egois untuk mengakui perasaannya, siapapun bisa melihatnya jika kau sudah tertarik dengan wanita itu. Ryan come on, aku hadir untuk mu agar kau membuka matamu lebar-lebar, untuk mengembalikan kamu seperti Tan yang dulu, hidupmu sudah cukup terpuruk karena telah memilih tinggal bersama ibumu dan apakah kebodohan itu akan terulang lagi, hanya karena kau berdiri membela bahkan jatuh cinta dengan seorang wanita bekas kekasih Frans. Nia punya sejuta Inteligen dia bukan wanita bodoh, jangan pikir Nia tidak tau permainan licik kalian, jika anak yang dikandung oleh Adinda 90% adalah milik Frans, Frans memaksamu menikahi Adinda hanya untuk menghapus jejak aibnya. Frans adalah milik Nia, ia tidak mungkin kalah dengan perempuan sampah seperti Adinda!"
"Baguslah, jika kalian sudah mengetahui rahasia busuk ini, aku juga sudah muak menjadi peran di dalamnya!"
"Karena Frans tidak punya daya untuk membantu si perempuan selingkuhannya itu, Ryan kembali lah kepada ku, aku tau kau menjadi korban disini!"
Tanggapan Ryan justru melemparkan pulpen tepat di atas berkas itu.
"Tanda tangan, walaupun ibuku dan Adinda adalah wanita bodoh, bagiku, kau jauh lebih bodoh, sehingga aku sudah memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan orang Bodoh! Meskipun Adinda wanita sampah, tapi dia lebih layak dicintai daripada kamu."
Pernyataan Ryan membuat Vita semakin berang.
"Kau pikir kau bisa berdiri tanpa X-Tren dan JFlash!" ucap Vita penuh dalam nada emosi.
"Hahaha, Vita - Vita, seorang Tan Woong saja masih bisa berdiri tanpa Woong apalagi tanpa dirimu, itu pasti jauh lebih baik! Kau hanya wanita murahan bahkan seperti sampah yang menjijikkan," makian Ryan.
Vita tidak terima dengan hinaan kasar Ryan hingga ingin bergerak menamparnya, namun dengan cepat Ryan menangkis tangan wanita itu dan menolaknya hingga tersungkur lalu memaksa Vita agar segera tanda tangan pembatalan bentuk kerja sama mereka.
Ryan mengusir Vita dari ruangannya.
"Awas kamu Ryan, akan aku tunjukkan X-Tren segera hengkang dari GMC!" ucap dendam Vita.
***
Dua Minggu berlalu kini Adinda kembali sehat, namun ia harus tetap memeriksakan kondisi kesehatannya. Hikmah dari kejadian itu, Adinda semakin sering berkomunikasi dengan dr Gunawan, membuat Ryan uring-uringan namun ia tidak bisa mencegahnya.
*
"Adinda, sepertinya kakak tidak bisa mengantarkan kamu pulang, karena satu jam lagi, ada jadwal pertemuan dengan mahasiswa!"
"Ouh tidak apa-apa kak! Adinda naik taxi saja, lagian ini adalah cek up terakhir!"
"Hati-hati yah! By!" ucap Nabila bergegas pergi meninggalkan Adiknya.
Setelah selesai cek up.
"Adinda, untuk vitaminnya kebetulan habis, kamu bisa membelinya di apotik terdekat saja?" pinta dr Gunawan.
"Iyah Dok, tidak apa-apa!"
"Ouh Iyah, kamu pulang sendiri?"
"Bisa naik taxi!" jawab cepat Adinda dengan senyum manisnya.
"Bagaimana jika saya antar saja, kebetulan saya juga ingin pulang, karena sedikit kurang fit?" ucap dr itu.
__ADS_1
"Tlililit!" tiba -tiba bunyi ponsel Adinda memutuskan percakapannya bersama sang dokter.
"Ryan!" gumam Adinda melihat panggilan masuk di ponselnya.
*
"Ada apa!" sapa Adinda dengan nada suaranya yang lembut.
"kata Mama, kamu pergi cek up?" tanya Ryan.
"Iyah, ini juga mau pulang!"
"Tunggu aku disana, aku akan menjemputmu!"
"... tapi!" ucap Adinda.
"Trup!" Ryan langsung menutup telponnya dan bergegas pulang sekaligus menjemput Adinda.
*
"Maaf yah Dok, Ryan sudah menelpon akan segera menjemput saya!"
"Ouh, tidak apa-apa, Adinda, jika kamu ada masalah, jangan sungkan untuk menelpon saya!"
"Terima kasih dok!"
Saat sampai, Ryan mendapati Adinda yang sedang ngobrol asyik dengan dr Gunawan.
"Adinda, jika sudah selesai, ayo pulang?" ajak dingin Ryan tanpa menegur dr Gunawan.
"Saya pulang dulu yah Dok, terima kasih banyak?"
"Sama-sama!" balas senyum manis dr Gunawan.
*
Rasa cemburu itu terpaksa harus tertahan di mulut Ryan, ia tidak bisa membatasi hubungan antara pasien dan dokter demi kesehatan Adinda.
"Aku mau beli vitamin dulu!" pinta Adinda.
Ryan tetap keluar dari mobilnya dan mengawal Adinda dari belakang.
kondisi apotik yang cukup ramai dan harus menunggu antrian.
Telah terjadi kesalahan pada seorang apoteker yang memberikan bungkusan mirip dengan milik Adinda hingga tertukar dengan pembeli lainnya.
__ADS_1
Vitamin yang dipesan oleh Adinda diberikan kepada seorang wanita yang memesan obat perangsang karena masalah hubungan ranjangnya yang kurang bergairah dengan sang suami, sedangkan obat perangsang itu justru diberikan kepada Adinda.
Wow guys..OMG apa yang bakal terjadi 😱😱😱😱😱😱