
Adinda dan Ryan adalah dua insan manusia yang masing-masing memiliki masalah hidup yang berbeda-beda.
(Adinda Aira ketika masa SMP merupakan salah satu anggota cheerleader yang cantik dan terfavorit oleh para siswa pria, kecentilan Adinda membuat ia masuk ke dalam daftar siswi yang dibenci oleh Ryan)
Wanita itu terus menatap wajah Ryan yang sedang tertidur, sampai ia melihat ada seekor nyamuk yang hinggap di dahi Ryan.
Reflek Adinda ingin mengusirnya dengan diam-diam mendekati wajah Ryan.
Ryan terhentak kaget dan terbangun membuat dahi dan hidung keduanya bertubrukan.
"Aw!" jerit kecil Adinda, Ryan juga merasakan hal yang sama.
"Apa yang kau lakukan?" hardik Ryan dalam wajah menekuk, ia cukup terkejut Adinda sudah ada di dekatnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa, tadi di dahi mu ada nyamuk, aku ingin mengusirnya!" jawab Adinda merasa malu, berdiri dengan cepat membuang wajahnya.
"Kau sudah sadar, baguslah! Kalau begitu, hubungi siapa saja yang bisa menemani mu malam ini disini, karena aku harus pulang!" ucap ketus Ryan.
"Tidak perlu ditemani, Jika kau ingin pulang, pulang saja!" jawab jutek Adinda.
Ryan tampak semakin kesal, mengambil ponsel Adinda lalu menyodorkannya.
"Telpon siapa yang bisa menemani disini atau kehamilan mu aku siarkan di media sosial?" ancam Ryan.
"Apah? Darimana kau tau aku hamil?" tanya Dinda cukup terkejut.
"Aku memanggil Dokter, untuk memastikan kau masih hidup atau sudah mati?" jawab sebel Ryan.
Tidak ada pilihan lagi, akhirnya Adinda menuruti kemauan Ryan.
"Aku hanya ingin ditemani oleh dua orang saja, Kakak ku, Nabila atau sahabat ku Vero!"
"Terserah, siapa saja boleh, itu bukan urusanku!" jawab jutek Ryan menunggu Adinda menelpon orang terdekatnya.
Adinda mulai menelpon dan mengeraskan suara panggilan itu agar terdengar oleh Ryan.
Adinda berkali-kali menelpon sahabat dan kakaknya tetapi tidak mendapatkan jawaban, sampai akhirnya Dinda merasa putus asa meletakkan ponselnya didepan Ryan.
"Lagian, dini hari begini, mana ada orang yang bisa stand by dengan ponselnya?" celoteh Adinda dengan kesal.
__ADS_1
Ryan diam tidak menjawab, namun ia merasa semakin jenuh berada cukup lama di rumah Adinda.
"Aku sudah katakan, jika kamu ingin pulang silahkan saja, aku sudah terbiasa sendiri disini, lagian untuk apa kamu menyelamatkan ku, hubunganku dengan Frans, aku ingin mati untuknya!"
Ryan tertawa sinis, semakin sebel dengan ucapan Adinda bukannya mengucapkan terima kasih kepadanya justru menyalahkan dirinya, Ryan berdiri menantang Adinda sambil menahan emosi yang sebenarnya ingin meledak-ledak.
"Dasar perempuan bodoh, apa yang ada di otakmu, kau kira mati itu enak, Frans akan menangis lalu akan melajang seumur hidupnya? Hahahaha...tanpa kamu, ia tetap akan bahagia dengan wanita lain bahkan sampai detik ini saat kondisimu terpuruk sekalipun, dia tidak datang menemui kamu, harusnya saat ini dia ada disini, apa itu yang kau sebut dia mencintai mu?
Mestinya kau bunuh diri saat sedang bersama Frans bukan saat berada di lingkaran ku!"
Adinda terdiam tertegun.
"Ryan benar!" batin Adinda yang akhirnya menundukkan kepalanya dalam mata berkaca-kaca.
"Demi menyelamatkan kamu, tangan kanan ku menjadi korban, tangan yang sangat aku butuhkan, memang benar, bukan tugasku untuk menyelamatkan dirimu, tapi karena ini perintah dari Frans, aku terpaksa melakukannya, sangat-sangat terpaksa, besok juga, aku akan mengundurkan diri jadi Bodyguardnya!" Ryan terus mengomel.
"Kenapa?" tanya Adinda.
"Karena kedepannya bakal banyak mengurusi hidup mu?" Jawab jutek Ryan.
Adinda terdiam dalam wajah cemberutnya. Keduanya terus cekcok saat pertama bertemu.
"Tapi aku tidak heran jika kau hamil begini, karena kau memang perempuan terlalu murahan kepada pria kaya!" Ryan belum juga puas berhenti mengomel.
Namun, Ryan tidak menjawab, ia memilih diam terduduk lemas, bersandar memejamkan matanya.
"Aku tidak pernah menganggu mu, dulu kau juga suka usil kepadaku, aku salah apa?"
"Sudah diam lah, Aku lapar sekali, sebaiknya pesankan makanan, akibat menolong kamu, aku tidak sempat makan malam, kau harus bertanggung jawab!" celoteh Ryan masih memejamkan matanya bersandar di sofa.
"Dini hari susah pesan makanan online!" bantah Adinda lagi.
"Ini kota, bukan kampung!" hardik Ryan lagi.
Ryan tampak meringis menahan lapar. Tidak sampai hati, akhirnya sekretaris cantik Frans itupun berinisiatif membuatkan ikan kaleng segar stok makanan di kulkas. Adinda menghidangkannya bersama nasi hangat lengkap dengan air putih dan sari kacang hijau.
Setelah makanan terhidang, Adinda menghampiri Ryan kembali.
"Makanlah, aku sudah siap memasak!" kata Adinda.
__ADS_1
Aroma Harum ikan kaleng yang segar membuat Ryan semakin lapar, ia pun berjalan lambat menuju meja makan.
Sementara Adinda terlihat merapikan kembali dapurnya.
"Kau tidak memasukkan racun kan di dalamnya?" ucap Ryan memandangi makanan itu.
"kau pikir aku si gila dirimu?" jawab geram Adinda.
Ryan mulai menyadari jika tangan kanannya sedang dalam pengobatan, ia mencoba menggunakan tangan kiri namun kesulitan memilah antara daging ikan dan duri. Lelaki itu terbengong lesu, hanya bisa minum saja.
"Kenapa kau tidak memakannya, bukankah kau sangat lapar!" tegur ketus Adinda.
Ryan diam saja, dalam raut mengeluh dengan kondisi telapak tangannya yang sedang dalam balutan perban.
Lagi-lagi Adinda merasa iba, ia duduk di depan Ryan dan mulai menyuapi pemuda itu.
Ryan sempat kaget dengan aksi Adinda yang tidak sungkan menyuapinya.
"Mau makan atau tidak?" ucap jutek Dinda.
Saat Ryan ragu membuka mulutnya, dengan cepat Adinda mendorong satu sendok suapan ke dalam mulut Ryan.
Sejenak Ryan terbayang dengan kata-kata ibunya;
"Ryan, Mama adalah wanita yang berhak menyuapi kamu, jika ada wanita lain artinya dia adalah istrimu!"
Reflek Riyan langsung terbatuk-batuk, panik meneguk air putih dengan cepat.
"Hei...Apa kau baik-baik saja!" tanya Adinda.
"Ti...ti...tiidak perlu menyuapiku, tolong pisahkan saja duri halus ikan kaleng itu karena aku tidak bisa menelannya, biar aku makan sendiri saja, aku tidak terbiasa di suapi!" pinta Ryan.
Adinda menuruti keinginan Ryan. Namun tetap saja Ryan kesulitan makan dengan menggunakan tangan kiri hingga butiran nasi berjatuhan di atas meja dan lantai.
Adinda merampas kembali piring itu dan kembali menyuapi Ryan!
"Jangan kotori rumah ku, aku sangat benci dengan semut api, kau hanya menambah pekerjaan di rumahku ini!"
Demi mengobati perut yang lapar, Ryan terpaksa makan dari tangan suapan Adinda.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan Mama itu pasti sebuah mitos, mana mungkin aku berjodoh dengan si Adinda ini!" gumam Ryan.
"Karena kau sudah menolongku jadi aku harus bertanggung jawab untuk menyuapi mu, jangan berpikir yang aneh-aneh!" ucap Adinda.