Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 39 Hari Pertama di Rumah Mertua


__ADS_3

Siang menjelang sore hari yang cukup cerah, Terlihat Nia Devira mulai sibuk kembali merancang pernikahannya bersama Frans, ia tidak ingin pestanya kalah mewah dengan pernikahan Ryan Alaska dan Adinda Aira, namun pernikahan itu lagi-lagi harus mengalami kemunduran karena jadwal pekerjaan Frans dan Aditama yang belum rampung.


Tampak Frans mengirimkan sebuah pesan kepada Ryan Alaska sambil duduk termenung, otaknya terus berpikir dengan peran yang sedang ia mainkan.


"Apakah Ryan akan kembali kepada Woong??? Mungkinkah seorang Lim akan mengambil keponakannya itu lagi...


Huuuft, entahlah aku harap skenario ini berjalan dengan sempurna, aku yakin Ryan dan Adinda tidak akan saling menyukai!" gumam Frans Albar mulai harap-harap cemas.


***


Setelah lama berada dalam kamar mandi, akhirnya Ryan keluar dan langsung berganti pakaian rumah.


"Aaargh, segarnya!" ucap pria itu merasa kembali tenang.


Di atas bufet cantik, Ryan membuka ponselnya lalu melihat pesan singkat dari Frans Albar.


"Aku percaya kepada mu, jika kau tidak akan menyentuh Adinda dan dia bukanlah wanita yang kau sukai!"


Ryan tidak membalas, ia kembali meletakkan ponselnya begitu saja sembari berkata;


"Takut banget sih, Huuuft, kayak enggak ada perempuan lain aja di dunia ini yang harus aku sukai, si centil malah di ributin. OGAH!!!"


Ryan berjalan menuju kasur, pria itu terkejut saat melihat Adinda sudah tertidur pulas di ranjang miliknya.


"Hais, belum mandi dan bersih - bersih, langsung tidur, jorok banget nih anak! Gayanya sok cantik, ngaku bidadari surga!" ocehan Ryan sambil mengambil bantal lalu, ia terpaksa memilih tidur di sofa.


Ketika senja mulai datang, keduanya tak kunjung keluar dari kamar. Khaliza merasa penasaran dan kepo kecil terhadap anak dan menantunya itu.


Semakin Khaliza melekatkan daun telinganya di pintu, semakin ia mendengar sayup-sayup suara pertengkaran kecil mirip kumbang lagi berebut madu.


"Ngung....ngang...Ngung..ngang...ngiung...ngiung...ngiung.......cuit....cuit....tak....tak...drem...ciut...ciut.. drup...."


"Cek...cek...cek...Apa saja sih yang mereka ributkan, sudah persis seperti anjing dan kucing, sulit berdamai," gumam Khaliza geleng-geleng kepala tidak habis pikir dengan keduanya.


"Mungkin karena mereka sebaya dan sama-sama masih ego?" ibu satu anak itu berusaha memaklumi sifat Ryan dan Adinda, kemudian ia kembali menuju dapur dan menghampiri Surti pelayan mereka, yang akan segera pulang ke rumahnya karena tugasnya sudah hampir selesai.


Di dalam kamar, ternyata Adinda dan Ryan ribut mempermasalahkan wilayah batas ranjang tempat tidur mereka dan minta gantian untuk tidur di atas kasur, kemudian lanjut ribut lagi masalah lemari pakaian.

__ADS_1


"Ryan kamu tu pelit banget sih, masalah lemari aja kamu enggak bisa berbagi!"


"Jangan keluarin baju aku dong?" protes marah Ryan.


"Aku pasti susun kembali, lemari pakaian kamu ni berantakan sekali," ucap culas Adinda.


"Besok aku janji akan belikan lemari khusus buat kamu, aku enggak mau bersatu dengan baju kamu yang murahan-murahan itu!" balas Ryan membuat Adinda sakit hati.


Adinda menarik tangan Ryan keluar dari ruangan pakaian itu, tidak terima dengan ucapan Ryan dalam emosinya ia mengigit, tangan sang suami.


"Aaargh!" jerit Ryan reflek menarik cepat tangannya.


"Dasar Gila, Kanibal!" hardik Ryan marah.


"Kau yang Gila!" tantang Adinda.


Ryan juga tidak mau kalah menarik ikatan rambut Adinda sampai lepas hingga rambut wanita itu tergerai indah, Adinda semakin emosi terus mengejar Ryan di area kamar itu mereka berlarian sampai akhirnya menuju kasur, Adinda mendorong keras tubuh Ryan, keduanya terjatuh di atas kasur.


Perseteruan sengit yang juga pernah terjadi saat masa sekolah dulu, Adinda memberi peringatan hebat kepada Ryan yang suka jahil kepadanya, kini terulang lagi.



"Aaaaaaaargh!" jerit histeris Ryan sampai terdengar di telinga Khaliza dan Surti.


"Astaghfirullah, anakku, apa yang terjadi!" Khaliza bergegas berlari namun Surti menarik tangan Khaliza.


"Bun, jangan ganggu mereka ah!" ucap Surti si pelayan, janda beranak dua itu.


"Loh, Ryan itu menjerit kesakitan, saya harus lihat, gimana kalau terjadi apa-apa pada mereka!" ucap Khaliza yang di anggap polos oleh Surti.


"Halah Bun, kayak enggak pernah mengalami begituan aja deh ah! Surti yakin itu pasti jeritan enak Bun, mereka kan masih pengantin baru, masih hot-hot nya, tentu lagi saling pecah dooong! iii gemesin, iya...meskipun sakit tapi kan enak Bun🤤!" (Meong🐈meong🐈 ucap Surti dalam traveling aduhainya)


"Hem, udah deh Sur, mending kamu pulang aja, karena kamu tidak tau fakta yang sebenarnya!" jawab Khaliza menarik tangan Surti menuju pintu keluar.


"Loh-Loh Bun, area belakang belum di sapu!" protes Surti belum ingin pulang.


"Sudah besok saja lanjut lagi, lagian aku sudah ada menantu, nanti biar dia yang sapu!"

__ADS_1


"Bun, jangan lupa ceritakan adegan berikutnya yah🤗"


"Uuh, dasar kamu kepo!"


"Hihihi, Surti tertawa geli di atas motornya!" meski Khaliza adalah majikannya tetapi kedua cukup akrab. Surti sudah bekerja hampir 3 tahun bersama Khaliza bahkan ketika Yong masih ada, Surti pelayan yang rajin, baik dan jujur, ia juga janda yang ditinggal mati oleh suaminya dan harus bekerja keras untuk melanjutkan hidup demi membesarkan dua orang anaknya. Khaliza cukup nyaman dengan wanita itu, karena merasa nasib mereka hampir sama.


*


Khaliza tergesa-gesa berjalan cepat menuju kamar Ryan dan masuk tanpa mengetuk pintu.


Sosok ibu itu terkejut melihat Adinda dan Ryan sudah sama-sama bergulat di atas ranjang.


Ryan tau ibunya masuk secara tiba-tiba, pria itu berusaha ingin menutupi pertengkaran mereka dengan mengajak Adinda tidur berpelukan, namun Adinda menolak dan terkejut melihat kedatangan ibu mertuanya itu dengan tatapan marah.


"Ta... Tante!" ucap gugup Adinda.



"Dari tadi Mama mendengar suara keributan di kamar ini, apa sebenarnya yang sedang tejadi!" hentak Khaliza.


"Hehehehe, tidak ada apa-apa kok Mah, biasalah, si Adinda ini suka sekali cari masalah!" tuduh Ryan yang selalu buat jengkel Adinda.


Mendengar ucapan Ryan Adinda tidak terima.


Wanita itu menangis tersedu-sedu sambil berkata kepada Ibu mertuanya bahwa Ryan tidak adil kepadanya, tidak ingin berbagi kamar mandi, kasur bahkan lemari pakaian.


"Tante, Adinda tidak mau satu kamar dengan Ryan...Hiks....hiks...hiks...!"


"Mari kita bicarakan di luar saja!" ajak Khaliza mendudukkan keduanya secara duduk berdampingan.


Suasana sempat senyap lalu Khaliza mulai berbicara.


"Kalian bukan anak kecil lagi kan, jadi belajarlah berpikir secara dewasa. Ryan dan Adinda, Mama tau, pernikahan kalian itu bukanlah karena saling mencintai, melainkan ada hal-hal kepentingan pribadi yang membuat kalian harus menikah. Tapi disini sebagai orang tua, Mama tetap menginginkan hal terbaik untuk kalian, bukan mau ikut campur, tetapi lebih mencari solusi. Kalian itu memiliki tujuan masing-masing, sebaiknya harus saling mendukung, bukan membenci seperti ini!!!"


Keduanya tanpa diam saja.


"Mama ingin kalian tetap menjalankan, kewajiban sebagai peran Kalian masing-masing! Masalah kecil itu tidak perlu dibesar-besarkan, itu lebai namanya!" hentak tegas Khaliza.

__ADS_1


Tidak ingin berbicara panjang lebar, Khaliza ternyata sudah menyiapkan untuk Ryan dan Adinda sejak keduanya memilih untuk menikah. Ia mengeluarkan sesuatu dari laci meja ruang tamu yaitu dua lembar kertas putih, berisikan tulisan tentang peraturan yang wajib mereka lakukan.


__ADS_2