Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 38 Kehidupan Baru Adinda.


__ADS_3

"Ini seperti Babak baru dalam kehidupan ku, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, aku akan menikah dengan pria yang tidak aku sukai, apalagi sangat aku benci ketika kami masih satu sekolah di SMP, tapi itulah cerita kehidupan, tidak ada yang pernah tau langkah selanjutnya seperti apa? Aku hanya pasrah, semua ini ku lakukan demi kebahagiaan kakakku Nabila, aku tidak ingin mengecewakannya, tidak ingin mengubur harapannya, meski aku pernah terpikir untuk bunuh diri!"


"Assalamualaikum, Mah...Mamaaaah!" panggil Ryan dengan suara merdunya, membuka pintu yang tidak terkunci.


"Wa'alakumsalam!" jawab Khaliza menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan senyum bahagia.


Ryan langsung memeluk ibunya.


"Siang Tante!" ucap Adinda sopan dan masih canggung sebagai menantu di rumah itu, ia Langsung mencium tangan sang ibu mertua.


"Ayo masuk!"


"Baik Tante!" Adinda berusaha keras menarik kopernya yang besar itu.


"Kalian pasti lapar kan, kita makan dulu yuk! Mama sudah masak masakan spesial untuk kalian!"


"Terima kasih yah Mah!" jawab Ryan menggandeng ibunya.


"Ayo Dinda, kopernya taruh disitu saja dulu!"


"Baik Tante!"


Ketiganya berjalan mendapatkan ruang meja makan.


"Untuk pertama kalinya aku tinggal bersama orang yang tergolong baru saja aku kenal di kehidupan ku. Kata orang, mertua itu galak, tapi aku berharap Bunda Khaliza bisa menyatu dengan diriku dan perlahan aku ingin mengajarkan kepada diriku bahwa aku bukanlah menantu yang istimewa di rumah ini, melainkan seorang pelayan!"


"Selamat datang di rumah kami Adinda, maafkan segala kekurangan dalam penyambutan saya sebagai ibunda Ryan" ucap lembut Khaliza.


"Ouh, Tidak ada kurangnya Tante, ini sudah hebat sekali!" jawab Adinda dengan nada lembut.


"Mari makan!" ucap Ryan yang tanpa banyak drama langsung menyantap hidangan masakan ibunya.


Ketiganya makan dengan hikmat.


"Meski hidup sendiri itu enak dan bebas, tapi sejujurnya bersama-sama dengan keluarga lah yang jauh lebih nikmat, semoga aku betah tinggal di rumah ini yah Allah, aku janji akan menjadi lebih baik dan terus belajar tentang hidup."


Setelah makan. Dinda bergegas mengangkat piringnya dan langsung mencucinya.


"Tinggal bersama mertua gak boleh bermanja-manja, ayo Dinda kau harus tetap semangat!" batin Adinda, terlihat Ryan dan ibunya sedang ngobrol berdua di meja makan.


Sehabis mencuci piring, wanita itu kembali menggeret kopernya.


"Tante, Dinda mau taruh barang-barang di kamar?"


"Kamar kamu disana!" tunjuk Ryan pada sebuah kamar tamu.


Dengan patuhnya Adinda langsung ingin melangkah menuju kamar tamu dan itu tidak masalah baginya.


"Ee..eh!" tegur cepat Khaliza.


"Maksudnya, kalian mau pisah kamar begitu!"

__ADS_1


"Iyah dong Mah!" jawab cepat Ryan.


"Lantas buat apa kalian menikah?"


"Loh, Mama tau sendirikan status pernikahan kami seperti apa?" bantah Ryan.


"Ryan, apapun statusnya, Adinda ini sudah menjadi istri kamu, kalian wajib satu kamar!"


"Mah!"


"Mau berhubungan badan atau tidak, itu kan urusan kalian masing-masing, yang pasti Mama sebagai pemilik rumah, sudah terbebas dari dosa yang membiarkan sebuah hubungan suci berpisah tempat!"


"Huuuft!"


"Tante, Adinda tidak Masalah mau tidur dimana saja juga boleh!"


"Sekalian saja kamu tinggal di kolong jembatan, kalau memang tidak masalah!" ucap kesal Ryan.


"Aduh!" Mendengar ucapan kasar putranya, Khaliza langsung memegang dadanya.


"Tante, baik-baik saja!" ucap khawatir Adinda menghampiri Khaliza.


"Tidak apa-apa! Mungkin saya kelelahan!"


"Minum dulu Tante!" Adinda dengan sigap mengambilkan air untuk ibu mertuanya itu.


Melihat hal itu, Ryan tidak ingin berdebat lagi, terpaksa mengangkat koper Adinda masuk ke dalam kamar pribadinya.


"I...Iyah Tante!"


Untuk pertama kali juga aku menatap wajah Bunda Khaliza dari dekat, sebuah tatapan teduh yang membuat aku nyaman di dekatnya, ia sama sekali tidak menunjukkan aura antagonis seorang mertua seperti persepsi ku sebelumnya dan sebagian orang-orang di luar sana. Ia juga tidak menunjukkan sikap penolakan kepadaku yang sedang mengandung anak dari hasil hubunganku dengan lelaki lain, penampilan dari sosok seorang istri dan ibu tangguh juga sabar.


*


Adinda menyusul masuk ke dalam kamar Ryan.


"Nanti malam aku tidur di kamar tamu saja!" ucap jutek Adinda.


"Tidak perlu, kau tidur di sofa itu!"


"Aku tidak bisa tidur di sofa, punggungku sakit, tidak luas!" jawab Adinda tidak mau kalah.


Ryan menghela nafas.


"Kalau begitu kita gantian, satu malam tidur di bawah, satu malam lagi tidur di atas!"


"Lebih baik aku tidur di kamar tamu!" jawab Adinda.


"Dinda, kamu paham enggak sih??


ibu ku memiliki riwayat jantung koroner, ia tidak bisa terjepit dalam tekanan masalah, kalau ia sudah katakan tidak setuju, tolong jangan dibantah, mengerti!"

__ADS_1


Adinda terdiam dalam wajah cemberutnya menatap Ryan.


"Di kamar ini aku mau buat peraturan khusus. Pertama, jangan buka pakaian sembarangan dan menaruh pakaian dalam di sembarang tempat, ganti pakaian itu khusus di kamar pakaian dalam keadaan pintu terkunci.


kedua, berpakaian tidur yang sopan tidak boleh terbuka sedikitpun, apalagi pakaian minim.


ketiga, tidak boleh menggunakan kamar mandi pribadi milik Ryan Alaska."


"Hah!" tanggapan bengong Adinda setelah mendengar peraturan ketiga.


(Ryan tidak ingin melihat Adinda kepergok tidak pakai pakaian di kamar mandi sekaligus tidak ingin barang-barang pribadinya di pakai oleh Adinda)


"Lalu aku harus pakai kamar mandi siapa?" tanya Adinda.


"Kamar mandi dapur, kamar mandi tamu juga boleh, kamu tinggal pilih!" jawab santai Ryan menyapa Adinda.


"Pelit banget sih kamu, Ryan. Masalah kamar mandi aja enggak bisa di pakai?" protes Adinda.


"Kamar mandi itu pribadi buat aku, orang lain seperti kamu tidak bisa memasukinya.


Ryan meninggalkan Adinda dalam wajah santai menuju ruang pakaian.


"Dasar peliiiiit!" teriak Adinda dengan wajah jeleknya 😡😡 ingin menguyah Ryan.


Namun Ryan tidak perduli berjalan menuju ruang pakaian mengganti bajunya.


"Iiiii, benci bangeeeet, kalau begini apa aku sanggup tinggal bersamanya sampai melahirkan nanti...Ouuh!" gerutu Adinda menjatuhkan diri ke kasur.


Adinda sempat terdiam menikmati kasur itu dan serasa mengantuk dalam rebahan nya. Beberapa hari ini, ia cukup lelah.


"Empuk sekali kasur ini! Pokoknya Aku enggak mau tidur di bawah!" tekad Adinda.


Tidak berapa lama Ryan keluar hanya dengan menggunakan handuk menuju kamar mandinya, ia ingin membersihkan diri setelah kurang puas mandi di kamar mandi yang bukan milik pribadinya.


("Duh repot sekali jika si Adinda ada di kamar ini, biasanya aku langsung berjalan bebas ke kamar mandi!" gerutu Ryan)


Ryan terpaksa keluar dari ruang pakaian hanya memakai handuk kecil penutup bagian kejantanannya saja. Hal itu sontak membuat dua bola mata Adinda melirik cepat ke arah tubuh kekar Ryan yang tanpa tertutup apapun, di pundaknya ada tato kecil bertuliskan lambang huruf W, sejenak Ryan terhenti membuka pintu kamar mandi dan tubuh kekar menggoda itu otomatis menjadi sorotan kecil Adinda.


"Wah🤤uh!" otak mesum Adinda langsung traveling kemana-mana karena sudah sempat merasakan belaian pria.


Setelah Ryan masuk ke dalam kamar mandi, Adinda menepuk jidatnya berkali-kali sambil berkata;


"Jangan gila Adinda, jangan gila, jangan gila, tetap sadar, tetap sadar!"


Meski mereka sudah sah menjadi suami istri, Ryan tetap konsisten dengan perjanjiannya kepada Frans, tidak akan menyentuh Adinda.


Tidak ada malam pertama ❌, tidak ada belaian suami❌


*


*

__ADS_1


Pembaca harap bersabar 😭😭


__ADS_2