Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 40 - Persyaratan Dari Khaliza


__ADS_3

Adinda Aira dan Ryan Alaska langsung membaca isi perjanjian atau persyaratan yang diberikan oleh Mama Khaliza.


Kewajiban Adinda Aira sebagai peran istri;


1 Memanggil Ryan dengan sebutan, Mas, Abang, Kakak, atau sebutan yang tersayang atau terhormat lainnya.


2 Wajib berhias untuk suami.


3 Bangun lebih awal, membuatkan sarapan dan membantu menyiapkan segala keperluan kantor suami.


4 Di dalam rumah istri wajib menemani suami makan sampai dengan selesai, serta sering membuatkan cemilan dan minuman sehat lainnya.


5 Menyambut suami pulang kerja, selain menghidangkan makan dan minum juga membantu suami melepas lelah seperti memberikan pijatan ringan, berbincang ringan atau lain sebagainya.


6 Tidak boleh menghardik suami, menentangnya, selagi perintah itu membimbing kepada kebaikan.


7 Wajib meminta izin kepada suami kemanapun, seorang isteri melangkah keluar dari rumah.


***


Ekspresi Adinda menelan ludah.


"ngenak-ngenakin si Tan duk (Woong-duk) dongs,🤥!" batin Adinda.


***


Kewajiban Ryan sebagai Suami.


1 Wajib memberikan nafkah kepada istri lahir dan batin.


2 Di larang keras berkata kasar, menghardik, bercanda berlebihan, apalagi sampai mempermalukan istri di depan orang lain, belajar mencintai dan menyayanginya.


3 Menghargai sekecil apapun kerja keras seorang istri.


4 Wajib memakan dan minuman buatan istri meskipun rasanya tidak enak.


5 Memberikan contoh dan sikap yang baik kepada istri sebagai imam keluarga.


Keduanya membaca dengan detail.

__ADS_1


***


"Wah, poin dua seram amat, Belajar mencintai dan menyayanginya si centil👺!" gumam Ryan berpikir tajam.


***


"Apapun yang Mama inginkan Ryan akan lakukan tapi, Ryan tidak bisa sempurna memenuhi nafkah batin Adinda yaitu berhubungan suami istri dengannya! Tolong jangan paksa kami, Mah!" ucap Ryan memohon.


"Mama tidak memaksa, hal itu tetaplah akan menjadi urusan pribadi kalian!" senyum tipis Khaliza.


"Tapi Mah...!" Ryan masih mencoba untuk protes, namun Khaliza langsung tegas berkata;


"Jika kalian tidak terima dengan keputusan ini, silahkan keluar dan mencari rumah serta kehidupan di luar sana, Mama sudah lelah dengan yang namanya konflik, jantung ini sudah tidak tahan!"


No Debat, Ryan bangkit dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Khaliza dan Adinda.


"Tapi...Tante!" ucap Adinda ingin protes juga.


"Mulai hari ini panggil saya Mama, jangan Tante lagi, menantu juga anak kan!" potong Khaliza, sosok ibu itu sudah tau Adinda akan protes juga.


"Baiklah Mah!" Angguk patuh Adinda.


"Iyah Mah!" Adinda menunduk malu.


"Kamu itu kan sudah berzina, Zina merupakan salah satu dosa besar, dosa yang tidak terampuni kecuali dengan taubat nasuha. Apakah dengan taubat itu cukup? Tentu tidak, Taubat itu juga harus diiringi dengan kebaikan dan benar-benar berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi.


Kalau ada yang harus disembah istri selain Tuhan, dia adalah suami. Istri yang taat kepada suaminya sudah pasti jaminan surga untuknya. Disini lah kamu mengambil kesempatan untuk mencuci sekaligus menghapus, jejak dosa-dosa masa lalu kamu yaitu menjadi istri Sholehah untuk suamimu di rumah, karena apapun status pernikahan ini, kalian tetap saja suami istri, tidak ada yang bisa membantahnya termasuk Frans!"


"Maaf Tante, tapi Ryan tidak menyukai Adinda, apapun yang Adinda lakukan akan selalu salah di mata Ryan, bagaimana Dinda bisa melakukan ini untuknya?" ucap Adinda dalam raut wajah kebingungan.


"Saat ini memang tidak ada cinta diantara kalian, selain keterpaksaan dan pertengkaran, itu bukanlah solusi kebaikan. Adinda, kunci sikap suami kepada kita adalah kita sebagai istri. Yong dan Tan itu hampir sama, kepala batu dan egois, Alhamdulillah Mama bisa luluhkan dengan kesabaran, kau juga harus melakukan hal yan sama, hanya bermodal sabar untuk menghadapi Ryan, semakin kau bersikap arogan, keras kepala ia tidak akan pernah luluh sampai kapanpun, ibarat kau terus menyiram bensin maka api akan selalu berkobar dan kau sendiri nanti yang akan terbakar. Hadapi Ryan dengan kesabaranmu, ketulusan, kelembutan, keikhlasan, kepala dingin dan banyaklah mengalah, ini adalah alan terbaik yang akan kau tempuh.


Adinda terdiam melompong.


"Pernikahan ini hanya sementara Mah, hanya satu tahun saja!" bantah Adinda menunduk sedikit, mencintai Ryan bukalah tujuan Adinda.


"Memang Cinta Ryan bukanlah tujuan kamu, tetapi tujuan kamu adalah mendapatkan cinta dari Ilahi, serta Rahmat dan kasih sayangnya, sebagai Tuhan yang akan menghapus jejak dosamu, Mama hanya memberitahukan jalannya saja, Percayalah Dinda, jika kau sudah berhasil mendapatkan cinta Allah, maka kau sudah pasti akan bahagia di dunia ini maupun di akhirat nanti, yaitu kebahagiaan yang benar-benar diinginkan oleh hati mu yang saat ini penuh kebencian serta luka yang amat sakit!"


Sontak mata Adinda berkaca-kaca.

__ADS_1


"Terima kasih Mah, sudah menerima Adinda dengan segala kehancuran ini, hampir 10 tahun lamanya, Adinda tidak merasakan kasih sayang dan perhatian seorang ibu lagi, hiks...hiks...!" peluk Adinda.


Khaliza mengelus manja rambut Adinda yang sudah menjadi anak perempuannya itu.


"Lakukan pelan-pelan saja, kau pasti bisa!"


Adinda reflek mengangguk cepat dalam pelukan Khaliza.


("Mama, apakah mertuaku ini adalah sosok reinkarnasi kamu di dunia ini, sentuhan lembut tangannya sama dengan tanganmu, menguatkan jiwaku yang hancur, saat kita bertemu dengan seseorang yang bisa menerima kita apa adanya lalu memberikan perhatian tanpa ragu sedikitpun, ini seperti meneguk air surga yang mampu membuat jiwa tandus ku hidup kembali!" gumam Adinda dalam tetesan airmata)


"Apa yang bisa membuat mama bahagia? sebagai ucapan terima kasih itu Adinda akan lakukan," tanya mewek wanita itu dengan pipinya yang basah.


"Melihat Ryan bahagia, memiliki keluarga sakinah mawadah warohmah, keturunan, juga lepas dari tekanan kemaksiatannya yang setiap hari akan menghampirinya."


"Hanya itu saja, Mah!"


"Iyah! Hanya itu saja!" angguk Khaliza dengan senyum manisnya.


"Jaga kehamilan kamu yang masih muda jangan terlalu bergerak berlebihan (pecicilan)!"


"Baik Mah!"


*


Ryan lanjut tidur dengan pulas di atas ranjangnya, sementara Adinda dengan sabar merapikan pakaian mereka yang berserakan dan lanjut membersihkan kamar Ryan yang berantakan penuh debu rokok di atas meja kerjanya.


Dua jam kemudian.


"Wuaaaaaah🥱🥱🥱!" Ryan baru Bangun dari tidur nyenyaknya lalu terduduk diam sejenak memperhatikan kamarnya yang sudah bersih, rapi dan wangi.


"Apa Surti yang membersihkannya!" pikir Ryan.


"Haduh sudah hampir isya rupanya!" ucap kesal Ryan ketiduran.


Tidak berapa lama Adinda nongol datang menghampiri Ryan dengan tarian centil 💃💃💃 jaipongan sambil membawa jus Apel segar kesukaan Ryan atas perintah Khaliza.


(Adinda yang suka dengan tarian, drama pentas dan seni lainnya)


Melihat atraksi pertunjukan gila Adinda, Pria itu terbengong melompong masih dalam duduk lesu di atas ranjangnya.

__ADS_1


"Apa aku sedang bermimpi😯???" gumam Ryan menepuk-nepuk kecil kepalanya.


__ADS_2