Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 68 - Kegalauan Ryan.


__ADS_3

Merasa tidak enak kepada Ryan yang juga ikut menunggu, begitu mendapati bungkusan vitamin itu, Adinda langsung memasukkannya ke dalam tas tanpa memeriksanya kembali.


*


Sesampai di dalam mobil, Adinda masih merasa tidak enak kepada Ryan.


"Maaf yah lama, karena harus antri dulu!"


"Tidak apa-apa!" jawab santai Ryan mulai melajukan mobilnya.


"Ini mau kemana lagi?" tanya Ryan.


"Hari ini apa kamu tidak sibuk?"


"Lumayan juga, tapi pulang saja lah, istirahat dulu!" jawab Ryan.


"em!" respon Singkat Adinda.


Hubungan keduanya semakin renggang dan dingin, selain karena sudah pisah ranjang, Adinda juga mulai menjauhi Ryan.


"Bagaimana perkembangannya? Apa kata dokter?"


"Alhamdulillah, sudah tidak ada masalah lagi, aku sudah pulih dan sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa!"


"Syukurlah!"


"Apa Frans sudah tau soal ini?" tanya Adinda.


"Aku pikir dia pasti sudah tau, tapi tidak berani mengambil tindakan!"


"Yah sudahlah, sebaiknya tidak perlu memperpanjang permasalahan ini, mungkin Nia sudah tau jika anak itu adalah milik Frans!"


"Hem!" jawab dingin Ryan.


"Apakah masalah ini berimbas dengan pekerjaan kamu?" tanya Adinda merasa khawatir.


"Tidak, semua baik-baik saja," jawab dingin Ryan, wajahnya tampak lesu, tidak ingin menceritakan kepada Adinda tentang pertengkaran dirinya dengan Vita.


Adinda kembali diam dan canggung, ia tidak ingin bertanya lagi.


"Aku berniat untuk lepas dari X-Tren, JFlash dan semua grup Deny Sulaiman!" celetuk Ryan.


"Kenapa?" tanya kejut Adinda.


"Tidak apa-apa, ingin balik ke awal dasar saja, berdikari sendiri walaupun sulit dan lama, aku capek hidup dalam bayang-bayangan Frans! lagian aku sudah banyak mengambil keuntungan dari kerja sama bersama X-Tren!" curhat Ryan.


"Maaf yah Ryan, karena aku, kamu jadi menderita seperti ini, hidupku memang sudah banyak merepotkan mu!" ucap mewek Adinda.


"Tidak apa-apa, kamu tidak salah sama sekali!" jawab sendu Ryan.


"Lakukanlah apa yang terbaik menurut kamu, aku sebagai teman, hanya bisa mendukung saja, apa yang bisa aku lakukan untukmu, aku pasti akan lakukan!" ucap tulus Adinda.

__ADS_1


"Terima kasih!


Tapi jujur, aku belum siap bercerai dalam dekat ini, Mama pasti masih membutuhkan kamu!"


Adinda tampak diam sejenak.


"Kalau masalah itu, tidak harus berstatus menjadi istrimu, aku rela menjaga Mamah!" ucapan Adinda yang membuat Ryan terharu.


"Dan aku belum sempat mengurus berkas perceraian kita!" alasan Ryan.


"Yah sudah, kapan kamu kosong saja!"


"Jadi selama ini Adinda tidak punya perasaan padaku, mengapa dia selalu meminta bercerai dan sama sekali tidak cemburu saat aku jalan dengan Vita, ingin aku bertanya tapi aku malu dan aku pikir, itu pertanyaan yang aneh baginya?" gumam pikir Ryan.


Sejenak suasana percakapan terhenti hanya ada lagu pop galau Indonesia yang menemani mereka dalam volume yang kecil.


"Kau ingin buru-buru berpisah? Apa berniat kembali lagi kepada Frans atau tertarik dengan dr Gunawan itu?" tanya Ryan penasaran, berusaha memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku tidak akan kembali kepada pria manapun, Frans sudah bahagia dengan kekasihnya, sudah beginilah takdir perjalanan cintaku, tentang dr Gunawan, kami tidak punya hubungan apa-apa, kedepannya aku akan melanjutkan hidupku sendiri saja, sambil membantu usaha kak Nabila," ucap Adinda.


Mendengar jawaban itu, entah mengapa perasaan Ryan sedikit lega, saat Adinda tidak memilih Frans ataupun dr Gunawan. Sangking penasarannya dan tanpa Adinda sadari, Ryan sampai menyadap ponsel Adinda agar mengetahui, sudah sejauh mana percakapan Adinda dengan dr Gunawan.


*


Menjelang Magrib, Keduanya sampai di rumah. Hujan pun turun membasahi bumi, pelataran teras rumah Khaliza tampak berisik dengan tetesan-tetesan air hujan yang deras. keduanya bergegas masuk ke dalam rumah, setelah mobil berhasil memasuki garasi.


Ryan dan Adinda masuk ke dalam kamar masing-masing, setelah melakukan aktifitas sholat, mengaji keluarga kecil itu makan malam bersama, Adinda masih tetap melayani Ryan dalam menghidangkan makanan dan perlengkapan lainnya. Di rumah itu ia mengurus semua keperluan Ryan dan ibunya.


"Alhamdulillah sudah sehat Mah, Adinda sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa!" senyum manis Adinda.


"Alhamdulillah, syukurlah, Mama lega sekali mendengarnya!" celoteh Khaliza.


"Ryan ke kamar dulu yah Mah!" ucap Pria itu dengan wajah lesunya, ia sedikit pusing karena perusahaan Vita sebagai pendukung perusahaan GMC akan segera hengkang. Ryan merasa semuanya semakin rumit dan sulit, ia sudah pasrah dan menyerah.


Khaliza mulai memperhatikan Ryan dan pandangan Adinda langsung menyoroti wajah sendu ibu mertuanya itu.


"Mama khawatir dengan Mas Ryan yah?" tanya Adinda dengan nada lembutnya.


"Dari semalam, dia banyak diam, melamun dan tidak semangat!" jawab Khaliza dengan rasa khawatirnya.


Adinda terdiam.


"Nanti coba Adinda cari tahu yah Mah?"


"Kita istirahat saja yah!" ajak Khaliza.


"Baik Mah!"


Khaliza Bangkit dari kursi makan lalu masuk ke dalam kamarnya untuk melanjutkan sholat Isya.


Setelah merapikan dapur, diam-diam Adinda masuk ke dalam kamar Ryan yang masih terbuka sedikit.

__ADS_1


Sehabis menghisap satu batang rokoknya di teras kamar, Ryan terlihat duduk dalam lamunannya dengan santai di atas kasurnya. biasanya ia selalu sibuk di meja kerjanya itu, malam itu Ryan benar-benar lelah dan tidak punya semangat untuk memacu bisnisnya, ponselnya terus berbunyi dari pesan grup dan puluhan email, tidak terduga salah satunya email itu datang dari Crush, PT Woong Asian Group.



Ekspresi wajah Ryan yang terkejut saat melihat Adinda masuk.


"Apa dia mau tidur di kamarku lagi?" batin Ryan.


"Apa kamu sedang sakit?" tanya Adinda.


"Tidak, aku baik-baik saja!" jawab cepat Ryan.


"Mau aku pijat?" Adinda menawarkan jasa.


"Tidak usah, kamu juga baru sembuh!"


"Ryan, apa kamu punya masalah? Kau boleh menceritakannya kepadaku, aku tau aku tidak bisa apa-apa, tapi setidaknya pikiran itu sudah tidak dipendam lagi!"


"Aku baik-baik saja, yuk kita istirahat, jangan lupa di minum vitaminnya!" ucap Ryan mengusap-usap puncak kepala Adinda.


"Tunggu sebentar!" Adinda mengambil segelas air dan vitamin untuk pria itu.


"Selama aku sakit, pasti kamu tidak minum vitamin kan!" celoteh Adinda dengan senyumannya, karena selama ini Adinda yang selalu rajin mengingatkan dan langsung memberikannya kepada Ryan.


"Terima kasih yah!" Angguk senyum Ryan meminum vitamin sebelum tidur.


*


Wanita itu akhirnya kembali ke kamarnya, ia masih berdiri di bibir pintu Ryan, diam-diam masih mengintai lelaki itu.


"Kasihan Ryan, jika harus lepas dari X-Tren, GMC akan lumpuh, tapi mengapa ia berniat keluar dari X-Tren, dia pasti banyak pikiran, apa yang bisa aku bantu untuknya?" pikir sedih Adinda yang begitu perhatian.


Setelah bersiap tidur, sebelum minum vitamin, Adinda mencoba membuka email lama sebagai email jalur yang mengirimkan surel kepada Lim.


"Apakah sudah ada balasan dari Tuan Lim?" gumam Adinda penasaran.


Adinda mencoba memasukkan kata sandi pada emailnya yang lama di ponsel yang baru dibelikan oleh Ryan, karena ponsel miliknya yang lama benar-benar hancur setelah kejadian itu, saat sudah berkali-kali mencobanya dan berusaha membuka email itu, tetap saja ia gagal karena lupa kata sandinya.


"Haduh apa yah? Kenapa aku bisa lupa begini?" gumam Adinda pikirannya yang terlihat kusut.


"Besok sajalah, buat kata sandi baru lagi, atau minta tolong pada Ryan!" gumam Adinda mengambil dua butir vitamin yang baru ia beli, karena tidak fokus pada vitamin, Adinda tidak membacanya dan tidak memperhatikan bungkus vitamin yang sebenarnya berbeda dari yang biasanya ia konsumi, Adinda langsung menelan vitamin itu sekali dua sebagai dosis yang disarankan oleh dr Gunawan. Meski sama-sama vitamin, namun fungsinya berbeda.


Satu jam kemudian.


*


*


Tahun, jangan Lupa tonton iklan dulu, Biar Author lanjut besok 😁😁😁😁


__ADS_1


__ADS_2