
Pukul 15. 32 WIB siang menjelang sore hari.
Sehabis Ashar, Ryan dan Adinda bergegas pulang.
"Ryan, bisakah kau membawaku ke pantai, aku ingin sekali melihat suasana pemandangan air!" pinta Adinda dalam raut wajah kesedihan. Hal itu membuat Ryan tidak sampai hati.
"Hem, boleh juga sih!" Ryan tertarik, karena pikirannya pun lumayan kusut.
*
Seketika deru ombak menenangkan jiwa keduanya, Adinda mengajak Ryan bermain, seolah-olah mereka tengah kembali ke masa kanak-kanak.
"Waktu kecil, Mama dan Papa ku dulu juga sering mengajak aku ke pantai,
(ucap Ryan dalam pandangan mengingat masa lalu)
Namun sejak kepergian Papa, kehidupan Mama, sama seperti burung yang enggan untuk terbang, lebih mengurung diri mematahkan sayapnya!"
"Cinta sejati!" sambut Adinda juga menatap luasnya hamparan air disana.
"Yah! Kamu benar, mereka adalah cinta sejati yang tidak bisa dipisahkan, sejak menikah dengan Mama, Papa benar-benar menghentikan semua aktivitas buruknya, menghalau godaan wanita yang datang kepadanya. kala itu, Chen, kakekku sudah memilihkan jodoh yang terbaik untuk Papa, tapi dia menolaknya, tidak perduli seberat apapun tantangan mereka."
"Yang terbaik menurut orang lain, belum tentu terbaik menurut kita!" ujar Adinda.
"Hem, benar!" sambut Ryan.
"Aku sangat iri dengan mereka yang sudah menemukan cinta sejatinya!" kata Adinda masih dalam tatapan jauh memandang hamparan air lautan yang luas.
Reflek Ryan menatap wajah sendu Adinda.
"Terkadang aku berpikir, dimanakah cinta sejatiku berada, bagaimana cara menemukannya, apakah dia baik-baik saja, sedang menunggu disini sama seperti diriku? atau jangan-jangan ia sudah mati!"
Ryan hanya tersenyum tipis mendengar celotehan lamunan Adinda, tidak ingin membahas panjang tentang itu lagi, Ryan mengajak Adinda lanjut bermain kembang api di area bibir pantai untuk menyongsong matahari tenggelam, hal yang pernah Ryan lakukan di waktu kecil bersama kedua orang tuanya.
Permainan sederhana itu membuat mereka sangat bahagia.
Keduanya lanjut makan malam bersama, masih di area pantai, karena untuk mendapatkan makan malam di rumah perut mereka sudah terlalu lapar.
Terdengar sayup-sayup suara kesibukan riuh di dermaga, serta orang-orang yang memilih rehat sejenak di tempat wisata itu bersama teman, kekasih maupun keluarga, hembusan angin malam dalam view laut hitam yang terbentang luas serta gemerlap lampu-lampu yang menghiasi area bibir pantai, tidak kalah indah dengan pemandangan di senja hari.
"Kita harus membawa pulang makanan buat Mama!" kata Adinda.
"Hem!" Ryan mulai menyantap hidangan seafood yang segar.
Sebelum Makan, Adinda sudah memesan bungkusan makanan untuk mertuanya itu dengan teliti, makanan yang baik dikonsumsi oleh Khaliza.
*
__ADS_1
Salah satu yang membuat Ryan sangat kagum dengan Adinda adalah, saat bepergian kemana saja, Adinda selalu memikirkan bungkusan makanan untuk ibunya, ia juga selalu telaten membuat catatan kecil, Apa saja kebutuhan Khaliza yang sudah habis dan harus segera dibeli, Selama ada Adinda Ryan tidak pernah lagi kerepotan untuk membeli keperluan ibunya seperti dulu.
"Anak perempuan lebih teliti daripada anak lelaki!" gumam Ryan.
Setelah menikmati makanan, keduanya kembali berbincang hangat;
"Apakah hari ini jadwal mu kosong?" tanya Adinda kepada Ryan dalam raut wajahnya yang sudah kembali cerah, setelah kenyang dan bermain air.
"Kalau benar-benar kosong, itu tidak ada, karena saat ini banyak sekali program kerja yang harus aku kerjakan, aku hanya ingin rehat sejenak, sekaligus membeli pakaian untuk acara Frans besok, Oh Iyah, apa kamu tidak membeli perlengkapan kecantikanmu atau pribadi lainnya, apakah uang yang aku berikan kurang?"
Adinda menggeleng.
"Masih ada?"
"Sudah berbulan-bulan masih ada?" ucap kaget Ryan yang tidak pernah melihat Adinda membeli skincare dan peralatan body lainnya.
"Aku hanya memakainya mau tidur saja, sudah jarang merawat kecantikan?"
"Kenapa?" tanya Ryan penasaran.
"Tidak apa-apa, aku pikir setelah melahirkan nanti, aku pasti akan membutuhkan banyak uang, mulai saat ini, aku harus pintar menyimpan uang dan mulai berpikir dari sekarang untuk berinvestasi!" ucap Adinda dengan senyum tipisnya.
"Artinya yang aku kasih tetap kurang?"
"Tidak, itu sudah lebih dari cukup!" jawab Adinda.
"Bukankah kecantikan juga investasi seperti yang pernah kau ucapkan?" tanya Ryan.
"Maksudnya berbeda bagaimana?" Ryan sampai menanggapi ucapan Adinda cukup serius sampai ia reflek bertukar arah duduk dari posisi kiri ke kanan.
"Kalau sekarang, mengejar pria bukanlah tujuan hidupku!" jawab Adinda.
"Ouh, begitu, jadi merawat diri hanya untuk mendapatkan cinta seseorang saja!"
"Kecantikan juga perlu biaya, kalau dulu aku masih berpikir pendek, tapi sekarang lebih memilih masa depan, mau bergantung kepada siapa lagi, kalau bukan diri sendiri!"
Ryan hanya tersenyum-senyum saja seraya berkata;
"Masalah biaya, kau kan tinggal cari lagi pria seperti Frans, kalau bisa yang jauh lebih kaya, banyak kok!" ucap santai Ryan dengan hembusan rokoknya.
"Sudahlah Ryan, berhenti selalu mengejekku, aku mau fokus dengan anak dan masa depanku saja, maksudmu kau menyuruhku lagi untuk menjadi simpanan?"
"Hahahaha, bukan-bukan simpanan, istri resmi!" ucap Ryan memperhatikan fokus Adinda dalam berceloteh dengan wajah cute nya.
"Mana ada pria kaya yang mau menikahi wanita yang tidak memiliki potensi, kekayaan dan kemampuan! kalau pun ada hanya cadangan saja!" ucap jelas Adinda.
"Tapi tidak semua, dulu kau tidak berpikir seperti itu!" ucap Ryan.
__ADS_1
"Iyah, itu karena dulu aku masih bodoh, sekarang aku sudah pintar!" jawab tegas Adinda.
"Ouh Iyah, hahahaha!" Ryan terkekeh-kekeh mendengar celotehan polos Adinda.
"Sebenarnya, aku bukan wanita terlalu matre juga, hanya saja aku terlalu obsesi, karena saat masih di sekolah dasar, Mama pernah mengajakku main ke rumah temannya, disana aku melihat Tante itu memiliki suami super kaya dan hidupnya enak banget, aku tidak tau apakah dia istri utama, kedua, simpanan atau sebagainya, yang ku lihat dia cukup bahagia, sehingga aku bercita-cita harus mencari pria kaya juga seperti dia, menurutku itulah takaran kebahagian seorang wanita! Padahal takaran kebahagian itu terletak di dalam hati dan saat ini aku berpikir bahwa rezeki seseorang itu tidak sama!"
"Bagaimana dengan dr Gunawan kemarin?" tanya Ryan penasaran.
"Itu hanya kerjaan Nabila saja!" senyum manis Adinda.
"Ouh!"
"Kalau kamu, bagaimana hubunganmu dengan Vita?" tanya Adinda balik.
"Biasa saja!"
"Biasa saja? Dia marah kepadaku, karena kau tidak mengangkat teleponnya saat di rumah!"
"Mengapa dia memarahi kamu, lebai!" celetuk kesal Ryan kepada Vita.
"Dia itu kan pacar kamu, wajarlah dia marah?"
"Bukan ah?"
"Bukan, tapi kalian sudah tidur bersama?"
"Maksudnya?"
"Ups keceplosan!" gumam Adinda diam sejenak.
Adinda menunjukkan foto-foto yang di kirim kepadanya dari nomor yang berbeda-beda.
"Kalau foto mesra lainnya memang benar, karena dia terlalu obsesi dan sejujurnya aku tidak nyaman, tidur dengan Vita itu belum pernah terjadi!" Ryan menjelaskan dengan singkat.
"Ouh!"
"Kau cemburu?" introgasi Ryan menahan senyumnya.
"Tidak, Aku hanya tidak ingin terlibat dengan hubungan kalian saja, kau bebas mau pacaran dengan wanita manapun, itu bukan urusanku, tapi seperti harapan Mama, lebih baik menikah daripada berzina!"
Ryan hanya tersenyum tipis.
*
"Ini Mba pesanannya!" ucap staf pelayan kepada Adinda, bungkusan untuk Khaliza telah selesai.
"Terima kasih yah!" ucap Adinda membayar Bill menu makan mereka.
*
__ADS_1
Keduanya berjalan santai menuju parkiran mobil.