
Dalam nada suara yang lesu, Ryan terpaksa menelpon Nabila dan suaminya, agar segera datang ke rumah sakit.
Nabila dan Bram langsung bergegas mendatangi lokasi keberadaan Adinda. Ryan tidak punya pilihan lagi, terpaksa harus menceritakan kronologis kejadian yang sebenarnya kecuali tentang tingkah khilaf nya bersama Vita.
"Saya minta maaf, saya benar-benar minta maaf, ini di luar dari dugaan saya?" ucap Ryan tidak bisa menatap wajah Nabila dan Bram.
Nabila hanya tampak diam saja, ada perasaan kecewa terhadap Ryan dalam hatinya sampai ia tidak bisa memberikan komentar lagi, namun ia tidak bisa menyalahkan Ryan.
"Sebaiknya kita bicara di luar saja!" ajak Bram kepada Ryan.
Nabila bergegas kembali kepada Adinda, mengelus lembut rambut halus sang adik, memperhatikan kondisi tragisnya dalam airmata yang tidak mampu ia bendung, membungkam kuat mulut itu karena tangisan Nabila yang semakin histeris, ia ingin menjerit disana, meluapkan perasaan kesalnya yang benar-benar tidak terima atas perlakuan manusia biadab terhadap adiknya.
"Adinda kenapa nasib kamu jadi seperti ini sayang...hiks...hiks...!"
"Ternyata Frans dan Ryan sama saja, Sama-sama pria yang tidak bisa sedikit saja menghargai wanita, maafkanlah kakak mu yang bodoh ini. Adinda, ternyata kakak salah, terlalu berharap kepada Ryan yang akan menjagamu dengan baik dan dengan bodohnya juga berharap akan mencintaimu, seharusnya kemarin itu kakak mendengarkan apa yang benar-benar hatimu inginkan, yaitu tidak perlu menikah dengan lelaki manapun, cukup membesarkan anakmu seorang saja, tetapi kakakmu ini terlalu naif, ingin mencari aman saja, tidak ingin memikul beban aibmu, padahal kakak yang selama ini meninggalkan kamu Adinda, dulu kakak juga yang memaksamu menjadi sekretaris kau selalu menjalaninya dengan keterpaksaan...ini semua salah kakak....hiks...hiks...!" Nabila berlari ke kamar mandi, meraung-raung disana tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya.
*
Tampak Bram dan Ryan duduk bersama.
"Maafkan saya Mas!" ucap Ryan kepada Bram.
"Iyah, semua sudah terjadi, selama ini aku sudah memiliki firasat, Nia itu tidak akan membiarkan Adinda melahirkan, ia pasti sudah curiga, jika anak yang dikandung oleh Adinda adalah milik Frans meski Frans sudah meyakinkannya dengan menikahkan Adinda dengan kamu, entahlah, tapi bagaimanapun saya tetap berterimakasih kepada kamu Ryan, seandainya saat itu kamu juga tidak sigap menolong Adinda, mungkin Adinda juga tidak akan terselamatkan."
Ryan tampak menunduk saja.
"Sebaiknya kita tidak perlu membesarkan masalah ini!" lagi-lagi Bram tidak memiliki daya untuk melawan Frans.
"Iyah!"
"Jangan beritahu Frans kecuali dia bertanya!"
"Baiklah!" ucap Ryan.
"Saya juga minta maaf, sudah merepotkan kamu Ryan dan terima kasih selama ini bersedia memikul aib kami, meski ada keuntungan juga yang kamu dapatkan disana.
Jika nanti Adinda sembuh, bercerai lah dengan baik-baik, kami akan tetap merangkul Adinda sebagai adik yang sudah menjadi tanggung jawab kami, kami juga tidak akan menyalahkan dirimu, jika kau langsung menikah dengan kekasihmu," ucap Bram.
"Saya masih membutuhkan Adinda Mas!" ucap spontan Ryan.
__ADS_1
Sekilas Bram tersenyum tipis merasa lucu dengan pernyataan Ryan.
"Ryan, menikahlah dengan wanita yang benar-benar kamu cintai bukan yang sedang kamu butuhkan, jika kamu menikahi wanita yang kamu cintai maka kau akan bahagia, kebahagiaan yang mencakup segalanya, tetapi jika kau menikah dengan wanita yang kau butuhkan saja, itu bisa merusak mental mu terutama mental dari wanita yang engkau nikahi."
Ryan tertegun dengan kata-kata santai Bram yang ternyata menyentuh berat hatinya.
Tidak berapa lama Nabila keluar dari ruang inap Adinda dengan mata memerah dalam dada yang sesak.
"Ryan, ajak aku menemui si bajingan Frans itu, aku akan membunuhnya, dia enak-enakan dengan wanita lain sementara adikku menderita seperti ini..." makian keras Nabila.
"Sayang tenanglah!" peluk Bram.
"Aku akan membunuhnya, aku tidak terima...aku tidak terimaaaa!" jerit histeris Nabila seperti orang kesurupan sempat membuat heboh suasana rumah sakit, sampai mereka mendapat teguran.
"Nabila tenanglah...aku mohon tenang!" Bram menguatkan Istrinya.
"Aku enggak terima Mas, mereka itu terlalu kejam pada Adinda!" tangis histeris Nabila pecah di pelukan Bram.
*
Sampai kondisi itu kembali tenang, hari mulai malam.
"Tapi Mas, saya tidak keberatan jika harus menjaga Adinda!"
"Wajahmu juga terlihat sangat lelah, kau butuh istirahat, besok pasti kau ada schedule yang banyak!"
"Jika Mas Bram perlu bantuan, sebaiknya telpon Ryan saja!"
"Baiklah!" ucap Bram.
*
Ryan akhirnya memilih pulang malam itu, ia tidak berani mendekati Adinda yang tampak sudah terbangun. Nabila langsung menyuapi adinda dengan wajah sembabnya. Kondisi Adinda benar-benar terpuruk, ia tidak bisa lagi menangis selain terlihat hanya diam saja.
Ponsel Ryan terus berdering, panggilan datang dari Frans, Vita, bahkan Crush serta panggilan lainnya hingga Ryan memilih menonaktifkan ponselnya, itu lebih baik baginya.
Sesampai di rumah, Ryan melangkah masuk dalam perasaan bingung, bagaimana menjelaskannya kepada sang bunda, ia pulang tanpa Adinda.
Khaliza langsung mendatangi Ryan dan menampar keras pipi pria itu, tidak memberi poin sebuah penjelasan.
__ADS_1
"Prak!"
Hati Khaliza yang tidak tenang, terus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, ternyata khaliza sudah mendapatkan kabar itu langsung dari Bram tanpa sepengetahuan Ryan.
Ryan terkejut hebat.
"Buat malu kamu!!" raut wajah Khaliza yang cukup marah kepada anaknya.
"Maaf Mah!" Ryan hanya menunduk tidak bisa berkutik.
"Ryan, Mama benar-benar sangat kecewa dengan kamu, sampai detik ini, Mama selalu mengajarkan kepada kamu, arti sebuah tanggung jawab seorang lelaki. Mama tau kamu tidak mencintai Adinda, setidaknya bersikaplah baik kepadanya, hargai ia, jangan menambah rasa sakit hati dan perasaannya dengan selalu berkata kasar, seolah-olah kau manusia paling suci di dunia ini, bukankah kamu juga diuntungkan dengan menikahi Adinda? Selama ini Mama diam saja, karena Mama tidak ingin menambah keributan kalian. kamu tau Ryan, Adinda selalu saja membelamu di depan Mama, ia tidak pernah menjelekkan mu sedikitpun, apalagi sampai mengeluhkan sikap kasar mu itu!"
Ryan hanya diam saja tidak mampu berkata sepatah pun untuk membela dirinya.
"Sekarang terserah kamu, Mama tidak punya muka untuk berhadapan dengan Nabila dan Bram!" ucap Khaliza masuk ke dalam kamarnya, hatinya begitu kecewa terhadap sang anak.
*
Ryan kembali menyembunyikan tangisnya dalam jatuhan Air, rapuh akan segalanya.
Nasi telah menjadi bubur, ia mulai menyadari dan menyesali kesalahannya yang terlalu arogan dan selalu saja menyudutkan Adinda. mulai terbayang dengan kebaikan dan senyuman manis wanita itu.
"Terkadang sebuah pengkhianatan itu diperlukan untuk membalas hati yang sudah terlalu tersakiti. Frans, mulai saat ini, aku sudah tidak ingin ada lagi dipihakmu, kau benar-benar sungguh licik atau aku lah yang begitu bodoh. Saat ini semua orang menyalahkan ku, seolah-olah aku lah penyebab segalanya. Benar kata Mama semakin aku mengejar dunia yang fana ini dengan logika, maka aku semakin lumpuh bahkan kehilangan arah. Cobaan ini cukup berat atau memang seperti ini lah cara Tuhan sedang menegurku agar aku tetap berdiri dengan pilihanku!"
Ryan kembali terngiang dengan perkataan Bram.
"Apakah aku mencintai Adinda atau membutuhkannya??"
**
**
**
**
__ADS_1
Guys, Mohon 🙏🙏🙏🙏 dukungan kencangnya, berupa like, komentar, favorit, share, bintang lima, gift dan Vote nya yang banyak, agar penulis selalu semangat update hingga cerita ini bisa terselesaikan dengan baik.. Amin