Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 96 - Bertolak ke Singapura.


__ADS_3

Pagi yang cerah di Bandara Changi, Singapura. Ryan menemani Adinda dan Khaliza berkeliling sejenak di salah satu Bandara terbaik dunia itu.



Begitu turun dari pesawat, raut wajah Ryan tampak tegang, ia langsung memegang lembut bagian perut Adinda, sangat mengkhawatirkan kondisi sang istri yang tengah hamil muda.


"Sayang, nanti kita ke dokter lagi yah, setelah turun dari pesawat, aku takut kandungan kamu bermasalah!" ucap tegang Ryan.


"No...no....no!" jawab centil Adinda begitu tampak sehat dan riang gembira, bahkan lebih sehat daripada berada di rumah.


"Sayang, sepertinya jika dibawa jalan-jalan seperti ini, anakmu cukup bahagiaaaa banget!" ucap centil Adinda.


"Ah, kamu yang benar, dia masih orok! Tapi sudah bisa nge-prank dan jahil sama orang tuanya?" ucap heran Ryan.


"Yah, apa bedanya sama kamu!" jawab kocak Adinda, membuat Khaliza reflek tersenyum-senyum dengan percakapan anak dan menantunya itu, ia sampai geleng-geleng kepala.


Otak Ryan masih penuh dengan tanda tanya


?????????


Adinda langsung mengajak Khaliza berfoto bersama kemudian, mereka berfoto bertiga.


Tampak senyum bahagia dikedua raut wajah Khaliza dan Adinda, keduanya benar-benar menikmati destinasi perjalanan ke negara tetangga itu.


*


Akhirnya Ryan kembali tiba di kota yang sudah dua tahun belakangan tidak pernah lagi ia injak, tepatnya setelah konflik besar bersama sang Paman.


Lim Woong dan Madam Elena Shera berserta keluarga Woong lainnya sudah siap menyambut kedatangan Ryan Alaska dan keluarga.


*


"Wanita bisa menjadi racun ataupun madu, karena mereka bisa menghancurkan tetapi mereka juga mampu menjadi sumber kekuatan bagi kaum Adam!" Ryan bahagia memeluk Ibu dan istrinya.


"Kalian mau kemana akan aku layani dan mau beli apa akan aku belikan?" bisik Ryan ditelinga mereka.


"Pikirkan dulu pertemuan ini!" celoteh Khaliza mencolek Ryan.


"Siap Bos!" senyum manja pria itu membuat Adinda reflek tersenyum manis.


"Sayang, kamu lebih suka kota Jakarta atau Singapura?" bisik lembut Ryan menggandeng sang istri.


"Aku suka kamu!" ucap bucin Adinda.


"Aaargh 🥰" ucapan Adinda ibarat menusuk busur panah di hati Ryan, tepat sasaran.


Betapa bahagianya pria itu, akhirnya ia bisa kembali datang ke negara yang sangat ia rindukan dengan membawa Ibu dan isterinya tanpa ada beban yang menghalangi mereka lagi, sebelumnya hal bahagia itu hanya ada dalam mimpi Ryan.

__ADS_1


"Inilah yang namanya sebuah perjalanan hidup, hanya takdir kelahiran dan kematian saja yang tidak bisa dirubah, selebihnya pasti ada jalan untuk merubahnya, selagi kita terus berjuang dan selalu berada disisi Allah, kita tidak pernah tau, kemana kaki ini akan berlabu, namun semua bisa berubah jika Tuhan mu sudah berkehendak!


Ketika doa ku terjawab dan keinginan itu terwujud, aku benar-benar menyesal, karena pernah meninggalkan Tuhanku, moto hidupku saat ini adalah terus berjuang, berjalan mencari jejak keberkahan sang Ilahi dan bisa bermanfaat untuk banyak orang lain, itulah kebahagiaan dan ketenangan yang sesungguhnya!"


Ryan banyak sekali mendapatkan bimbingan keras dari ibunya terutama dalam segi keimanan, kini membuat perasaannya cukup lega dan jauh lebih tenang, tidak pernah panik dan gusar seperti dulu lagi.


***


Sebelum berangkat Khaliza sudah memperingati putranya itu.


"Nak, jika nanti bertemu dengan Pamanmu, kau harus lebih dulu meminta maaf kepadanya, jangan paksa egomu untuk bertahan, meminta maaf bukan berarti kita kalah, namun itu justru menjadikan kamu sebagai pria sejati dan juga anak yang berbakti kepada orang tua. Mama sadar, bagaimana pun, Lim adalah Ayah angkat mu, dia juga andil dalam membesarkan kamu terutama untuk pendidikan."


Mendengar ucapan ibunya, Ryan menarik nafas lega, sangat terharu.


"Mama yang tidak pernah dianggap, dihina, penuh tekanan dan dikucilkan oleh Lim, masih bisa mengajarkan kebaikan seperti ini kepada Ryan!


Ternyata terbukti, dari salah satu buku hadist yang Ryan baca, Rasulullah saw bersabda: “Dunia ini adalah perhiasan/ kesenangan dan sebaik-baik perhiasan/ kesenangan dunia adalah wanita shalihah. Betapa beruntungnya Papa menikahi wanita shalihah seperti Mama, perhiasan yang tidak bisa disamakan nilainya dengan harta apapun."


***


Crush dan anak buah Lim terlihat sudah berdiri menyambut kedatangan sosok Tan Woong dan keluarganya, sebelumnya Crush sudah menawarkan agar Ryan Alaska menaiki jet pribadi saja, namun pria itu menolaknya.


*


"Selamat datang Tuan Muda!" sambut senyum Crush begitu juga dengan anak buahnya yang lain, mereka sangat senang kembalinya Tan kepada Woong.


Akhirnya Crush berhasil membawa Ryan menuju rumah besar kediaman Lim Woong.



Rumah Lim Woong yang super mewah, lengkap dengan fasilitasnya, mulai dari fasilitas olahraga sampai dengan wahana permainan anak-anaknya.


Di halaman rumah juga tampak mobil-mobil mewah berserakan, dimana keluarga Woong sedang berkumpul untuk menyambut kedatangan Ryan atau yang mereka kenal dengan Tan Woong.



(Semua mobil berlabel super series, limited edition namun sayang satupun tidak ada yang dimiliki oleh Author 😭 kecuali dalam mimpi di siang bolong 🤣)


*


Sungguh kekayaan Woong tanpa batas, tidak heran jika konglomerat itu harus memilih menantu dari keluarga yang juga terpandang, bibit, bobot, bebet.


"Waargh😳" Adinda benar-benar melompong menatapnya, rupanya mimik wajah Adinda langsung menjadi pusat perhatian Ryan, cepat-cepat pria itu merangkul sang istri lalu mengusap lembut wajah Adinda.


"Takjub yah?" tawa Ryan.


"Pajaknya?" ucap ceplos dan mewek Adinda membuat mereka spontan tertawa bersama.

__ADS_1


"Semua orang pasti akan terkagum-kagum dan cukup bernafsu untuk memiliki kekayaan seperti itu," kata Ryan.


Adinda memandangi wajah sang suami.


"Sayang, percayalah kebahagiaan dan ketenangan hidup ternyata tidak terletak disana, melainkan ada di hati kita," Pria itu mengambil tangan Adinda dan meletakkannya di dadanya.


Adinda reflek mengangguk dan merangkul sang suami, sambil berbisik.


"Aku hanya memikirkan berapa pajaknya? Tentu sudah bisa membangun rumah sekampung!" ujar kocak Adinda.


Ryan hanya tertawa sampai gigi putihnya kelihatan.


*


Ryan Alaska dan keluarga, terus berjalan memasuki rumah besar Lim Woong dalam dampingan Crush.


Begitu melihat kehadiran Khaliza dan dan Ryan, Madam Elena langsung menyambut mereka dengan penuh cinta dan kerinduan karena mereka sudah lama tidak berkumpul.


Khaliza dan Madam langsung berpelukan haru, mata keduanya tampak berkaca-kaca.


"Yong tidak salah pilih istri, kamu adalah wanita yang hebat!" puji Madam Elena.


Madam Elena lanjut memeluk Adinda.


"Kamu cantik sekali, sayang!"


"Terima kasih Madam, Madam juga sangat cantik!" jawab lembut Adinda.


lanjut Elena memeluk Ryan penuh haru, layaknya memeluk seorang anak lelakinya yang sudah lama pergi meninggalkan rumah mereka, karena tidak bisa dipungkiri, Ryan tumbuh dan besar di rumah itu.


"Selamat datang sayang, kami sangat merindukan kamu!" bisik lembut madam Elena di telinga Ryan Alaska.


Ryan hanya bisa mengangguk dalam mata yang berkaca-kaca.


Dua anak Lim Woong dan Madam Elena, Livia Mun dan Fan Chang berlari cepat menyambut kedatangan Ryan Alaska. Kakak yang mereka rindukan.


"Kakak Tan?" keduanya rebutan ingin dalam pelukan Ryan.


Ryan langsung menggendong anak lelaki Lim bernama Fan Chang yang sudah berusia 4 tahun lebih.


"Akh, kamu sudah besar sekali!" ujar Ryan.


"Kakak Livia sudah bisa kungfu!" ujar balita itu.


"Ouh Iyah!" ucap takjub Ryan membawa dua adik sepupunya yang masih imut.


Livia tampak bercerita banyak, sekaligus mengungkap rasa senangnya ternyata kakaknya itu masih berkenan datang untuk melihat mereka.

__ADS_1


*


__ADS_2