Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 45 Suasana ruang kantor Ryan


__ADS_3

Para staf melontarkan senyuman manis mereka kepada pasangan yang baru saja menikah itu. Malu bertengkar di depan mereka, Ryan dengan sigap membawa Adinda menuju ruangannya.


"Wuiii🤗, ruangan kamu bagus banget sayang..." celoteh heboh Adinda bertingkah pecicilan di dalam ruangan Ryan, bertingkah mirip perempuan udik yang baru datang ke kota, tingkah Adinda itu berhasil membuat Ryan semakin bete, garuk-garuk kecil kepalanya. Entah mengapa membuat Ryan kesal, marah-marah kepada Adinda justru membuat kebahagiaan tersendiri bagi wanita itu sehingga ia bisa melupakan rasa sakit hatinya kepada Frans, layaknya ngidam aneh versi bumil.


"Sudah kaya, ganteng, sholeh, hampir sempurna, aku enggak nyangka loh, kalau kamu sekaya ini. Jadi nyonya itu ternyata enak juga yah? (Adinda duduk santai sambil menggoyang-goyangkan kakinya, kedua tangannya mengelus-elus body sofa)" pujian dan tingkah Adinda yang membuat pria itu lemas.


"Haduh!" Ryan mengambil tisu dan melap habis keringat yang mulai timbul di dahinya.


"Ini adalah perjalan hidup terburuk ku, ketika harus menikah dengan perempuan dengan bentuk seperti ini!" gumam Ryan.


Adinda bangkit dari duduknya lalu mendekati Ryan, menarik paksa dasi pria itu sehingga wajah keduanya berdekatan.


"Kamu jangan lupa, kalau aku juga punya peran penting untuk perkembangan GMC, dengan menikahi ku, kau sekarang jadi kebanjiran investor kan?🧐"


"Suksesnya aku, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kamu!" Ryan mendorong kecil dahi Adinda lalu balik duduk ke meja kerjanya.


Adinda mengikuti langkah pria itu dengan raut wajah mengejek, kemudian ia membuka bingkisan bekal yang masih hangat di atas meja kerja Ryan.


"Naik apa kesini?"


"Kamu bertanya karena perhatian kepadaku 🥺!" akting raut mewek wajah Adinda bergaya terharu.


"Aku hanya bertanya!" hentak


ketus Ryan.


Adinda berlari heboh ke posisi belakang Ryan, lalu melingkarkan tangannya dengan manja di pundak lelaki itu seraya sambil berbisik;



"Apa kamu tidak khawatir, tadi itu mata si supir taxi cukup jelalatan, aku takut sekali, padahal kalau berkendara sendiri itu jauh lebih aman!" cerita rekayasa Adinda.


"Siapa suruh kau menjual mobilmu!"


"Kerena, aku tidak ingin, ada jejak Frans lagi di dalam pernikahan kita dan saat ini aku sedang menunggu sebuah mobil baru hasil dari pemberian suamiku yang baik hati, gunanya, bisa bawa Mama jalan-jalan, belanja, beli bunga, melihat banyak hal sampai cek up kesehatan!" bisik genit Adinda tepat di telinga Ryan. Ryan langsung mengusap-usap telinganya serasa mendengar bisikan syetan, Adinda kembali kepada rantangnya dengan tawa cekikikan kecil.


"Hihi, itu hanya bercanda, jangan kau pikirkan sampai ke akar-akarnya yah!" celetuk Adinda.


Ryan tetap saja fokus kepada laptopnya.


"Waktunya makan siang, karena bekerja untuk menjemput rezeki, bukan menjemput penyakit!" ujar ceria Adinda.


"Huuuft, Dinda!" panggil kesal Ryan, mau marah tidak bisa, apalagi sampai memukul.


"Ka...kamu tidak perlu terlalu berlebihan memperhatikan aku seperti ini, lebay!!!" protes Ryan akhirnya terjetus.


"Memangnya kenapa?" bantah Adinda dalam raut wajah masa bodoh.


"Apa sekarang Kau segitu terobsesi denganku? Setelah mengetahui aku ini bagian dari keluarga Woong?"

__ADS_1


"Terobsesi dengan suami sendiri memangnya salah!" bantah Adinda.


"Aktingmu memang bagus, dengar yah, meskipun kau itu istriku, tidak ada harta gono gini setelah kita bercerai!"


"Hem, masa sih, kamu pelit amat!" jawab bawel Adinda sambil mengunyah potongan buah yg ia bawa khusus untuk dirinya.


"Aa!" Adinda usil menyuapkannya kepada Ryan, pria itu langsung membuang wajahnya.


"Hem, padahal enak!" Adinda melangkah duduk di sofa.


"Besok, tidak perlu bawa bekal seperti ini, aku bisa makan di luar," pesan tegas Ryan.


"Ini permintaan Mama," suara tegas Adinda dari kejauhan sambil menyantap potongan buah-buahan itu.


"Bohong kamu?"


"Yah sudah!" ucap cuek Adinda santai di atas sofa.


"Masa Iyah sih, Mama yang nyuruh!" gumam Ryan tidak percaya.


"Ok, aku akan telpon Mama, jika ini hanya akal-akalan kamu, sekarang juga kau angkat kaki dari sini!"


"Hem, silahkan!" ucap Adinda tidak perduli🙃


Ryan akhirnya menelpon Khaliza dan benar saja, Khaliza lah biar kerok dari kekesalan Ryan Alaska.


**Flashback**


Suasana sarapan Adinda dan Khaliza saat dimana Ryan sudah pergi ke kantor.


"Dinda?"


"Iyah Mah!"


"Menghadapi Ryan itu susah-susah gampang, kelebihan anak itu cukup cerdas, sangat peka dan cepat bertindak, saat dia sudah nyaman dengan seseorang, maka dia akan sangat perhatian dan setia," ucap Khaliza.


Adinda hanya mengangguk tersenyum.


"Mama bisa minta tolong tidak?"


"Minta tolong apa yah Mah!" tanya Adinda begitu tampak penasaran.


"Mama ingin beri tugas baru buat kamu?"


"Tugas?"


"Hem em!"


"Apakah tugas bersih-bersih rumah, memasak dan mencuci?"

__ADS_1


"Bukan, itu tanggung jawab Surti!"


"jadi tugas apa Mah?"


"Tugas setiap jam makan siang, tolong antarkan bekal makanan untuk Ryan!" pinta Khaliza.


"Bekal? ("kayak anak TK saja si Tan duk" gumam Adinda) tapi Mah...apa nanti dia tidak keberatan atau malu dengan para stafnya?" ujar Dinda.


"Mama rasa tidak, nanti Mama akan bicara pada Ryan. Kasihan dia, pasti akan selalu telat makan di jam-jam sibuk, saat dulu ia ikut dengan Pamannya, Ryan itu punya sekretaris pribadi yang bertugas menyediakan makanan tepat di saat jam makan untuk Ryan!"


"Betapa beruntungnya Ryan, dianugerahi seorang ibu yang terus mengkhawatirkan tentang dirinya!" gumam Adinda.


"Tapi...Mah!" Adinda sedikit ragu.


"Ya...kalau kamu keberatan, tidak apa...apa!" ucap mewek Khaliza.


"Dinda tidak keberatan kok Mah! Hehehehe, itu justru terlalu ringan!" jawab cepat Adinda yang tidak ingin melihat wajah kecewa sang ibu mertua, ia sudah menganggap wanita itu, seperti ibunya sendiri.


"Terima kasih yah Dinda, kamu baik sekali!" Senyum lega Khaliza.


"Aji mumpung atau gimana nih Bund? Tapi tidak apa-apa, aku kan sudah berjanji akan melihat Mama Khaliza selalu bahagia dan tersenyum!🤗" gumam Adinda.


*****


"Aku belum lapar, nanti saja makannya!" ucap Ryan bergegas menutup kembali rantang bekal itu.


"Hu....ah...!" 🥱🥱🥱 tiba-tiba saja Adinda mengantuk, bawaan si bumil muda, yang malas dan suka tidur.


"Kau pulang saja jika mengantuk!"


"Tidak, aku harus pastikan bekal itu habis di makan dan membawanya dalam keadaan kosong!" ucap letih Adinda menjatuhkan diri lalu tertidur.


"ckckck, beneran tuh anak Langsung tidur?" gumam Ryan Melihat Adinda masih tertidur pulas, suasana kembali sepi dan Ryan akhirnya kembali fokus dan mengerjakan pekerjaannya, hingga tepat pukul 12.30 wib, ia mulai makan siang.


AC di Ruangan kantor Ryan cukuplah sejuk dan dingin membuat wanita itu harus menekuk keduanya kakinya dan melipat kedua tangannya, selama hamil Adinda tidak tahan Kedinginan dan tidak tahan pula dengan kepanasan.


Ryan yang melihat hal itu, reflek bangkit dari tidurnya, lalu berinisiatif membuka jas tebal miliknya dan menyelimutkannya kepada Adinda, sehingga membuat wanita itu semakin hangat dan tidur lebih tenang.


"Hem...Pakaiannya terlalu tipis, takutnya dia nanti dia bisa masuk angin!" gumam Ryan.


Adinda yang tertidur pulas terlihat bergerak-gerak di atas sofa, mata Ryan langsung bergerak cepat menyoroti sang istri.


"Si centil tidurnya tidak bisa diam, takutnya dia jatuh? Apa dia akan bangun?"


Ryan berpikir Adinda akan segera bangun, lalu bergegas bangkit ingin mengambil jasnya, ia takut ketahuan Adinda dan membuat wanita itu menjadi baper tidak tentu arah kepadanya., karena perhatian sederhananya itu


langkah Ryan yang terburu-buru membuat ia tergelincir dan bokongnya terhempas.


"Argh!" keluh Ryan menahan suaranya.

__ADS_1


__ADS_2