
Ryan dan Adinda masih dalam tidur yang cukup nyenyak, bahkan itu adalah tidur terlelap mereka sepanjang masa, mungkin segala yang tersumbat telah keluar dengan lancar selancarnya.
"Ah leganya!"
Hubungan suami istri yang dilakukan dengan penuh nafsu bercampur getaran cinta. Adinda belum merasakan Permainan intim sehebat itu walau sudah pernah melakukannya bersama Frans.
Terlihat Adinda tertidur pulas di dada kekar Ryan Alaska, terasa hangat dan sangat nyaman.
Gambar hanya sebuah ilustrasi.
*
Khaliza melangkah ragu memasuki kamar Adinda, perempuan paru baya itu sempat mengerutkan dahinya saat melihat kain sprei tidak lagi pada posisinya, bantal-bantal berserakan, sedikit berantakan, ponsel Adinda sendiri terletak baik di atas bufet.
Sampailah Khaliza menuju ke ruang kamar mandi, namun ia tetap tidak mendapati menantunya itu.
"Adinda?"
"Adinda?"
"Dimana dia, tidak mungkin dia tidur di bawah kasur kan?" Khaliza terus mencari.
Setelah menutup kamar itu, memastikan Adinda tidak ada di kamarnya, ternyata rasa penasaran Khaliza belum juga berhenti, ia menuju dapur bahkan sampai menuju ke pelataran belakang, taman, kolam renang.
"Kemana anak itu? Biasanya jam segini ia masih di kamarnya?" gumam Khaliza memperhatikan kamar Ryan yang tertutup rapat.
"Apa dia tidur di kamar Ryan!" Khaliza mulai melangkahkan kakinya menuju pintu kamar anaknya dan mencoba membukanya.
"Hem terkunci? Biasanya kamar ini jarang sekali dikunci!"
"Tok...Tok...!"
"Ryan?" panggil Khaliza namun tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Pagi itu, tak ingin mengambil pusing, akhirnya Khaliza menyerah, ia lebih memilih membuat sarapan sereal.
*
Pukul 08.30 wib pagi, sang pelayan Surti, tiba di rumah Khaliza, namun Ryan dan Adinda belum juga terbangun, Khaliza mulai khawatir.
"Assalamualaikum!" ucap lembut Surti memasuki rumah, pagi itu ia lebih awal datang karena ingin membereskan kain setrika an nya yang sempat tertunda. Si pelayan itu mulai bernyanyi-nyanyi kecil dengan pekerjaan kainnya, ia tidak tau menau tentang masalah yang terjadi di rumah itu.
"Eh, Surti sini sebentar!" panggil Khaliza dengan nada berbisik.
"Ada apa Bun!" saut cepat sang pelayan yang cukup penasaran, ia bisa membaca raut wajah Khaliza yang tidak biasanya, seperti menaruh kecurigaan.
"Tadi pagi, Ibu mendapati kamar Adinda terbuka lebar!" ucap Khaliza.
"Terus!"
"Tapi dianya gak ada, sudah saya cari ke dapur, belakang depan, juga gak ada!"
"Mungkin di dalam laci kali Bun!" canda Surti.
__ADS_1
"Apaan sih kamu!"
"Hehehehe, kalau tidak ada dimana-mana berarti di kamar si Tuan kali Bun!" tebak simpel Surti.
"Sepertinya begitu sih, soalnya kamar Ryan terkunci dengan rapat, biasanya anak itu jarang mengunci pintu kamarnya apalagi saat mereka pisah kamar seperti ini!"
"Bagaimana kalau kita intip saja Bun!" ajak Surti.
"Intip bagaimana, kamarnya tertutup!"
"Setidaknya, kita bisa mendengar suara-suara di dalamnya dari balik pintu Bun, memastikan Adinda ada di dalam kamar itu atau tidak."
"Apa tadi malam, dia sakit lalu minta tolong pada Ryan atau kamarnya itu tidak nyaman, hemm!" Khaliza tidak percaya jika Adinda kembali tidur di kamar Ryan, karena melihat dinginnya hubungan mereka.
"Atau mungkin mereka sedang melakukan adegan ehem-ehem, lalu lupa bangun, kesiangan deh," bisik genit Surti.
"Ngawur kamu, Lah, Adinda baru saja keguguran!"
"Bisa saja Bun, itu tidak masalah, malah bagus kan!" seru Surti kembali fokus pada pekerjaannya.
"Itu enggak mungkin, dalam dekat ini mereka akan segera bercerai, yang ada dipikiran ku saat ini, jangan-jangan Adinda ada masalah, lalu minta tolong kepada Ryan!" gumam aneh-aneh Khaliza.
"Wuih, seru ni!" gumam Surti kesenangan.
"Yah sudahlah, boleh juga ide kamu itu, kita dengar dari balik pintu saja!" pinta Khaliza.
"Sebentar yah Bun, Surti siapin dulu, biar kita cari tau, mereka lagi ngapain di dalam itu!" si pelayan terlihat bersemangat jika ada prihal mengintai pasangan.
"Yah sudah, Ibu tunggu yah!" ucap Khaliza pergi meninggalkan Surti.
"Beres!" Surti mengacungkan jempolnya.
*
Pukul 08.45 pagi, Adinda tampak mulai menggerakkan tubuh kakunya, akibat kebanyakan 'show' dan 'karaoke an' di atas ranjang bersama Ryan, full power sampai dini hari, tubuhnya terasa kaku dan merasakan organ intimnya yang ledes, sedikit perih, meskipun Adinda sudah tidak perawan lagi, namun mis kewanitaannya masih rapat dan bagus.
Adinda yang sudah sadar seutuhnya, terkejut hebat saat mendapati tubuh Ryan, bahkan dalam mata terpejam, Pria itu bergeser semakin memeluk mesra tubuhnya dan mengecup kecil dahi wanita itu.
"A...a...a...apa yang terjadi!" Adinda berusaha mengingat peristiwa bercinta semalam.
"Gawat!! ini gawat sekali!" batin meringis Adinda, perlahan ia mulai melepas tubuh Ryan dan semakin terkejut mendapati dirinya yang tidak mengenakkan pakaian dan menyoroti pakaian mereka yang berserakan di lantai
"Haduh!" Adinda memegangi kepalanya.
"Adinda, apa yang kamu lakukan? kenapa lagi-lagi cari masalah kepada Ryan!" gerutu Adinda berusaha bangkit menuju kamar mandi.
Adinda terasa kesulitan berjalan, seolah-olah itu seperti Malam pertama yang benar-benar menghancurkan keperawanannya, saat bersama Frans justru Adinda tidak merasa kesakitan yang luar biasa seperti itu.
Langkahnya tertatih bahkan sampai merangkak memasuki kamar mandi.
*
Dalam guyuran air shower Adinda berpikir;
__ADS_1
"Apakah vitamin itu, obat perangsang wanita?"
"dr Gunawan memberikan resep vitamin yang sama dengan yang kemarin, artinya kesalahan ini terjadi pada waktu di apotik!"
Adinda berusaha mengingat kembali saat ia sedang membeli vitamin itu, Adinda tidak memeriksanya langsung memasukannya ke dalam tas.
"Iiiiii...Kenapa kamu ceroboh sekali Adindaaaaa!"
"Kenapa bisa jadi begini"
"Pasti Ryan akan memaki ku setelah ini?"
"Aku sudah memperkosanya!"
"Dasar perempuan murahan,
"Perempuan genit!"
"Bagaimana jika aku hamil lagi!"
"Tidaaaaaaaaaak!"
Adinda menangis tertahan dalam jatuhan air, tidak henti-henti menyalahkan dirinya, akibat kelalaiannya mengecek Vitamin yang ia beli.
Wanita itu berusaha membersihkan bekas-bekas keganasan Ryan yang terlihat menempel di tubuhnya.
*
"Surti, apa kau mendengar sesuatu," tanya Khaliza semakin penasaran.
"Tidak ada Bun!"
Surti semakin heboh menempelkan daun telinganya kepermukaan pintu, berusaha mendengar suara dari dalam kamar.
"Terasa senyap!" celoteh Surti.
"Ayo dengar lagi?" pinta Khaliza pantang menyerah.
*
Setelah mandi bersih, dalam wajah yang sendu serta masih diselimuti pikiran yang kacau, Adinda kembali memakai pakaiannya dengan sempurna, Sementara Ryan masih dalam posisi terlungkup, tertidur lelap di kasurnya. Adinda sejenak merapikan kamar bantal-bantal dan pakaian yang berserakan.
"Kalau ditanya Mama, aku jawab apa yah?" ucap galau Adinda berjalan mendapati pintu keluar.
Saat Adinda membuka pintu.
"Ada suara Bun!" ucap Surti semakin semangat menempelkan daun telinganya.
"Suara apa?" Khaliza semakin penasaran.
Sementara dari dalam, Adinda membuka cepat pintu kamar, sontak Surti tersungkur sambil berkata;
"Mamak mu...mamak mu karep...mamak mu!" ucapan latah Surti yang seolah-olah ingin mengatakan jika tindakan tidak sopannya itu adalah keinginan Mama mu (Khaliza)
Hampir saja Bibir Surti mencium lantai, posisi badannya sudah memasuki area kamar.
__ADS_1
*
Yuks, Follow IG Author di sarahmai_07.