
Sepanjang jalan, tidak ada percakapan, Adinda dan Ryan, Adinda terlihat ngemil sebungkus jajanan sambil menikmati pemandangan jalan dan musik pop yang menemani perjalanan mereka menuju butik pilihan, dua bola tajam Ryan melirik cepat ke arah Adinda yang terus mengunyah.
"Memang kalau orang hamil bawaannya selalu makan," gumam Ryan,
Tubuh Adinda mulai sedikit lebih berisi dari sebelumnya.
"Yah habis!" gumam Adinda dalam aksinya masih berusaha mengeluarkan serpihan isi bungkusan cemilan yang sudah kosong di tangannya.
"Masih lapar?" tanya Ryan.
"Enggak ah!" Adinda menggeleng dengan cepat.
Tidak lama kemudian, Ryan berhenti sejenak di supermarket mini.
"Sebentar, mau beli rokok dulu" pinta Ryan. bergerak membuka pintu mobil, tidak berapa lama kemudian, pria itu keluar membawa Snack makanan dan minuman satu plastik besar. Semuanya bermerek kesukaan Adinda.
Ryan ngemil dengan santai tanpa menawari kepada Adinda, diam-diam wanita itu mengambilnya.
"Ambil saja, tidak perlu mencuri!" ucap Ryan.
"Hehehehe!" Adinda tertawa cengengesan malu-malu meong.
"Tenang saja, aku akan menyuapi mu!" ucap Adinda, namun yang terjadi adalah cemilan itu tampak baru satu kali memasuki mulut Ryan, justru sudah lima kali memasuki mulut Adinda.
Ryan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bumil yang suka makan itu.
"Tlililit!" tiba-tiba ponsel Ryan berbunyi kencang namun Ryan mengabaikannya sampai Adinda melirik ke arah ponsel pria itu.
"Itu Vita menelpon!" ucap Adinda.
"Biarkan saja lah!" jawab cepat Ryan.
Vita yang berkali-kali menelpon membuat Ryan jenuh dan sudah sering mengabaikan panggilan wanita itu.
*
Tidak lama, akhirnya perjalanan mereka sampai, Ryan lebih dulu memasuki area butik, sementara Adinda, melangkah lambat dan terlihat masih sibuk dengan ponselnya karena seseorang tiba-tiba menelpon dirinya.
"Tlililit!"
__ADS_1
"Siapa ini!" panggilan datang dari nomor yang tidak dikenal Adinda, wanita itu tampak ragu menerimanya.
"Halo, siapa ini?" sapa lembut Adinda.
"Aku Vita pacarnya Ryan, Dimana Ryan ku!"
"Bukannya kau bisa langsung menelponnya!" jawab Adinda.
"Mengapa selama di rumah, ia tidak pernah ingin menerima panggilanku, itu pasti karena ulahmu kan? Dengar yah Adinda, meskipun kamu itu istrinya, kamu tidak bisa mencegah hubunganku bersama Ryan!" ucap arogan Vita, pelakor semakin di depan.
"Aku sama sekali tidak menghalangi hubungan kalian dan aku juga tidak tau mengapa dia tidak ingin menerima panggilanmu, seharusnya kau bisa bertanya Langsung kepada Ryan, bukankah kau itu pacarnya?" ucap Adinda.
"Haha, Iyah, seharusnya memang seperti itu, tapi aku tidak tau rencana busuk apa yang sedang kau susun untuk bisa terus membuat Ryan ada bersama kamu, aku sudah lama mengenal Ryan, tentu aku tau seperti apa karakternya, mustahil dia tertarik dengan wanita seperti kamu, jika kau tidak memiliki senjata ampuh sampai berhasil menikahi Ryan, mungkin setelah melahirkan nanti, kau harus tes DNA, aku tidak percaya itu anaknya Ryan! Tidak masalah jika kau sedang menjebaknya, tapi aku tidak akan tinggal diam dan merebut kembali apa yang sudah pernah menjadi milik ku, kau sudah melihat foto-foto mesra kami kan!"
"Sebagai pasangan yang baik, seharusnya kau hadir disaat ia sedang terpuruk bukan hanya tinggal memetik hasil!" ucapan tegas Adinda.
"Trup!" Adinda langsung memutuskan percakapan yang membuat moodnya buruk itu.
*
Ryan masih terlihat sedang berkomunikasi dengan owner butik yang kebetulan butik ternama itu baru saja menjalin kerjasama dengan perusahaan tekstil fashion yang sedang dikembangkan oleh madam Elena, Madam Elena akan mempercayakan kepada Ryan sebagai CEO yang khusus mengelola anak perusahaannya selama di Jakarta dan berikut wilayah lainnya yang masih dalam tahap pengembangan.
Tujuan Ryan ke butik itu tidak hanya untuk membeli setelan coupel gaun pesta, ia sekaligus sedang riset langsung ke lapangan, bagaimana respon customer terhadap kualitas bahan yang mereka jual.
*
Seperti biasa, pria tidak perlu berlama-lama mencari dan mencoba stelan jas yang pas untuk dipakai.
"Dia sedang hamil, saya perlu gaun yang cocok untuknya!" ucap Ryan kepada staf pelayan disana.
"Mengapa tidak di butik murah-murah saja, kamu kan bisa lebih hemat?" bisik Adinda.
"Ini sudah butik yang paling murah!" ucap ngawur Ryan membuat Adinda harus memperhatikan lebih detail.
"Paling murah, terkadang si Tan duk ini tukang tipu?" batin Adinda yang tidak percaya dengan ucapan Ryan sampai wanita itu kepo bertanya kepada staf pelayan disana.
"Berapa kisaran harga gaun-gaun disini yah Mba!" Ryan langsung beri kode jangan beritahu.
"Untuk harganya??" si staf terdiam saat melihat perintah Ryan dari belakang tubuh Adinda sehingga membuat kepalanya terasa puyeng!"
__ADS_1
"Kita coba dulu saja yah Mba, soal harga nanti saya kasih list nya!"
*
Berbagai pilihan gaun yang banyak ditunjukkan ke hadapan Adinda, namun ia hanya memilih yang nyaman untuk dipakai oleh para bumil walaupun terlihat sederhana. Kesederhanaan itu sama sekali tidak memudarkan kecantikan seorang wanita, justru semakin memancarkan inner beauty nya dengan jelas.
Tiba-tiba Frans muncul menemui Ryan disana, keduanya langsung duduk ngobrol bersama, terlihat Adinda keluar menemui Ryan setelah selesai menunggu bungkusan barang yang mereka beli. Pria itu langsung tersenyum memandang Adinda yang semakin cantik dan gemoy dengan kehamilannya.
Frans langsung menarik kuat tangan Adinda dan mengajaknya ke sebuah taman yang sepi di dekat butik dengan pekarangan yang luas, butik itu menyediakan area berfoto. Ryan tampak diam saja terlihat duduk santai sambil memantau Frans dan Adinda dari kejauhan.
*
"Adinda, kenapa kau memblokir nomorku!" protes Frans.
Adinda hanya terlihat diam saja, tidak ingin bicara kepada Frans, wajahnya cukup masam.
"Aku sudah bilang, kau cukup bersabar menunggu waktu!"
"Sabar?" Tatapan Adinda dengan mata memerah emosi.
"Frans, wanita itu bukanlah mainan yang seenaknya kau permainkan, sudah cukup kau membuat aku hancur lebur seperti ini, Frans, besok kau akan menikah dengan Nia, belajarlah untuk mencintainya sebagai istri mu, cukup aku saja yang menjadi korban hasrat mu" ucap Adinda dengan berlinang airmata kepedihan, banyak beban perasaan yang ia tanggung.
"Adinda!" Frans mencoba menenangkan Emosi Adinda dengan mengelus rambut wanita itu dengan lembut.
"Aku akan besarkan anak ini. Tanpamu aku bisa melakukannya, jika kau memang perduli denganku, cukup jauhi saja aku Frans, aku tidak akan menuntut apa-apa darimu!" ucap Adinda dalam linangan airmata.
Frans langsung ingin berusaha mencumbui dan mencium Adinda, wanita itu berusaha menolaknya.
Ryan datang dan menarik tangan Frans.
"Sebaiknya kau bisa menahan diri, karena siapa tau disini ada paparazi Aditama!" ucap Ryan. Adinda langsung bergegas pergi meninggalkan keduanya.
"Kenapa kau mencegahku! Walaupun disini ada paparazi Aditama, sebagai sahabat yang baik, seharusnya kau melindungi ku, ini kesempatan ku bertemu dengan Adinda karena Nia sedang sibuk dengan gaun-gaunnya," celoteh Frans.
"Sudah sejauh ini kita melangkah, sebaiknya kau berhati-hati, karena justru permainan mu ini yang akan membakar dirimu sendiri!" Ryan memperingatkan.
__ADS_1
Frans langsung menarik kerah Ryan.
"Apa sekarang kau sedang merasa di atas angin, karena Elena benar-benar sudah ada di belakang mu, jika kau berkhianat kepadaku, aku akan menuntut berlipat-lipat kepadamu tentang semua nama X-Tren yang kau pakai!" ucap emosi Frans melangkah cepat meninggalkan lingkungan butik itu.