Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 78 - Senyum Menggoda


__ADS_3

Mengetahui kedatangan Vita, Frans dalam kondisi mabuk kecil, lelaki itu lalu membukakan pintu Apartemennya. Setelah menikah dengan Nia, pengawasan Aditama terhadap Frans dengan kaum wanita telah berkurang. Aditama bukanlah sosok Ayah yang mudah percaya begitu saja, ia tidak memberikan aset terbesarnya untuk sang menantu sesuai keinginan Frans dan ia juga sudah mengetahui niat besar Frans menikahi putrinya. Hal ini membuat Frans menyesali pernikahannya bersama Nia.


Frans menatap lembut kedatangan Vita yang parasnya sama cantik dengan Adinda, tinggi, memiliki body goals menarik, depan belakang berisi, cukup menggoda kaum Adam.


Frans reflek menyambutnya dengan senyuman tipis, cool, menggoda kaum hawa. pria itu seakan-akan tidak pernah jera dengan tingkah lakunya sebagai seorang playboy yang pernah membuat masalah terhadap Adinda. Ia selalu saja selingkuh dibelakang Nia, karena sebenarnya Nia bukanlah wanita yang diinginkan Frans dan Selingkuh sudah menjadi kebiasaan buruk putra dari Deny Sulaiman itu, bercinta dengan wanita salah satu kesenangan Frans yang tidak bisa ia hentikan.


Pikiran yang kacau, hasrat yang tidak terpuaskan dari sang istri, penat, serta kesepian, akhirnya memaksa Frans menyuruh Vita agar segera masuk ke dalam Apartemennya, begitu Vita memasuki Apartemen itu, Frans langsung mengunci rapat pintu, siapapun tidak bisa masuk kecuali Frans yang membukanya.


Frans masih dengan senyumannya, mempersilakan Vita masuk dan langsung menjamu wanita itu dengan anggur mahal.


keduanya sempat berbincang masalah kerjaan, Vita menceritakan yang terjadi dengan airmata buayanya, lalu memohon kepada Frans agar memutuskan semua bentuk kerjasama X-Tren dan memusnahkan Karir GMC. Vita juga mengatakan kepada Frans jika Nia sama sekali tidak membantunya.


Frans yang begitu mudah dirayu, tergoda dengan kecantikan Vita serta dalam suasana yang mendukung, pria itu reflek bangkit dan menjatuhkan dirinya di bahu Vita seraya berbisik;


"Semua akan aku lakukan untuk kamu, asalkan kita bisa bersenang-senang malam ini!" ucap lembut Frans ditelinga Vita.


Vita si perempuan matre yang sebenarnya sudah lama diam-diam tertarik dan mengagumi Frans, namun hasrat dan keinginan itu harus terkubur karena Nia telah memilikinya, malam itu perasaan terlarang itu kembali bersemi.


"Tidak dapat Ryan, Frans pun jadi!" senyum malu-malu Vita.


"Tapi bagaimana jika Nia sampai tau!" ucap centil Vita.


"Dia tidak akan tau, karena dia terlalu sibuk, sampai tidak sempat untuk melayaniku, kau kan sahabatnya, aku pikir dia tidak akan marah, justru merasa senang, karena pekerjaannya melayani suami bisa terbantu olehmu!"


Mendengar hal itu, Vita justru tertawa cekikikan, tawa perempuan itu membuat libido Frans semakin meningkat.


Masih saja ada wanita yang terjebak dengan cinta kepalsuan Frans. Pasangan terlarang itu semakin berkembang dan semakin menunjukkan tingkat suka sama sukanya. Keduanya minum bersama di malam yang semakin larut.


Frans semakin maju untuk merayu Vita,


"Tapi aku takut" ucap Vita meskipun separuh jiwanya ingin berontak mengingat Nia adalah temannya.


"Tidak perlu takut, lupakan segalanya, kita bersenang-senang malam ini, aku janji tidak hanya memenuhi tuntutan kamu saja, tapi akan memberikan apa yang kamu inginkan, asalkan kau benar-benar sanggup memuaskan aku!"


Mendengar rayuan Frans dan tertarik dengan ketampanan pria itu, Vita akhirnya terjerat dalam lingkaran godaan Frans, tanpa rasa ragu lagi ia reflek mengangguk.


Tidak ingin terlalu lama Frans bergegas menggendong perempuan itu menuju kamarnya.



Tanpa diketahui siapapun, keduanya nekat melakukan hubungan terlarang itu, Frans tampak begitu menikmati tubuh Vita, ia sudah jarang melakukan hubungan suami istri kepada Nia dengan alasan kehilangan gairah, namun bersama Vita, hasrat kejantanan Frans Kembali kekar, ia sangat bernafsu bersama Vita serta pelayanan Vita yang selalu membuatnya bergairah. Vita sosok wanita yang begitu pintar memuaskan titik-titik kelemahan pria.


"Ugh!"

__ADS_1


"Agh!"


keributan percintaan mereka semakin terlihat asyik malam itu. Semakin malam, hasrat terlarang itu semakin panas, ponsel keduanya sama-sama non-aktif, tidak ingin diganggu, seakan-akan dunia hanya milik berdua.


*


Minggu pagi yang cerah.


Adinda terbangun, pagi itu ia kesiangan sampai harus meninggalkan kewajibannya kepada sang ilahi.


"Astaghfirullah! Aku kesiangan, tidak sholat subuh, ugh, lelah banget!" Tubuh wanita itu terasa pegal setelah berkelahi dengan Vita.


"Benar-benar perempuan itu cukup bringas!" batin kesal Adinda, mulai melangkah menuju kamar mandi.


Saat ingin membersihkan diri, Air yang berada di kamar mandi, tampak tidak mengalir, aliran WC juga tersumbat.


Wanita itu berusaha mengutak-atik keran disana.


"Loh, perasaan semalam masih baik-baik saja!" ucap Adinda dalam dahi berkerut.


Adinda keluar dan bertanya kepada Khaliza;


"Mah, apa aliran air di kamar mandi rusak?"


"Tidak, tidak pernah rusak!" jawab polos Khaliza.


"Sini deh Mah!" Adinda membawa Khaliza memeriksa kamar mandinya.


Keduanya sibuk mengutak-atik keran dan WC


"Kamar ini jarang sekali dipakai, jadi tidak mungkin rusak!" ucap Khaliza.


"Coba nti Mama tanya pada Ryan, untuk sementara, kamu pakai kamar mandi Ryan dulu yah!"


"Di dapur ada kamar mandi Mah!" ucap Adinda.


"Itu kamar mandi wilayah Surti, Mama tidak enak jika kamu gabung dengan Surti!"


"Bagaimana jika Ryan tidak mengizinkannya!"


"Biar Mamah yang jewer dia!"


"Baiklah Mah!"

__ADS_1


"Hem, apa karena aku mengabaikan perasaan Ryan, jadi kamar mandi langsung rusak, Hem Ada-ada saja!" gumam Adinda.


*


Ryan terlihat olahraga pagi itu, ia mulai berenang, kemudian lanjut olahraga dalam pembentukan otot-otot kuat, menggunakan alat-alat canggih milik pribadinya, Adinda ingin mengajak Ryan untuk sarapan, ia sejenak berdiri terpaku memperhatikan kegagahan tubuh pria itu, semua perkataan Ryan masih membekas dipikiran Adinda.


"Setiap menatap Ryan, jantung ini selalu berdebar-debar!"


"Entahlah, tapi aku ingin sendiri, aku takut mencintai lagi, sungguh aku takut!"


"karena suatu hari nanti, aku tidak siap jika melihat Ryan bersama wanita lain lalu meninggalkanku!"


Ryan akhirnya melirik keberadaan Adinda. sejenak Ia pun menghentikan kegiatan berolahraga nya, lalu tersenyum manis menghampiri sang istri.


"Sarapan sudah siap?" ucap Adinda.


Ryan menarik tangan Adinda mengajak perempuan itu berolahraga bersama.


"Pasti kamu sudah lama kan tidak olahraga!"


Adinda mengangguk.


"Mulai hari ini kamu wajib menemani aku olahraga!" bisik manja Ryan ditelinga istrinya.


Sebelum menggunakan alat olahraga, Ryan mengajarkan Adinda pemanasan kecil.


Tidak mahir menggunakan alat-alat pembentukan otot disana, Ryan terpaksa mengawal Adinda dalam menggunakan alat-alat itu, duduk saling menempel, saling menyentuh sehingga membuat Adinda tertawa geli, keduanya terlihat bahagia pagi itu.


"Kamu tidak pernah nge gym kan?" tebak Ryan.


"Pernah tapi aku tidak menggunakan alat pembentukan otot pria seperti ini!" jawab Adinda.


Merasa kehadiran Adinda dan Ryan tak kunjung hadir, Khaliza menuju ruang olahraga dan memperhatikan putranya bersama sang istri sedang tertawa cekikikan, begitu terlihat mesra dan menggemaskan sampai kedua bibir Khaliza merekah.


"Ryan dan Adinda benar-benar pasangan yang melengkapi dari masa lalu mereka yang buruk. Aku belum pernah melihat senyuman lepas nan Indah Ryan saat bersama wanita!"


"Huh"


"Hah!"


Adinda terlihat ngos-ngosan.


"Aku lapar, lemas!" rengek Adinda.

__ADS_1


"Oke kita sarapan yuk!" keduanya berjalan bersama.


__ADS_2