
Ryan hanya terdiam sejenak. Sejak terbuang dari keluarga Woong, ia sering mendapatkan ledekan dari berbagai pihak, jika datang dari pihak lawan mungkin itu hal biasa, namun yang lebih menyedihkan bagi sosok pria itu adalah hinaan, ejekan juga datang dari orang-orang yang dulu ia anggap sebagai sahabat, saudara, membuat Ryan lebih menutup diri, sensitif serta mengerti kepada siapa dia mulai bergaul.
"Itu khusus panggilan untuk keluarga Woong, nanti Lim bisa menuntut mu jika kau masih memanggilku dengan sebutan Tan Woong!" jawab Ryan, Nia hanya tersenyum saja.
"Aku tidak menduga kau menikah secepat ini!" Nia memperhatikan penampilan Adinda dari atas sampai bawah dengan sinis dan merendahkan.
"Ternyata pilihan mu sekarang sudah berbeda yah, sesuai kondisi mu!" ucapan ketus Nia yang mengenal identitas Adinda.
Ryan hanya tersenyum sinis, menanggapi celotehan pedas Nia.
"Sayang, jangan terlalu detail seperti itu!" tegur Frans memperhatikan raut wajah Ryan mulai tidak enak.
"Sejak dulu aku hanya seorang pria biasa Nona, mau gimana lagi, kalau sudah cinta, bagaimanapun, cinta itu tetap harus diperjuangkan dan bukan mementingkan strata sosial atau pun kekayaan belaka!
Bukan begitu sayang!" Ryan merangkul kuat bahu Adinda dengan niat menyindir dan memberi efek kecemburuan kepada Frans.
Adinda tersenyum paksa, ia kaget Ryan bicara seperti itu kepada Frans.
Sontak raut wajah Frans berubah masam.
"Ouh Iyah, sebentar lagi Vita Ayunda mantan pacar kamu dulu akan segera pulang dari Los angeles dan akan membuat perusahaan Fashion di Indonesia, mungkin nanti kalian bisa bekerja sama!" kata Nia lebih senang jika Ryan menikah dengan temannya bernama Vita Ayunda.
Ryan dan Vita pernah dipertemukan dengan urusan bisnis, Vita langsung menyatakan suka kepada Ryan. lagi-lagi Ryan tidak pernah nyaman dengan perempuan yang terlalu hedon, mereka hanya menjalin hubungan percintaan tidak kurang dari satu bulan saja.
kemudian lelaki itu tertimpa masalah konflik keluarganya, banyak teman termasuk Vita sendiri yang mungkin bisa membantunya, kini mundur teratur bahkan sangat rapi. Seakan-akan tidak mengenal Ryan dan juga karena tidak ingin terlibat masalah di dalam kehidupan keluarga Woong.
Nia semakin angkuh ketika ia tau Frans lah yang memenuhi semua biaya pernikahan Ryan dan Adinda.
"Frans, Aku rasa tidak perlu ada fitting pakaian pengantin, ini terlalu lebay!" ucap ketus Ryan ingin kembali masuk ke mobilnya.
Dalam aksi cepat, Frans langsung merangkul Ryan menjauh sedikit dari Nia dan Adinda.
"Aku harap kita tetap bekerja sama, kau salah satu orang kepercayaanku yang sangat aku andalkan, saat ini kau tidak perlu melakukan apapun selain menjadi anggota ku yang penurut!" bisik Frans.
Menanggapi ucapan Frans, reflek Ryan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Frans, uang itu bukan segalanya meskipun memang kita butuh!"
"Iya, tapi itu hanya sekedar ilusi bagi kita, tetap saja kau butuh modal untuk GMC kan? Sudah lah kawan, aku hanya ingin menolong mu dari banyaknya hinaan orang-orang kepadamu, sudah saatnya kau bangkit. Intinya kau harus tetap sadar, Adinda itu tetap milikku, cukup setia kepada ku artinya jangan pernah berkhianat dibelakang ku, maka aku akan selalu siap bertempur membelamu di dunia bisnis, Woong bukan akhir segalanya!" ungkap Frans.
"Meskipun kau tidak membantu ku, bagiku itu tidak masalah, aku yakin aku masih bisa hidup dan berkembang, soal pengkhianatan, sudah hal biasa terjadi di dalam drama kehidupan, itu merupakan salah satu resiko yang harus kau tanggung.
Frans, kau harus tau dan tetap ingat baik-baik, jika aku pernah menjadi manusia yang tidak punya hati," ucap sinis Ryan membuat Frans sedikit terkejut, tapi tetap saja Frans tidak takut dengan ancaman Ryan. Bagi Frans, tanpa Woong, Ryan bukanlah apa-apa dan jauh level dengan dirinya serta mudah di kendalikan.
Selain memanfaatkan Ryan untuk menutupi aibnya, Putra Deny Sulaiman itu juga berniat mencuri ilmu Ryan dengan menawarkan kerja sama erat serta saham yang besar di GMC, perusahaan milik Ryan, otak licik Frans akan menguasai GMC dan mengambil Adinda kembali.
Di waktu yang bersamaan, Saat Frans fokus kepada Ryan.
Adinda ingin melanjutkan perjalannya menuju galeri dengan maksud menghindari tatapan Nia yang sinis kepadanya, Namun dengan cepat Nia menghentakkan bahu depan Adinda sehingga memantul kembali di depan Nia.
"Aku rasa kau tetap sadar, jika sebenarnya kau bukan siapa-siapa, tapi ingin mendekati pria yang seharusnya tidak ada di level mu!" hardik Nia begitu culas, ia tidak terima karena baru-baru ini, Nia mencari tau jika ternyata Adinda salah satu mantan kekasih Frans.
"Apa maksud mu?" tanya Dinda.
"Aku tau, jika kau pernah menggoda Frans, calon suamiku, merasa gagal, lalu pergi kepada Ryan, perempuan penggoda seperti kamu tidak seharusnya mendapat tempat dimanapun, apa kau sedang bermimpi menjadi seorang Cinderella atau berharap besar, Ryan akan kembali menjadi pewaris tahta. Hahahaha, tapi ia sudah terbuang, meskipun begitu, tetap saja kau tidak ada pantas-pantasnya bersanding dengan Ryan, terlalu jauh, aku juga tidak tau apakah anak yang ada di dalam kandungan mu itu benar-benar anak Ryan atau bukan!" ucapan Nia yang begitu menohok.
"Dasar perempuan goblok, memang anak yang aku kandung ini bukan lah anak Ryan melainkan anak dari pria brengsek, si penggemar kelamin wanita itu, calon suami yang kau banggakan, betapa malangnya dirimu jika kau sudah menjadi yang kesekian-kesekian kalinya dan tau cerita sebenarnya!" gumam kesal Adinda namun ia tidak bisa bicara, ia hanya mampu mengepal kuat tangannya.
"Sayang, kita pulang yuk! Panas!" teriak manja Nia kepada Frans, menggandeng tangan Frans, mereka juga sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahannya yang akan berlangsung di dalam dan luar negeri.
"Ok" sambut Frans meninggalkan Ryan.
"By Tan!" lambaian centil Nia, berjalan menuju mobil mewah berwarna hitam.
Setelah Frans dan Nia pergi.
Adinda terjongkok dan histeris menangis tersedu-sedu, hatinya begitu sakit sampai menusuk ke ulu hati.
Ryan berjalan mendekati adinda, kaki panjangnya berdiri tepat di hadapan perempuan malang itu.
"Mau masuk atau tidak?" tanya sinis Ryan.
__ADS_1
"Ryan, aku mohon batalkan pernikahan ini, aku tidak ingin menikah!" Adinda berlutut di hadapan Ryan.
"Kita bicara di mobil saja!" ucap Ryan merasa malu karena orang sekitar mulai menatap mereka, termasuk Daniel Flow yang mengerti drama pertikaian itu.
Sampai di dalam mobil, wajah keduanya penuh dengan tekanan duduk termenung dengan masalah masing-masing.
"Aku harus bisa bergerak dengan memanfaatkan X-Tren, menembus kembali pasar bisnis yang luas dan mulai menjalankan aksi balas dendam!" gumam panas Ryan yang juga sakit hati dengan Frans serta terlalu banyak mendapatkan bullyan, Frans memanfaatkan betul momentum kondisi Ryan yang saat ini terjepit, namun Ryan sudah memilih insting yakin jika Frans hanya memanfaatkan dirinya saja.
"Bisakah kau mengantarkan aku pulang, aku tidak ingin fitting pakaian pengantin bahkan tidak mau menikah!" rengek Adinda.
Tanpa kata, Ryan justru turun dengan cepat dari mobilnya, lalu menarik Adinda keluar.
"Aku akan menikahi kamu, sekarang kita coba pakaian pengantinnya!" ucap tegas Ryan menatap bengis Adinda tanpa mata berkedip.
"Tapi...!"
"Aku butuh X-Tren!" Ryan menarik lagi tangan Adinda lalu berkata pada Daniel Flow.
"Dimana ruangan fitting room nya!" Dengan sigap Daniel mengarahkan mereka.
Ryan terus menarik tangan Adinda memasuki Ruangan, wanita itu tampak ragu.
"Ryan....tunggu, apa kau tidak malu, kita menikah, tapi semuanya menggunakan uang Frans, ini akan semakin jadi bahan ejekan orang lain," ucap Adinda.
"Malu, kau katakan aku ini malu, kau sendiri apa tidak punya malu, semua ini terjadi karena ulahmu menjadi perempuan murahan, andai saja kau tidak menggoda Frans, mungkin aku tidak menjadi korban kehinaan seperti ini, apa yang kau tangisi? Jika semua ini datang karena kesalahan dan kebodohan mu sendiri!" hardik Ryan kepada Adinda membuat wanita itu terdiam.
"Permisi, model pakaian pengantinnya sudah bisa di coba!" ajak sang staf disana dengan senyum ramahnya. Ryan dan Adinda menyambut senyuman ramah pelayan dan terpaksa memberhentikan pertengkaran mereka.
"Pengantin wanita terlebih dulu yah!"
"Sana pergi!" pinta Ryan.
Atas perintah Ryan, Adinda pun berjalan dalam langkah yang berat diiringi dalam perasaan campur aduk mengikuti langkah sang pelayan.
*
__ADS_1