Terjerat Rasa

Terjerat Rasa
Bab 49 Perseteruan.


__ADS_3

Ryan menatap langit-langit kamarnya dan berusaha mengingat setiap momen yang terjadi dengan detail, sampai jakun tenggorakan lelaki itu terlihat naik turun dalam irama jantung yang sedikit berdebar-debar, merasa salah dengan Frans, karena ia memang tidak suka memiliki jiwa pengkhianatan apalagi merebut perempuan, kejadian memalukan dirinya itu terjadi begitu cepat termasuk tidak ia sengaja dan inginkan.


"Aduh!" ucap Ryan berkali-kali menepuk jidatnya tanda ia telah kecolongan satu momen.


"Harusnya Adinda tidak perlu meresponnya sejauh itu?" gumam sebel Ryan.


Tiba-tiba, Adinda terbangun mulai menggerakkan tubuh kakunya dengan sigap Ryan menutup cepat matanya dan berpura-pura tidur.


Rasa khawatir Adinda bergegas menyentuh dahi Ryan.


"Alhamdulillah, panasnya sudah turun!" gumamnya bangkit, berniat mandi membersihkan diri, ingin sholat subuh.


"kalau nanti pakai kamar mandi Ryan, dia pasti marah, tampaknya Ryan lagi sensitif, yah sudahlah, pakai kamar mandi di kamar tamu saja?" gumam Adinda membawa peralatan dan pakaian gantinya, sedikit repot namun Adinda lebih baik mengalah.


Saat Adinda keluar dari kamar, Ryan berusaha bangkit, namun tubuhnya masih terasa lemah.


Tidak berapa lama Khaliza pun masuk menyapa putranya ketika melihat Adinda sudah bangun.


"Bagaimana kondisi kamu Nak?" tanya lembut sang Bunda penuh kecemasan.


"Sudah jauh lebih baik Mah!" jawab lesu Ryan.


"Alhamdulilah, untung ada Adinda, satu malaman Adinda cukup gelisah dan tidak bisa tidur menjaga kamu, jangan sering kamu marahin dia, kasihan, hati anak itu sangat halus!"


"Hem!" Angguk Ryan.


"Apa kamu ada masalah sampai wajahmu memar seperti itu?"


"Tidak ada Mah!" jawab singkat Ryan menunduk, Khaliza tau jika putranya itu sedang mengalami masalah yang tidak ingin ia bagi pada dirinya.


"Ryan, banyak bersabar dan bersyukur Nak, agar hidupmu jauh lebih tenang, ketika kita bersyukur, maka Allah akan memudahkan segalanya, melapangkan rezeki!"


"Iyah Mah!"


Khaliza memeluk kecil putra semata wayangnya itu sambil mengusap-usap pundak dan kepala Ryan dalam lantunan doa. Tindakan kecil yang selalu dilakukan oleh Bunda untuk menenangkan jiwa putranya, sekalipun Ryan sudah dewasa dan menikah, Khaliza tetap menganggap anaknya masih terus dalam bimbingannya.


***


"Aaargh segarnya!" ucap Dinda keluar dari kamar tamu dengan rambut harum tergerai lembab, ia sekaligus sholat subuh di kamar itu, Adinda tidak menyadari jika tingkah kecilnya itu menjadi sorotan perhatian ibu mertuanya.


"Si Adinda pagi-pagi begini sudah keramasan? Biasanya tidak pernah, apa mereka sudah? Tapi enggak mungkin, Ryan Kan lagi sakit? Entahlah!" gumam kepo Khaliza membuyarkan lamunannya.


"Mah!" sapa manis Adinda.


"Lagi buat bubur untuk Mas Ryan yah? Biar Adinda saja yang kerjakan"


khusus untuk menu Ryan, Adinda yang masak tetapi masih dalam panduan Khaliza dalam resep yang sama dengan ibu mertuanya, agar Ryan tetap mau makan.

__ADS_1


"Kamu mandi di kamar tamu?"


"Iyah Mah!" Adinda mengangguk.


"Takut Ryan marah yah?" tanya senyum Khaliza.


"Kan seperti Mama bilang, mengalah saja!"


"Iyah sih, sabar yah Din, insya Allah, Mama yakin, suatu hari nanti, sikap kasar Ryan kepadamu bisa berubah kedepannya.


"Amin!"


"Oh iyah, kalau kamu masih mengantuk, tidur lah!"


"Baik Mah!"


Tanpa terasa bubur telah masak dan Adinda membawa bubur itu menuju kamar.


Ryan masih tersandar lesu di kasurnya.


"Apa sebaiknya aku pura-pura tidak tau saja!" gumamnya masih kepikiran gelisah.


"Makan dulu yah, biar aku suapin!" ucap lembut dan senyum manis Adinda.


"Apa yang kau lakukan tadi malam kepadaku!" hentak sewot Ryan.


"Kau yang memulai, pasti kau lebih tau kan?" ungkap Adinda tidak terima disalahkan.


"Harusnya kau tidak perlu meresponnya, kau kan bisa menolaknya!" ucap Ryan menyalahkan Adinda.


Adinda terdiam.


"Bagaimana jika itu terjadi dengan lelaki lain, kau juga akan meresponnya?" tanya Ryan.


"Ryan, kau pikir aku ini wanita apa? Kau itu kan suamiku! Aku tau, aku ini memang wanita murahan, tapi aku tidak sekeji yang kau pikirkan!"


"Heh (tawa ejek Ryan yang sinis) Bagaimana dengan Frans, dia tidak suamimu, tapi kau melakukannya seolah-olah dia suami mu?"


"Padahal dia yang menikmati dan cukup puas, tapi aku yang di salahkan!" gumam sebel Adinda.


"Adinda, jangan kamu pernah berniat punya rencana untuk merayuku, memaksaku untuk jatuh cinta kepadamu, pernikahan ini tidak seperti biasa! kau tidak perlu terlalu berlebihan menanggapinya dan kau merasa menang karena Mama terus mendukungmu, aku tidak suka itu!" omel Ryan dengan gaya acuhnya.


"Aku paling alergi melihat wanita yang terlalu obsesi denganku!" ucap sombong Ryan.



Adinda menunduk dengan mengusap airmata kecilnya, entah mengapa hatinya begitu sakit mendengar ucapan tajam Ryan, tidak ada kata damai untuknya.

__ADS_1


"Aku tau, aku ini wanita murahan, tidak pantas bersanding denganmu, menikahi ku adalah beban terberat untukmu, aku minta maaf Ryan, karena tadi malam sudah terlalu lancang. Percayalah, pernikahan ini tidak akan lama, kita sama-sama mengambil keuntungan dari pernikahan ini dan aku janji, ketika anakku lahir, kau boleh langsung menceraikan aku.


Perlakuan berlebihan itu tidak dari hatiku, aku hanya sekedar bercanda saja, sebagi bentuk kesal ku kepadamu yang begitu membenciku sekaligus menghibur diri, sebagian lagi, aku hanya ingin membantumu sebagai ucapan terima kasihku yang sudah memikul beban aib ku ini," ucap mewek Adinda menahan air matanya.


"Memangnya kau bisa bantu apa?"


"Aku sadar, aku ini bukan siapa-siapa, tidak bisa membantumu dalam segi finansial, tapi aku akan membantumu secara mental, setidaknya aku bisa menjaga dan menghibur ibumu, karena kesehatan dan kebahagiaan ibumu adalah kekuatan mental besar mu. Aku ini tidak lebay atau suka over akting, hanya saja aku bahagia bertemu dengan ibumu, ingin menghiburnya, aku merasa punya hutang budi kepadanya, karena sudah mau menerima sampah seperti aku di rumahnya, memperlakukan aku sangat baik, aku seperti menemukan sosok ibuku yang sudah lama hilang. Aku akan berusaha mewujudkan apa yang benar-benar ia inginkan, apa yang benar-benar bisa membuat ibumu bahagia, ibumu ingin aku tetap melayanimu walaupun kau tidak suka, itu membuat ia senang"


Ryan tampak diam mendengarkan Adinda.


"Kau pasti banyak mengarangnya?" bantah Ryan.


Adinda bangkit menuju meja kerja Ryan sambil mengusap air matanya lalu mengambil kertas dan menuliskan surat pernyataan, lengkap dengan materai nya.


"Apa yang dia kerjakan?" batin Ryan.


Adinda kembali berjalan mendapati Ryan dan menyerahkan surat pernyataan yang sudah Adinda tangani di meja kerja.


Surat penyataan yang hanya bertuliskan;


Adinda Aira tidak akan jatuh cinta dengan Ryan Alaska jika itu terjadi maka Adinda Aira bersedia membayar denda sebesar 1 Triliun.


"Hahahaha!" spontan Ryan tertawa membacanya.


"Tidak usah tertawa, tidak ada yang lucu (bantah tegas Adinda) tanda tangan saja, dengan surat ini setidaknya kau lega dan tidak akan salah paham, anggap saja pelayanan ku ini hanya seorang pembantu yang di bayar khusus untukmu!"


"Kau tidak perlu melayaniku, walaupun kita satu kamar, biasa saja, simpel kan?" ucap Ryan


"Aku tidak punya uang yang banyak untuk membayar kamu seperti Frans, hanya seperti inilah yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu!"


"Tidak perlu kau membalas kebaikanku!"


"Jika kau tidak mau, aku ingin melakukannya untuk ibumu, aku tidak bisa menolaknya jika ia yang menyuruhku untuk melayani mu selama ini!"


"Oke, tapi tidak perlu sampai ke intim-intim seperti tadi malam, itu namanya mengambil kesempatan, kau tidak mengakui terobsesi kepada ku, tapi tingkah mu sungguh menginginkan aku!" ucapan pedas Ryan membuat wajah Adinda bete.


"Benar kata Mama, Ryan memang tidak bisa di lawan, semakin kita berusaha melawannya ia semakin berubah menjadi api besar yang justru membakar diriku!"


"Nah!" Adinda meletakkan bubur itu dengan kesal dihadapan Ryan dan bergerak bangkit.


"Ee..ei.. katanya kau ingin membayar jasaku, kenapa tidak di suapi!"


"Kau kan bisa sendiri, nanti jika aku suapi kau akan bilang kalau aku ini terobsesi denganmu?"


"Aku mau balas chat group, kan sudah ada ini!" ucap Ryan mengangkat cepat surat penyataan itu lalu mulai membalas chat bisnisnya sambil mengunyah dalam suapan Adinda.


***

__ADS_1


Please 🙏🙏 jangan lupa like, gift, vote, share dll, sebagai dukungan kalian agar novel ini bisa up tiap hari dan tamat yah. Terima kasih🤗


__ADS_2