
"Assalamualaikum, Bunda Khalizaaaaaaa.....!"
Teriak Surti tiba pukul 09.56 WIB.
Adinda langsung membukakan pintu untuk pelayan mereka itu.
"Wa'alakumsalam, Masuk saja Bi', Mama lagi sholat duha!" jawab Adinda.
"Oh Iyah!" Surti terlihat malu-malu, baru pertama kali itu ia bertemu dengan istri Tuan Muda majikannya.
"Adinda ke kamar sebentar yah Bi', Nanti ke dapur lagi!" pinta Adinda dengan suaranya yang lembut.
"Ouh Iyah, silahkan neng!" jawab Surti dengan senyum cengengesannya, si pelayan itu masih memperhatikan Adinda berjalan sampai menghilang dari pandangannya.
"Ouh, ternyata itu istri mas Ryan! Hemm... Sepertinya cantik kami hanya beda tipis doang 🤔 Andai saja Mas Ryan itu lebih pilih Surti, pasti enggak bakalan nyesel deh, dari ujung rambut sampai ujung kaki Surti servis habis-habisan, di mandikan, kalau perlu di brush biar makin glowing!" ucap kocak Sutri yang sudah menyamakan Ryan dengan panci dandang.
***
Frans masih terus menelpon Adinda dengan nomor rahasia yang biasa mereka gunakan, Namun wanita itu mengabaikannya, bahkan langsung memblokir nomor itu.
"Dasar pria gila!" ucap Adinda membuang ponselnya. Ia terlihat menangis mendekap dirinya, ada perasaan sakit, kecewa yang tidak bisa ia sembuhkan sendiri.
"Kasihan sekali anak ini, padahal aku sudah merasakan! Seperti apa hampa nya tanpa kasih sayang seorang Ayah, Meskipun ia memberikan aku uang, namun tidak ada perhatian, Ayah yang justru lebih sibuk memperhatikan perempuan lain, seharusnya ini tidak terjadi dengan anakku, tapi mengapa? Mengapa ini harus terjadi? Semua karena kebodohanku sendiri!"
PT X-Tren Group
Meeting besar pagi itu telah dimulai, Ryan Alaska datang tepat waktu dan mereka mulai rapat membahas kerjasama, ada banyak kumpulan pengusaha penting disana, mereka tampak antusias dalam menjalankan kerja sama itu.
Hingga waktu pun berlalu.
Di ruangan Meeting, tinggallah dihuni oleh Ryan dan Frans, kedua sahabat itu masih terlihat membahas rancangan GMC dan X-Tren ke depannya.
"Kamu jangan khawatir Frans, uang yang engkau pinjamkan kepadaku itu merupakan investasi bagi GMC aku janji akan mengembalikannya."
"Tidak perlu, asal kau tetap menjaga Adinda dan anakku, semua aku anggap lunas!"
"Apa kau sudah tidur dengannya?" taya Frans mulai kepo dan tanpa rasa sungkan.
Ryan menjawabnya dengan senyuman ringan lalu berkata ; "Percayakan saja padaku, semua aman terkendali, kondisi Adinda baik-baik saja."
"Baguslah!"
__ADS_1
"Oh Iyah, kapan pernikahan mu dengan Nia?" tanya Ryan.
"Sepertinya harus mengalami kemunduran lagi, karena Aditama dalam beberapa bulan ini sedang mengurus cabang Groupnya di Jerman!"
"Ok lah!"
***
Setelah selesai, Ryan Alaska kembali bergerak menuju kantornya yaitu CV GMC, dulunya sempat menjadi PT kini berubah menjadi CV dan sekarang Ryan Alaska sedang mengurus kembali menjadi label PT berbadan hukum berskala besar. Di gedung berlantai empat itu, Ryan melangkah cepat melewati ruang Lobi. Staf wanita terburu-buru menyapanya.
"Pak! Seseorang sedang mencari mu, dia sedang duduk di area tamu, saya sudah mengatakan, jika Bapak sedang tidak ada di tempat, namun ia tetap bersabar menunggu?"
"Siapa?"
"Namanya Nabila Ainin!"
"Mau apa dia menemui ku?" gumam Ryan.
"Baiklah, suruh dia masuk keruangan ku?"
"Baik Pak!"
Di kesempatan waktu, Nabila nekat menemui Ryan, ingin berbicara dengan adik iparnya itu.
Setelah staf mengantarkan Nabila ke dalam ruangan Ryan, pria itu sudah menunggunya duduk di sofa tamu, Nabila perlahan duduk di hadapan Ryan.
"Baiklah, ada perlu apa?" tanya Ryan.
"Kedatangan saya kesini ingin mengucapkan terima kasih langsung kepada Ryan, karena sudah bersedia menikahi Adinda!"
"Ini bukan pernikahan seperti biasa, aku harap kalian jangan menuntut hal-hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan!" ucap tegas Ryan.
"Saya mengerti, saya juga tau sampai mana batas kalian akan menyandang status suami istri!"
"Baguslah, artinya aku tidak perlu lagi panjang lebar menjelaskannya!" jawab santai Ryan namun tetap saja jutek.
"Untuk sementara ini, saya titipkan Adinda kepadamu, Ryan. Sebenarnya dia anak yang baik dan penurut, hanya saja, kami lah yang kurang memperhatikannya, saat Adinda remaja, Ayah kami menikah lagi dan ibu kami sudah meninggal. Adinda sangat menyukai dunia kecantikan, modeling, tari dan seni lainnya, dia punya bakat dengan hal itu, banyak juga kejuaraan kecil yang ia dapatkan, karena sejak kecil, ibu kami sudah memanjakannya di bidang itu, sebab itulah ia tidak terbiasa hidup dan tampil dalam keadaan susah. Saya yang memaksa Adinda untuk tidak meneruskan lagi dunia bakat hiburannya dan menyuruhnya mengambil jurusan akutansi namun ia lebih memilih sekretaris, sampai akhirnya bertemu dengan Frans, saya juga tidak menyangka hubungan mereka sejauh itu!"
Ryan tidak banyak bicara ia hanya mendengarkan saja.
"Jika nanti waktunya sudah tiba, jika kalian harus bercerai, tolong kembalikan Adinda dengan baik-baik kepada saya, bukan kepada Frans, saya adalah kakaknya yang lebih berhak mengurus Adinda juga anaknya, saat ini saya sedang meyiapkan hukum itu untuk melawan Frans jika pria itu memaksa,"
"Heh, kalian pikir semudah itu melawan Frans? Tapi tidak masalah, lebih baik mencoba karena aku tidak ingin menghancurkan harapan seseorang."
__ADS_1
"Iyah!"
"Aku pikir Frans tidak akan serius menikahi wanita yang tidak bisa mempengaruhi karirnya, Frans hanya ingin anak yang ada di dalam kandungan Adinda, mungkin akan menikahinya tapi tidak secara terang-terangan, Frans juga tidak semudah itu bisa lepas dari Nia."
"Saya sadar, kami ini wanita yang tidak satu level dengan kalian, Adinda lah yang sangat bodoh dan terlalu nekat!"
"Iyah, benar-benar nekat dan cari masalah!" jawab cepat Ryan.
"Tapi aku yakin, sepenuhnya tidak salah Adinda, Frans mungkin terlalu nyaman kepadanya, hingga adikku itu bisa hamil!"
"Ouh Iyah, tampaknya kau begitu yakin, bukannya Adikmu yang terlalu nyaman dengan Frans, bahkan terobsesi memilikinya dan aku juga tidak mengerti, apakah adikmu itu benar-benar polos atau sengaja mendekati pria yang sudah memiliki tunangan hanya karena tidak ingin hidup susah?" tantang Ryan membuat Nabila terdiam.
("Benar kata Adinda, Ryan sekali bicara sangat pedes dan berwatak keras, benar-benar tidak mudah menghadapinya!" gumam Nabila)
"Sekali lagi, sebagai kakaknya yang gagal, saya minta maaf dan sangat berterimakasih kepada mu, permisi!"
Nabila bangkit dan meninggalkan ruangan Ryan Alaska.
Ryan sempat terdiam dan tertegun.
***
Hingga waktu berlalu, Ryan fokus bekerja sampai jam makan siang.
"Dreeet.... Dreeeeeeeeet....!"
Ponsel Ryan berdering panggilan datang dari Adinda.
Ryan dalam wajah terpaksa menerimanya.
Panggilan Video Call.
"Halo sayang, lagi sibuk kah?" ucap centil Adinda.
"Ngapain sih kamu nelpon aku, yah aku lagi sibuk lah!" jawab sewot Ryan.
Ryan bergegas hendak menutup panggilan itu.
"Ee...eh...jangan di tutup dong sayang, coba lihat, aku sedang ada dimana?" tanya lembut Adinda.
Ryan mulai memperhatikan kameranya, saat Adinda mulai menunjukkan lokasi keberadaannya yaitu lobi kantornya sendiri.
Seketika Ryan tepuk jidat dan menutup telponnya dengan cepat bangkit menyusul keberadaan Adinda.
__ADS_1
"Enggak kakak, enggak adik sama saja agresif banget menemui aku?" ucapan kesel Ryan.
Ryan berjalan cepat mendapati keberadaan Adinda yang anggun dengan membawa bekal cinta untuk sang suami.